Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 58


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Rana sudah benar-benar membaik da sudah sembuh meskipun lebam di beberapa bagian tubuhnya masih belum sepenuhnya hilang. Juga luka bakar akibat setrika waktu itu juga semakin mengecil. Vino tidak banyak bicara akhir-akhir ini, tidak ada kemarahan dari lelaki itu, dan Rana tidak tahu apa yang dilakukan Vino karena lelaki itu tida pernah ke kantor juga tidak keluar dari Villa ini terutama dari ruang kerjanya. Rana hanya melihatnya ketika sarapan, makan siang dan makan malam di ruang makan. Vino sekarang sudah membiarkan Rana untuk makan di ruang makan dan tidak lagi mengirim makanan ke kamarnya.


"Mungkin akan lebih baik aku berbicara dengan Vino perihal pernikahan ini, aku tidak bisa jika harus terus begini, Vino saat ini sedang terlihat tenang, ku harap dia mau mengerti!" Gumam Rana.


Ya. Rana ingin sekali berbicara perihal pernikahannya dengan Vino. Rana sudah tidak mau mengharapkan apapun lagi dari Vino mengingat Vino memang tidak pernah mencintainya dan Lelaki itu juga memiliki Angel. Rana ingin mengakhiri semua ini dan dia akan berjanji bahwa dia tidak akan menuntut apapun dari lelaki itu. Sehingga dia bisa kembali menata kehiduoannya dan mencari pekerjaan nantinya. Bakery nya sudah habis terbakar dan Rana tidak bisa mengharapkan apapun lagi selain harus mencari pekerjaan yang baru. Dan untuk rumahnya yang saat ini disewa oleh orang, Rana akan menunggu sampai waktunya yang hanya 5bulan. Rana mencoba mengikhlaskan semuanya dan dia hanya ingin bebas saja dari semua ini.


Sementara itu, Vino duduk termenung di kursi kerjanya. Tatapannya lurus dan tanpa ekspresi. Vino sedang tidak baik-baik saja saat ini, karena Angel tidak bisa dihubungi dan pesannya juga tidak di balas. Jika pun Angel membalas hanya sesekali itupun setelah berjam-jam. Vino sangat gusar sekali, apakah sesibuk itu kekasihnya sehingga untuk membalas pesan saja Angel tidak sempat.


Ingin rasanya Vino berteriak keras dan melampiaslan kemarahannya. Angel tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan dia benar-benar merindukan perempuan itu. Vino juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan kepada Rana selanjutnya karena semua yang terjadi kemarin kebanyakan adalah ide dari Angel. Vino seperti mati kutu tanpa Angel disini.


Rana keluar dari kamarnya dan langkahnya pelan menuruni tangga menuju ruang kerja Vino yang ada di pojok tepat dibawah tangga. Rana berharap dia bisa berbicara dan berdiskusi dengan Vino. Kemudian permasalahan yang masih belum Rana ketahui juga bisa segera terselesaikan. Hanya itu yang Rana inginkan saat ini, tidak ada yang lain.


Rana mengetuk pintu ruang kerja Vino, lalu perlahan membukanya dan bertanya apakah dia boleh masuk. Vino menatap kedatangan Rana lalu menyuruhnya untuk masuk dengan suara dingin


"Ada apa kau kesini????" Tanya Vino.


"Aku ingin berbicara denganmu....!" Jawab Rana.


"Bicara apa???"


"Vino....!" Gumam Rana. "Aku ingin membicarakan pernikahan kita, aku ingin kau melepaskanku menjadi tawananmu, aku ingin kita membatalkan pernikahan ini, aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku tidak akan lagi mempermasalahkan semua yang sudah terjadi, kau menyiksaku dan lainnya aku tidak akan menuntutmu, aku sekarang hanya ingin memulai kehidupan baruku, ku harap kau mengerti itu Vino...!"


Vino menatap Rana dalam diam. Dia melihat Rana dari kepala hingga kaki. Perempuan di depannya ini yang sudah coba dia perlakukan baik beberapa hari terakhir justru kembali meminta hal yang sangat dibencinya. Rana sepertinya ingin memanfaatkan kebaikan serta kelonggaran yang dia berikan akhir-akhir ini, padahal Vino sudah mengatakan dengan keras bahwa dia sangat tidak suka dengan permintaan itu. Dia tidak akan pernah melepaskan Rana sebelum seluruh dendamnya terbalaskan. Rana sepertinya besar kepala dan berharap Vino dapat mengabulkan keinginannya.


"Apa kau bilang..? Kau ingin pergi dari tempat ini??? Pergi saja jika kau bisa...!" Jawab Vino ketus.


Rana mengernyit, tidak menyangka jika Vino akan kembali mengatakan hal itu. Dia benar-benar berpikir bahwa Vino sudah berubah. "Kenapa kau berbicara seperti itu lagi? Bukankah kau sudah memberiku kelonggaran...?"


"Kelonggaran? Aku membebaskanmu disinj bukan berarti aku mau mengampunimu, kau sakit dan aku harus membiarkanmu sembuh setelah itu aku akan melanjutkan lagi menyiksamu seperti kemarin???"


"Apa????" Seru Rana.


Vino terkekeh. "Kenapa? Apa kau pikir aku baik padamu lalu kau tidak akan ku siksa lagi, jangan pikir aku bodoh Rana, tidak akan bisa aku melepaskanmu begitu saja.....!"


Mata Rana berkaca-kaca dan dia kembali menangis lagi. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku Vino? Apa semua ini belum cukup?? Setidaknya beritahu apa kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya, aku sudah sering meminta maaf padamh atas kesalahan yang tidak aku ketahui tetapi kenapa kau masih tidak mau mengatakannya padaku.....!" Rana berucao sambil sesenggukkan.


Vino hanya diam dan tidak merespon ucapan dan pertanyaan Rana.


"Aku mohon Vino, berhentilah bersikap seperti ini padaku, jika kau tidak mau melepaskanku setidaknya beritahu aku apa kesalahnku padamu? Berhenti juga mempermainkan sebuah pernikahan hanyabuntuk dendam kesumatmu yang luar biasa itu, takutlah setidaknya pada Tuhan, setidaknya hargai aku sebagai istrimu, kalau kau tidak mencintaiku tidak apa tetapi jaga sikapmu kepadaku, perlakukan aku layaknya manusia lainnya jika kau tidak bisa memperlakukanku sebagai istrimu...!"


Vino menatap nyala mata Rana, dia memundurkan kursi kerjanya, berdiri dan langsung menghampiri Rana. Vino berdirii di deoan Rana dengan penuh kemarahan lalu meraih pergelangan tangan perempuan itu dan menariknya dengan kasar untuk membawanya keluar dari ruang kerjanya.


"Baiklah... Jika kau ingin diperlakukan seperti seorangbistri aku akan melakukannya....!" Gumam Vino dan menarik Rana kasar.


Vino mencekal lengan Rana dan memaksanya keluar dari ruang kerjanya.


"Ayo." Gumamnya marah.


Rana ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari pegangan Vino, tetapi cekalan tangan lelaki itu begitu kuatnya,

__ADS_1


"Sakit Vino!" Rana berteriak ketika Vino menyeret lengannya menaiki tangga, tetapi Vino tampaknya sudah mengeraskan hatinya sehingga tidak mempedulikan kesakitan Rana.


Mereka menuju kamar Rana, bukan kamar utama, Vino membuka pintu kamar itu dan mendorong Rana masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.


Tiba-tiba perasaan terancam menyelubungi benak Rana, dia menatap suaminya yang berdiri dengan marah di dekat pintu dan merasa takut, takut akan tekad kuat yang menyala-nyala di mata suaminya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rana


Vino membuka Tshirtnya dan melemparnya begitu saja.


"Menurutmu apa?" Geram Vino


Rana langsung mundur beberapa langkah menjauhi Vino, apakah lelaki ini akan melakukan apa yang ditakutkannya? Mungkinkah Vino sekejam itu?


"Kumohon jangan" Rana bergumam, ketika menyadari bahwa Vino benar-benar akan melakukannya.


Vino tersenyum sinis, "Aku tahu di kepalamu penuh dengan pemikiran licik, berputar mencari jalan untuk pergi dari tempat ini. Tetapi aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkanmu melenggang bebas dengan bahagia" Vino maju selangkah membuat Rana langsung mundur selangkah ketakutan.


"Kau istriku, dan aku suamimu kan? Sepertinya aku harus membuatmu menyadari posisimu"


"Jangan Vino" Rana bergumam lagi, berusaha menyadarkan lelaki itu yang entah kenapa tampak begitu marah dan tidak bisa menahan diri.


Tetapi Vino tidak mempedulikannya, dia akan merenggut Rana, dan mendorongnya ke ranjang, ketika Rana mundur dan hendak bangkit dari ranjang, Vino langsung mencengkeramnya dan menindihnya.


Rana berteriak sekuat tenaga, berusaha menyingkirkan Vino, tetapi tubuh lelaki itu terlalu berat, terlalu kuat, dan apalah dayanya, seorang perempuan lemah dibawah kuasa lelaki yang sedang penuh kemarahan?


Rana memberontak dan mulai panik. "Apa yang ingin kau lakukan Vino??? Lepaskan aku...!"


Dengan takut Rana terus berusaha melepaskan diri.


"Seorang istri harus melayani suaminya kan???" desis Vino.


"Dan sekarang aku akan melakukannya dengan istriku yang selalu meminta untuk diperlakukan seperti istri lainnya..." Timpal Vino lagi.


Kata-kata Vino yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah-olah bergaung di ruangan yang hening itu.


Lelaki itu sudah melepaskan semuanya, dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Rana gemetar cemas.


"Tidak Vino jangan lakukan ini, please...!" Rana masih mencoba, meskipun melihat ekspresi wajah Vino, ia tahu ia tidak akan berhasil.


Vino terlalu marah, dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.


"Kita akan mulai dari sekarang" gumam Vino datar.


"Vino jangan..." wajah Rana langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.


"Lepaskan!" Teriak Rana lagi


Nada suara Vino begitu menakutkan. Mungkin Rana akan lebih berani menghadapi jika Vino berteriak-teriak marah dan membentaknya juga menyiksanya. Tetapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.


Napas Vino mulai terengah-engah, lalu semakin menekan Rana.

__ADS_1


Rana berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Vino yang keras dan berat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Vino yang kuat dan tanpa ampun.


Tetapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah, bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Rana yang rapuh.


Lelaki itu seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika dia menatap Rana. Dengan ketakutan yang amat sangat, Rana berusaha memberontak dan turun dari ranjang, tetapi Vino menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar, lalu menindihnya lagi.


Rana mengernyit merasakan cengkeraman tangan Vinl yang kasar di tangannya.


"Sakit Vino...kumohon..."


"Diam!!" seru Vino marah, dan ketika Raa meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahan Vino, lelaki itu merobek baju Rana dan mencoba membuka pahanya.


Rana berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Vino pasti akan melukainya. Tetapi Vino tidak peduli. Ketika merasakan Rana tidak basah dan tidak siap, lelaki itu tetap menyatukan dirinya.


Vino mendorong miliknya dengan kasar dan dia tahu bahwa Rana masih Virgin, tetapi Vino tidak peduli. Dia terus mendesak memaksa masuk, hingga akhirmya penghalang itu robek dan Vino berhasil menembusnya. Seketika itu teriakan Rana memekik di telinga Vino.Lelaki itu tidak bergerak pelan melainkan kasar dan Rana tidak berhenti berteriak kesakitan dan memohon agar Vino mau berhenti tetapi akal sehat Vino sudah tidak ada, dan dia terus bergerak kasar.


Bagi Rana itu adalah kesakitan yang luar biasa, sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti pel*cur rendahan yang tak ada harganya. Rana hanya bisa menangis selama proses itu berharap belas kasihan Vino, tetapi itu tetap tidak membuat Vino mengehntikan kegilaannya. Vino terus bergerak kasar


Pada akhirnya pertahanan Rana berubah menjadi air mata, air mata sakit hati dan penderitaan. Ketika suaminya akhirnya merenggut kesuciannya dengan kasar dan tanpa perasaan, tidak mempedulikan kesakitan dan tangisan permohonannya.


Ini adalah penyatuan pertama yang sama sekali tidak pernah diimpikan oleh Rana. Penuh pemaksaan, dirinya direndahkan bagaikan seorang pelacur, dan penuh rasa sakit, luar dalam.


Dan setelah melakukannya, Vino mengangkat tubuhnya dan berbaring di sebelah Rana, membelakanginya, masih tidak peduli dengan tangisan dan isakan Rana.


Ingatan Rana kemudian melayang kepada ibunya yang penuh kasih dan selalu mendoakan kebahagiaannya suatu saat nanti, mendoakan agar Rana menemukan suami yang penuh kasih dan bisa menjaganya.


Rana menggingit bibirnya, tersengal atas tangis yang


pekat.


"Mama... aku diperkosa...." Gumam Rana dalam hati sambil memeluk tubuhnya sendiri, rintihan itu diselingi tangis, dan


Rana memanggil nama ibunya, merindukan pelukan ibunya dan elusannya yang menenangkan, dan begitu kesakitan ketika menyadari kenyataan bahwa dia sendirian dan sebatang kara.


Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Vink, tapi Ranna menahan diri, digigitnya bibirnya hingga hampjr berdarah, di tahankannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan di tekannya hatinya dalam dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkepingkeping.


Rana berbaring memunggungi Vino, matanya nanar, penuh airmata. Napasnya sesak karena isakan yang ditahannya.


Setelah semua usai, Vino sedikit menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya, sampai napas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening. Rana tahu Vino tidak tidur, lelaki itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, terlentang menatap langit-langit kamar. Tetapi Rana langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur.


Dirasakannya Vino bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan mengehentikan dirinya di detik terakhir.


Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Rana tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.


Lama-lama dia merasakan tubuh Vino berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Rana menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Vino sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.


Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan, dan Vino sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Rana memar akibat ciuman yang terlalu kasadan Vino menggigit bibir bawahnya, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.


Tetapi yang paling sakit adalah hati Rana.


Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Rana, tapi dia menahan isakan dengan menggigir bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Rana duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaiann dalamnya yang setengah dirobek oleh Vino saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi.

__ADS_1


Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Vino berbaring miring dan tertidur pulas, Rana bangkir berdiri dan memunguti pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Rana menguatkan diri. Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Vino.


Tetapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Rana selesai berpakaian. Rana kemudian oerlahan membuka pintu dan keluar meninggalkan Vino yang tertidur pulas setelah melakukan hal hina itu. Rana terisak berjalan pelan menuju taman belakang rumah untuk menenangkan diri. Ingin seklai dia kabur tetapi di rumah ini tidak ada sama sekali hal yang bisa membantu Rana untuk kabur. Hati Rana benar-benar hancur sekali saat ini.


__ADS_2