
"Arindah??? Kau??" Ekspresi Vino sangat terkejut ketika mendapati ternyata Arindah yang tadi di tabrak olehnya. Arindah adalah temannya saat sekolah dulu.
Arindah tersenyum cantik. "Kau ada disini??? Apa kabarmu??" Tanya Arindah pada Vino. Arindah juga mengalami Vino.
"Aku baik.. Kau sendiri...???" Tanya Vino balik.
"Bisa kau lihat, aku sangat baik..!" Jawab Arindah dengan senyumnya yang memang semakin membuatnya terlihat cantik.
"Kau tidak pernah berubah, oh iya karena sudah lama kita tidak bertemu bagaimana jika kita mengobrol sebentar, kau tidak keberatan???" Tanya Vino.
"Of course... Aku juga baru saja datang dan menunggu pesanan ku, tapi tadi ingin ke toilet...!"
"Baguslah.. Kau tunggu sebentar, aku juga ingin ke toilet...!"
Arindah mengangguk dan dia akan menunggu Vino. Vino pun melanjutkan ke toilet. Arindah kembali ke kursinya dan kopi pesanannya juga sudah berada di atas meja, dia duduk untuk menikmati kopi nya. Arindah tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Vino setelah sekian lama. Lelaki itu masih sama dengan Vino yang dulu, tetap tampan dan penampilannya sangat dingin. Dulu saat masih sekolah, Arindah sempat menaruh hati pada Vino tetapi lelaki itu ternyata menyukai perempuan lain yaitu Angel. Ketika itu Arindah merasa sedih dan patah hati, tetapi tidak ada yang bisa di lakukannya selain hanya melihat Vino berbahagia dengan Angel. Begitu kuatnya cinta Vino pada Angel, hubungan mereka bertahan selama bertahun-tahun. Arindah merasa sangat terkejut ketika Vitto menceritakan semua nya tentang Vino, tentang pernikahan Vino dengan Rana yang di lakukan untuk balas dendam, hingga pengkhianatan yang selama ini di mainkan oleh Angel untuk membalaskan dendam Angel pada keluarga Vino dan Vitto. Arindah tidak menyangka jika Vino bisa bersikap seburuk itu kepada Rana. Mengenai permasalahan yang kemarin sempat memanas antara Vino dan juga Vitto. Menurut Arindah, Vino cukup parah membuat kehebohan itu, tetapi Vitto melakukan hal yang juga luar biasa untuk membela diri dan melindungi nama baik Rana.
"Hai... Lama ya???" Vino menghampiri Arindah yang duduk sendirian.
"Hei... Duduklah...!" Ucap Arindah.
__ADS_1
Vino memberitahu Arindah jika dia akan mengambil minumannya yang ada di meja yang tadi dia tempati. Tak lama Vino kembali ke kursi Arindah dan duduk bersama perempuan itu. "Kau datang sendiri kesini???" Tanya Vino.
"Ya, aku datang sendiri, kebetulan aku sedang tidak ada schedule untuk praktek hari ini, jadi aku ingin menikmati waktuku untuk sekedar minum kopi.. Hehehe"
Vino menyesap kopi nya dan melempar senyum pada Arindah. "Kau sibuk sekali dengan aktifitasmu sebagai dokter, oh iya, anakmu sekarang sudah umur berapa??! Ku dengar kau sudah menikah dan memiliki seorang anak, kau menikah kenapa tidak mengundang, sebegitu mudahnya kau melupakanku...!"
"Dia sudah berusia dua setengah tahun...! Aku menikah di Tokyo, jadi aku minta maaf tidak mengundang mu karena memang hanya di hadiri oleh keluarga inti saja...!" Jawab Arindah.
"Sudah aku duga, karena teman-teman yang lain juga tidak kau undang, ku dengar suami mu juga memiliki bisnis yang besar disini, kalau boleh tahu apa nama perusahaan suamimu, mungkin aku bisa menjalin kerja sama dengannya..??" Tanya Vino lagi.
Arindah menundukkan kepala nya dengan sedih. Dia terdiam sesaat tetapi kemudian mengangkat kepala nya dan melempar senyum tipis pada Vino. "Eh aku sebenarnya sudah bercerai dengan suami ku beberapa bulan setelah aku melahirkan, ya jika di hitung sekitar satu setengah tahun yang lalu.." Jawab Arindah dengan sedih.
Arindah kembali tersenyum. "It's okay...! Itu wajar karena kau tidak tahu...!"
"Sekali lagi aku minta maaf...!" Ucap Vino lagi dengan penuh penyesalan.
"It's okay...! Btw ini bukannya jam kerja, kenapa kau ada disini,??? Apa kau baru saja amenemui seseorang???" Tanya Arindah mencoba mengalihkan obrolan.
"Aku sedang ingin sendiri saja, malas ke kantor..!" Jawab Vino.
__ADS_1
"Enak ya jika punya perusahaan sendiri, mau bolos kapan saja oke, tidak ada yang akan memarahi hahaha...!"
Vino terkekeh dan setuju dengan pernyataan Arindah. "Kau benar hahahaha.. Oh iya sekarang kau tinggal dimana Ndah??"
"Aku tinggal dengan orang tua ku, masih di alamat yang dulu, sebenarnya aku juga ada rumah sendiri, tetapi orang tua ku memintaku tinggal bersama mereka saja sehingga aku tidak kerepotan mengantar anakku jika aku ingin pergi ke rumah sakit...!"
"Oh masih tinggal di rumah yang sama, ya orang tua mu memang benar, kau lebih baik tinggal bersama mereka, anakmu sedang lucu-lucunya pasti di usia nya saat ini... Tetapi jika boleh tahu, kenapa kau berpisah dengan suamimu?? Bukankah justru kehadiran anak membuat hubungan kalian semakin bahagia???"
Arindah terdiam lagi mendapatkan pertanyaan dari Vino. Hal itu membuat Vino kembali merasa tidak enak, dan meminta maaf kemudian membatalkan pertanyaannya dan meminta Arindah tidak perlu menjawabnya.
Arindah melempar senyum dan bersedia memberitahu Vino mengenai masalah rumah tangganya dan alasan kenapa dia berpisah dengan suaminya. Dimana ternyata selama menikah, suami Arindah tidak pernah mencintai Arindah dan juga selama pernikahan itu, suaminya ternyata memiliki wanita idaman lain. Arindah hanya di jadikan mainan saja, karena suaminya memang suka berselingkuh, dan tidak hanya dengan satu wanita saja, bahkan ada beberapa wanita termasuk sekretarisnya sendiri. Sebenarnya Arindah sudah mencium gelagat aneh dari suaminya sejak awal tetapi dia menahan diri dan ujungnya akhirnya dia menyerah lalu menceraikan suaminya beberapa bulan setelah melahirkan. Dan Arindah juga memilih kembali ke keluarganya bersama bayi kecilnya, meninggalkan rumah suaminya karena dia sudah tidak tahan dengan apa yang sudah suaminya lakukan. Bagi Arindah, sebuah pengkhianatan adalah kejahatan yang luar biasa dan tidak bisa di maafkan begitu saja. Beruntungnya dia memiliki keluarga yang selalu mensupport nya sehingga dia bisa bertahan sampai saat ini, dan anaknya juga menjadi sumber kekuatannya selama ini. Beberapa bulan terakhir, suami Arindah juga meminta agar Arindah kembali rujuk bersamanya dan memulai semuanya dari awal, tetapi Arindah menolak dengan keras. Dia tidak mau dan tidak akan pernah kembali dengan mantan suaminya dengan alasan apapun.
"Kenapa tidak mau kembali??? Anakmu juga butuh figur seorang ayah kan??? " Ucap Vino.
"Pengkhianatan menghancurkan sebuah kepercayaan yang sudah aku berikan, itu tidak akan pernah bisa aku maafkan Vin.. Perempuan itu memiliki kelembutan di hatinya, pengkhianatan adalah hal yang tidak bisa di anggap sepele, sakit dan hancur berkeping-keping hati kita jika cinta tulus yang kita berikan di hancurkan oleh orang yang kita cintai. Perempuan itu berhati lembut, dan jika mencintai laki-laki mereka kebanyakan sepenuh hati, jadi jika hati yang begitu tulus dan lembut itu di hancurkan, tidak akan pernah bisa lagi untuk di susun seperti sebelumnya, retakan itu masih ada, masih juga menyisahkan luka..." Ujar Arindah.
Senyum cantik Arindah kembali menghiasi bibirnya, dan dia melanjutkan lagi ucapannya. "Kadang laki-laki itu terlalu egois, mereka hanya memikirkan ego nya tanpa mau peduli dengan trauma psikis yang di hadapi oleh perempuan yang sudah di hancurkan hatinya... Seharusnya mereka malu dan mengkoreksi setiap kesalahan yang di perbuatan yang dulu sebelum berniat meminta kembali pada perempuan yang sudah di hancurkan nya, memaafkan itu kewajiban dan mudah di lakukan, tetapi tidak dengan melupakan apalagi yang benar-benar sudah meninggalkan luka yang begitu dalam... Ku dengar kau juga pernah menyakiti mantan istrimu dan ingin memintanya kembali padamu tetapi dia menolaknya???" Arindah terkekeh. "Mungkin yang di rasakan oleh mantan istrimu dulu juga sedang aku rasakan Vin, menolak untuk kembali dengan alasan tidak mau hal yang dulu bisa terjadi lagi... Sangat penting untuk menghilangkan keegoisan dari diri sendiri dan lebih menghargai keinginan orang lain...!" Lanjut Arindah lagi.
Arindah tentu tahu semua yang terjadi di keluarga Vino, apalagi Rana juga adalah pasiennya. Arindah tahu betul perjuangan Rana untuk menjauhi Vino, bahkan Rana berjuang sendiri saat hamil dulu. Itulah kenapa Arindah menaruh simpati yang begitu besar pada Rana, karena Rana mengalami nasib yang hampir seperti yang dulu dia alami, hanya saja mantan suami Arindah tidak pernah bermain tangan, juga tidak berselingkuh di depan matanya. Sementara yang di alami Rana lebih memilukan karena Vino menyiksanya secara lahir batin, dan Rana juga harus menyaksikan berapa bejatnya Vino yang berhubungan badan dengan perempuan lain di depan mata Rana sendiri. Parahnya sekarang Vino justru ingin menghancurkan persiapan pernikahan Rana dan Vitto. Sebagai orang yang mengenal Vitto. Rana dan Vino, tentu Arindah tidak ingin mereka bermasalah lebih dalam lagi. Arindah berharap jika cerita yang baru saja dia ceritakan pada Vino, bisa membuat Vino lebih mengerti dan menghargai keputusan Rana, dan tidak memaksakan kehendaknya untuk memiliki Rana.
__ADS_1