
"Kenapa kau melarangku mengatakan itu? Apa kau takut kejahatanmu akan terbongkar???"
"Diamlah....! Kau menurut saja apa yang aku katakan, kau sepertinya senang sekali menentangku??? Jika aku mau aku bisa langsung menghabisimu saat ini juga....!" Geram Vino.
"Lakukan saja jika itu membuatmu puas....! Aku lebih baik mati sekarang daripada harus terus mengalami penyiksaan darimu...!" Ucap Rana dengan suara tegas.
"Kau masih menentangku ternyata, aku bisa saja menghabisimu sekarang tetapi itu tidak akan membuatku puas sebelum kau terlihat benar-benar menderita...! Ingatlah satu hal Rana, aku hisa melakukan apapun untuk menghancurkan hidupmu, impianmu dan segalanya yang menjadi milikmu, apa kau lupa bahwa aku dengan mudahnya menghancurkan tempat bisnismu, dan aku juga bisa dengan mudah membakar rumahmu jika kau terus saja bersikap seperti ini, menentangku dan menolak keinginanku... Apa kau mau melihat rumahmu terbakar malam ini???"
Vino menatap Rana tajam, mengancamnya penuh tekad. Ya, Vino tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. Dan bukan hal yang sulit untuk melakukannya.
Rana terdiam dan memandangi Vino mencoba mencari kelembutan dimata lelaki itu tetapi sayangnya Rana tidak menemukannya. Rana tidak tahu kenapa Vino begitu membencinya, padahal Vino jelas tahu bahwa dia sangatlah mencintainya. Mata Rana mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa kesalahanku Vino? Aku minta maaf jika aku pernah melakukan kesalahan padamu tetapi Aku mohon hentikan semua ini, rasanya sudah cukup...! Aku sudah hancur karena kehilangan bisnisku, kenapa kau ingin melakukan hal lain lagi padaku? Kenapa kau membalas cintaku dengan hal sekejam ini? Kenapa???"
Airmata Rana mulai membanjiri kedua pipinya. Rana kembali menangis memandangi Vino tetapi lelaki itu sama sekali tidak peduli dengan tangisannya. Vino justru menertawakan Rana.
"Makanlah cintamu itu, kau pikir dengan kau menangis itu akan membuatku luluh??? Kau memang gadis yang bodoh sekali, yang bisa kau lakukan hanya terus menangis dan menentangku, jika kau mau sekali saja menurutiku mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk melepaskanmu....! Jadi sekarang kau mau menyetujui atau tidak permintaanku tadi untuk tidak mengatakan apapun pada Vitto tentang kau dan aku...??"
__ADS_1
"Jika aku melakukannya apa kau akan membebaskanku???" Tanya Rana.
Vino mengangguk. "Ya, aku akan membebaskanmu dalam waktu dekat ini jika kau bisa menjaga mulutmu...!" Jawab Vino.
Tetapi tentu itu hanyalah harapan palsu yang Vino janjikan, karena dia tidak akan mungkin melepaskan Rana begitu saja. Justru hal besar lainnya sudah dia persiapkan untuk Rana.
"Aku pegang janjimu itu, aku tidak akan mengatakan apapun kepada lelaki itu" Sahut Rana kemudian.
Sebenarnya Rana menyetujui permintaan Vino itu selain ingin bebas, Rana juga ingin menyelamatkan rumahnya dimana tempat itu saat ini menjadi harapan terakhir Rana setelah Bakerynya di bakar oleh Vino. Meskipun Rana tahu bahwa rumahnya saat ini sedang di sewakan tetapi sewa itu hanya 5bulan, dan nanti setelah bebas dari tempat ini dia bisa mencari tempat tinggal sementara samb menunggu masa sewa rumahnya habis.
Vino tersenyum sambil mengusap kepala Rana. "Gadis yang pintar....!" Gumam Vino. "Awas saja jika kau mencoba mengatakan masalah kita pada orang lain, aku tidak akan segan-segan membakar rumahmu..." Ancam Vino lagi.
Tanpa rasa curiga Rana mengambil obat itu dan meminumnya. Vino kemudian keluar dan menutup pintu kamar Rana lalu menguncinya. Rana diam menatap kepergian Vino, hingga akhirnya dia kembali menangis lagi. Takdirnya begitu buruk, dia memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada lelaki itu agar bisa menjaga dan melindunginya tetapi Vino justru menghancurkan semuanya. Bukan melindungi atau menjaganya, Vino justru menyiksanya bahkan tidak segan-segan untuk membunuhnya. Perangainya yang selama ini terlihat manis, baik dan senyumnya tidak oernah hilang dari wajah tampannya ternyata itu hanyalah topeng untuk menutupi semua keburukannya. Rana merasa sangat sakit sekali dengan semua kenyataan itu, tetapi semua sudah terlambat, ini adalah keputusan yang sudah Rana ambil bahkan Rana masih sangat menyesal tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Jeany waktu itu. Rana bahkan rela memutuskan persahabatannya dengan Jeany yang sudah dijalin selama bertahun-tahun dan justru dia lebih memilih percaya pada Vino yang ternyata sudah melakukan kebohongan besar. Dalam tangis dan isakannya, Rana mulai merasa mengantuk, dia pun kembali berbaring, menarik selimut lalu tidur.
★★★★★
Pintu kamar Rana di buka dari luar, Rana tahu itu tetapi dia bersikap biasa saja dan asyik melanjutkan membaca buku. Entah kenapa tadi dia tertidur begitu nyenyak hingga sore baru bangun. Tetapi Rana bberpikir itu terjadi karena akhir-akhir ini dia selalu tidur larut dan selalu mengakhiri harinya dengan menangis. Bukan Vino ternyata yang masuk melainkan pelayan.
__ADS_1
"Makan malam sudah siap, Tuan Vino dan yang lainnya sudah menunggu anda untuk turun dan bergabung...! Dan tuan Vino berpesan agar anda nanti mematuhi kesepakatan yang anda buat tadi siang...!" Ucap Pelayan itu dengan nada yang ketus seperti biasanya.
Rana meletakkan buku bacaannya dan berdiri kemudian mengikuti pelayan itu keluar kamar. Rana tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti saja. Rana tentu sudah menyiapkan diri untuk mengikuti kemauan dari Vino agar tidak banyak bicara, karena jika dia salah berucao, Vino pasti akan murka sekali, lalu entah apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu nantinya.
Sampai di ruang makan, ternyata memang benar, Vino dan yang lainnya sudah menunggunya. Rana melangkah pelan dan pelayan itu menarikkan kursi untuknya kemudian mempersilahkannya untuk duduk. Kali ini suara pelayan itu berubah menjadi lemah lembut tidak ketus seperti biasanya, entah apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Rana mencibir dalam hati, dan menyadari mungkin pelayan itu merubah sikapnya karena ada banyak orang disini. Sangat tidak tahu diri itulah yang ada dipikiran Rana melihat perubahan sikap pelayan itu.
Vitto tersenyum kepada Rana. "Bagaimana keadaanmu??" Tanya Vitto.
"Aku baik...!" Jawab Rana singkat, sementara Vino diam-diam saling berpandangan dengan Angel.
"Kau ini kenapa bisa melompat ke kolam renang kalau kau tidak bisa berenang? Itu kan bahaya sekali... Apa Vino yang memaksamu melakukannya???" Tanya Vitto.
Rana terdiam dan mengarahkan pandangannya pada Vino, hal itu langsung disadari oleh Vitto. "Jangan takut, katakan saja padaku, apa Vino yang memaksamu?? Jika iya aku akan memberinya pelajaran. ..!" Ucap Vitto lagi.
Rana menggeleng dan mengatakan bahwa itu adalah keinginannya sendiri, tidak ada paksaan dari siapapun. Vitto sebenarnya tidak puas dengan jawaban Rana tetapi dia memilih tidak melanjutkan membahas tragedi siang tadi. Vitto kali ini mengarahkan pandangannya secara bergantian kepada Vino dan Angel. Tatapan Vitto adalah tatapan menuduh. Vitto sangat tahu betapa liciknya Angel dan perempuan itu saat ini sudah berhasil merubah Vino menjadi orang yang keras kepala dan tidak lagi peduli dengan orang lain, bahkan Vino jjuga sudah berani dengan Papa mereka, Vino tidak lagi memiliki rasa hormat kepada orangtuanya semua itu tidak terlepas dari Angel yang sudah menghasutnya.
"Angel...! Bagaimana liburanmu dengan Vino kemarin? Kalian berdua liburan kemana?" Tanya Vitto tiba-tiba.
__ADS_1
Vino dan Angel lansung terperangah mendengar pertanyaan itu dari Vitto. Lelaki itu menanyakan perihat liburan mereka di depan Rana. Sementara Rana juga terlihat kaget mendengar itu. Vitto melirik ke arah Rana. "Oh iya Rana kau juga pasti ikut kan kemarin mengingat kau juga ada disini bersama mereka berdua...! Kalian liburan dimana??" Tanya Vitto lagi.