
"Lalu seperti apa yang kau inginkan??? Maksudku bagaimana alurnya, sehingga aku juga bisa dengan mudah menanyakan pakaian yang akan kalian gunakan....!"
"Aku akan mengirimmu pesan, akan seperti apa nantinya...! Baiklah aku tutup dulu, dan aku harap kau bisa membantuku...!" Vino menutup panggilannya.
Edward masih bingung dan bartanya-tanya apa yang sebenarnya diinginkan dan di rencanakan Vino. Tetapi mendengar betapa lelaki itu membutuhkan bantuannya, Edward pun akan mencoba untuk membantu Vino. Walaupun dia cukup kesal demgan Vino, tetapi ini hanya soal profesionalisme semata.
Sementara Vino mengetik sesuatu di ponselnya yang akan dia kirimkan ke Edward. Dan setelah itu dia harus mandi, kembali lagi ke rumah sakit sambil membawa pakaian untuk Vitto. Dia juga akan membawa puding dan pie susu yang di berikan Angel ke laboratorium untuk di periksa apakah itu juga mengandung zat yang sama yang bisa membuat seseorang menjadi lumpuh. Karena jika benar, itu artinya Angel dengan sengaja imgin mencelakai Papanya dan juga Vitto. Mengenai motifnya, Vino akan mencarinya nanti.
***
"Papa ada meeting satu jam lagi di restoran karena Vino tidak masuk, jadi Papa harus menggantikannya...."
"Baiklah.. Papa hati-hati....!" Ucap Vitto.
"Iya... Rana sayang... Om harus kembali ke kantor lagi, kau cepat sembuh dan lekas kembali pulang... Maaf tidak bisa lama-lama karena Vino tidak masuk jadi Om harus menghandle semuanya...!"
Rana tersenyum. "Iya Om, terima kasih sudah menjenguk, maaf sudah merepotkan....!"
"Tidak apa-apa.... Om hanya ingin melihat kondisimu saja...! Vit...! Papa kembali dulu...!"
__ADS_1
Vitto mengangguk kemudian menghampiri Papanya dan mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan perawatan Rana. Di luar sudah di tunggu oleh supir. "Vit...! Papa harap kau memikirkan usul Papa tadi....! Kau harus segera membuat keputusan untuk mengikat Rana, Papa tidak mau Vino berulah lagi...! Kau pasti mengerti maksud Papa...!"
"Vitto mengerti, tetapi keputusan ada di tangan Rana, Vitto tidak mau terlalu memaksa Rana, yang ada dia jadi tidak nyaman nanti...! Vitto tidak mengantar sampai depan tidak apa-apa kan Pa???"
"Tidak apa... Ya sudah Papa pergi dulu, diskusikan semuanya dengan Rana...!"
Supir kemudian mendorong kursi roda dan membawa Papa Vitto pergi. Vitto pun kembali lagi ke kamar perawatan Rana. Saat kembali ternyata Rana sudah tidur. Vitto tersenyum dan dia jua sebenarnya mengantuk sekali, tidak ada salahnya dia juga tidur sebentar. Vitto membaringkan tubuhnya di sebuah tempat tidur yang disediakan untuk keluarga pasien.
Vitto memandangi langit-langit dalm diam dan berpikir. Ada ketakutan di hatinya mengenai Vino, bisa saja Vino berusaha mendekati Rana lagi meskipun Rana memilihnya tetapi akan sangat menyebalkan jika harus menghadapi sikap Vino. Semua memang kembali lagi pada Rana. Vitto juga tidak mau terlalu berlebihan membahas ini lagi jika bukan Rana sendiri yang membahasnya karena Vitto takut Rana akan menganggapnya seperti Vino.
★★★
Beberapa Jam kemudian...
Perlahan Rana membuka matanya. "Vitto....!!!" Panggil Rana dengan suara pelan kemudian dia melihat sekeliling.
Vino langsung berdiri dan menghampiri Rana. "Apa kau butuh sesuatu??? Vitto sedang tidur, dia sepertinya lelah sekali....!" Ucap Vino.
Rana langsung melirik ke arah kanan dan memang benar, Vitto tidur dan seperrinya lelap sekali, mungkin semalam Vitto tidak bisa tidur dengan tenang. Perlahan Rana menggerakkan kedua kaki nya juga jemarinya, dia sudah todak lagi merasakan kram seperti sebelumnya. Dia ingin ke kamar mandi tetapi tidak tega jika harus membangunkan Vitto. Hanya ada Vino disini. Rana menatap Vino ragu, tetapi dia tidak punya pilihan lain kecuali meminta bantuan lelaki di depannya itu.
__ADS_1
"Rana....!" Panggil Vino larena Rana hanya diam melihat ke arahnya. "Apa kau membutuhkan sesuatu??? Biar aku ambilkan??? Kau ingin minum???" Tanya Vino.
Rana menggelengkan kepalanya. "Aku ingin ke kamar mandi...!"
"Biar aku yang membantumu...." Vino lekas memegang punggung Rana dan membantu Rana bangun. "Hati-hati.....! Pakai sendal ini agar kau tidak terpeleset." Vino membungkuk mengambil sendal di bawah, dan kembali membantu Rana turun dari ranjangnya. "Hati-hati....!" Ucap Vino lagi.
Rana turun perlahan dengan di pegangi oleh Vino kemudian memakai sendal dan Vino memegang penyangga infus Rana. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Vino mengantar Rana ke kamar mandi. Vino masuk dan menempatkan infus Rana agar bisa memudahkan Rana, setelah itu Vino keluar dan meminta Rana agar tidak mengunci pintu kamar mandinya dan hanya menutip saja karena jika terjadi sesuatu di dalam, Vino bisa segera menolongnya. Vino berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Rana. Setidaknya hal kecil ini bisa membuat Rana luluh dan mau memaafkannya.
Sampai bebrrapa saat kemudian Rana membuka pintu kamar mandi, Vino lekas membantu mendorong lagi penyangga infus Rana dan membantu Rana naik ke ranjang perawatannya. Dengan hati-hati Vino mengangkat kedua kaki Rana, kemudian menyelimuti Rana.
Vino menatap Rana kemudian tersenyum, dia harus mencari bahan obrolan dengan Rana agar tidak ada kecanggungan meskipun Rana belum memaafkannya. "Eh Rana..! Semalam aku dan Vitto menguburkan bayi kita, nisan nya masih kosong belum ada namanya, Vitto bilang itu adalah hak mu untuk memberikan nama, jadi kau ingin memberinya nama apa??? Vitto bilang jenis kelaminnya perempuan." Vino bertanya mencoba membuka obrolan dengan Rana.l
"Vitto sudah menanyakan itu padaku tadi, tetapi aku belum memikirkannya...!" Jawab Rana.
Vino tersenyum. "Sekali lagi aku minta maaf Ran, aku sudah berperilaku begitu buruk kepadamu, aku sudah membuatmu mengalami banyak hal yang buruk, aku di butakan oleh dendamku hingga aku melupakan sisi kemanusiaanku, setelah aku tahu segalanya sebenarnya aku sudah menyesali nya hanya saja aku terlanjur malu dengan perbuatanku padamu dan aku gengsi untuk meminta maaf kepadamu.... Tapi sungguh aku sudah menyesali semuanya sejak aku mengetahui kebenarannya...!"
Rana memilih diam dan tidak menanggapi permintaan maaf Vino. Rana ingin mencoba menguji seberapa menyesalnya laki-laki ini dengan kesalahanya dulu.
"Ran....! Aku ingin meralat ucapanku tadi siang, mungkin memang benar bahwa aku mungkin masih akan tetap memilih Angel dan menceraikanmu, tetapi seandainya setelah itu aku mengetahui jika kau hamil, aku pasti akan bertanggung jawab terhadap bayiku, toh aku juga tidak akan menyiksamu atau memperlakukanmu buruk lagi seperti dulu,lalu kenapa kau malah memilih menyembunyikan semuanya dariku??? Apa selamanya kau akan tetap menyembunyikan keberadaanku kepada bayi kita??? Mungkin saja hal ini tidak akan terjadi padamu, kita tidak akan kehilangan bayi kita...!" Ucap Vino.
__ADS_1
"Tidak pernah ada jaminan untuk sebuah takdir yang di gariskan oleh Tuhan, jika sudah waktunya pergi, sekeras apapun kita berusaha bersembunyi, Tuhan tetap akan mengambil yang menjadi miliknya kapanpun dan dimana pun...!" Gumam Rana kemudian dia melempar senyum pada Vink.
"Aku memilih pergi dan menjauh darimu karena aku ingin memulai hidup baruku lagi, aku sudah kehilangan segalanya karena mu, aku ikhlas menerimanya, karena untuk apa aku harus terus meratapi nasib burukku jika sudah di takdirkan seperti itu hidupku, aku hanya bisa bersabar, ikhlas dan berusaha, di titik itulah Tuhan memberiku kebahagiaan dengan hadirnya bayi di kandunganku, aku mencurahkan seluruh perhatianku kepadanya berharap dia bisa menjadi pelipur laraku nanti, tetapi Tuhan lebih menyayanginya dan mengambilnya dariku, tidak apa-apa, sekali lagi aku ikhlas, hikmahnya adalah mungkin Tuhan tidak mau menyulitkanku lagi untuk berurusan denganmu, karena suatu saat kau pasti akan tahu jika aku memiliki anak darimu, Tuhan pasti tidak ingin kau mengacaukan hidupku lagi, itulah kenapa dia mengambil bayiku... Aku ikhlas sekali dan mencoba mencari hikmah dan pelajaran dari setiap masalah yang aku hadapi..!" Ujar Rana.