
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vino.
"Permisi pak Vino, anda sudah di tunggu di ruang meeting oleh para dewan Direksi, kita ada meeting pagi bersama mereka...!" Ujar Sekretaris Vino yang masuk ke ruang kerja Vitto.
"Oh shittt....! Aku lupa jika ada meeting pagi ini, oke oke aku akan segera kesana, oh iya suruh Monica untuk memberikan berkas dari tim legal kepada Vitto, aku akan segera ke ruang meeting sekarang... Oke Vit, kita lanjutkan obrolan kita nanti." Vino beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang kerja Vitto.
Vino tidak mau terlalu memikirkan mengenai kemeja itu, dia berpikir bahwa banyak orang yang memiliki kemeja sejenis dan dia pasti pernah melihat orang yang memakai kemeja itu.
Vitto menatap kepergian Vino penuh keheranan. Selalu ada saja tingkah aneh dari Vino setiap harinya. Vitto menggelengkan kepalanya dan membuka berkas yang ada di depannya untuk mulai bekerja.
***
Sementara itu, Rana baru saja selesai mandi dan dia duduk di depan meja rias nya mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas dengan menggunakan hair dryer. Dan bersenandung pelan, memandangi dua frame foto yang berisi fotonya dengan Vitto ketika liburan kemarin, memakai baju couple. Senyumnya tersungging cantik menghiasi wajahnya, begitu juga dengan Vitto yang terlihat sangat tampan.
"Ini manis sekali.... " Gumam Rana.
Kemudian dia beralih menatap wajahnya di cermin sambil tersenyum. Beban nya perlahan mulai menghilang dan di gantikan dengan kebahagiaan yang kini setiap hari di rasakan nya. Benar kata orang jika kita bersabar dalam melewati badai di kehidupan kita maka suatu saat Tuhan akan mengganti badai itu dengan kebahagiaan yang luar biasa. Dan kunci nya hanyalah kesabaran. Rana tidak tahu n
jika Tuhan akan mengirimkan sosok Vitto yang hadir di kehidupannya dan perlahan membuatnya bangkit dan melewati segala kesedihan dengan kebahagiaan. Tidak ada kata yang bisa Rana ucapkan untuk apa yang terjadi saat ini kecuali rasa syukur yang tidak terkira atas apa yang sudah Tuhan anugerahkan kepada dirinya.
"Rana....! " Panggil seseorang yang di ikuti suara ketukan pintu.
Rana menoleh ke belakang, mendapati Jeany datang dan tersenyum ke arahnya. "Hai Jean... Masuklah.... Ku pikir masih akan datang nanti, ternyata sudah sampai disini...!"
Jeany masuk ke kamar Rana. "Iya... Aku sengaja datang pagi-pagi, Mama membuat sup iga kesukaanmu, jadi dia menyuruhku mengantarnya sekarang padahal aku sudah bilang mungkin kau sudah sarapan, tetapi Mama memaksa aku tetap membawanya karena jika kau sudah sarapan kau bisa memakannya untuk makan siang...!"
"Aku belum sarapan dan baru bangun, ini baru selesai mandi, kebetulan sekali tante mengirimkan sup iga.."
Jeany menghampiri Rana. "Tumben kau baru bangu!??? " Tanyanya.
"Aku tidur terlalu larut setelah mengobrol dengan Vitto di telepon, aku saja belum sempat menghubunginya hari ini...! "
"Lekas hubungi dia, karena dia pasti menunggu kabarmu, ehhh kalian memakai nya??? Hahahaha" Jeany tertawa dan mengangkat frame foto yang ada di meja rias Rana. Tertawa karena Rana dan Vitto memakai Tshirt couple yang di beli nya dengan Edward lalu memberikannya pada Vitto dan Rana sebagai hadiah saat lamaran di pantai itu.
"Vitto yang memberi ide untuk memakainya ketika kita akan jalan ke hutan mangrove... Sekali lagi thanks ya Jean untuk baju nya... Hahaha berasa abg deh pakai baju couple seperti ini hahaha...!"
"Iya.. Sama-sama... Sudah sana hubungi Vitto, takut dia mengkhawatirkanmu...! "
Rana mengangguk dan beranjak dari kursi untukengambil ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Rana membuka ponselnya dan benar saja Vitto mengirim beberapa pesan, membuat Rana mengernyit karena begitu banyak pesan yang di kirim menandakan bahwa Vitto inginemastikannya apa sudah bangun atau belum. Rana membuka pesan itu, ternyata dugaannya salah, pesan yang banyak itu ternyata berisi kiriman beberapa foto. Rana melihat satu persatu dan itu adalah foto prewed nya dengan Vitto. Rana memanggil Jeany untuk menunjukkan foto hasil jepretan Edward beberapa waktu yang lalu.
"Wah kau cantik sekali Na... Aku jadi tidak sabar melihatmu memakai gaun pengantin... Pasti bertambah cantik...! " Puji Jeany ketika melihat foto prewed Ran dan Vitto.
__ADS_1
"Kau berlebihan memuji nya.. Kau suka yang mana??? " Tanya Rana.
Jeany memegang ponsel Rana dan kembali melihat untuk memilih mana yang menjadi favoritnya. "Yang ini... Wajahmu sumringah penuh kebahagiaan begitu juga dengan Vitto, aku tidak pernah melihat kalian tersenyum lepas seperti ini dan itu membuat kalian terlihat luar biasa, cantik dan tampan...!"
"Aku juga menyukai yang ini Jean..."
"Untuk sesi selanjutnya kau dan Vitto harus bergaya lepas dan jangan semuanya formal, harus ada yang berpose menggemaskan biar terlihat lebih manis...! "
Rana tertawa. "Apa sih Jean... Hahaha menggemenggaskan yang bagaimana??? Kau ini... Kita sarapan yuk??? Kau sdah sarapan belum?? Kalau sudah temani aku sarapan, ayo kita turun...! "
Jeany mengangguk dan mengikuti Rana keluar kamar untuk turun. Sampai di dapur, Jeany membongkar bawaannya dan Rana mengambil nasi serta piring untuk sarapan. Dian sangat menyukai sup iga buatan dari Mamanya Jeany. Tidak lupa Rana mengambil kecap dan juga jeruk nipis sebagai pelengkap. Karena sudah sarapan, Jeany memilih duduk dan memperhatikan Rana yang sedang sarapan.
"Kau di antar supir atau di jemput Ed??? " Tanya Rana.
"Di anamtar supir, Ed tidur di kantor semalam, banyak sekali pekerjaan dan sepertinya dia juga semalam mengerjakan editing untuk fotomu dan Vitto...! " Jeany menjelaskan.
"Kenapa sejauh ini hubungan kalian masih stuck disitu-situ saja??? Kenapa tidak maju-maju... Apa yang sebenarnya kalian tunggu??? Kalian itu sudah sangat cocok.. Kau juga kenapa tidak membuka diri Jean???? " Ujar Rana. Selama ini dia terlalu gemas melihat tingkah dari Jeany dan Edward yang hampir setiap hari selalu bersama tetapi mereka berduaasih enggan untuk saling mengungkapkan cinta padahal sudah terlihat nyata sekali bahwa kedua nya memiliki ketertarikan tersendiri. Tetapi entah apa yang membuat mereka tidak mau saling terbuka.
"Membuka diri bagaimana??? Kau ini...!"
"Jangan mengelak Jean, aku tahu kau menyukai Edward dan sudah aku katakan sebelumnya jika dia juga sebenarnya menyukaimu karena dia pernah mengatakannya pada Vitto, lalu kenapa sampai saat ini kalian masih begini-begini saja... Kenapa tidak saling mengungkapkan cinta...! "
"Aku tidak tahu... Tapi masa iya aku yang mengatakannya duluan, harusnya kan dia... Dia mungkin sudah punya kekasih, Ah sudahlah jangan membahas itu... Lanjutkan sarapan mu, aku ke kamar mandi dulu...! " Jeany beranjak dari kursi dan meninggalkan Rana untuk ke kamar mandi. Jeany tidak mau membahas Edward, memang benar dia memiliki perasaan lebih dari sekedar teman dengan Edward tetapi Jeany merasa insecure karena selama ini Edward sering di kelilingi oleh banyak perempuan cantik, dimana mereka adalah para model yang sering bertemu dan bekerja sama dengan Edward. Hal itu membuat Jeany selalu merasa meragu apakah bisa dia menjalin hubungan dengan laki-laki seperti Edward.
Beberapa hari kemudian....
Vitto dan Rana mendatangi rumah sakit dimana untuk menemui Arindah. Mereka akan berkonsultasi dengan Arindah mengenai kondisi Rana pasca operasi beberapa waktu yang lalu dan Rana harus menjalani beberapa hal untuk memulihkan kondisi nya, termasuk Rana tidak boleh hamil selama beberapa bulan ke depan karena fahimnya masih terlalu lemah. Dan karena hari pernikahan Rana dengan Vitto tinggal beberapa minggu lagi, maka mereka harus berkonsultasi mengenai menunda kehamilan juga KB apa yang cocok untuk Rana gunakan. Sementara kemarin foto prewed sesi kedua juga sudah selesai dilakukan oleh Rana dan Vitto, mereka tinggal menunggu hasilnya yang akan di proses lebih dulu oleh Edward. Pengukuran gaun pernikahan juga sudah di lakukan oleh Rana, begitu juga dengan Vitto yang nantinya akan menggunakan tuksedo sedangkan Rana nanti juga akan menggunakan gaun berbeda di acara akad dan resepsi yang akan di lakukan malam harinya.
Vitto dan Rana sudah mengatur janji dengan Arindah dan memilih jam dimana sudah tidak ada lagi orang yang datang di ruangan Arindah pada jam di luar praktek. Vitto dan Rana menyalami Arindah kemudian duduk berhadapan dengan perempuan cantik yang murah senyum itu.
"Sudah aku duga bahwa perempuan itu adalah Rana.... Ingin sekali aku mengucapkan selamat pada kalian dengan mengetag nama Rana di instagr*m tetapi aku tahu kalian butuh ruang privasi, jadi aku mengucapkan lewat pesan pribadi kepada Rana, dan sekali lagi selamat untuk kalian berdua....! " Ujar Arindah.
"Thanks Rind... " Jawab Vitto.
"Terima kasih dok... " Timpal Rana kemudian.
"Sama-sama, dan di tunggu undangannya sampai di rumah ku... Hahahaha.. Well, kita mulai konsultasi nya, aku akan menjelaskan beberapa alat kontrasepsi yang bisa di pilih oleh Rana, rencana kalian akan menunda kehamilan ini selama berapa bulan???" Tanya Arindah.
"Kami tidak ingin terlalu lama Rindu, apakah bisa ketika masa itu berakhir dan aku serta Rana bisa langsung berencana memiliki bayi??? " Tanya Vitto.
Arindah tersenyum. "Bisa saja Vit, tetapi biasanya aku akan menyarankan pasien ku untuk recovery satu sampai dua bulan setelah masa itu, dan memeriksa apakah rahim mereka sudah benar-benar siap atau belum, karena tentu kita tidak mau mengambil resiko yang bisa membahayakan calon ibu dan calon janinnya...!"
Rana dan Vitto saling melempar pandangan. Mereka belum bisa memutuskan dan meminta agar Arindah menjelaskan lebih dulu mengenai alat kontrasepsi yang cocok untuk Rana sehingga nanti mereka nanti bisa memutuskannya ingin seperti apa. Arindah tersenyum kemudian menjelaskan semuanya kepada mereka berdua. Baik Rana dan juga Vitto tampak serius mendengarkan Arindah berbicara.
__ADS_1
Sampai akhirnya Vitto dan Rana memutuskan alat kontrasepsi apa yang akan di pakai oleh Rana. Dan berapa lama Rana akan menggunakannya. Arindah pun mulai memeriksa Rana dan langsung melakukan tugasnya untuk memasang alat penunda kehamilan itu. Setelah selesai, Rana dan Vitto pun nerpamitan dan mengucapkan Terima kasih kepada Arindah lalu pulang.
Di tempat lain, Vino di buat jengkel oleh mobilnya yang tiba-tiba saja mogok, padahal mobil nya beberapa waktu yang lalu baru keluar dari bengkel. Vino merasa kesal sekali dan memutuskan akan menjual saja mobil nya dan menggantinya dengan yang baru. Akhir-akhir ini mobil nya memang selalu bermasalah. Vino bukan tipe orang yang suka mengkoleksi banyak mobil, dia lebih suka menggunakan sesuatu itu sebagaimana fungsinya saja dan tidak berlebihan. Di rumah hanya ada mobil miliknya ini dan juga satu mobil yang di gunakan oleh Papa nya. Ada lagi sebenarnya di garasi yaitu mobil milik Angel yang dulu sengaja dia hadiahkan pada perempuan itu. Karena dia sudah mengetahui kebusukan Angel, Vino pun meminta mobil itu kembali, dan sebenarnya berniat untuk menjualnya, tetapi telalu sibuk hingga belum ada kesempatan untuk meminta bantuan temannya yang terbiasa menjual dan menawarkan mobil.
"Sialll.....!!!" Gerutu Vino sambil menendang roda mobilnya.
Vino menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat bingung tetapi kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi bengkel langganan nya agar mengirim orang untuk memperbaiki mobilnya. Setelah berbicara dan memberitahu alamat tempatnya berada sekarang, Vino pun mengakhiri panggilannya. Dia harus menunggu orang bengkel datang baru setelah itu dia bisa meninggalkan mobilnya. Vino memilih masuk ke dalam mobilnya dan diam sedang memikirkan sesuatu.
★★★★★
"Eh tuan Vino....!" Ucap Art rumah Vitto ketika membuka pintu dan mendapati Vino ternyata yang datang.
"Vitto ada??? "
"Tuan Vitto tidak ada di rumah, sudah pergi sejak pagi, katanya ada urusan pekerjaan... Mari masuk!"
"Kapan dia akan pulang??? " Tanya Vino lagi sambil berjalan masuk ke rumah Vitto.
"Kurang tahu tuan, mungkin tuan Vino bisa menghubunginya untuk menanyakan itu... "
"Aku tidak sempat tadi, kepalang kesal karena mobilku mogok, tapi aku akan menghubunginya nanti...! " Vino duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Vitto, sementara Art Vitto ke dapur untuk mengambilkan minum.
Setelah petugas bengkel datang, Vino memutuskan untuk pergi ke rumah Vitto karena posisi mobilnya yang mogok tidak jauh dari tempat tinggal Vitto. Hanya sekitar sepuluh menit saja. Dia akhirnya mencari taksi dan meminta di antar kesini. Vino berpikir dia akan menginap saja di rumah Vitto dan besok meminta kakaknya agar mengantarnya pulang, apalagi besok weekend dan dia tidak ada urusan di kantor tentu nya.
Art Vitto membawa nampan berisi minuman untuk Vino dan mempersilahkan Vino untuk meminumnya.
"Kok sepi??? Bibi mana??? " Vino menanyakan keberadaan Art Vitto yang satu nya lagi karena sejak tadi tidak melihatnya.
"Sedang pergi berbelanja diantar supir..! Tuan Vino silakan beristirahat, saya pamit ke belakang untuk melanjutkan menyetrika pakaian, permisi...! "
"Baiklah Terima kasih....! " Vino mengambil cangkir berisi teh hijau kesukaannya.
Vino memutar pandangan ke sekeliling rumah kakaknya itu. Emosi nya sedikit melandai setelah meminum teh. Dia tadi sebenarnya baru selesai meeting dengan client dan saat akan pulang justru mobilnya mengalami masalah mesin, membuatnya merasa kesal sekali, padahal dia sangat lelah sebenarnya. Dan Vitto sejak kemarin meminta ijin tidak ke kantor dengan alasan ada pekerjaan lain. Hal itu membuat Vino sedikit keteteran karena seharusnya Vitto bisa membantunya untuk mengkoreksi laporan yang akan di gunakan untuk presentasi di meeting sore tadi. Tetapi seperti janjinya pada Vitto bahwa dia akan memberi sedikit ruang untuk kakaknya itu ketika memiliki tanggung jawab di pekerjaan lainnya di dunia entertaint, sehingga Vino tidak bisa memprotes Vitto ketika Vitto ada panggilan untuk pekerjaan lain.
Vino memdengus mencium bau yang cukup mengganggu nya. "Sepertinya aku harus mandi. " Gumam Vino kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar Vitto. Dia akan mandi di kamar mandi kakaknya sekaligus meminjam pakaian Vitto.
Dengan santainya Vino masuk ke kamar Vitto kemudian menuju ruang ganti di kamar itu untuk mengambil pakaian Vitto. Vitto membuka lemari Vitto, mencari tshirt sangat kakak juga celana. Setelah mendapatkannya, Vino hendak pergi keluar dari ruang ganti itu dan akan menuju kamar mandi, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat keranjang berisi pakaian kotor milik Vitto. Vino mendapati kemeja yang beberapa waktu yang lalu di kenalan oleh Vitto. Ingatan Vino pun melayang ke beberapa hati yang lalu dimana dia seperti tidak asing dengan kemeja itu. Vino terdiam dan mengingat baik-baik dimana dia pernah melihat kemeja itu dan siapa yang memakainya. Sebenarnya itu bukanlah hal yang harus terlalu di pikirkan karena kemeja itu dari brand terkenal dan pasti banyak yang memilikinya, hanya saja entah kenapa bagi Vino hal itu justru menggelitik nya.
Vino duduk di sebuah sofa putih yang berbentuk lingkaran yang ada di ruang ganti Vitto sambil memegang kemeja itu. Vino terdiam dan berpikir keras mengingat sesuatu tentang kemeja itu. Cukup lama dia berpikir tetapi tidak mendapatkan jawabannya. "Ah... Lupakan saja... Hanya kemeja saja untuk apa aku terlalu memikirkannya...!" Gumamnya. Vino akhirnya berdiri dan kembali meletakkan kemeja itu di keranjang pakaian kotor lalu keluar dari ruang ganti Vitto.
Sampai lagi di kamar Vitto, Vino melepaskan jasnya dan mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Kemudian meletakkan jas serta ponselnya ke atas meja rias milik Vitto. Tidak sengaja Vino menyenggol sebuah frame foto yang ada disana. Frame foto itu tertelungkup dan Vino mengambilnya untuk mengembalikannya ke posisi semula. Saat hendak meletakkannya ke meja, matanya terperangah ketika mendapati frame foto itu berisi foto Vitto dengan seorang perempuan yang mereka berdua tersenyum lebar. Si perempuan memang bucket bunga tampak bahagia dengan menunjukkan jari manisnya yang di lingkaran sebuah cincin berlian.
Yang membuat mata Vino terbelalak adalah perempuan itu yang tak lain tak bukan adalah Rana. Rana mantan istrinya. "Rana...???" Gumamnya.
__ADS_1
Mobil Vitto memasuki halaman rumahnya. Dia membawa Rana ke rumahnya, karena besok dia ingin menghabiskan harinya bersama perempuan itu, sehingga dia memutuskan untuk. menyuruh Rana menginap saja. "Kita sudah sampai...! " Ucap Vitto kemudian melepas seat beltnya dan keluar dari mobil, kemudian membuka kan pintu untuk Rana.
"Terima kasih....! " Ucap Rana sambil tersenyum, dan mereka berjalan bergandengan tangan untuk masuk ke dalam rumah.