
Selama perjalanan, Vitto mengemudikan mobionya pelan sekali sambil melihat ke sisi jalan untuk menuruti keinginan Rana. Dan Vitto akhirnya menemukan penjual es yang diinginkan oleh Rana. Dia memakai kacamata hitamnya dan juga masker, kudian keluar dari mobil untuk membelikan Rana.
"Tunggu...!" Ucap Rana sambil memegang tangan Vitto yang hendak membuka pintu mobil.
Vitto menoleh. "Kenapa? Apa kau tidak jadi menginginkannya???" Tanya Vitto.
Rana menggeleng sambil tersenyum. "Belikan aku itu juga...!" Rana menunjuk ke sebuah pedagang cilok yang ada di sebelah pedangan Es.
"Cilok???" Vitto bergumam sambil mengernyit.
"Ya... Beli itu juga, aku minta yang lengkap, tanpa saus sambal, hanya kecap dan saus kacang saja...! Sepertinya enak...!"
"Kau ini, serius mau yang itu???"
"Iya... Buruan....!" Pinta Rana sambil merengek.
"Oke oke...!" Vitto pun membuka pintu mobilnya dan keluar.
Vitto membeli 2 dan meminta agar di letakkan di cup plastik saja. Penjual itupun membungkus esnya sesuai yang di minta oleh Vitto. 2 gelas Es cendol di berikan kepada Vitto. Vitto pun mengambil selembar uang pecahan seratus ribu dan memberikannya pada penjual itu tanpa meminta kembalian. Vitto kemudian beralih ke pedagan sebelahnya dan hanya meminta dibungkuskan satu saja yang lengkap tanpa saus sesuai keinginan Rana. Vitto kembali memberikan uang 100 ribu tanpa meminta kembalian lalu kembali masuk ke mobilnya dan memberikannya pada Rana.
Senyum Rana langsung mengembang di wajahnya dan dia menerima makanan serta minuman yang dibelikan oleh Vitto. Rana mengaduk es nya dengan sedotan sebelum kemudian menyeruputnya dengan perasaan senang. Sementara Vitto melepas kacamata serta maskernya dan menatap Rana dalam ekspresi datar.
"Kau membeli 2 kan, minumlah... ini segar dan enak sekali....!" Gumam Rana.
__ADS_1
"Kau tidak berbohong kan??? Jika besok aku sakit, kau yang harus bertanggjng jawab...!"
"Kau tidak akan sakit...! Ini enak... Cobalah...!"
Vitto meragu tetapi dia melakukan seperti yang dilakukan Rana tadi dengan mengaduk es itu kemudian meminumnya. Sejenak Vitto terdiam merasakannya, mencoba menerka tetapi dia menyadari bahwa rasanya memang enak dan segar.
"Bagaimana??? Kau suka???" Tanya Rana seraya mengangkat alisnya bergantian.
"Tidak seburuk yang aku duga...!" Gumam Vitto.
Rana menertawakan ekspresi Vitto. Lelaki ini pasti jarang atau mungkin tidak pernah jajan di luar, karena sejak kecil hidup di lingkungan keluarga yang berada. Dan saat ini Vitto juga bukan orang yang biasa saja. Lelaki itu punya nama dan pekerjaan bagus dan di kenal banyak orang, membuatnya harus selalu berhati-hati dalam berbagai hal.
Rana kali ini menusuk cilok dan menyatukan kecap serta saus kacangnya. Kemudian memasukkan ke mulutnya dan dia bergumam bahwa rasanya enak. Vitto kembali memandanginya dalam diam dan raut muka datar.
"Kau mau ini???" Rana menyodorkan makanan itu ke depan Vitto dan Vitto menggeleng.
Rana menusukkan satu lagi dan menyuapi Vitto. Lelaki itu masih menggeleng tetapi Rana tentu saja memaksa lagi dan berhasil. Vitto membuka mulutnya dan memakan makanan itu. Vitto mengunyah pelan lalu tersenyum pada Rana. "Enak....!" Ucapnya pelan.
"Hahahaha kan sudah ku bilang.....! Dan kau kenapa hanya membeli satu...!"
"Aku akan membeli lagi, kau makan saja itu...!" Vitto kembali memakai masker dan keluar mobilnya untuk membelinya, meninggalkan Rana yang sedang menertawakannya.
Tak lama Vitto kembali lagi ke mobil, memakai seat belt dan melanjutkan perjalanan pulang. Lelaki itu meminta Rana agar menyuapinya sambil mengemudi. Vitto tidak pernah memakan jajanan kaki lima seperti ini, dan ternyata rasanya cukup enak juga harganya terjangkau. Ini pengalaman pertama yang cukup menyenangkan.
__ADS_1
"Rana... Kau bisa membuat makanan seperti ini???" Tanya Vitto.
"Bisa saja, memangnya kau mau???"
"Ya, kapan-kapan kita harus membuatnya... Ini enak...!"
"Kau harus sering-sering jajan di pinggir jalan, rasanya tidak kalah dengan yang di cafe atau restoran, tapi harus lihat juga kebersihannya...!" Ujar Rana.
"Ya, kupikir kapan-kapan kita harus jalan-jalan keluar, tapi tentu tidak dalam waktu dekat ini... Maaf...!"
"Its okay....! Aku mengerti, dan itu juga bukan salahmu, aku yang justru mempersulitmu selama ini...!"
"Sudahlah jangan bahas itu, aku masih lapar, ini jam makan siang sebenarnya...! Kita pesan makanan saja dan makan di apartemen...!"
Rana tersenyum mengangguk menyetujui usulan Vitto. Rana mengambil ponselnya dan mencari makanan via online untuk kemudian di kirim ke apartemen. Sehingga saat sampai, dia dan Vitto tidak terlalu lama menunggu. Tidak lupa Rana juga memesankan untuk Tania dan Mario bodyguardnya.
★★★★
Di tempat lain, Vino sedang menunggu kedatangan Angel yang masih di jalan dan sebentar lagi akan sampai. Vino berada di restoran yang menjadi langganannya dengan Angel. Kemarin dia dan Angel baru saja mendarat setelah liburan selama satu minggu. Liburan yang entah kesekian kalinya dan mereka selalh melewatinya dengan bersenang-senang dan bercinta yang tidak tahu waktu. Dan hampir setiap bulan Vino selalu menyiapkan waktu khusus untuk pergi liburan dengan Angel, meskipun kadang hanya 3 hari dan paling lama biasanya satu minggu..
Meskipun sudah bertahun-tahun bersama tetapi cinta Vino tidak pernah berubah, justru setiap hari semakin bertambah. Walau Angel selalu saja menolak ketika diajak menikah, tetapi itu tidak merubah apapun. Bagi Vino selagi mereka bisa terus bersama dan selalu ada satu sama lain ketika dibutuhkan, itu sudah sangat cukup. Vino tidak ingin terlalu memaksa Angel agar mau menikah dengannya, takut perempuan itu akan merasa tidak nyaman, itu sebabnya sesekali dia mencoba bertanya jika Angel menolak maka Vino tidak akan membicarakannya lagi atau terus membahasnya di hari yang sama.
Sesekali Vino mengingat Rana, entah dimana perempuan itu sata ini. Dia sama sekali tidak tahu juga enggan mencari tahu lebih detail dimana sebenarnya keberadaan Rana. Terkadang ketika mengingat Rana, ada perasaan bersalah yang teramat dalam di hati Vino atas apa yang sudah dilakukannya pada Rana. Selain karena sudah menyiksa perempuan itu secara psikis, ada hal yang lebih besar lagi yang dirasakan Vino ketika teringat Rana, yaitu bagaimana tangisan Rana serta permintaan perempuan itu padanya agar berhenti dan tidak melanjutkan lagi menyetub*hinya. Tangisan itu masih teringat jelas suaranya di telinga Vino sampai saat ini. Tangisan yang menandakan bahwa Rana sangat kesakitan sekali saat itu, tetapi sama sekali Vino tidak peduli. Rana sudah menjadi korbannya, padahal perempuan itu jelas tidak bersalah, tetapi Vino terlalu dilingkupi dendam saat itu dan tidak tahu kebenarannya. Vino berpikir bisa jadi karena hal itulah akhirnya Rana memilih untuk kabur dari villa itu. Dan entah bagaimana Rana bisa bertemu dengan Papanya, dan memberitahu segalanya.
__ADS_1
Hanya saja Vino juga tidak mengerti apakah Rana memberitahu tentang pemerkosaan itu atau tidak pada Papanya, mengingat saat perceraian mereka juga tidak ada yang membahas masalah itu, bisa jadi Rana memang tidak memberitahu siapapun. Vino sebenarnya merasa ketakutan saat proses perceraian itu, takut masalah dia memperk*sa Rana menjadi bahan pembicaraan dan kabar itu bisa saja di dengar oleh Angel, itu akan sangat berbahaya sekali. Akan tetapi beruntungnya masalah itu tidak ada pembahasannya. Rana sepertinya memilih untuk menutup mulutnya.
Entah kenapa, akhir-akhir ini Vino selalu memikirkan Rana dan merindukan perempuan itu. Vino Ingin sekali rasanya bertemu dengan Rana meskipun sebentar saja untuk mengobati kerinduannya, tetapi tentu saja dia tidak bisa melakukan itu, selain tidak tahu keberadaan Rana, Vino juga takut kepada Angel. Terbesit niat Vino untuk menanyakan keberadaan Rana pada Papanya, tetapi Vino takut menyulut kemarahan Papanya lagi. Papanua sudah cukup kecewa karena apanyang dilakukannya pada Rana. Vino sangat merindukan Rana saat ini sebenarnya.