
"Dendam bisa membutakan mata seseorang, dia menikahiku hanya untuk melakukan pembalasan dendam yang sebenarnya salah sasaran, pernikahanku tidak seperti yang aku bayangkan, dia menjebakku ke dalam pernikahan itu" Rana tersenyum. "Aku memilih berpisah saja daripada harus melihat suamiku yang tidak mencintaiku, banyak hal yang salah dalam pernikahan itu.. Semua hanya meninggalkan penderitaan dan trauma....!"
Cahya mengusap paha Rana lembut dan melempar senyumnya. Dia bisa melihat mata Rana berkaca-kaca dan perempuan itu menahan diri agar tidak menangis. "Bagaimana bisa ada seseorang yang mempermainkan pernikahan??? Jahat sekali...!"
"Awalnya aku juga tidak menyangka dan terus bertanya apa kesalahanku tetapi semua akhirnya terjawab, ingin rasanya aku menyerah tetapi beruntungnya aku bertemu dengan orang-orang baik yang mau membantuku melewati masa sulitku dan selalu menghiburku...!"
"Apa itu Vitto???" Tanya Cahya menelisik sambil tersenyum.
Rana mengangguk sambil tersenyum. "Vitto menemukanku disaat yang tepat, dia merawatku dengan baik tak lama setelah itu Papanya datang dan memastikan bahwa aku baik-baik saja, aku tidak tahu kenapa mantan suamiku bersikap buruk sekali padahal Kakaknya dan juga Papanya sangat baik padaku, mereka menjelaskan segalanya tentang kesalahpahaman itu padaku sehingga aku mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaanku...!"
"Jadi kau menikah dengan Adik Vitto???"
Rana kembali menjawab dengan anggukan kepala. Mendengar cerita Rana, Cahya menjadi teringat dengan kisah sahabatnya Elea yang bercerai dengan Elea kemudian menikah dengan Danist yang ternyata adalah kakak dari Ariel. Bedanya Ariel dan Elea menikah karena saling mencintai dan adanya orang ketiga. Elea hamil Gienka saat dalam proses perceraian, ketika hamil justru Danist lah yang mengurus Elea hingga bayinya lahir setelahnya mereka menikah. Tetapi di kasus Rana, dia dijebak ke dalam sebuah pernikahan dan berpisah karena ternyata pembalasan dendam itu tidak tepat sasaran, dan Rana saat ini dalam pengawasan dari Kakak mantan suaminya. Cahya diam-diam tersenyum, tetapi dia berharap Rana bisa menjemput kebahagiaannya kelak seperti sahabatnya Elea yang mendapatkan laki-laki yang baik seperti Danist.
"Pasti berat sekali melewati masa sulit itu, tetapi kau tidak boleh kehilangan kekuatan, Tuhan pasti akan memberimu kebahagiaan suatu saat nanti...! Sahabatku juga pernah mengalami hal sepertimu, dia berpisah dengan suaminya dan tidak sadar jika dia dalam keadaan hamil, perpisahan itu sangat pahit, dia berusaha bangkit dan menjalani kehidupannya bersama bayi yang ada di perutnya, seseorang yang baik datang untuk membantu menghiburnya dan kau tahu, mereka akhirnya menikah lalu berbahagia, someday kau juga pasti akan mendapatkan seseorang yang baik.!"
Rana tersenyum. "Ya aku selalu berdoa agar aku bisa mendapatkan kebahagiaanku lagi seperti sebelumnya, dan aku bisa membesarkan bayiku dengan baik, karena dia satu-satunya kekuatan yang aku miliki saat ini...!"
"Kau perempuan yang hebat, ibu yang hebat, semoga kau selalu dilimpahi kebahagiaan...!" Ujar Cahya.
__ADS_1
"Terima kasih, semoga saja...!"
Cahya dan Rana kembali melanjutkan obrolan mereka sambil melihat si kec berlari kesana kemari. Kyra dan Kyros saling mengejar satu sama lain, mereka tertawa dan terus berpelukan seolah tidak bisa di pisahkan. Rana tersenyum melihat keluarga ini, terlihat bahagia dan menyenangkan. Cahya begitu cantik, lembut dan penuh kasih sayang. Cahya dan Aditya adalah definisi pasangan yang sempurna semakin mengesankan dengan 2 anak kembar yang cantik dan tampan serta sangat menggemaskan. Bagi Rana ini adalah contoh keluarga yang sangat diidamkan olehnya selama ini, suami yang menyayangi istri, dan istri yang menyayangi suaminya.
Rana pernah mendengar dari Vitto tentang kisah cinta Cahya dan Aditya yang menikah tanpa saling mengenal bahkan tanoa rasa cinta. Dimana Aditya hanya ingin menolong Cahya menghindarkan perempuan dari penghinaan seseorang yang iri kepadanya. Pernikahan itu menjadi semakin sempurna dengan kehadiran 2 bayi kembar, meskipun dalam setiap hubungan pasti memiliki pasang surut dan gangguan dari orang-orang yang ingin memisahkan mereka. Vitto juga bercerita bahwa Aditya adalah laki-laki yang menjunjung tinggi prinsip, menjaga miliknya dengan baik, dan sangat mencintai Cahya yang ternyata sebelumnya hanyalah gadis sederhana. Berbahagialah dan berbanggalah seorang perempuan yang memiliki suami seperti itu. Rana membatin dan berharap jika dia juga akan bisa menemukan laki-laki yang memiliki sikap serta sifat seperti Aditya.
★★★★
Setelah bersih-bersih badan, dan berganti pakaian, Rana turun untuk membantu Cahya yang tadi mengatakan akan menyiapkan makan malam. Dari atas Rana melihat Kyros dan Kyra bermain dengan seorang anak perempuan yang tidak kalah cantik dan menggemaskan. Tadi dia tidak melihatnya, tetapi Rana ingat bahwa teman Aditya yang ingin ditemui oleh Vitto kesini bersama anaknya, mungkin bocah perempuan itu adalah anak dari Ariel.
Rana turun dari tangga dan dia memanggil ketiga bocah itu. Dan mereka langsung berlari ke arahnya. Rana duduk berjongkok dan menciumi satu persatu dari mereka. "Hai... Cantik... Kita belum berkenalan, siapa namamu???" Tanya Rana.
"Hai Gienka....!" Rana membalas lambaian tangan Gienka. Rana kemudian menanyakan keberadaan Cahya pada Kyra, dan Kyra, Kyros serta Gienka membawanya pergi ke belakang tempat dimana Cahya berada.
Rana dibawa ke dapur, benar saja Cahya memang ada disana sedang memotong sayur. Setelah mengantar, Ketiga bocah menggemaskan itu kembali ke ruang tengah untuk bermain. Cahya tersenyum, Rana kemudian menghampirinya. "Kau ingin membuat apa???" Tanya Rana.
"Tidak ada yang istimewa, aku hanya akan memanfaatkan apa yang ada di kulkas, oh iya ku dengar kau memiliki bisnis bakery ya??? Dan kau juga lulusan sekolah masak, kau pasti pandai sekali memasak....!" Puji Cahya.
"Iya, aku sempat memiliki bakery tetapi tempat usahaku itu terbakar dan saat ini aku sedang mengumpulkan lagi modal untuk membukanya lagi..."
__ADS_1
"Kok bisa terbakar???"
"Aku juga tidak tahu, katanya ada konsleting listrik dari oven...! Sini biar aku saja yang memotong sayurannya...!"
Cahya memberikan pisaunya pada Rana kemudian dia akan mengurus bagian daging. Cahya mengatakan pada Rana jika sekarang para laki-laki sedang mandi dan baru selesai membahas pekerjaan.
"Mamanya Gienka tidak ikut kesini ya???" Tanya Rana.
"Elea bekerja di kantor perkebunan milik Adit, dan dia langsung pulang tadi karena Gienka tidak mau di ajak pulang bersama, sebenarnya Elea dan Ariel sudah bercerai, tetapi untuk urusan anak mereka kompak...!"
"Oh... sorry sorry aku tidak tahu....!"
"Haha tidak apa, sebenarnya yang tadi aku ceritakan oadamu tentang sahabatku yang hamil saat proses perceraiannya itu adalah Elea, Mamanya Gienka" Ujar Cahya.
"Oh ya??? Jadi saat itu dia sedang hamil Gienka???" Tanya Rana lagi untuk memastikan.
"Ya... Bayi itu adalah Gienka.. Kapan-kapan kau harus bertemu dengan Elea, aku akan mengenalkanmu dengannya nanti.... Dia orang yang sangat menyenangkan..."
Rana mengangguk. Dia membayangkan bahwa Elea juga pasti sangat baik, dan cantik, mengingat wajah putrinya juga sangat cantik. Dalam waktu sekejap Rana bisa begitu akrab dengan Cahya, dan Cahya sangat welcome serta menyenangkan. Benar kata Vitto bahwa dia tidak akan menyesal jika bertemu dengan Cahya, dan bisa berteman dengannya. Memang Rana sebenarnya sudah mulai merasa bosan terus berada di dalam apartemen. Vitto sangat tepat mengajaknya kesini dan bertemu dengan Cahya juga anak-anaknya.
__ADS_1