
Arindah dan Vino sampai di tempat acara, suasana sudah mulai ramai, dan para tamu juga sudah banyak yang datang. Lagi-lagi kedatangan Vino membuat orang-orang terfokus kepadanya. Vino masih mengabaikannya dan fokus mencari meja yang ada nama nya dan juga nama Arindah. Vino memanggil seorang pelayan dan meminta di tunjukan dimana meja nya dan meja Arindah berada. Pelayan pun membantu mereka. Dan ternyata meja itu berada di tengah, dan mereka berdua berada di satu meja. Dimana meja itu cukup panjang dengan deretan 8 kursi di kanan dan 8 kursi di kiri. Disana sudah di duduki oleh beberapa orang termasuk Papa Vino yang tampak asyik mengobrol dengan Harry Sahsya yang tidak lain adalah Papa Aditya. Di meja itu juga ada Aditya serta istri dan kedua anaknya. Ada Elea dan Danist juga Gienka, serta Randy dan Chitra.
"Hai Pak Vino..!" Sapa Aditya pada Vino. Aditya sangat mengenal Vino mengingat Vino adalah rekanan bisnisnya dan mereka cukup sering bertemu untuk pekerjaan.
Sontak orang-orang yang ada di meja itu mengalihkan perhatian ke arah Vino. Dan Papa Vino sangat terkejut ketika mendapati putra sulungnya datang ke acara ini. "Vino... Kau ada disini???" Ucapnya.
Vino hanya melihat sekilas ke arah Papa nya tanpa mengatakan apapun, dan menghampiri Aditya, mengalami Aditya dan menanyakan kabar lelaki itu, karena beberapa waktu tidak bertemu, dan terakhir bertemu adalah saat di rumah sakit menjenguk Rana. "Jangan panggil pak, kita tidak sedang berada di kantor, aku merasa tua sekali kalau kau memanggilku seperti itu..!" Ujar Vino dan Aditya terkekeh. Vino menyalami Cahya, dan mentoel pipi si kembar yang sedang duduk manis di kursi.
"Oke aku tidak akan memanggilmu Pak, oh iya kenalkan ini adalah sahabatku, ini Danist dan istrinya, mereka kebetulan bekerja untuk perusahaan teh milikku yang ada di puncak..!"
Vino menyalami Danist dan Elea. "Oh inikah sosok Danistyar Pratama yang sering kau ceritakan, bahwa dia adalah salah satu staf berpesatasi yang kau miliki, akhirnya aku bisa bertemu langsung dengannya.. Senang sekali bisa bertemu anda..!" Vino menyalami Danist berganti ke Elea.
Vino juga menyapa Randy dan istrinya, dimana memang Vino juga mengenal Randy, meskipun tidak sering bertemu, dan hanya beberapa kali saja, tetapi tentu Vino tahu siapa Randy. Vino juga dengan sopan menyapa orang tua Aditya, baru kemudian duduk di kursi nya, dan Arindah juga duduk di sebelah Vino.
"Kapan kau datang Vino???" Tanya Papa Vino.
"Siang tadi..!" Jawab Vino singkat.
Papa Vino melempar senyum. "Baguslah kau mau datang kesini... Papa senang melihatmu ada disini..!"
Vino hanya diam dan malas untuk menanggapi pertanyaan Papa nya. Dia masih sangat sakit hati dengan sikap yang selama ini di tunjukkan oleh Papa nya. Vino memilih melihat kondisi sekitar menyibukkan diri mengajak bicara Naufal yang duduk di pangkuan Arindah.
Setelah menunggu beberapa saat. Acara pun di mulai, dan mempelai yaitu Vitto dan Rana akhirnya muncul. Vitto menggandeng tangan Rana dan berjalan pelan menuju tempat acara. Setelah melakukan pemotretan di tepi pantai, Vitto dan Rana kembali lagi ke villa sambil menunggu para tamu undangan datang.
Semua orang bertepuk tangan ketika Vitto dan Rana memasuki tempat acara. Mereka berjalan bergandengan dan sangat romantis. Senyum penuh kebahagiaan terlihat jelas menghiasi wajah kedua nya. Mereka benar-benar sangat serasi, Rana cantik dengan gaunnya dan Vitto semakin tampan dengan setelan nya.
Mereka mengambil beberapa foto di pelaminan dan acara di lanjutkan lagi. Berbagai acara sudah di susun seperti sambutan dari kedua mempelai hingga perwakilan keluarga kedua nya. Setelah itu, ada juga acara hiburan seperti penampilan band, bahkan Rana dan Vitto juga sempat bernyanyi bersama.
__ADS_1
Sementara Vino hanya diam menatap kebahagiaan dari kedua orang itu. Dia tidak tahu harus bagaimana, ini sangat menyakiti hati nya, dan ingin rasanya segera pergi dari tempat ini, melihat Vitto dan Rana benar-benar membuatnya muak. Ada rasa penyesalan di hati Vino, kenapa juga dia harus memutuskan untuk datang kesini, karena ternyata datang kesini hanya membuatnya merasa sesak saja. Tetapi jika pergi sekarang juga tidak mungkin karena ada banyak orang disini, selain itu juga Vino merasa tidak enak dengan Arindah, juga yang lainnya seperti Aditya.
Sampai akhirnya puncak acara nya adalah berdansa. Vitto dan Rana berdansa dengan romantisnya. Suara musik mengalun indah, menambah suasana menjadi semakin syahdu. Tidak hanya Vitto dan Rana, beberapa tamu yang lain juga berdiri dan berdansa dengan pasangan mereka masing-masing, menambah indah suasana malam ini.
Hingga tiba-tiba di belakang Rana dan Vitto ada kembang api yang terbang dan menghiasi langit malam. Berbagai warna kembang api menghiasi langit, dan juga dengan berbagai bentuk. Membuat semua orang berteriak karena takjub dengan keindahan kembang api itu. Benar-benar luar biasa. Vitto dan Rana seperti berdansa di bawah gemerlap sinar kembang api yang ada di atas mereka. Dan riuh tepuk tangan dari para tamu undangan membuat semakin meriah.
__ADS_1
Setelah berdansa, acara pun di tutup dan beberapa dari tamu undangan menghampiri Vitto dan Rana lagi mengucapkan selamat kepada mereka berdua, mendoakan kebahagiaan mereka. Dan satu persatu tamu undangan meninggalkan tempat acara pesta, untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap, karena sudah di tunggu oleh bus di depan.
"Vin...!" Panggil Arindah dan membuyarkan lamunan Vino. Sejak tadi Vino lebih banyak melamun dan menatap kosong ke arah Vitto dan Rana. Arindah tahu, Vino pasti merasa tidak nyaman berada disini, tetapi Vino mencoba menahan diri.
"Vino...!" Panggil Arindah lagi.
Vino terlonjak. "Eh iya Ndah... Ada apa???" Tanya Vino.
"Kita kesana dan memberi ucapan selamat kepada mereka, Naufal sudah mengantuk, aku harus segera kembali ke hotel...!"
"Kau saja yang kesana, aku tunggu di depan..!" Ucap Vino.
"Kok menunggu di depan??? Kau belum memberi ucapan selamat kepada mereka, tujuanmu kesini kan untuk melakukan itu??? Ayolah... Sejak tadi kau duduk saja, padahal tamu yang lain tadi berdiri dan ikut berdansa, yuk ah...!" Arindah menarik pergelangan tangan Vino mengajak lelaki itu untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai. Sejak tadi Vino duduk saja, dan seperti sibuk dengan pikirannya sendiri. Saat semua orang menikmati pesta kembang api, Vino juga hanya diam di tempat. Arindah ingin menemani dan mengajak mengobrol sebenarnya tadi, akan tetapi Naufal menariknya untuk mengajak melihat kembang api, jadi Arindah terpaksa meninggalkan Vino.
"Ayo Vin... " Ajak Arindah lagi. Vino tetap diam mengabaikan ajakan Arindah.
"Vino... Jangan bersikap seperti ini, atau orang-orang akan kembali menggunjingkan mulai dengan ucapan yang buruk... Ayo..!???"
__ADS_1