
"Edward masih belum selesai???" Tanya Vitto.
Saat ini dia dan Vitto juga Jeany sedang menikmati makan malam bertiga.
"Belum sepertinya Vit, dia masih belum membalas pesanku..!" Jawab Jeany.
"Pengambilannya pasti banyak sekali, dan hanya di lakukan hari ini saja pastilah akan lama sekali... Maybe sampai tengah malam...!" Rana menimpali.
"Kau benar Na...!" Sahut Jeany.
"Jangan lupa ya Jean, nanti kau tanyakan pada Edward apa saja yang di lakukannya dengan Vino hari ini...!" Ucap Vitto.
"Iya.... Semoga Edward tidak menyembunyikan apapun...!"
"Sebenarnya hubungan kalian sudah sampai mana???" Tanya Vitto tiba-tiba pada Jeany, membuat Jeany yang sedang mengunyah dan menelan makanan menjadi tersedak.
Jeany terbatuk-batuk dan lekas meminum air. "Apa???" Seru Jeany kemudian sambil menatap tajam Vitto.
"Aku bertanya, hubunganmu dengan Edward itu sudah sampai dimana??? Maksudku sudah sampai tahap mana??? PDKT, resmi pacaran, atau sudah mau menikah??? Dia selalu mengantarmu kemana pun, juga perhatian sekali padamu, aku coba tanya pada Rana, tetapi dia menyuruhku menanyakannya langsung padamu???"
Jeany melirik Rana dan sahabatnya itu hanya senyum-senyum. "Ah lau berlebihan Vit, aku dan Edward hanya teman... Tidak lebih dari itu...!" Jawab Jeany.
"Benarkah???? Tapi aku merasa tidak seperti itu, Edward sering menatapmu diam-diam, dan sebagai seorang laki-laki aku tahu arti dari tatapan itu, karena aku juga sering melakukan itu jika bersama Rana, sayangnya kalian para perempuan memang tidak pernah peka sama sekali....! Harus nya kalian bisa membaca hal itu....! Edward itu seperti nya menyukaimu Jean...!" Ujar Vitto.
"Kan benar yang aku katakan padamu kemarin, kau kenapa sih Jean tidak mau mengakui nya???" Rana tersenyum sambil menimpali ucapan Vitto.
Wajah Jeany memerah. Rana sebelumnya memang mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja Vitto katakan tetapi Jeany menyangkal dan berpikir bahwa selama ini hubungannya dan Edward hanyalah sebatas sahabat saja. Jeany meragu jika Edward menyukainya, mengingat Edward memiliki banyak teman perempuan yang cantik-cantik karena kebanyakan mereka adalah model yang sering Edward potret. Dan selera Edward pastilah ada di antara mereka, dan Jeany merasa bahwa dia sama sekali bukan tipe Edward karena dia selalu berpenampilan sederhana dengan riasan make up tipis, dan terlihat biasa saja, dan bukan perempuan yang setiap hari wajahnya harus di penuhi dengan make up. Jeany seperti hal nya Rana yang senang dengan tampilan natural dan make Up tipis, kecuali jika ada acara tertentu baru memakai full make up. Jadi Jeany berpikir bahwa dia sama sekali bukanlah tipe Edward. Mustahil jika lelaki itu memiliki ketertarikan terhadapnya..
__ADS_1
"Kami hanya berteman, dan tolong kalian berdua jangan mengada-ada...! Lagipula tidak mungkin Edward menyukai ku, mungkin dia hanya merasa kasihan kepadaku karena dulu sudah berkata bohong pada Rana tetang Vino kemudian aku kecelakaan, kedekatan kami hanya sebatas teman saja, lagipula aku bukanlah tipe nya...!" Ucap Jeany.
"Memang perempuan yang seperti apa yang jadi tipe Edward??? Kau memang nya tahu???" Tanya Vitto.
"Cantik seperti para model nya...!" Jawab Jeany dengan nada sedikit ketus.
Sontak jawaban itu membuat Rana dan Vitto terkekeh. "Ya lagi-lagi kalian para perempuan sangat menyebalkan ketika berpikir, jangan terlalu insecure girls.... Hadeuuhhh... Lalu kau pikir perempuan itu tampan??? Semua perempuan itu cantik, dan definisi cantik itu banyak sekali, tergantung dari sudut pandang yang mana yang orang lain lihat, kalau merasa dirimu tidak cantik tetapi orang lain justru melihatmu itu cantik dari sudut pandang mereka..." Ujar Vitto.
"Kau bisa melihat Angel, dia sangat cantik dan sempurna jika orang lain melihatnya dari luar, tetapi hati dan pikirannya sampah, tidak semua harus di lihat dari sisi luar saja, kau dan Edward sudah lama mengenal, aku yakin Edward punya caranya sendiri untuk mencintaimu...!" Tambah Vitto lagi.
"Sayang... Jika Jeany berpikir seperti itu ya tidak sepenuhnya salah dia dong??? Edward kan belum atau tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukai Jeany, jadi wajar Jeany bersikap seperti itu, Jeany pasti tidak mau besar kepala dan juga kepedean, iya kalau Edward memang menyukainya tetapi kalau tidak??? Dan Edward menganggap Jeany hanya teman kan beda cerita lagi???" Imbuh Rana.
"Oke... Itu memang benar, tetapi aku akan menanyakannya nanti pada Edward..." Sahut Vitto.
"Apa???? Tidak tidak... Kau tidak perlu melakukan itu Vit, jangan sampai kau membuat hubunganku dengan Edward jadi canggung...!" Jeany menyela.
"Sudah sudah... Habiskan makanan kalian... Jeany sebentar lagi di jemput supir...!" Ucap Rana.
Vitto pun tersenyum dan kembali melanjutkan makan malamnya. Jeany juga sama, dia sendiri tidak mau terlalu percaya diri meyakini bahwa Edward menyukainya karena selama ini memang tidak pernah ada pembicaraan yang mengarah kesana.
Setelah selesai makan malam, Jeany pun di hubungi oleh supirnya yang ternyata sudah sampai dan menunggu di depan rumah Rana. Jeany berpamitan pada Rana, memeluk sahabatnya itu dan berjanji besok akan datang lagi. Rana tidak bisa mengantar Jeany ke bawah, akhirnya Jeany hanya di antar oleh Vitto.
***
Vitto kembali lagi ke atas setelah mengantar Jeany sampai di depan, Vitto kemudian menyusul Rana yang masih ada di dapur. Rana sedang mencuci gelas dan piring yang ada di wastafel, Vitto langsung memeluknya dari belakang dan mengecupi peher perempuan itu dengan gemas. "Istirahatlah dan biarkan ini aku yang membersihkannya besok...!" Bisik Vitto di telinga Rana.
"Tinggal gelas saja....!" Ujar Rana kemudian mencuci gelas yang ada di tangannya, sementara Vitto masih terus menciumi lehernya.
__ADS_1
"Apa kau bahagia???" Tanya Vitto.
Rana sedikit menoleh. "Aku selalu bahagia bersamamu, hanya saja untuk saat ini bahagia ku tidak seratus persen seoerti sebelumnya, aku kehilangan bayiku dan aku sebenarnya masih terguncang dengan hal itu...!" Gumam Rana.
Vitto melingkarkan kedua lengannya di perut Rana, sementara dagu nya bertumpu di pundak perempuan itu "Aku tahu kau masih terpukul tetapi aku harap itu tidak berlarut-larut, semakin kau sedih, bayimu disana juga akan sedih, ikhlas dan sabar, semua akan kembali seperti sebelumnya...!"
"Dia akan selalu jadi bayi pertama ku..!"
Vitto tersenyum lagi. "Ya... Dia akan sangat bahagia bisa menjadi bayi dari perempuan hebat seperti mu..
Sekarang cuci tanganmu dan ayo ke atas untuk istirahat serta meminum obatmu...!"
Rana mengangguk kemudian membersihkan tangannya dari busa yang menempel dengan air. Setelah bersih, Vitto langsung menggendongnya dan membawa nya naik ke lantai tiga dimana kamarnya berada. Sampai di kamar Rana, Vitto mendudukkan Rana dengan hati-hati di atas tempat tidur lalu memberi Rana obat. Setelah meminum obatnya, Vitto membantu Rana berbaring, menyelimuti nya juga.
"Aku ingin kau tidur denganku, jadi kau disini saja...!" Ucap Rana.
"Setelah dari rumah sakit, kenapa kau jadi takut seperti ini???"
Rana memasang wajah cemberut. "Ya sudah pergi sana kalau kau tidak mau tidur disini, jika malam-malam aku butuh sesuatu dan aku mengambilnya sendiri lalu terjatuh, jangan salahkan aku...!"
Vitto tertawa. "Itu hanya alasanmu saja...!" Vitto mengecup dahi Rana, kemudian naik ke atas tempat tidur. "Baiklah sesuai permintaanmu, aku akan tidur bersama mu dan jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi padamu di tengah malam...!" Gumam Vitto sambil mengedipkan mata.
"Memangnya apa yang akan terjadi padaku??? Apa kau tega melakukan itu pada perempuan yang baru saja melahirkan dan di operasi??? Dasar....!"
Vitto tertawa terbahak-bahak. "Hahaha oh iya aku lupa...." Vitto berbaring miring memeluk Rana, dan menyuruh Rana agar menggunakan lengannya untuk di jadikan bantal. "Tetap dalam posisimu terlentang, aku saja yang akan memelukmu...!" Gumam Vitto.
Rana merasa nyaman dan dia langsung memejamkan matanya dan tertidur di sebelah Vitto yang memeluknya. Vitto senang mendapati kenyamanan yang di rasakan oleh Rana. Dia akan merasa bahagia sekali jika nanti sudah menikah dengan Rana dan tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba.
__ADS_1