
Rana kemudian menceritakan mengenai apa yang terjadi di ruang sidang setelah sidang berakhir. Pertemuan Vino, Anggep dan Arindah serta semua ucapan Angel pada Vino, Rana ceritakan. Dan sejak itu, Arindah banyak diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah mencoba bertanya, Rana mendapatkan jawabannya dimana Arindah merasa khawatir terhadap Vino, takut Vino masih mencintai Angel, dan takut di permainkan serta hanya di jadikan pelampiasan saja oleh Vino. Serta sikap Vino yang berubah sangat romantis pada Arindah di depan Angel, seolah di sengaja, hal itu yang membuat Arindah merasa di manfaatkan.
"Menurutku wajar saja jika Arindah ketakutan, ucapan Angel cukup mempengaruhi nya, apalagi di akhir persidangan, di depan banyak orang termasuk hakim, Angel mengatakan bahwa dia masih mencintai Vino dan dia juga merasa bahwa Vino juga masih mencintai nya... Lalu sikap Vino terhadap Arindah yang berubah romantis di depan Angel, seolah-olah Vino sengaja melakukannya untuk membuat Angel cemburu..." Ujar Rana.
"Memang si Angel itu tidak punya otak.... Sudah hilang kewarasannya... Dia tidak punya malu, bisa-bisa nya mengatakan itu di depan banyak orang dengan penuh percaya diri.... Dia pikir Vino bodoh..."
"Lalu menurutmu apakah Vino benar-benar ingin memanfaatkan Arindah saja???"
Vitto melempar senyum. "Tidak sayang.... Vino tidak mempermainkan atau memanfaatkan Arindah... Dia menikahi Arindah karena dia ingin menolong Arindah dan ingin memulai hidup yang baru... Dan mengenai hal itu, Aku akan coba bicara dengan Vino besok... Supaya dia bisa mengajak Arindah berdiskusi dan menyelesaikan masalah itu berdua..."
"Ya... Itu ide bagus... " Gumam Rana.
Disisi lain.....
Arindah baru saja menidurkan Naufal. Dia terlihat melamun dan tidak bisa berhenti memikirkan yang terjadi siang tadi. Ucapan Angel membuat Arindah benar-benar terpengaruh terlebih lagi mengenai Vino hanya memanfaatkannya. Seharian ini dia merasa tidak mood untuk melakukan apapun dan merasa malas untuk bertemu dan berbicara dengan Vino.
Hingga tiba-tiba saja ada gerakan pintu terbuka, membuat Arindah langsung menarik selimut dan memejamkan mata untuk pura-pura tidur. Arindah enggan untuk mengobrol atau bisa jadi nanti Vino mengajaknya untuk bercinta, karena saat ini dia sedang tidak ingin melakukan apapun. Ada perasaan jengkel, kesal dan juga marah yang di rasakan oleh Arindah saat ini.
Benar saja, Vino masuk ke dalam kamar. Mendapati Naufal sudah terlelap begitu juga dengan Arindah. Vino baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebentar di ruang kerja nya sehingga baru menyusul Arindah di kamar. Vino berjalan mendekat ke arah Arindah, dia sedang menginginkannya. Vino benar-benar ketagihan dengan percintaannya bersama Arindah. Naufal sudah tidur sehingga ini waktu yang tepat untuk berhubungan dengan Arindah.
Vino duduk di sebelah Arindah yang sedang tidur. "Arindah...!" Panggilnya dengan suara pelan sambil sedikit menggoyang kan lengan Arindah. Sayangnya Arindah tidak bergerak atau membuka matanya. Beberapa kali Vino melakukannya lagi tetapi hasilnya nihil, dan memilih menyerah, menyadari jika sepertinya Arindah sudah sangat lelap tidurnya. Mungkin Arindah lelah seharian ini. Vino akhirnya memilih pindah ke sisi lain dan naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Spertinya malam ini dia harus menahan diri dan tidak memakai Arindah.
__ADS_1
Vino berbaring, menarik selimut dan memejamkan mata nya lalu tidur. Tidak di sadari Vino bahwa ternyata Arindah tidak tidur dan hanya memejamkan matanya saja. Arindah berpikir bahwa dia masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan menjaga jarak untuk sementara waktu dengan Vino.
*****
"Menurutmu kenapa aku mengatakan jika Vino sedang tidak mempermainkan Arindah???" Tanya Vitto pada Rana.
"Maksudnya???" Tanya Rana terlihat bingung.
Vino menoleh dan tersenyum pada istrinya. "Vino dan Arindah telah benar-benar menjadi suami istri.. "
"Mereka kan sudah menikah dan sah secara hukum dan agama..?? Ya tentu sudah benar-benar menjadi suami istri lah... " Ujar Rana.
"Lalu apa???" Tanya Rana lagi.
"Hubungan mereka sudah di mulai, mereka berdua sudah melakukannya, tidak ada berbeda kamar dan menjaga jarak, mereka melakukan kewajibannya sebagai suami istri..."
"Maksudmu??? Mereka melakukan penyatuan...???"
Vitto menganggukkan kepala nya. "Yupz.... Dan Vino terlihat sangat bahagia sekali kemarin, dia benar-benar berbunga, Arindah membuka diri Dan melarang Vino untuk berbeda kamar, jadi kemarin Vino menyuruh pelayan untuk mengemasi pakaiannya dan mengembalikan ke kamarnya lagi..."
"Serius???"
__ADS_1
"Ya.. Vino mengatakan itu kemarin padaku... Dan itulah kenapa aku ingin membahas ini denganmu, kita kan sudah merencanakan memberi mereka hadiah pernikahan dengan tiket untuk honeymoon, jadi setelah aku pikir-pikir sekarang lah waktunya, hanya saja tampaknya Vino masih di sibukkan dengan urusan kantor dalam waktu dekat ini... Untuk itu kita harus menunggu Dan memastikan kapan waktu yang tepat untuk memberikan hadiah itu..."
"Tetapi kau harus memberitahu Vino jika kita ingin memberinya hadiah honeymoon, agar dia juga bisa mencari jadwal kosong begitu juga dengan Arindah... Karena jika kau tidak segera memberitahu nya, takut dia sudah memiliki rencana lain..." Ujar Rana.
"Kau benar... Aku berencana besok untuk bertemu dengannya di kantor membicarakan ini juga membicarakan pekerjaankarena Vino memintaku kembali bekerja di kantor... And then sekaligus membicarakan Arindah seperti ceritamu tadi... Jangan khawatir..."
Keesokan harinya....
Vino masuk ke dalam ruang ganti dan mendapati Arindah berdiri di depan lemari pakaiannya. Arindah menoleh ke belakang sambil memegang kemeja berwarna putih dan juga setelan jas milik Vino. Arindah pun memberikannya pada sangat suami. "Ganti pakaianmu dan bersiaplah, aku tadi sudah menyiapkan sarapan untukmu.." Ucap Arindah dengan suara datar, karena dia masih belum bisa melupakan yang terjadi kemarin.
Vino mendekat dan mengusap lembut rambut Arindah. "Kenapa membuat sarapan??? Ada pelayan yang akan menyiapkan dan memasaknya... Wajahmu pucat, apa kau sakit??? Semalam tidurmu juga nyenyak sekali sampai aku bangunkan kau tidak bangun??? Kau sakit???" Tanya Vino.
"Kepala ku terasa pusing sebenarnya sejak bangun tidur tadi.. " Jawab Arindah.
"Kalau sakit kenapa malam membuat sarapan???? Harusnya minum obat dan beristirahat... Kau bangun oagi-oagi sekali bahkan sebelum aku bangun... Ya sudah beristirahatlah, aku akan bersiaplah dan menyuruh pelayan mengantar sarapan untukmu. ." Vino mengusap kepala Arindah dengan lembut lalu mendaratkam kecupan manis di kening Arindah.
"Aku akan memandikan Naufal dulu baru setelah itu beristirahat, kau bersiaplah dulu.. Selamat pagi..." Ucap Arindah datar lalu meninggalkan Vino keluar ruangan.
Arindah memejamkan matanya meminta agar Tuhan mau mengampuni nya karena sudah membohongi suami nya. Dan semalam Arindah juga tahu bahwa sepertinya Vino berniat mengajaknya bercinta tetapi apa yang terjadi di ruang persidangan terus saja mengganggu pikiran Arindah. Pagi tadi dia sengaja bangun sebelum Vino, untuk menghindari lelaki itu, sayangnya dia bertemu dengan Vino juga di ruang ganti. Arindah benar-benar butuh waktu untuk berpikir sementara waktu ini serta mencari jawaban dari pertanyaannya. Vino memang bersikap sangat baik terhadapnya, dan lelaki itu juga sangat menyayangi Naufal.
"Beri aku waktu sebentar saja untuk berpikir... Maafkan aku Vin... " Gumam Arindah dalam hati.
__ADS_1