Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 43


__ADS_3

Mata Rana langsung berkaca-kaca ketika membaca berita itu dan langsung mentap Vino yang sedang tertawa dengan tatapan menuduh. "Apa kau yang ada dibalik ini semua??" Tanya Rana.


Vino tertawa sampai mengeluarkan airmata kemudian dia menghentikan tawanya. "Kenapa kau menuduhku?? Memangnya kau pikir aku yang melakukannya???"


"Dari cara kau merespon aku sangat tahu bahwa kau ada dibalik semua ini?? Kenapa kau melakukan ini Vino??? Kenapa kau tega sekali... Apa kesalahan yang aku perbuat sehingga kau melakukan ini...!" Rana mulai terisak.


Vino kembali tertawa. "Apa kau punya bukti bahwa aku melakukannya??? Disitu jelas tertulis bahwa itu disebabkan oleh konsleting listrik, lalu kenapa kau menyalahkanku?? Moodku saat ini sedang sangat baik jadi jangan coba merusaknya dengan tuduhan palsu seperti itu kepadaku, atau aku akan memberimu pelajaran seperti kemarin lagi...! Kau mau???"


Vino mulai mengancam lagi dan itu membuat Rana semakin sedih. Rana memundurkan kursi dan pergi meninggalkan Vino diruang makan itu. Vino kembali menertawakan kesedihannya, Rana semakin terluka dengan hal itu. Rana berlari naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Pelayan sudah tidak ada disana, Rana langsung menutup pintu, dia tidak peduli lagi jika Vino mau menguncinya, hatinya benar-benar hancur saat ini.


Rana mulai berpikir bahwa mungkin inilah yang membuat Vino senang hari ini karena lelaki itu sudah membakar Bakery miliknya. Tidak bisa lagi Rana gambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Separuh hidupnya ada di bakery itu dan sekarang semua sudah hancur.


Rana teringat lagi dengan mendiang ibunya yang dulu bersusah payah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membuka usaha itu. Rana ingat semua perjuangan ibunya dulu, dan beberapa hari sebelum ibunya tiada, dia berpesan agar Rana menjaga dengan baik rumah serta tempat usahanya itu karena itu yang selama ini menghidupi mereka.


Rana semakin yakin bahwa Vino memang tidak pernah mencintainya, dan selama ini dia sudah jatuh dalam perangkap lelaki itu. Rana juga menjadi teringat dengan Jeany yang sudah memperingatkannya bebera waktu yang lalu tetapi dia justru tidak mempercayai Jeany yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya bahkan sudah seperti saudaranya. Rana benar-benar merasa menyesal sekali.


"Jean....! Maafkan aku tidak mempercayaimu....! Vino memang laki-laki yang jahat...! Dia mempermainkanku dan sekarang menghancurkanku....!" Ucap Rana sambil terisak.


★★★★


Keesokan harinya, Rana bangun dengan mata sembab. Seharian kemarin dia tidak berhenti menangis meratapi nasibnya. Kebebasan yang diberikan Vino kepadanya seolah tidak berarti apapun bagi Rana. Saat ini Rana sudah tidak lagi tahu akan bagaimana nasibnya nanti.


Meskipun sedih dan sangat hancur kemarin Rana mencoba untuk kuat saat sedang makan siang dan makan malam bersama dengan Vino. Rana berusaha menuruti dan tidak ingin melawan Vino karena takut lelaki itu akan menambahi lagi kedukaan hatinya.


Rana pergi ke kamar mandi dan akan langsung turun untuk sarapan. Semua ancaman Vino selalu teringat di kepalanya sehingga Rana tidak akan bisa lagi untuk melawannya.


Suasana sarapan Vino dan Rana dalam keheningan. Rana yang sebenarnya tidak berselera juga berusaha untuk menelan makanannya. Vino sudah rapi dan sepertinya akan bersiap untuk pergi ke kantor. Rana sedikit lega karena itu artinya dia tidak perlu takut menghadapi Vino jika laki-laki itu akan pergi dari tempat ini.


Vino sudah selesai menghabiskan sarapannya dan langsung berdiri meninggalkan Rana begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Vino melenggang pergi keluar rumah dan pelayan berggas menutup pintu.


Tak lama setelah kepergian Vino, Rana juga meninggalkan ruang makan menuju kamarnya . Rana masuk dan kembali menemukan pelayan jutek itu sedang membersihkan kamarnya sementara pelayan yang satunya sedang membereskan meja makan. Rana duduk di sofa dan membuka sebuah buku dan membacanya.


Beberapa menit kemudian, pelayan yang tadi ada dilantai satu datang ke kamar Rana. Pelayan itu memberitahu temannya bahwa dia akan keluar sebentar untuk berbelanja dan meminta temannya itu agar mengurus rumah dan mengawasi Rana.

__ADS_1


Vino tidak ada, dan salah seorang pelayan sedang pergi keluar, satunya lagi ada di dalam kamar ini. Rana tiba-tiba dia menemukan ide untuk kabur dari tempat ini dengan memanfaatkan keadaan yang cukup mendukung ini.


Pelayan itu sekarang sedang membersihkan kamar mandi. Rana melirik memastikan keadaan aman, dan melirik ke atas ke arah cctv. Rana berdiri, berjalan menuju kamar mandi lalu masuk dan berpura-pura memberi arahan ke pelayan yang sedang sibuk itu. Lalu Rana berbalik arah dan keluar dari kamar mandi kemudian langsung menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Sontak pelayan itu berteriak agar Rana mau membuka pintunya tetapi Rana tidak memperdulikannya.


Dengan langkah hati-hati, Rana membuka pintu tralis besi dan pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada datang. Tetapi rupanya Vino beranggapan Rana terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga atau pengawal lain selain kedua pelayan itu. Dengan hati-hati Rana melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan masih terdengar ketika Rana keluar, tetapi ketika Rana menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.


Rana melangkah lagi melewati lorong menuju tangga. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Rana mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong.


Pelan dan waspada, Rana melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di depannya.


“Kau pikir kau akan kemana?”


Terlonjak kaget, Rana menabrak dada bidang Vino yang berdiri di depan pintu. Lelaki itu berdiri tepat di depannya dan mendorong Rana masuk lagi ke dalam rumah lalu menutup pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuh-musuhnya.


“Berani sekali kau mencoba melarikan diri dari tempat ini?? Apa kau tidak sadar bahwa di depan ada banyak penjaga...!" Tangan Vino mencengkeram lengan Rana dengan kasar lalu menyeret Rana yang tidak bersedia.


Rana meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Vino tidak peduli, tetap menyeret Rana dengan kekuatan besarnya. Hingga Rana mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya putus.


Vino menyeret Rana menaiki tangga dan kembali menuju kamarnya, bukan kamar Rana.


Vino melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Rana ke depan dengan kasar.


“Dan kau....!!!" Vino melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, “Ini adalah peringatan untukmu. Aku bilang turuti keinginanku dan jangan pernah melawanku, atau kau akan langsung mendapatkan hukuman dariku...!"


Tanpa pikir panjang Vino langsung menampar kedua pipi Rana dengan keras membuat Rana berteriak kesakitan. Pipi Rana langsung terasa panas dan dia tahu sekali bahwa itu pasti akan meninggalkan bekas mengingat Vino sangat keras menamparnya.


Rupanya Vino tadi kembali pulang karena Angel menghubunginya dan sedang dalam perjalanan kesini, sehingga Vino membatalkan niatnya untuk pergi ke kantor. Dan saat mobil baru memasuki gerbang villanya, Vino dihubungi oleh pelayannya yang mengatakan jika Rana menguncinya di kamar mandi. Saat itu juga Vino langsung turun dari kobil dan bersiap di depan pintu. Benar saja ternyata Rana mencoba untuk kabur.


"Apa kau ingin disetrika lagi? Kali ini aku tidak akan menyetrika tanganmu karena itu masih berbekas, kau masih kesakitan, tetapi aku berniat menyetrika dibagian lain, mungkin pipimu! Kau mau aku melakukannya???" Ancam Vino lagi.


"Tidak tidak. Jangan lakukan itu Vino, tolong maafkan aku...! aku tidak akan mengulanginya lagi...!"


Vino terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap Rana, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada Rana.

__ADS_1


“Jadi kau mengaku salah..,” Vino mundur lagi dan Rana merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepadanya.


“Aku hanya ingin keluar dari tempat ini" Ucap Rana marah, frustrasi karena Vino selalu menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.


“Kau istriku, dan tidak akan ku biarkan kau keluar dari sini tanpa seizinku”


“Atas dasar apa??" Suara Rana sedikit jengkel. "Aku memang istrimu tetapi tidak sepatutnya kau memperlakukanku seperti ini, aku slah menilaimu dan menyesal marena mempercayaimu daripad Jenay sahabatku, ternyata Jeany benar bahwa kau memanglah lelaki jahat. Aku cuma mau keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini….Aku cuma mau keluarr!!!!"


“Kau mau keluar hah??" Vino mencengkeram lengan Rana lagi, di tempat yang sama hingga Rana merasa lengannya memar.


 “Mari kita keluar!” Geram Vino lagi.


Rana berteriak-teriak dalam seretan Vino untuk kedua kalinya. Vino membawa Rana ke jendela kaca dikamarnya yang mengarah langsung ke balkon.


Dengan kasar Vino mendorong Rana keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Rana mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat luas di bawahnya.


Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Rana bergidik ngeri. Dia tidak bisa berenang, akankah Vino ingin mendorongnya ke bawah?


Vino benar-benar mendesak tubuh Rana sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya di kekang oleh Vino di belakangnya.


“Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam,” napas Vino sedikit terengah oleh kemarahan. “Kau perempuan tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku sudah memberimu kebebasan di rumah ini tapi kau justru memanfaatkannha, tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau”


“Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan dirimu" Rana berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa.


“Perempuan tidak tahu terima kasih" Vino mendorong Rana  lagi sampai ke ujung. “Ada kata-kata terakhir?” Tanya Vino lagi.


Rana memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya


yang penuh kesedihan bertemu dengan mata dingin Vino.


“Jangan lakukan ini Vino please” Pinta Rana.


Sedetik kemudian tubuh Rana terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu.

__ADS_1


Tubuh Rana terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Rana berteriak dan tubuhnya pun mulai tenggelam dalam kolam itu. Rana berusaha meminta pertolongan tetapi dia tahu bahwa tidak akan ada yang mau menolongnya. Rana hanya bisa pasrah saja. Matanya pun mulai menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.


"Oh Tuhan… aku akan mati….'' Gumam Rana dalam hati.


__ADS_2