
Keesokan harinya......
Arindah mulai belajar untuk terbiasa tinggal di rumah Vino. Dia bangun pagi dan menjalankan kewajibannya setiap pagi di pimpin oleh Vino. Dan Vino juga mulai membiasakan diri untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab terhadap istrinya serta mulai lagi menjalankan kewajibannya sesuai dengan agama yang di anutnya. Vino sudah begitu lama meninggalkan Tuhan, dan tidak pernah peduli dengan kewajibannya, melupakan apa yang seharusnya dia kerjakan setiap hari. Tetapi sejak dia merasa di tipu dan di bohongi Angel, dia mulai tersadar bahwa saat itu Tuhan sedang mengingatkannya pada sebuah kebenaran bahwa apa yang di lakukan Vino selama ini adalah sebuah kesalahan. Terlalu mencintai seseorang hingga melupakan banyak hal penting dan sebuah kewajiban yang harus di laksanakan, adalah sebuah kesalahan besar, apalagi meninggalkan Tuhan dan tidak memenuhi perintahnya juga adalah kesalahan yang sangat fatal.
Pengkhianatan Angel membuat Vino akhirnya tersadar dan dia mulai memperbaiki dirinya lagi secara perlahan, hingga akhirnya keputusan untuk menikahi Arindah juga semakin membuatnya bersemangat. Pribadi Arindah yang positif, baik dan penuh kelembutan membuat Vino merasa bersyukur pada Tuhan karena mengirim kan seseorang seperti Arindah di hidupnya. Vino yakin jika dia pasti akan segera bisa mencintai Arindah dengan sepenuhnya. Jika Arindah terus menghujani nya dengan perhatian dan penuh kasih.
Arindah di sibukkan dengan kegiatannya menyiapkan sarapan di dapur sejak tadi. Walaupun Vino sudah melarangnya agar sarapan di siapkan oleh pelayan, tetapi Arindah menolak karena itu sudah jadi kebiasaannya menyiapkan sarapan setiap pagi ketika di rumah, apalagi jika di rumah orang tua nya. Dia terbiasa melakukan hal itu. Tadi Vino kembali tidur setelah mandi dan sholat subuh, Arindah membiarkannya karena tahu Vino kemarin sibuk sekali hingga pulang malam, jadi Vino butuh waktu istirahat yang lebih, sekaligus menemani Naufal juga yang masih tidur.
Arindah menyiapkan segala sendiri, meminta agar pelayan tidak perlu membantu nya, dan menyuruh mereka agar membersihkan rumah saja. Karena menyiapkan sarapan juga tidaklah begitu repot, tidak seperti membuat makan siang ataupun makan malam yang biasanya lebih komplit dengan berbagai menu makanan. Arindah memutuskan membuat nasi goreng dan telur mata sapi serta jus untuk Vino dan Papa mertua nya. Arindah membuat nasi goreng komplit dengan sayur dan juga sosis dan ayam itu juga masih dia tambah dengan telur mata sapi.
"Mbak....!!" Panggil Arindah pada pelayan yang sedang mengelap meja makan. Pelayan itu menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Arindah. "Tolong ini di siapkan di meja makan ya??? Piring nya juga, saya harus naik ke atas membangunkan suami dan anak saya, takut nanti terlambat ke kantor... " Pintar Arindah.
"Oh iya Non, saya selesaikan dulu mengelap meja makannya, setelah itu saya bawa makanannya kesana..."
"Terima kasih ya???" Arindah puneninggalkan dapur dan lekas pergi ke kamar untuk membangunkan Vino agar bisa segera bersiap dan dia juga akan memandikan Naufal lalu ikut bersiap karena akan ikut Vino ke kantor.
__ADS_1
Sampai di depan kamar, Arindah membuka pintu, dan melihat ke tempat tidur, tidak ada siapapun disana, tetapi dia mendengar suara Naufal. Dia melirik ke sisi kanan kamar, Naufal sedang duduk dan bermain di pojokan. Arindah menghampiri nya dan mendapati anaknya itu sudah rapi dan memakai pakaian biasa. Menandakan Naufal sudah selesai mandi dan di ganti pakaiannya. "Heii... Kau sudah bangun?? Sudah mandi juga??? Apa kau mandi sendiri???" Tanya Arindah sambil duduk berjongkok menatap wajah Naufal.
"Papa... Aku mandi belsama Papa.. "
"Oh iya???? Lalu dimana Papa sekarang???" Tanya Arindah.
"Disana... Ganti pakaian.. " Naufal menunjuk ke arah ruang walk in closet.
Arindah tersenyum, mengecup kening Naufal. "Oke... Kau bermainlah dulu, Mama akan memanggil Papa...!" Arindah berdiri dan menuju ruang dimana suami nya berada. Dia belum menyiapkan pakaian untuk Vino, tetapi sepertinya lelaki itu sudah menyiapkannya sendiri.
"Aku bisa melakukannya sendiri, kenapa harus merepotkanmu..."
"Aku istrimu, jadi ini bagian dari tanggung jawabku untuk mengurusmu.. "
"Kau menyiapkan sarapan, itu juga sudah bagian dari mengurusku... Aku tidak mau merepotkanmu... " Vino mendaratkan kecupan di bibir Arindah.
__ADS_1
"Diamlah....!!! Kau selalu saja bisa membantah ucapanku... Sudahl selesai...!" Arindah sudah mengaitkan kancing kemeja Vino dan mengambilkan dasi untuk suami nya itu lalu memasangkannya di leher Vino.
"Selesai....!" Ucap Arindah setelah selesai memasangkan dasi Vino. "Temani Naufal dulu, aku akan bersiap tapi aku harus cuci muka dulu agar wajahku kembali segar, dan kita turun ke bawah untuk sarapan lalu pergi ke kantor..." Arindah berbalik badan dan pergelangan tangannya di tahan oleh Vino, membuat Arindah kembali menghadap ke arah suami nya itu.
"Tunggu dulu....!! " Pintar Vino yang kemudian memeluk Arindah. Mendongakkan wajah istrinya sehingga bisa menatapnya. Vino tersenyum. "Setidaknya kita bisa bermain sebentar sebelum ke kantor.... Setiap aku berada di istriku, aku selalu saja ingin menyetub*hi nya.. Kau begitu cantik, dan bibirmu selalu membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya...." Vino mendekatkan bibirnya dan mencium Arindah. Menelusupkan lidahnya. Arindah tidak bisa menolak, Vino memeluknya begitu erat, ciuman Vino juga luar biasa hingga akhirnya Arindah menyerah dan membalas ciuman itu.
"Mama....!!!" Naufal tiba-tiba saja memanggil Arindah, hal itu membuat Vino refleks melepaskan pelukannya pada Arindah, dan Arindah langsung mendorong Vino karena terkejut. Mereka berdua langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu dimana Naufal berjalan menghampiri mereka.
Arindah merapikan rambutnya dan mencoba tersenyum di depan Naufal. "Ya sayang... Kenapa???" Tanya Arindah sambil mencoba mengatur napasnya. Vino juga terlihat salah tingkah tetapi juga menghampiri Naufal lalu duduk berjongkok.
"Aku lapal....! Mau salapan... " Ucap Naufal dengan polos.
Vino membuang muka sambil tersenyum. Seolah ingin menertawakan kebodohannya tadi. Sedangkan Arindah terlihat menutup mata nya dan wajahnya memerah karena malu, dia lupa menutup pintu. Jika saja pintu di tutup Naufal tidak akan langsung masuk dan akan memanggilnya di luar ruangan. "Kau lapar???? Kau bermainlah sebentar dengan Papa, Mama akan ganti pakaian sebentar dan nanti kita sarapan... Mama sudah memasak nasi goreng kesukaan Naufal, tunggu sebentar ya... Tidak lama... " Ucap Arindah kemudian Vino berdiri dan menggendong Naufal untuk mengajaknya keluar.
"Jangan lama-lama, kasian dia pasti sudah lapar sekali.. Ganti baju saja, kau bisa merias wajahmu di mobil nanti, bawa alat make up mu.." Ujar Vino dan Arindah mengangguk. Mereka bertiga keluar, dan Arindah langsung menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Tadi dia sudah mandi setelah bangun tidur sehingga dia hanya tinggal menyegarkan wajahnya saja.
__ADS_1
*****