
Rana mengetuk pintu, dan membuka nya. "Sayang, makanannya sudah siap, kita makan sekarang, Mario juga sudah menunggu di depan..!" Ucapnya pada Vitto yang sedang duduk di kursi kerja nya tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Vitto tersenyum dan mengangguk kepada Rana, memberi tanda pada Rana, meminta waktu sebentar untuk menunggu. Rana mengangguk dan masuk ke kamar Vitto lalu memilih duduk di tempat tidur.
"Ya... Sekali lagi aku minta maaf karena aku harus memimtamu mempercepat nya dan tidak sesuai jadwal yang sudah kau rencanakan, tetapi situasi dan kondisi nya tidak memungkinkan..!" Ucap Vitto pada orang yang sedang dia telepon.
"It's okay Vit, aku sangat mengerti sekali, dan semuanya juga sebenarnya sudah beres, hanya saja memang menunggu jadwalnya saja, tetapi jika kondisi nya seperti itu, ya mau bagaimana lagi, aku juga tidak ingin membuatmu dalam masalah besar... Aku akan mengecek ulang, ya tunggu saja sekitar tiga puluh menit sampai satu jam, semua akan beres...!" Ujar teman Vitto.
"Oke, sekali lagi Terima kasih, beritahu aku jika sudah selesai..." Vitto kemudian menutup panggilannya dan melempar senyumnya pada Rana.
"Kau tadi berbicara dengan siapa???" Tanya Rana.
"Temanku, aku memintanya agar mempercepat untuk meng-up video yang kami buat kemarin..." Jawab Vitto.
"Video??? Kenapa di percepat???" Tanya Rana lagi.
Vitto menjelaskan kepada Rana jika hal itu di lakukan untuk mengantisipasi apa yang mungkin saja terjadi esok hari setelah Vino melakukan ancamannya. Setidaknya itu bisa menjelaskan segala nya kepada orang-orang jika mungkin saja Vino menyebarkan sesuatu yang bisa membuat kehebohan. Karena dalam video itu selain membahas persiapan pernikahannya dengan Rana, ternyata Vitto juga menceritakan tentang Rana, bagaimana pertemuannya dengan Rana, hingga permasalahan yang di hadapi Rana di pernikahannya yang pertama, hingga perceraian Rana lalu kemudian Rana perlahan mulai bangkit dan membuka hati kepada Vitto, sampai rencana pernikahan mereka yang akan terjadi beberapa minggu lagi. Vitto tidak menjelaskan secara gamblang tetapi hanya menjelaskan beberapa poin penting mengenai Rana serta perjuangannya dalam menghadapi permasalahan rumah tangga, dan hal itulah yang membuat Vittoengagumi sosok Rana dan ingin sekali memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada Rana.
"Apa kau menyebut nama Vino??? Akan terjadi masalah besar lagi nanti...!"
"Tidak sayang, aku sama sekali tidak menyebut nama Vino, aku hanya menyebut jika kau di nikahi oleh orang terdekat ku saja, tetapi jika seandainya mereka mengetahui mengenai Vino, itu bukan ranahku, atau bisa saja Vino masuk sendiri ke dalam perangkapnya jika dia benar-benar mengusik kita nanti, dan mengatakan jika kau adalah mantan istrinya...!"
"Kau melakukan itu???" Tanya Rana tidak percaya.
Vitto kembali tersenyum. "Ya, aku ingin mengantisipasi berbagai hal yang mungkin akan terjadi setelah pernikahan kita, sayangnya ini sepertinya akan terjadi sebelum pernikahan.. Aku tidak ingin melihat dan mendengar hal buruk tentangmu dari orang-orang, karena mereka bisa saja menggunjing mu dengan hal yang bisa melukaimu, aku tidak ingin melihat Rana ku bersedih lagi, dia harus bahagia, dan aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu.. Setidaknya apa yang sudah aku persiapkan ini bisa cukup untuk meredam hal buruk yang bisa saja di lakukan oleh Vino, sudah cukup rasanya dia menyakitimu.. Kau berhak bahagia.." Ucap Vitto, kemudian menghela Rana ke dalam pelukannya.
Rana membalas pelukan Vitto. "Kau melakukan semua ini untukku, aku tidak tahu harus mengatakan apalagi selain Terima kasih kepadamu..."
"Untuk apa berterima kasih??? Ini sudah menjadi kewajibanku untuk selalu menjaga dan memastikan mu agar tetap baik-baik saja dan juga agar kau merasa nyaman serta bahagia di setiap waktunya, sudah cukup semua hal buruk yang kau alami, sekarang waktunya kau menjemput kebahagiaanmu dengan selalu bersamamu...!" Ucap Vitto.
Vitto dan Rana pergi keluar kamar dan mereka makan malam bersama. Rana sudah membuat makanan kesukaan Vitto dan setelah ini mereka akan langsung pulang ke rumah Rana. Menurut Vitto rumah Rana lebih aman untuk di tinggali.
★★★★★
Akhirnya, Vitto dan Rana sampai juga di rumah Rana. Vitto sudah mulai merasakan nyeri di area wajahnya. Pukulan Vino cukup keras dan berkali-kali menghujani wajah Vitto. Memar biru juga mulai terlihat di area pipi dan rahangnya. Dengan sabar Rana membantu Vitto naik ke kamarnya, dia meminta Vitto agar beristirahat dan minum obat anti nyeri supaya besok Vitto tidak merasa kesakitan.
__ADS_1
Sampai di kamar, Rana langsung meminta Vitto agar berbaring, dan dia akan mengambilkan air serta obat pereda nyeri. "Berbaring dan diamlah... Aku ambilkan air untuk minum serta untuk mengompres lebam mu dan juga aku akan mengambil obat...!" Ucap Rana.
Vitto hanya tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Rana kembali keluar kamar meninggalkan Vitto.
Vitto mencoba memejamkan matanya sambil mengernyit. Dia benar-benar butuh istirahat. Selain nyeri, kepala Vitto juga terasa pusing. Tidak ada yang dia sesali dengan apa yang tadi terjadi karena dia sudah memprekdisi kan kemarahan Vino, bahkan prediksinya lebih dari ini.
Masih memejamkan matanya, Vitto mencoba meraih ponselnya yang ada di sebelahnya. "Ya, Hallo...!" Sapa nya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Vit...!!"
Mendengar itu, Vitto langsung tahu siapa yang sedang menghubungi nya. "Iya Pa...!" Jawabnya.
"Vino marah besar pada Papa... Dan Papa memilih tidak banyak berdebat dengannya karena takut dia akan semakin marah, dia juga mengancam akan melakukan sesuatu padamu...!" Ucap Papa Vitto.
"Biarkan saja Pa, dia pikir aku takut dengan ancamannya..!"
"Papa tahu kau akan bisa menghadapi sikap adikmu, tetapi bagaimana dengan Rana nanti??? Kasihan dia, jika sampai Vino melakukan sesuatu yang bertujuan mempermalukan kalian berdua...!"
"Tidak akan terjadi sesuatu pada Rana jika aku ada di dekatnya...! Papa jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku sudah siap dengan semuanya, dan sepertinya aku tidak akan lagi kembali ke kantor, Vino sudah memecat ku, dan aku juga malas berurusan dengannya, aku harap Papa mengerti...!" Ujar Vitto.
"Ya Pa.. Vitto mengerti..!"
"Kau beristirahatlah..!" Papa Vitto ku dianggap mengakhiri panggilannya.
Vitto meletakkan kali ponselnya. Vitto menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghela napasnya panjang, untuk membuat dirinya merasa rilex. Beberapa saat kemudian, Rana masuk lagi ke kamar Vitto membawa nampan berisi air untuk mengompres, serta air minum dan juga handuk dan obat. "Bangunlah sebentar, minum obatnya dan kembali berbaring, aku akan mengompres lagi lebam mu...!" Ucap Rana sambil duduk di sebelah Vitto.
Vitto bangun dan mengambil obat lalu meminumnya. Vitto tersenyum kemudian mengucapkan terima masih kepada Rana.
"Ponselmu berkedip..!" Ucap Rana.
Vitto menoleh, meraih kembali ponselnya yang ada di sampingnya. Benar, beberapa pesan masuk. Dia lekas membuka nya. "Pesan dari Edward, sepertinya foto nya sudah selesai di edit...!" Gumam Vitto memberitahu Rana.
"Mana-mana, coba aku lihat...!" Sela Rana dengan cepat kemudian menggeser duduknya di sebelah Vitto.
Vitto pun membuka nya, benar saja, Edward memang mengirim foto prewed mereka lagi. Vitto dan Rana berpandangam saling melempar senyum, kemudian terlihat excited menatap foto-foto itu.
__ADS_1
"Kau suka yang mana???" Tanya Vitto.
"Semuanya, tetapi siluet kita saat matahari terbenam sangat bagus..." Jawab Rana.
__ADS_1
"Aku juga sangat menyukainya...!" Sela Vitto sambil memeluk Rana. Hatinya sedikit lega dan merasa lebih baik setelah menerima foto-foto itu. Tadi dia di lingkupi kekesalan dan juga kemarahan sekaligus kesakitan karena ulah Vino. Tetapi Foto yang di kirim Edward, membuatnya merasa lebih baik. Vitto berjanji dengan dirinya sendiri bahwa dia akan terus berjuang sekuat tenaga untuk bisa mempertahankan Rana dan akan menjaga perempuan itu dengan baik, sampai di hari pernikahan mereka nanti. Dia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya dengan Rana menuju kebahagiaan.