
"Rana....!!!" Papa Vitto memanggil Rana yang terdiam.
Rana tersenyum. "Ya om???" Jawab Rana pelan.
"Sudah jelas bahwa kau sama sekali tidak bersalah dalam hal apapun, om datang kesini hanya untuk memberiahumu segalanya agar kau juga tahu semua kebenaran ini, om juga akan menuruti semua keinginanmu juga akan mengganti semua kerugian fisik yang disebabkan oleh Vino, sekarang katakan apa yang ingin kau lakukan? Katakan semuanya...!"
Rana kembali melempar senyumnya. "Saya tidak ingin apapun, saya sudah ikhlas dan semua ini memang hanya sebuah salah faham saja, jika boleh saya hanya punya satu permintaan saja, yaitu saya ingin berpisah dengan Vino, apa yang terjadi memang meninggalkan trauma tersendiri di hidup saya, saya pertahankan juga untuk apa, Vino tidak pernah mencintai saya, dia tidak pernah memperlakukan saya sebagai layaknya seorang istri...!" Ujar Rana.
Rana sangat menyadari tidak akan pernah ada gunanya mengharapkan Vino berlebihan. Dia sendiri merasa sangat takut jika terus bertahan di dalam sebuah bangunan yang sejak awal memang tidak layak untuk ditinggali. Bangunan itu dibangun dengan pondasi yang buruk, tidak kuat dan mudah hancur, lalu bagaimana dia akan bisa bertahan dalam kondisi seperti itu, yang ada dia hanya akan mati konyol di dalam sana. Vino milik Angel dan mereka saling menyukai, jika tidak saling menyukai, tidak mungkin kehidupan mereka bisa sebebas itu melebihi sepasang suami istri. Lagipula Rana juga sudah mulai menghilangkan seluruh cintanya pada Vino. Jika dia masih menyimpannya itu hanya akan semakin melukai dirinya sendiri.
Masih banyak sekali impian yang ingin dikejar Rana, yaitu membangun lagi tempat usahanya yang sudah hancur, meskipun Rana tahu itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukannya setelah dia kehilangan banyak hal. Tetapi Rana masih memiliki tabungan yang bisa dia gunakan untuk membangun kembali apa yang sudah hancur. Tabungan yang sudah susah payah dia kumpulkan untuk memperluas usahanya kini akan dia alihkan untuk mendirikan tempat usaha yang baru yang mungkin akan lebih kecil dari sebelumnya, tetapi tidak apa yang terpenting dia bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala.
Papa Vitto memandangi Rana dengan perasaan iba, gadis yang tidak berdosa itu menjadi korban kebiadaban dari putranya. "Baiklah jika itu yang kau inginkan, Om akan membantumu terlepas dari Vino, meskipun dia putra om tetapi kesalahan tidak akan pernah om maafkan...! Vitto...!" Panggil Papanya.
__ADS_1
Vitto langsung menatap Papanya. "Ya...!" Jawabnya.
"Hubungi pengacara kita, suruh dia datang hari ini kesini, kita akan meminta bantuannya untuk mengurus perceraian Rana dan Vino, supaya ini berakhir lebih cepat sehingga Rana juga bisa terbebas dari belenggu yang mengikatnya, dan kau Rana, jangan khawatirkan apapun, om akan menjamin keselamatanmu sehingga Vino tidak akan bisa melakukan apapun padamu...!"
Vitto mengangguk dan tanpa menunggu waktu lama dia langsung menghubungi pengacara keluarga mereka. tentu Vitto mengingatkan agar tidak memberitahu Vino mengenai kedatangan Papanya kesini. Pengacara itu mengerti dan akan datang kesana dalam waktu satu jam karena kebetulan dia sedang berada di luar.
Vitto kemudian mengantar Papanya ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum nanti bertemu dengan pengacara iti, sementara tadi tantenya pergi ke kamar Rana. Vitto mendorong kursi roda Papanya dan meminta Rana agar menunggu sebentar karena dia nanti akan kembali.
Vitto kembali dan duduk di sebelah Rana sambil melempar senyumnya. Rana membalas senyuman Vitto, dan dia bisa melihat dengan jelas bahwa Vitto sepertinya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Mungkin Vitto masih memikirkan tentang banyak hal yang dikatakan oleh Papanya tadi. Sebuah fakta yang pasti tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Rana...! Mulai sekarang jangan khawatirkan apapun, semuanya akan baik-baik saja dan kau akan bisa lepas dari Vino....!" Gumam Vitto.
Rana tersenyum. "Aku baik-baik saja, justru kau yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja...!" Ujar Rana dan Vitto menoleh sambil terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kau benar..." Vitto kembali terkekeh. "Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus menggambarkan perasaanku saat ini, aku tahu dari awal kau memang tidak bersalah dengan kematian adikku, tetapi aku sendiri tidak memungkiri bahwa aku sempat menyayangkan ketika Papa membebaskan Ayahmu dari penjara, aku merasa malu sekali sekarang ada di dekatmu, aku juga yakin jika Vino tahu semua kebenaran ini dia juga pasti akan malu sekali padamu, kepergian Vania adalah 100% bukan karena Ayahmu tetapi justru karena Mama kami sendiri, saat dia pergi meninggalkan kami bertiga dengan si brengsek itu, baik aku dan Vino tidak pernah lagi mengingatnya, kami juga tidak membencinya karena Papa melarang kami melakukan itu, kami akhirnya menjalani kehidupan kami tanpa mau mengingat Mama, juga tidak pernah memendam kebencian, seburuk apapun perilakunya dia tetaplah wanita yang melahirkan kami" Gumam Vitto dengan suara merendah tetapi itu terdengar sangat memilukan.
Vitto mengangkat punggungnya dan menyandarkannya di sofa, kemudian dia menghela napasnya panjang. "Menyedihkan sekali ternyata keluargaku hahaha!" Vitto tertawa tetapi sedetik kemudian dia menangis dan terisak.
"Aku tidak pernah sekalipun memandang hina Mama setelah pengkhianatan yang dilakukannya pada Papa, karena Papa melarangku dan Vino untuk membencinya, kami berdua hanya harus berfokus pada pendidikan dan juga karir kami nantinya, serta mendoakan Mama agar dia kembali ke jalan yang benar, aku selalu ingin membencinya karena dia mengkhianati Papa tetapi aku selalu teringat pesan Papa, jadi aku selalu menahan diriku untuk melakukan itu tetapi saat ini tiba-tiba kebencianku padanya semakin besar, apa menurutmu aku masih harus memanggilnya Mama lagi??? Dia ternyata tidak hanya mengkhianati Papa, dia mengkhianati Vania dan dia adalah penyebab dari kematian putrinya sendir, tanpa merasa bersalah dia justru kabur bersama si brengsek itu, apakah itu yang dinamakan seorang ibu?? Apa yang dilakukannya tidak akan oernah bisa ku maafkan begitu saja"
Isakan Vitto begitu pedih dan memilukan. Ini pertama kalinya Rana melihat seorang laki-laki menangis di depannya dan tangisan itu mengungkapkan semua kekecewaannya. Vitto menutup wajahnya denga kedua telapak tangannya, dan dia terus menangis. Rana tidak tega melihatnya dan dia refleks memeluk lelaki itu, mengusap punggungnya untuk menenangkannya. Rana bisa mengerti keadaan Vitto saat ini, tangisan seorang anak tetapi dalam tangisan itu penuh kemarahan dan kekecewaan terhadap ibunya sendiri. Kali ini bukan hanya hati Papa Vitto dan Vania saja yang hancur tetapi Vitto juga. Semua itu pastilah menghancurkan keluarga mereka. Bukan penyesalan yang di rasakan oleh Mama Vitto, justru dia tetap bertahan dengan laki-laki yang menjadi akar dari semua permasalahan yang terjadi.
"Seorang ibu tetaplah seorang ibu, sebesar apapu kesalahannya kau tidak boleh membencinya Vitto, karena kita tidak akan bisa menggantikan perjuangan dia ketika melahirkan kita, seperti kata Papamu bahwa kau ataupun Vino tidak boleh membenci Mama kalian karena dia berpikir bahwa surga kalian tetap ada di bawah kaki Mama kalian, mungkin inilah ketakutan dari Papa kalian kenapa dia memilih merahasiakan semuanya dari kalian karena tidak ingin kalian menjadi anak yang durhaka dengan membeci Mama kalian sendiri, kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan tetapi seburuk apapun perilakunya dia tetap ibu kalian yang melahirkan kalian dengan taruhan nyawa, benci saja sikapnya jangan dirinya, dan seperti Papa kalian bilang doakan dia agar dia bisa kembali ke jalan yang benar, itu saja yang harus kau lakukan...!" Ujar Rana dengan terus memeluk Vitto untuk meredahkan kesedihan dari lelaki itu.
Vitto melepaskan pelukan Rana lalu menyeka airmatanya dan tersenyum kepada Rana. "Thanks Ran...!" Ucap Vitto. "Thanks kau membuatku merasa lebih baik sekarang...!"
Rana membalas senyuman Vitto kemudian meletakkan tangan kanannya di pundak Vitto. "Aku senang bisa membantumu, dan aku hanya ingin berpesan padamu, bahwa jangan sampai kau melakukan hal yang buruk seperti membenci Mamamu, semua orang memiliki masanya sendiri untuk bisa berubah, akan ada masa baik berubah menjadi buruk, akan ada masa yang sebelumnya buruk menjadi baik, tetapi kita harus mengingat satu hal, jika ada orang yang sebelumnya baik lalu menjadi buruk, kita jangan pernah menjudge keburukannya tetapi kita harus ingat dengan kebaikan yang sudah dia lakukan, begitu juga sebaliknya, jika dia buruk lalu menjadi baik, jangan ingatkan dia dengan keburukannya tetapi kita harus memberinya kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi, karena apa? Karena Tuhan sendiri adalah maha pemaaf.."
__ADS_1