Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 85


__ADS_3

"Tidak akan lama mencari informasi tentang Edward, dia fotografer terkenal, aku pasti akan mudah mendapatkan kontaknya, hanya saja kau harus sedikit bersabar lagi Ran, tunggu saja sampai permasalahanmu selesai, dan aku akan pastikan aku sendiri yang akan mengantarmu kesana...!" Vitto mengusap punggung Rana.


"Tapi tidak bisakah kau mencari info tentang Edward lebih cepat? Aku hanya ingin memastikan keadaan Jeany dulu, setelah permasalahan ini selesai kita baru kesana menjenguknya...!"


"Memang bisa, tetapi bagaimana jika orang lain tahu keberadaanmu dan itu jistru berakibat fatal dengan dirimu sendiri? Lagipula dalam beberapa hari ini aku tidak bersamamu, aku tidak mau mengambil resiko, kemudian usaha kita selama ini menjadi sia-sia....!"


Vitto benar. Jika persembunyiannya atau ketika dirinya keluar dari apartemen ini dan ada yang melihatnya itu sangatlah berbahaya. Lalu semua akan sia-sia. Rana memang sangat mengkhawatirkan Jeany tetapi dia juga harus memikirkan keamanannya sendiri. Vitto sudah banyak membantunya selama ini dan tentu lelaki itu akan sangat kecewa jika usahanya selama ini gagal total.


"Baiklah....! Aku memang sepertinya harus bersabar sedikit lagi....!"


Vitto melepaskan pelukannya, memegang kedua bahu Rana dan melempar senyumnya. "Banyaklah berdoa untuk Jeany, itu akan membantumu lebih tenang" Gumam Vitto, dengan lembut dia juga menyeka airmata Rana.


***


Malam tiba, Vino sejak tadi hanya mondar-mandir di kamarnya menunggu kabar dari orang bayarannya mengenai perkembangan Rana. Sampai akhirnya mereka menghubungi Vino dan mengatakan bahwa tidak ada pergerakan sama sekali dari Rana dari hotel itu, sepertinya Rana sengaja tidak keluar dari kamarnya dan memilih berdiam diri di dalam sana.


Karena sebentar lagi adalah jam makan malam, Vino pun menyuruh salah seorang dari mereka untuk masuk ke restoran yang ada di hotel itu, karena bisa jadi Rana memilih keluar kamar untuk makan malam disana. Karena Vino yakin semua kemungkinan bisa saja terjadi, juga tidak ada salahnya melakukan hal itu. Jika Rana makan malam di dalam restoran hotel itu, Vino meminta lelaki itu agar bisa mengikuti Rana sehingga tahu dimana kamar Rana nantinya.


Setelah menghubungi Vino, akhirnya dua diantara mereka turun dari mobil menunu hotel itu. Sementara lainnya tetap berjaga di dalam mobil.


Sementara itu, Vitto sedang asyik bermain PS untuk mengisi waktu luangnya, dan dia memutuskan akan kembali besok pagi. Entah kenapa dia merasa malas untuk pergi dari tempat ini, dan merasa nyaman bisa dekat dengan Rana. Mencuri pandang diam-diam pada Rana, dan juga moment ciuman yang tidak sengaja itu membuat Vitto seperti melayang. Itu sebuah ketidak sengajaan saja sudah membuatnya demikian apalagi jika itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan juga karena saling membutuhkan, mungkin rasanya akan jauh lebih manis lagi.


Sesekali Vitto membayangkan jika dia bisa dekat dengan Rana lebih dari sekedar teman seperti ini, pasti dia akan merasa bersyukur sekali. Rana perempuan yang istimewa dihatinya hanya saja keinginan Vitto itu terhalang oleh pembatas yang tidak bisa di tembus. Jika pun itu bisa ditembus, tentu alan sangat sulit meyakinkan Rana kembali untuk memulai suatu hubungan baru. Apa yang sudah dilakukan Vino akan selalu membekas di hati Rana, trauma itu selalu ada dan menghilangkan trauma butuh perjuangan berat. Vitto terkadang merasa tidak yakin jika dia bisa meluluhkan hati Rana, mengobati luka perempuan itu dan menawarkan kebahagiaan yang sebenarnya. Luka Rana begitu dalam, sakit dan pasti meninggalkan bekas.


"Camilan sehat untukmu....!" Rana menyodorkan piring berisi aneka potongan buah kepada Vitto. Lelaki itu menolak untuk makan malam karena masih merasa kenyang.


Vitto menghentikan permainannya dan menoleh ke arah Rana. "Thanks.... Kau memang yang terbaik...." Vitto mengambil piring itu dan mulai melahapnya dengan senyum sumringah.


Rana duduk di samping Vitto. "Kenapa kau mau membantuku sampai sejauh ini Vitto???"

__ADS_1


"Kenapa juga kau bertanya seperti itu lagi Rana?" Ucap Vitto sambil menirukan gaya bicara Rana, yang sontak membuat dia menerima pukulan dari Rana. Mereka berdua tertawa bersama.


"Kau ini... Ditanya malah bertanya balik... Dasar...! Jawablah pertanyaanku tadi dengan serius....!" Protes Rana.


Vitto terkekeh tetapi dia menusukkan garpu ke buah anggur dan menyuapkannya ke mulut Rana. "Karena aku hanya ingin melakukannya saja.... Kau sudah dibuat menderita oleh adikku, dan aku akan membantumu sebagai permintaan maaf atas nama adikku....! Apa kau puas dengan jawabanku???"


"Harusnya tidak perlu seperti itu Vitto....!"


"Memang seharusnya seperti itu Rana....!"


"Tidak perlu seperti itu..."


"Memang harus seperti itu....!"


Rana dan Vitto pun justru bertingkah seperti anak kecil. Yang satu memprotes sedangkan yang satunya memprotes balik dengan terus menjawab sambil mengikuti ucapan Rana. Hingga Rana merasa jengkel karena ulah Vitto. Rana pun mendaratkan cubitan di pinggang Vitto meminta agar lelaki itu tidak membalas perkataannya. Tetapi keduanya justru kembali tertawa, menertawakan tingkah mereka yang seperti anak kecil saja.


"Rana...!! Jika kau sudah bebas dari Vino, apakah nantinya kau akan menerima laki-laki baru yang mencoba masuk ke dalam hidupmu???" Tanya Vitto.


"Rana....!!!" Ujar Vitto jengkel karena bukannya menjawab, Rana justru bertanya balik dan balas dendam dengan apa yang tadi dia lakukan kepadanya.


"Vitto....!!!" Ucap Rana menirukan gaya berbicara Vitto barusan.


Mereka kembali tergelak dan tertawa bersama. Vitto kemudian mencubit pinggang Rana meminta agar perempuan itu bersikap serius dan menjawab pertanyaannya dengan baik.


"Oke... Oke...! Hidup harus terus berjalan, bukan berarti setelah mengalami semua ini kemudian aku akan menolak laki-laki yang ingin masuk ke dalam hidupku, tentu tidak....! Aku hanya akan lebih selektif lagi dan memastikan bahwa dia benar-benar ingin bersamaku, bukan lagi menjebakku dalam sebuah pernikahan lalu menyakitiku...! Bagiku yang kemarin sudah cukup menjadi pelajaran berharga untukku, aku tidak boleh mengulanginya lagi...."


"Itu artinya aku masih ada kesempatan untuk masuk dan mencintaimu...!" Gumam Vitto dengan suara lirih.


"Apa kau bilang???" Seru Rana terkejut.

__ADS_1


Vitto menoleh, kemudian tersenyum. "Ah tidak apa-apa....! Oke, karena kau sudah menjawab pertanyaanku, aku akan menjawab pertanyaanmu juga, tadi kau bertanya jika aku sudah menikah, apakah aku akan masih menerima tawaran beradegan romantis dengan perempuan yang menjadi lawan mainku? Jawabanku adalah Tidak....! Aku tidak akan melakukannya jika istriku tidak memberiku ijin....!"


"Jika dia memberimu ijin? Kau akan melakukannya???" Tanya Rana lagi.


"Tidak....! Aku tetap tidak akan melakukannya meskipun mendapat ijin darinya, menjaga perasaan orang yang aku cintai adalah hal utama, tetapi jika hanya sekedar mencium kening atau pipi kurasa itu tidak masalah, aku mungkin akan melakukan sebatas itu saja....! Atau mungkin seperti apa yang kau lakukan tadi padaku, kupikir itu tidak masalah, hanya bersentuhan sedikit, tanpa *******....!" Vitto mengedipkan sebelah matanya ke Rana, membuat wajah Rana kembali memerah karena malu, ternyata Vitto masih mengingat itu. Rana berpikir Vitto tidak akan memperdulikan hal itu.


"Hahaha...... Aku bercanda Rana... Kenapa wajahmu memerah seperti itu...! Aku tahu kau melakukannya tidak sengaja, aku juga yang salah karena mengejutkanmu.... Maafkan aku...!" Vitto menjewer kedua telingannya sambil memasang wajah penuh penyesalan di depan Rana.


Rana terkekeh melihat wajah lucu Vitto yang penuh penyesalan. Rana tidak tahan di tatap seperti itu membuat Rana tertawa dan dia menggelitik pinggang Vitto, membuat Vitto merasa geli. Vitto meminta ampun pada Rana agar berhenti menggelitiknya. Vitto bergerak ke kanan dan ke kiri karena dia merasa geli sekali dengan ulah Rana, hingga tidak sengaja Vitto mendorong Rana ke belakang, rafleks Rana juga menarik baju Vitto. Hingga Rana terlentang diatas sofa sementara Vitto tengkurap diatasnya.


Hening. Mata mereka bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi keheningan. Rana menatap wajah tampan Vitto, mengaguminya dalam hati, Vitto juga melakukan hal yang sama. Wajah Rana begitu manis, matanya dalam dan juga menenangkan. Vitto menyibak rambut Rana yang menutupi mata kanannya. Keduanya masih saling berpandangan, mengagumi satu sama lain. Dan Rana tidak bisa memungkiri jika hal seperti inilah yang sempat ada di dalam bayangannya ketika sudah menjadi istri Vino, tetapi hal lain yang justru di dapatkannya.


Vitto seolah lupa dengan batasan yang ada di dirinya dan Rana.Vitto menundukkan kepala untuk mencium bibir Rana. Rana memejamkan matanya.


Bibir itu terasa dingin di awal, menyentuh bibir Rana yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Vitto mencoba memberi waktu kepada Rana jika saja perempuan itu ingin menolaknya. Beberapa detik menunggu, Rana tidak bereaksi. Sementara itu Rana perlahan membuka bibirnya, dia merasa tidak ada salahnya menikmatinya untuk beberapa saat. Walaupun mungkin setelah ini dia akan menyesal karena dia masih tercatat menjadi istri laki-laki lain, tetapi suaminya juga melakukan hal yang sama, yaitu menikmati perempuan lain padahal jelas Vino adalah suaminya. Vino mengkhianatinya, dan tidak ada salahnya dia juga melakukannya. Hanya kali ini saja. Rana meyakinkan hatinya. Kemudian Rana pun membuka bibirnya memberi jalan Vitto untuk memasukinya.


Seolah mendpaat ijin, Vitto pun langsung mencium serta Rana. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Rana, dan memagut bibir bawah Rana. Vitto menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin Rana menerimanya, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Rana supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Rana erat-erat dan ******* bibirnya.


Ciuman Vitto sangat luar biasa, semula dingin lalu hangat dan mulai membakar. Lelaki itu melu*at bibir Rana dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Rana membuka lagi, lidah Vitto menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Rana dan berjalinan di dalam sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.


Hingga akhirnya seperti ada sebuah teriakan di telinga Vitto, membuat Vitto terlonjak dan refleks dia langsung menjauhkan diri dari Rana. Vitto tersadar bahwa dia sudah terlalu jauh dalam bersikap. "Sorry Rana.... Sorry sorry..... Aku khilaf...! Aku tidak bermaksud apapun.... Sorry!!!" Ucap Vitto.


Rana bangkit dan kembali duduk di sebelah Vitto. "Tidak apa, aku juga salah... Mungkin kita terbawa suasana saja... Ku harap kita lupakan saja apa yang baru saja terjadi....!"


"Sumpah.... Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu..."


Rana tersenyum. "Aku tidak merasa direndahkan, ini kesalahan kita berdua, kuharap kita tidak melakukannya lagi.... Ini salah, dan kita berdua juga salah....!"


"Aku tidak akan melakukan ini lagi, astaga....!!! Ini sudah malam lebih baik kau beristirahat, aku juga harus istirahat, besok apagi-pagi aku harus segera pergi...!"

__ADS_1


Rana kembali tersenyum kemudian berdiri, pergi meninggalkan Vitto. Rana mencoba memaklumi, ini bukan sepenuhnya salah Vitto, dan mereka berdua terbawa suasana saja. Tetapi Rana juga mengutuk dirinya karena sudah melewati batas. Entah kenapa pesona Vitto seolah menyihirnya begitu saja, tetapi dia berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Rana merasa ini sudah cukup untuk memenuhi keinginannya.


__ADS_2