
"Kau tidak jadi bekerja??? Apa Vino menolakmu???" Tanya Rana seraya menghampiri Vitto yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kau kenapa terlihat khawatir sekali, Vino belum menyiapkan ruangan untukku jadi dia meminta aku datang besok saja...! Ayo bantu aku bersiap-siap...!"
Rana mengernyit. "Bersiap-siap??? Memangnya kau mau kemana???"
"Aku akan pulang bersamamu tentu saja!"
"Bukannya kau hanya akan mengantarku???" Tanya Rana lagi.
"Tidak, aku akan tinggal bersamamu seperti kemarin lagi, aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di apartemen, apalagi kau sedang hamil, bagaimana kalau malam-malam kau meminta sesuatu atau kalau pagi kau muntah-muntah siapa yang akan membuatkanmu sarapan jika bukan aku, sekarang jangan banyak bertanya, bantu aku beres-beres, aku harus membawa beberapa setelan juga sepatu untuk bekerja...!"
Rana dan Vitto pun berjalan menuju kamar Vitto untuk mengemasi pakaian yang akan di gunakan oleh laki-laki itu. Vitto mengambil tas juga beberapa pakaian serta setelan jas miliknya, sementara Rana duduk dan melipatnya. Wajah sumringah Vitto terlihat sangat jelas, membuat Rana juga merasa senang. Vitto akan memulai hal yang baru dan berharap Vitto bisa menikmatinya dengan baik.
Rana tahu dibalik alasan Vitto menerima tawaran itu adalah untuk membantu Papanya menangani langsung rencana kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh pria yang dulu pernah dilihatnya bersama Angel. Itu adalah misi utama Vitto sebenarnya, tetapi Vitto tetap mengedepankan keinginan Papanya dan Vino untuk bersama-sama membesarkan perusahaan keluarga mereka.
Ditempat lain, Angel tengah menghubungi seseorang tetapi sejak tadi belum diangkat juga. Angel menghubungi Mamanya karena dia harus mengatakan sesuatu pada sang Mama. Selama seminggu ini dia tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan Mamanya ataupun Jason karena selama liburan, Vino tidak pernah berada jauh darinya. Dari pagi hingga malam mereka selalu berdua. Tidak ingin terjadi masalah yang serius, Angel memilih menghindari Jason dan Mamanya dengan tidak berkomunikasi sama sekali. Tetapi itu sudah menjadi kesepakatan mereka sejak lama, sehingga sampai saat ini tidak pernah ada yang curiga dengan mereka, karena mereka benar-benar menjaga dengan baik segalanya sekaligus berhati-hati ketika memutuskan untuk berkomunikasi, mengatur waktu dengan baik.
Karena sekarang Angel tidak bersama dengan Vino, maka ini adalah kesempatan yang bagus untuk membahas sesuatu yang diketahuinya dari Vino beberapa hari yang lalu. Angel harus melaporkan segalanya pada sang Mama untuk mendapatkan solusi ataupun rencana lainnya.
Vino sudah banyak membahas tentang rencana perceraian Papa dan Mamanya pada Angel kemarin. Meskipun tidak secara detail tetapi Vino menegaskan bahwa Mamanya tidak akan mendapatkan apapun dari perceraian itu. Dan Vita akan menjadi tidak berguna lagi setelahnya. Angel bingung, dan jika itu terjadi misi terakhir mereka akan gagal, karena mereka masih membutuhkan beberapa milyar lagi sebelum akhirnya akan mencampakkan Vita dan juga Vino. Bagaimanapun misi mereka semuanya harus terpenuhi dan tidak boleh gagal ditengah jalan karena akan merusak semuanya. Itu sebabnya Angel merasa gelisah beberapa hari ini. Beberapa kali mencoba panggilan itu masih belum mendapatkan jawaban. Angel pun memilih menyerah, sepertinya Mamanya sedang sibuk atau mungkin sedang tidur.
Angel mengambil ponselnya yang satu lagi dan dia menerima pesan dari Vino. Lelaki itu seperti biasanya mengirim pesan romantis sambil menanyakan apakah Angel sudah bangun atau belum dan apakah sudah sarapan. Angel membuang muka sambil memasang wajah muak, baginya ini sangat membosankan dan Vino seperti perangko yang terus saja melengket kepadanya. Tidak ada pilihan lain, Angel harus tetap bertahan dengan keadaan seperti ini, semuanya belum akan berakhir dalam waktu cepat.
__ADS_1
Dengan keahliannya yang hobi berbohong, Angel membalas pesan Vino dengan kata-kata yang tidak kalah romantisnya. Vino membalas lagi dan kali ini Vino mengajak Angel untuk makan siang bersama di restoran mewah yang biasa mereka datangi. Angel pun menyanggupinya dan nanti akan menunggu disana saja.
*****
"Vitto...! Tiba-tiba saja aku ingin minum es cincau....!" Ucap Rana.
Saat ini dia dan Vitto sedang berada di dalam mobil menuju apartemen Vitto. Setelah tadi Vitto berkemas, mereka berdua langsung bergegas untuk segera kembali ke apartemen.
"Cincau??? Kau ingin es cincau???"
"Ya...! Kita cari ya???" Pinta Rana.
"Cari dimana???" Tanya Vitto meragu tetapi dia ingat bahwa mungkin Rana sedang ngidam, dan perempuan ngidam itu harus dituruti. "Ah ya sudah kita cari, tapi minumnya di mobil saja, jangan keluar...!"
"Vitto... Aku mau es cincau yang dijual di gerobak, tidak mau yang direstoran atau cafe....!" Pinta Rana lagi.
"Di gerobak? Yang dipinggir jalan???" Vitto berseru dan merasa heran.
"Iya...!"
"Cari yang di cafe atau di mall ada beberapa restoran atau outlet yang menjualnya, kita cari disana saja oke???"
Rana menggeleng. "Tidak mau.... Aku ingin yang digerobak pinggir jalan saja...!"
__ADS_1
"Kalau pinggir jalan nanti pasti tidak bersih...!" Protes Vitto.
"Bersih....! Harganya juga terjangkau rasanya enak dan otentik, sekalian kita membantu yang jualan...!"
Vitto menghela. "Oke baikklah.... As you wish...!"
Di tempat lain, ponsel Angel berbunyi dan perempuan itu tersenyum mendapati sang Mama akhirnya menghubunginya dia langsung mengangkat dan memprotes Mamanya karena tidak memgangkat panggilannya sejak tadi. Ternyata tadi Mama Angel sedang bersama temannya, dan mereka ada di club untuk berpesta sehingga tidak mengangkat karena di dalam terlalu berisik.
Angel mencoba mengerti alasan sang Mama, dan tanpa basa-basi lagi dia pun menceritakan segalanya tentang apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Vino dan keluarganya, juga bagaimana Vita kebingungan saat memberitahu Jason bahwa dia akan diceraikan oleh Andri Prakarsa, Papa dari Vino. Seluruh cerita Vino, Angel sampaikan kepada Mamanya dan dia meminta solusi dari segala permasalahan yang ada saat ini. Apa yang harus dilakukannya dan apa juga yang harus dilakukan Jason pada Vita, karena saat ini sudah tidak banyak lagi yang bisa di dapatkan oleh Vita jika suaminya benar-benar menceraikannya. Vita akan langsung menjadi miskin, meskioun itu yang sejak awal diinginkan oleh Jason, tetapi tentu tidak untuk saat ini karena yang mereka inginkan belum sepenuhnya tercapai.
"Bagaimana Ma??? Vita tidak akan mendapatkan apapun lagi? Apa yang harus kita lakukan sekarang jika Vita sudah tidak bisa berguna, bukankah kita harus segera menyelesaikan semua ini???? Aku takut misi kita belum selesai dan semuanya sudah ketahuan... Itu sangat berbahaya untuk kita bertiga...!"
Mama Angel terdiam sesaat, mencoba berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada saat ini. Sampai akhirnya dia menemukannya. "Jason... Dia akan tetap dalam rencananya untuk membodohi Vita dan meminta wanita tua itu menuntut harta gono-gini, berhasil tidak berhasil Jason harus tetap melakukannya. Misi kita akan lebih cepat selesai dari rencana kita sebelumnya, jika kau mau melakukan satu hal besar.... Itu akan menguntungkan, dan secara bersamaan kau dan Jason akan bersama-sama meninggalkan ibu dan anaknya yang bodoh itu....!" Gumam Mama Angel.
"Aku harus melakukan satu hal besar??? Apa itu Ma????" Tanya Angel penasaran.
"Ajak Vino segera menikahimu.....!"
"Apa??? Menikah dengan Vino??? Yang benar saja Mama ini..." Protes Angel.
"Hei dengarkan Mama, ini adalah awal bagus dan kita bisa mengakhirinya dengan cepat...! Dengarkan perintah mama ini dan lakukan dengan baik...!" Mama Angel pun menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Angel nanti setelah mengajak Vino menikah. Angel harus melakukan semua itu dengan baik, setelah semuanya beres, Angel bisa langsung meninggalkan Vino.
Angel mengerti maksud Mamanya. "Baiklah akan aku coba...!" Gumamnya sambil tersenyum menyeringai penuh kemenangan. Itu adalah hal yang sangat mudah dilakukan pada Vino, dan Angel yakin dia bisa membodohi Vino lagi untuk kesekian kalinya.
__ADS_1