Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 117


__ADS_3

Seperti biasa, Rana mengawali paginya dengan rasa mual luar biasa dan muntah-muntah. Dia butuh beberapa saat untuk beristirahat sebelum akhirnya turun ke bawah. Saat sampai di dapaur, Cahya melihat wajah Rana memerah dan matanya sedikit berkaca-kaca. Cahya tersenyum dan meminta Rana agar duduk saja sementara dia akan membuatkan teh mint dan sedikit perasan lemon untuk mengurangi mual Rana. Rana menolak dan dia akan membuatnya sendiri.


Setelah selesai membuat teh mint, Rana membantu Cahya di dapur menyiapkan sarapan untuk para laki-laki dan anak-anak. Meskipun Cahya sempat menolak, tetapi Rana memaksa agar lebih cepat selesai. Cahya menyiapkan sereal kesukaan dari anak-anaknya dan juga milkshake. Sementara Rana membuat Avocado toast, yaitu roti panggang yang diolesi oleh saus alpukat di campur potongan tomat, merica hitam, garam dan juga perasan air lemon. Sederhana tetapi sangat enak dan cocok untuk sarapan.


"Bagaimana tidurmu? Apa kau merasa nyaman disini???" Tanya Cahya.


Rana tersenyum. "Sangat nyaman, dan sepertinya suasana disini sangat menyenangkan, sayang kemarin aku datang terlalu sore jadi belum melihat sepenuhnya....!"


"Jangan khawatir, nikmati saja hari ini, lakukan apapun yang kau mau, atau kau mau bermain di sungai, ada tangga dibelakang sana kau bisa turun dan bermain air disungai, tapi hati-hati karena kau sedang hamil, tapi kau bisa sekedar bermain air, airnya sangat jernih...!"


"Sepertinya menyenangkan....!" Gumam Rana.


"Coba saja nanti, oh iya tidak apa-apa kan kalau kau disini bersama Vitto, karena aku, Adit Ariel dan anak-anak akan ke perkebunan sebelum siang akan kembali kok....!"


"Tidak apa... Dari awal kan memang kami sendiri yang memutuskan akan disini saja...!"


"Pokoknya jangan sungkan, nikmati saja apa yang kau mau, jika perlu sesuatu Vitto bisa menghubungi Adit atau kau bisa meminta bantuan pak Mizan, dia penjaga Villa ini dan dia ada di depan....!" Ujar Cahya.


Rana mengangguk sambil tersenyum. Kemudian membawa sarapan yang sudah selesai di buatnya ke meja makan. Cahya juga sudah selesai membuat milkshake untuk anak-anak.


Cahya meminta Rana menata makanan dan minuman di meja sementara dia akan memanggil para laki-laki di ruang tengah.


Beberapa saat kemudian Cahya kembali ke ruang makan bersama yang lainnya. "Sarapan hari ini di persembahkan oleh Rana...!" Ucap Cahya.


"Woho Rana lulusan sekolah masak, kalau tidak enak patut dipertanyakan nih....!" Sahut Aditya di ikuti tawa dari yang lainnya.


"Tenang, masakannya tidak pernah mengecawakan.... Aku bisa jamin...!" Sela Vitto.


"Owhhh oke..... Jika tidak enak itu adalah tanggung jawab Vitto....!" Ucap Aditya dan Vitto mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


Semua orang kembali tertawa. Mereka kemudian menarik kursi dan duduk. Rana meletakkan Avocado toast ke setiap piring yang ada di hadapan orang-orang, sementara Cahya memilih menuang susu ke mangkuk berisi sereal untuk anak-anak. Dan mereka semua menikmati sarapannya sambil mengobrol berbagai hal. Tidak lupa Rana mendapat pujian dari yang lain. Cahya bahkan meminta waktu Rana khusus agar diajari membuat berbagai macam kue dan pastry, karena selama ini dia hanya tahu dasarnya saja ketika membuat kue, sementara untuk pastry Cahya belum begitu mengerti. Rana menyanggupi dan akan datang kapan-kapan ke rumah Cahya dan Aditya.


Setelah sarapan, Aditya harus ke kantor perkebunan miliknya bersama Cahya, anak-anaknya juga Ariel dan anaknya, meninggalkan Vitto dan Rana di Villa.

__ADS_1


*****


"Berdiam diri, menatap pemandangan di depan, memikirkan berbagai hal adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan....!" Gumam Vitto dan duduk di sebelah Rana yang sedang duduk santai di tepi kolam renang.


Yang lain sudah tidak ada di Villa, dan hanya meninggalakan Rana serta Vitto. Rana memilih duduk bersandar di kursi santai yang ada di tepi kolam renang. Menatap pemandangan yang hijau di depannya, membuat Rana merasa nyaman sekali. Sudah lama dia tidak melihat yang seperti ini. Dia di penjara oleh Vino dan yang dilihatnya hanya tembok pembatas yang tinggi itu, sedangkan ketika di apartemen, dia hanya melihat pemandangan kota dengan gedung-gedung tinggi. Sedangkan disini pemandangan alamnya sangat menenangkan.


Rana menoleh dan tersenyum. "Kau benar.... Disini sejuk, nyaman dan pemandangannya indah sekali...! Aku merasa lebih baik melihat yang hijau-hijau...!" Gumam Rana.


"Jika kau merasa nyaman disini, aku bisa meminta ijin Aditya agar kita bisa tinggal disini beberapa hari lagi...!" Ujar Vitto.


Rana menggeleng. "Tidak, besok kita tetap pulang, Aditya sudah terlalu banyak membantu kita, jangan ditambah lagi merepotkannya, yang ada kita justru akan terlihat memanfaatkannya...!"


Vitto tertawa. "Kau benar... Hahaha... Sejujurnya villa yang kemarin jadi rumah tahananmu itu memiliki pemandangan hampir sama dengan disini, itu sebabnya jika aku merasa penat aku suka menyendiri kesana, tetapi dasar Vino brengsekk dia justru merubahnya seperti itu, segalanya jadi rusak...!" Vitto menggerutu kesal.


"Sudahlah.... Kau menggerutu seperti itu juga untuk apa, sudah tidak ada gunanya kan...!"


"Aku hanya kesal saja, Vino terkadang sangat menyebalkan dan ingin rasanya aku menghajarnya tetapi dia adikku...! Oh iya bagaimana perutmu??? Apa kau masih merasa mual???" Tanya Vitto.


"Masih, tetapi tidak apa, aku merasa baik-baik saja...!" Jawab Rana.


"2 kali???? Maksudmu hamil Kyra dan Kyros?? Tapi bukankah mereka lahir dihari yang sama???" Tanya Rana bingung.


Vitto tersenyum, kemudian menjelaskan jika sebelum hamil si kembar, Cahya sempat hamil anak pertama tetapi di usia belum genap 3bulan Cahya mengalami keguguran. Itu terjadi karena seseorang telag menculik Cahya dan saat itu Aditya datang untuk menolongnya, sayangnya penculik itu ingin menusuk Aditya dari belakang. Mengetahui itu, Cahya menyingkirkan Aditya ke samping, dan pisau itu akhirnya menusuk perutnya. Bayi yang ada di kandungannya pun dinyatakan meninggal dunia.


Rana terperangah dan menutup mulutnya. "Kau serius????" Tanyanya pada Vitto karena tidak percaya bahwa Cahya mengalami hal mengerikan seperti itu.


Vitto mengangguk. "Ya....! Itu memang terjadi....! Cahya dan Adutya mengalami fase terburuk dalam pernikahan mereka, banyak hal terjadi dan menguras airmata, Aditya merasa gagal sebagai seorang suami karena tidak bisa menjaga anak serta istrinya, sementara Cahya merasa gagal sebagai seorang ibu dan istri karena tidak bisa menjaga amanat yang Tuhan berikan.


"Astaga itu pasti berat sekali...!" Gumam Rana sedih.


"Sudah pasti, tetapi Aditya memiliki cinta yang begitu tulus kepada Cahya, cinta itu yang akhirnya bisa membuat mereka melewati fase sulit itu.. Selang beberapa bulan Cahya akhirnya hamil Kyros dan Kyra, ya ku pikir Tuhan adil, dia mengambil satu tetapi kemudian memberikan 2 anak sekaligus... Buah dari kesabaran, dan keikhlasan itu selalu manis, mereka berbahagia sampai saat ini!"


Rana tersenyum. Dia memang bisa melihat bahwa Aditya memang sangat mencintai Cahya. Meskipun baru pertama bertemu dengan keduanya, Rana bisa merasakan bahwa Aditya adalah suami yang baik, dan sangat cocok dengan Cahya yang tidak kalah baik dan sempurna sebagai seorang istri. "Mereka saling mencintai, itu bisa terlihat dengan jelas...!" Gumam Rana kemudian dia melanjutkan lagi. "Suami yang seperti itu yang aku inginkan, pasti Cahya sangat bahagia sekali bersuamikan Aditya... Kupikir 100 banding 1 untuk mendapatkan yang seperti itu...!"

__ADS_1


"Kau memimpikan laki-laki yang seperti itu???" Tanya Vitto.


Rana mengangguk. "Iya.... Tapi bukan berarti aku menginginkan Aditya, aku bukan pelakor... Haha yang kuinginkan adalah sikap dan sifatnya yang seperti Aditya, penyayang dan matanya tidak bisa berbohong jika dia sangat mencintai Cahya...! Aditya mencintai semua kekurangan dan kelebihan Cahya, tulus dan apa adanya, andai saja ada laki-laki yang seperti itu, perempuan manapun pasti akan merasa dirinya ratu...! Aku sebelumnya sempat berpikir seperti itu tetapi endingnya nyesek, aku hanya dijadikan umpan untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah aku lakukan...! Nasibku tidak seberuntung Cahya..." Ujar Rana.


Vitto tertawa kemudian menimpali ucapan Rana. "Kau ingin diperlakukan seperti itu??? Baiklah aku akan melakukannya khusus untukmu, aku akan melayanimu dengan baik sehingga kau bisa merasa menjadi ratu... Kau mau???"


Rana terkekeh. "Benarkah???? Ummmhhh aku akan memanfaatkanmu kalau begitu...! Hahahahha...!"


Vitto kembali tertawa meskipun sebenarnya dia mengucapkan itu benar-benar dari hatinya. Dia ingin sekali membuat Rana bahagia, mengembalikan kebahagiaan perempuan itu yang sudah dihancurkan oleh Vino. Meskipun sampai saat ini Vitto masih menyembunyikan perasaannya pada Rana tetapi dalam hatinya dia akan selalu membiasakan diri menjaga Rana, membuat Rana tertawa dan tersenyum sampai nanti Rana benar-benar merasa nyaman dengannya. Hal itu pasti akan memudahkan langkahnya untuk menjadi pendamping hidup Rana kelak.


"Ganti pakaianmu! Aku akan menunaikan janjiku padamu untuk mengajarimu renang..." Ucap Vitto.


"Sekarang???" Tanya Rana.


"Ya, mumpung ada kolam renang... Lagipula tidak ada orang juga jadi kau tidak perlu sungkan...!"


Rana pun setuju dan dia beranjak dari kursi santai untuk naik ke kamar, mengganti pakaiannya. Dia tidak membawa pakaian renang tentunya tetapi dia akan memakai pakaian seadanya saja. Sementara Vitto melepaskan tshirtnya dan celananya. Dia sudah memakai celana renang sebenarnya karena sejak tadi dia sudah berniat ingin berenang sekaligus mengajari Rana.


Beberapa saat kemudian, Rana kembali menemui Vitto di belakang dimana ternyata Vitto sudah berenang di kolam. Rana hanya memakai tank top juga hot pants karena hanya itu yang dibawanya selain tshirt, celana dan dress. Vitto menyuruh Rana agar masuk ke dalam kolam renang dan mereka akan memulai untuk berenang.


Ketika Rana perlahan masuk, Vitto langsung memeganginya dan juga menuntunnya ke tengah. Sampai ditengah, Vitto masih memegangi Rana. "Sekarang lingkarkan kedua tanganmu ke leherku dan angkat tubuhhmu, gerakkan kedua kakimu dan aku akan membimbingmu, jangan takut kau tidak akan tenggelam...!"


Rana melingkarkan lengannya ke leher Vitto. Kemudian lelaki itu membimbing Rana agar mulai mengangkat tubuh kakinya ke permukaan, sementara dia akan memegangi Rana.


Rana terlihat meragu saat akan mencobanya tetapi Vitto dengan sabar membimbingnya dan meyakinkan Rana agar tidak takut. Perlahan Rana mulai mengangkat tubuhnya dan kakinya ke permukaan. Vitto kemudian menyuruhnya agar menggerakkan kedua kakinya pelan-pelan sementara Vitto akan berjalan sambil memeganginya.


"Vitto.... Vit... Jangan lepaskan aku....!" Teriak Rana.


Vitto tertawa. "Tidak Ran... ayo terus gerakkan kakimu!" Perintahnya.


Rana menggerakkan kakinya dan Vitto membawanya perlahan. Rana berteriak ketika Vitto menggodanya dengan pura-pura melepaskan pegangannya. Melihat Rana berteriak ketakutan, Vitto justru menertawakannya.


Cukup lama mereka berada di kolam renang. Dan Rana mulai menikmatinya. Vitto tampak sabar dan telaten sehingga Rana merasa nyaman sekali dan tidak takut. Ditengah-tengah moment itu, terdengar suara ponsel Vitto. Lelaki itu mengabaikannya tetapi si penelepon tidak mau berhenti, dan Vitto pun terlihat jengkel, kemudian membawa Rana ke tepian kolam yang tidak dalam, meminta Rana agar menunggu sementara dia akan naik dan mengankat telepon itu.

__ADS_1


Vitto keluar dari kolam dan menuju ponselnya. Sampai disana Vitto terkejut karena itu ternyata bukan panggilan biasa, melainkan panggilan video dari Vino. Vitto mengernyit dan menolak panggilan itu tetapi kemudian Vino memanggilnya lagi. "Shiittt .... Kenapa nih anak menghubungi pakai panggilan video...!!! Disini ada Rana.... Bagaimana ini?" Gumam Vitto dalam hati.


__ADS_2