
8
Vino akhirnya menyerah, dia memilih meninggalkan ruangan perawatan Rana setelah mendapati bahwa perempuan itu sangatlah ketakutan ketika melihatnya. Dan mungkin dia harus memberi waktu kepada Rana agar Rana mengerti keadaan yang terjadi saat ini.
Sementara itu, Vitto mencoba menenangkan Rana. "Jangan bergerak, atau kau akan merasa kesakitan" Ucap Vitto.
Rana merasa kesakitan di bagian perutnya dan dia pun akhirnya melihat ke arah perutnya yang ternyata sudah tidak lagi buncit. Rana meraba perutnya. Merasa ada janggal, Rana menatap Vitto dalam diam. Vitto pun membalas tatapan Rana dengam sedih. Bingung bagaimana harus menjelaskan apa kepada perempuan itu.
"Bayiku....???" Ucap Rana.
Vitto menunduk sedih. Kemudian menarik kursi, duduk dan menggenggam jemari Rana, mengecupnya lembut. "Maaf....!" Gumam Vitto pelan.
"Bayiku.... Perutku...!! Kenapa??? Ada apa???" Tanya Rana.
Vitto menggeleng sedih. "Tidak ada.... Dia sudah meninggalkan kita....!" Gumam Vitto lagi.
Mata Rana terbelalak. "Apa maksudmu????" Tanya nya lagi.
"Dokter tidak bisa menyelamatkannya...!"
Air mata Rana mulai mengalir. "Apa maksudmu???? Apa yang terjadi Vitto....??? Kau berbohong, bagaimana bisa bayiku tidak selamat....???? Kau bohong....!!" Rana memukul dada Vitto berkali-kali sambil menangis histeris. "Bayiku......!!!"
Vitto memeluk dan menenangkan Rana. "Tenanglah....!!! Dokter juga sedang melakukan test untuk mengetahui penyebab semua ini...."
"Tapi apa yang terjadi Vitto.... Kenapa kaau tidak menjawab pertanyaanku??? Kenapa??? Ada apa dengan bayiku???" Rana menangis dan dia benar-benar histeris.
"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu??? Aku juga tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini...!"
Rana terus memumul dada Vitto, menangis dan dia memaksa ingin menemui dokter untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tetapi Vitto berusaha menenangkannya.
"Setidaknya kau tenanglah sayang.....! Tenanglah....! Dokter juga butub penjelasan darimu mengenai yang kemarin terjadi. Sekarang tatap mataku, dan dengarkan aku baik-baik.... Jika kau terus histeris dan berteriak itu akan membuatmu kesakitan karena luka pasca operasimu belum kering....! Tenangkan dirimu dan lihatlah aku juga dengarkan aku... oke????" Ujar Vitto kemudian mencium kening Rana dan tersenyum kepada perempuan itu.
Vitto berhasil membuat Rana tenang dan tidak lagi histeris meskipun masih terdengar suara isakan dari perempuan itu. Vitto memeluk Rana, mengusap lembut punggung Rana.
"Sesuatu yang salah telah masuk ke dalam tubuhmu dan itulah yang membuatmu seperti ini dan juga berpengaruh terhadap bayimu....!"
"Maksudnya???" Tanya Rana.
"Coba ingat, kemarin apa saja yang kau konsumsi dari pagi sampai sebelum kau pingsan??? Ada zat berbahaya dari salah satu makanan yang kau konsumsi...!"
Rana melepaskan pelukan Vitto dan mendongak menatap laki-laki itu. "Zat berbahaya di makanan???"
__ADS_1
Vitto menganggukkan kepalanya. "Kemarin aku sudah menyuruh Mario dan Tania membawa beberapa makanan dari rumah untuk di periksa, sehingga kita bisa tahu makanan apa yang menyebabkan semua ini terjadi....!"
Rana kembali menangis. "Kenapa ini bisa terjadi..... Bayiku.... Bagaimana bisa Vitto, beberapa hari ini kita mengkonsumsi bahan makanan yang sama, kita belum berbelanja dan masih menggunakan yang ada di kulkas...!"
"Itulah kenapa kita harus memeriksa semuanya....!"
"Bayiku....??? Dia sudah tidak ada lagi....! Kenapa secepat itu???" Tangis Rana kembali pecah. "Rasanya aku tidak ingin hidup lagi, aku ingin bersamanya, dia pasti kesepian.... Bayiku....!"
"Sssshhhhh..... Kau harus tetap tenang, sabar...! Ini sudah kehendak Tuhan, mungkin Tuhan lebih sayang dengan bayi kita!"
Rana terisak pedih dan Vitto kembali memeluknya. Rana masih belum bisa menerima jika dia harus kehilangan bayinya. Dia masih tidak percaya, dan isakkannya semakin menjadi-jadi. Semuanya terjadi begitu cepat, dan dia sama sekali tidak pernah menyangka nya. Rana mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi kemarin, karena semua berjalan seperti biasanya dan tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali. Kepalanya terasa pusing, dan perutnya bergolak hebat, dia jatuh dan pingsan, hanya itu yang terjadi kemarin.
Vitto terus menenangkan Rana dan meminta perempuan itu agar ikhlas. Serta menjelaskan jika semalam bayi nya sudah di kuburkan dengan baik di sebelah makam kedua orang tua Rana. Itu di lakukan Vitto agar Rana nantinya bisa mudah untuk datang dan berziarah. Tidak ingin Rana bertanya-tanya tentang Vino yang berada disini, Vitto pun menceritakan semuanya jika Vino sudah tahu mengenai Angel. Vino menemukan foto dan juga video dari laptop miliknya, bersamaa dengan itu ternyata Jeany menghubunginya untuk memberitahu mengenai keadaan Rana. Itulah kenapa Vino saat ini berada disini, bahkan Vino memaksanya untuk menguburkan bayi itu. Tidak ingin bermasalah atau berdebat panjang, Vitto pun membiarkan Vino melakukannya.
Rana masih menangis, Vitto menyeka air matanya dan membaringkannya lagi agar Rana bisa beristirahat dan segera pulih. Berat tetapi tidak ada yang bisa di lakukan saat ini selain sabar.
Rana saat ini sangat hancur sekali, baru juga dia menikmati kebahagiaannya dengan Vitto, memulai semuanya dari awal, dan Vitto selalu berusaha membahagiakannya, tetapi lagi-lagi Tuhan memberinya cobaan yang begitu berat. Dan kali ini Tuhan mengambil bayi nya yang sudah dia harapkan untuk jadi sumber kekuatannya.
Suara ketukan pintu, membuat Vitto dan Rana teralihkan. Seorang perawat masuk membawa obat dan juga infus untuk Rana. "Selamat pagi...." Sapa perawat itu dengan ramah.
Dia kemudian mengganti infus Rana juga menyuntikkan obat ke dalam infus itu. Kemudian mengatakan jika sarapan sebentar lagi akan di antar dan Rana harus memakan sarapannya supaya kondisinya cepat pulih, hingga bisa segera pulang.
"Oh iya pak, sampel makanannya sudah di bawa ke lab tadi malam dan hasilnya akan keluar siang nanti, mohon di tunggu ya?? Dokter nanti yang akan menjelaskan sendiri, setelah di ketahui dengan pasti apa penyebabnya, kami akan melakukan tindakan selanjutnya kepada bu Rana, takutnya itu juga bisa berdampak kepada beliau..!" Ucap perawat itu lagi.
"Sama-sama... Saya permisi dulu, Bu Rana tolong jangan terlalu stres ya biar bisa cepat sembuh....!" Perawat itu kemudian meninggalkan ruang perawatan Rana.
"Jangan terlalu stress, dan memikirkan apapun selain kesehatanmu.... Kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu kemarin...!" Vitto mengusap lembut kening Rana dan melempar senyum kepada perempuan yang sangat dia cintai itu.
"Kenapa Tuhan jahat sekali, apa penderitaan yang aku alamai kemarin belum cukup, sehingga aku sekarang harus di pisahkan dengan bayiku???" Gumam Rana.
"Ssssttttt.....! Kau tidak boleh berbicara seperti itu, segala sesuatu yang terjadi adalah kehendaknya, Tuhan yang memiliki segalanya di dunia ini, kita tidak boleh berbicara hal buruk pada Tuhan, karena di balik musibah yang menimpa kita pasti akan ada kebahagiaan yang menanti kita nantinya.... Kuncinya hanya sabar, jangan pernah mengeluh dan ikhlas atas ketetapan yang si berikan Tuhan kepada kita....!" Vitto tersenyum kemudian mengecup kening Rana kemudian mengusapnya lagi, dan menyeka air mata Rana yangasih menetes.
Perlahan pintu terdorong dari luar, Vitto menoleh dan mendapati adiknya sedang berdiri di depan pintu. Langkah pelan Vino mendekat ke arah Vitto dan Rana. Refleks Rana menggenggam jemari Vitto dengan kuat, dia benar-benar takut harus berhadapan dengan Vino. Ingatannya melayang ke beberapa bulan silam. Penyiksaan yang Vino lakukan kepadanya baik itu lahir bathin, semua muncul di kepala Rana. Sakitnya, hancurnya, semua jadi satu, Rana benar-benar ketakutan sekali kepada Vino. Lelaki itu terus mendekat membuat Rana berkeringat dingin di dahi nya.
"Vino... Bisakah kau keluar??? Aku tadi sudah mengatakan padamu agar kau bisa memberi Rana waktu, tetapi kenapa kau masih juga memaksa kesini????" Tanya Vitto.
"Diamlah... Sekarang gantian biar aku yang menjaga Rana, kau pulang saja atau pergilah dari sini...!" Timpal Vino.
"Vino.... Janganlah cari masalah, apa kau tidak lihat, Rana ketakutan melihatmu???"
Vino memandangi Rana, wajah perempuan itu memang terlihat tidak senang dengan kedatangannya, takut, iya itu tampak jelas. Vino pun melempar senyumnya kepada Rana. Dia tetap berjalan mendekati Rana. Vitto nencoba pasang badan untuk mencegah Vino tetapi Vino dengan cepat menyingkirkan Vitto dan dia tetap mendekati Rana. Vino duduk dan memandangi Rana dalam senyum, mengabaikan ketakutan yang ada di mata perempuan itu.
__ADS_1
"Rana....!" Gumam Vino pelan tetapi Rana tidak bereaksi apapun.
Vino memegang jemari Rana, menggenggamnya. "Aku hanya ingin meminta maaf padamu, jadi aku harap kau tidak takut kepadaku...! Aku tahu kenapa kau bersikap seperti ini, tetapi percayalah bahwa aku benar-benar tulus ingin meminta maaf kepadamu..!" Ucap Vino lagi dan Rana masih diam.
"Aku minta maaf Rana atas segala yang sudah aku lakukan kepadamu, aku mohon maafkan aku...! Aku menyesal sekali, dan kenapa juga kau harus menyembunyikan kehamilanmu dariku??? Kenapa??? Jika saja kau mengatakannya dari awal, aku pasfi akan menjagamu dan bayi kita, dan kau tidak akan mengalami hal seperti ini... Tapi ya sudahlah, itu sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur, bayi kita pasti sudah bahagia di sisi Tuhan... Sekarang aku hanya ingin kau mau memaafkanku...!" Ujar Vino dengan sedih dan kepalanya menunduk penuh penyesalan.
Rana diam, dan dia lekas menarik tangannya dari pegangan Vino. Ada perasaan enggan di hati Rana untuk mempercayai ucapan Vino. Dia sebelumnya sudah pernah melihat mata penuh ketulusan, keyakinan dan Perkataan seperti ini dari Vino dulu. Suara lembut, penuh keyakinan yang sudah membuat Rana sangat mempercayai Vino sepenuhnya tetapi nyata nya semua itu hanyalah kedok Vino untuk menjebaknya ke dalam sesuatu yang sangat menyakitkan dan melukai hatinya begitu dalam.
Dan sekarang itu terulang lagi. Rana tidak mauagi terjebak di kesalahan yang sama memberikan kepercayaan kepada Laki-laki seperti Vino. Luka yang di tinggalkan Vino masih membekas di hati Rana, bahkan mungkin selamanya tidak akan pernah hilang dari ingatannya. Gambaran penderitaannya selama menjadi istri Vino begitu jelas terlihat. Siksaan lahir dan bathin dari Vino sudah dia rasakan. Vino hampir melenyapkannya dengan mendorongnya dari balkon ke kolam renang padahal tahu bahwa dia tidak bisa berenang, hampir tenggelam dan kehabisan nafas. Beruntungnya Vitto menyelamatkanya saat itu. Vino menendangnya, memukul dan menamparnya, Vino juga pernah menyetrika tangannya, bahkan luka bekas setrika itu masih samar-samar terlihat di tangannya. Setelah itu Vino melakukan hal yanv sama sekali tidak manusiawi yaitu berhubungan baadan dengan perempuan lain dan itu sengaja di lakukan lelaki itu di depan matanya. Lalu bagaimana bisa dia kembali mempercayai ucapan dari mulut manis Vino. Tidak lagi.
Rana masih memilih diam dan enggan melihat Vino yang ada di sampingnya dan memilih untuk melihat ke sudur lain yang ada di ruang perawatannya.
"Rana....!!! Kenapa kau diam saja????" Tanya Vino.
"Kau tidak mau memaafkanku ya???? Aku benar-benar tulus dengan ucapan ku Ran... Setidaknya kali ini saja percayalah kepadaku... Aku tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama....! Aku benar-benar menyesal dengan semua yang sudah terjadi.... Please maafkan aku...???" Pinta Vino lagi.
Rana masih terdiam, begitu juga dengan Vitto. senyum miring Vitto seolah mengejek Vino. Vitto menyadari jika sepertinya Rana saat ini masih belum mau memaafkan Vino, karena sepertinya ingatan Rana tentang masa lalunya bersama Vino masih sangat melukai hati perempuan itu, bahkan Rana juga enggan melihat wajah Vino. Siapapun orang nya jika mengalami hal yang sama seperti yang di lakukan Vino pada Rana juga tidak akan pernah bisa memaafkan atau melupakannya begitu saja. Bukan hanya karena penyiksaan atau penderitaan yang di tinggalkan oleh Vino, tetapi kepercayaan dan ketulusan hati dan cinta Rana pada Vino sudah di hancurkan begitu saja. Hati perempuan sangatlah lembut dan sensitif sehingga jika kepercayaannya di rusak serta ketulusan yang di berikan justru di hancurkan dan di lukai, maka jangan pernah bisa berharap bahwa perempuan itu akan kembali mempercayai apa yang sebelumnya sudah di rusak.
"Sudahlah Vin, bukankah sudah ku bilang bahwa Rana butuh waktu, seharusnya kau menghargai itu...!" Gumam Vitto.
"Diamlah....! Kau pasti sudah mempengaruhi Rana, sehingga dia bersikap seperti ini padaku...!"
Vitto terkekeh. "Aku bukan Angel yang bisa mencuci otak seseorang, Rana juga bukan sepertimu yang jtaknya bisa di cuci dan mudah di pengaruhi oleh mulut manis seseorang, setidaknya kau berpikirlah sampai ke arah itu, ingatlah segala kesalahan yanv sudah kau lakukan padanya, bukankah kemarin aku sudah pernah mengatakan kepadamu bahwa mungkin saja Rana mau memaafkanmu, tetapi melupakan semua yang sudah gerjadi itu tidak akan pernah bisa,.. Hahaha" Vitto tertawa.
Kemudian dia mendekati Vino, menyentuhkan telapak yangannya di atas bahu kanan adiknya itu. "Dan semua itu akan selalu terpatri di hatinya, perihal kepercayaannya kepadamu aku rasa Rana juga tidak akan pernah mempercayaimu, kau sudah membohonginya atas banyak hal, jadi apa kau pikir dia akan memberimu keprcayaan??? Tidak akan... Lebih baik kau pulang dan pergilah ke kantor saja..."
"Diamlah... Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk diam???" Geram Vino pada Vitto.
Vitto hanya tertawa melihat ekspresi kemarahan Vino kepadanya. Vitto kembali mengejek Vino, dan kembali menyuruh Vino agar keluar saja dari ruangan ini serta tidak mengganggu Rana karena Rana butuh istirahat. Vino yang keras kepala itu tetap dengan pendiriannya bahwa dia tidak mau keluar dari ruangan Rana karena dia masih ingin membuat Rana kembali percaya kepadanya.
Vino mendorong Vitto dengan kasar agar kakaknya itu tidak menghalangi jalannya. Vino kembali mendekati Rana.
"Rana please. .... Maafkan aku, aku benar-benar menyesali semuanya.... Aku tahu kau pasti masih marah dan kecewa, tetapi aku benar-benar meminta maaf padamu, tolong maafkan aku...!" Vino meraih lagi tangan Rana, bahkan kali ini dia mengecup punggung tangan Rana agar perempuan itu mempercayai ucapannya dan mau memaafkannya.
Saangnya Rana tidak bergeming sama sekali.
"Rana.... Aku sangat menyesal sekali, aku sudah mengabaikanmu, sudah meragukankebaikan hatimu serta cintamu juga begitu tulus kepadaku, aku mengkhianatimu, dan aku di buat gila oleh dendamku yang tidak beralasan itu, aku terpengatuh oleh Angel, aku sangat menyesal telah melukaimu, aku menyesal karena terpengaruh Angel, aku sangat menyesal sekali, setidaknya beri aku maaf sekali saja dan aku akan memperbaiki semuanya, kita bisa memulai semuanya dari awal lagi...! Jika kah terus seperti ini kepadamu, anak kita disana pasti tidak akan menyukainya karena kedua orang tuanya seperti ini... Kau tidak mau kan anak kita kecewa disana???"
Rana menoleh ke arah Vino dan menatap lelaki itu dengan mata membara penuh kemarahan. "Anak kita katamu??? Anak mana yang kau bicarakan??? Dia anakku, aku yang merawatnya selama 4 bulan ini, kau tidak ada hak apapun terhadapnya, lalu kau juga ingin memulai lagi dari awal? Apa yang ingin kau mulai??? Apa karena seseorang yang sangat kau cintai itu mengkhianatimu, dan dia mempermainkanmu serta cinta tulusmu padanya??? Bagaimana perasaan hatimu saat ini mengetahuj semua itu???" Tanya Rana dengan suara bergetar.
"Sakit tidak ketika ketulusan dan cinta kasihmu di khianati serta di hancurkan seperti itu??? Maka itulah yang aku rasakan dulu ketika aku di hadapkan dengan sikap buruk suamiku, bahkan dia tidak memiliki rasa malu, berhubungan badaan dengan perempuan lain di depan istrinya sendiri...! Aku mencoba sabar dengan segala penyiksaanmu tetapi moral dan betapa bejaatnya dirimu kepadaku."
__ADS_1
Air mata Rana terus membanjiri Pipinya." Kepercayaan dan cinta tulusku kepadamu itu nyata tetapi kau mengabaikannya dan lebih memilih wanita yang kau cintai, darinpada aku yang mencintaimu, kau menipuku, membawakku dalam pernikahan yang menyesakkan dada, kau bahkan menyiksaku seperti seekor hewan yanv tidak ada harganya, aku hukan manusia lagi bagimu dan bagaimana bisa sekarang aku mempercayaimu lagi???" Tanya Rana dengan suara bergetar.
"Bagaimana bisa aku mempercayaimu....????" Rana setengah berteriak kepada Vino.