
Selesai ganti baju, Arindah mengambil tas nya juga beberapa alat make up nya, lalu mengajak Vino dan Naufal untuk turun dan sarapan. Sampai di ruang makan, mereka ternyata sudah di tunggu oleh Papa Vino. Arindah langsung menyiapkan nasi goreng buatannya di atas piring untuk suami nya, mertua nya serta anaknya. Vino mendudukkan Naufal di kursi bayi khusus untuk memudahkan Naufal makan.
"Wah Naufal sudah rapi sekali....!" Ucap Papa Vino.
"Iya... Aku mau ikut Papa.. " Jawab Naufal.
Vino tersenyum. "Aku akan mengajak mereka ke kantor... Arindah bilang dia terbiasa bekerja jadi merasa suntuk di rumah sendirian hanya bersama Naufal... Itu sebabnya aku mengajaknya ke kantor saja... " Ujar Vino.
"Ide bagus... Setidaknya kau juga tidak merasa terlalu stres di kantor mengajak anak dan istrimu... Oh iya, bagaimana dengan kelanjutan mu membuat kamar untuk Naufal???"
"Sore nanti aku akan membahasnya, untuk melakukan renkvasi di kamarku.. Aku berniat menggunakan kamar tamu atas sebagai kamar Naufal dan akan aku hubungkan dengan kamarku.. Sehingga baik aku dan Arindah juga akan tetap bisa memantau Naufal nanti nya... "
"Ya ide bagus... Kalian tetap tidak boleh membiarkan Naufal sendiri.. Melatihnya mandiri itu bagus tetapi tetap harus memperhatikan dan mengutamakan kenyamanan serta keamanan anak itu sendiri..."
Vino mengangguk dan tersenyum. Dia kemudian menikmati sarapan bersama dengan Papa serta istri dan anaknya. Tak lama stelah itu, Vino mendapat pesan dari Vitto jika siang nanti kakaknya itu akan berangkat ke Swiss. Vino membalas pesan Vitto dan mengatakan safe flight. "Vitto dan Rana akan berangkat siang nanti... " Gumam Vino.
"Semoga perjalanan mereka menyenangkan...." Timpal Arindah.
"Lalu bagaimana dengan kalian sendiri??? Kapan memutuskan untuk pergi berbulan madu juga???" Tanya Papa Vino tiba-tiba.
"Kami pasti akan melakukannya Pa... Tetapi kami harus mencari waktu yang pas, pekerjaan di kantor juga banyak, begitu juga dengan Arindah... Dia harus bisa juga mengatur cuti nya untuk liburan..." Jawab Vino.
"Sudah ada rencana ingin pergi kemana???" Tanya Papa nya lagi.
__ADS_1
"Vitto berniat memberikanku dan Arindah hadiah pernikahan, dimana dia akan memberi tiket penginapan di Maldives, lalu menyuruh kami segera mencari waktu yang tepat.. Aku dan Arindah juga selain mencari hari yang pas, juga sedang membicarakan ingin menginap dimana... Ya sempat terpikir untuk di resort yang sama dengan Vitto, tetapi di Maldives ada banyak tempat yang bagus, kami masih coba memilih.. "
"Good.... Papa senang kau sudah ada pembicaraan kesana... Kalian sekali-kali memang harus pergi berlibur... Arindah juga pasti sangatlah sibuk di rumah sakit, dan mungkin memang pekerjaan Vino di kantor begitu banyak sehingga akhir-akhir ini Vino tidak pergi liburan, biasa nya dia selalu menyempatkan untuk melakukannya.... Dan Papa harap kalian bisa semakin dekat lagi nanti nya.... " Ucap Papa Vino.
Perasaan Papa Vino begitu bahagia sekali ketika pada akhirnya melihat Vino menemukan perempuan yang tepat untuk hidup bersama nya. Arindah benar-benar menantu idealnya, dan kehadiran Arindah juga sedikit-sedikit sudah membawa dampak perubahan yang baik dari diri Vino. Sikap Vino yang penyayang mulai terlihat lagi, dan cara bicara Vino juga tidak lagi terdengar dingin dan cuek. Vino juga nampak sangat menyayangi Naufal, dan bocah itu terlihat nyaman sekali bersama Vino. Sejak ada Naufal di rumah ini, Setiap turun dari kamarnya, Vino selalu menggendongnya dan menemani bocah itu bermain, meskipun hanya sebentar.
Sebelum pernikahan itu terjadi, Vitto sudah memberitahu nya mengenai rencana Vino yang ingin berbeda kamar dengan Arindah. Awalnya dia sempat skeptis bahwa itu bukan cara yang baik untuk hubungan mereka, serta khawatir. Akan tetapi ternyata hal itu tidak terjadi. Sesuatu nyangka lebih membuat nya bahagia sekali.
"Jika Papa boleh usul, pergilah setelah Vitto kembali dari Swiss, kedatangan Vitto nanti bisa membantu Papa di kantor, dan kau bisa tenang... Lagipula keputusan untuk proyek-proyek kita juga akan teken minggu depan, sisanya Papa rasa bisa Papa dan Vitto handle..." Ujar Papa nya.
"Aku sebenarnya juga sudah berpikir mengenai hal itu Pa, tetapi aku juga memikirkan pekerjaan Arindah.... Takutnya dia belum mendapatkan cuti dari rumah sakit... " Vino mengalihkan pandangannya ke Arindah yang tengah menyuapi minum pada Naufal.
Setelah memberi Naufal minum, Arindah beralih menatap Vino dan tersenyum. "Besok aku akan melihat jadwal ku, takutnya ada pasien yang akan melahirkan di minggu itu dan aku akan mengurus cuti ku...."
Vino, Arindah dan Papa Vino pun melanjutkan sarapan mereka. Sebelum nanti Vino pergi ke kantor bersama Arindah Dan juga Naufal.
******
Vino dan Arindah saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantor Vino. Naufal sedang duduk di kursi penumpang belakang sedang sibuk dengan ponsel Arindah. Bocah itu tengah menonton video anak-anak, sehingga terlihat anteng di belakang. "Maaf untuk yang tadi...!" Gumam Vino.
"Maaf??? Untuk yang tadi yang mana???" tanya Arindah.
"Yang tadi aku menciummu lalu Naufal datang..."
__ADS_1
Arindah terkekeh. "Aku yang minta maaf karena lupa menutup pintu.... Lain kali kita harus berhati-hati dan tau waktu... Kita sudah punya anak... "
Vino kembali tersenyum. "Ya, aku akan lebih menahan diri...!"
"Oh iya, nanti sore kita mampir ke rumahku ya??? Ada beberapa barang yang harus aku ambil..." Ucap Arindah.
"Rumahmu sendiri??? Atau rumah Mama Papa???"
"Rumahku....! Selain pakaian, aku juga ingin mengambil sepatu, tas juga beberapa buku..!"
"Baiklah... Aku juga belum tahu rumahmu dimana.."
"Ehhh apa besok aku akan kau biarkan sendiri saat ke rumah sakit??? Maksudku sudah tidak ada lagi pengawalan bodyguard kan???" Tanya Arindah.
Vino menggelengkan kepala nya. "Tidak.... Kau masih akan tetap di ikuti bodyguard, begitu juga Naufal saat di rumah Papa Mama... Aku tidak mau mengambil resiko... Mulai besok mereka akan bekerja seperti biasanya... "
"Baiklah kalau begitu... " Gumam Arindah. Dia harus menuruti keinginan suami nya karena itu untuk kebaikannya. Dia tahu Vino pasti akan memastikan keamanannya walupun itu bagi Arindah sendiri terlalu berlebihan.
Hingga akhirnya sampailah mereka di kantor Vino. Vino menghentikan mobilnya tepat di depan kantornya. Dan dia di hampiri oleh salah satu orang. Vino keluar dari mobil dan berlari membuka kan pintu kiri agar Arindah keluar, dan juga pintu kursi belakang mengajak Naufal keluar. Mobil Vino pun di bawa untuk di parkirkan oleh satu orang yang adalah salah satu karyawan di kantor Vino.
Vino menggendong Naufal dan dia mengajak Arindah untuk masuk, dan di sapa oleh security yang berjaga. Vino pun membalas sapaan security kantornya.
"Vino.........!!!!" Teriak seorang perempuan yang membuat langkah Vino dan Arindah terhenti. Mereka pun menoleh bersamaan ke belakang. Lalu mendapati seorang perempuan cantik berambut pirang yang tergerai, memakai heels, dan mini dress berwarna merah menyala, senada dengan warna lipstik di bibirnya. Perempuan itu tersenyum, melambaikan tangan seraya berjalan menghampiri Vino.
__ADS_1
Menyadari siapa yang datang, Vino pun langsung memasang wajah yang terlihat kesal. Karena harus bertemu dengan perempuan ini lagi setelah sekian lama. Vino tidak tahu untuk apa perempuan itu datang ke kantornya. Hanya saja Vino tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu yang mungkin akan di lakukan oleh perempuan ini nanti nya. Vino sangat tidak suka sekali, tetapi dia harus memastikan untuk apa perempuan itu datang kesini.