
Davica terus mengikuti mobil Vitto, kemana mobil itu akan pergi. Sampai akhirnya Vitto membelokkan mobilnya ke sebuah perumahan cluster yang cukup elit. Terdengar Vitto menekan klakson dan tak lama portal terangkat dan mobil Vitto masuk ke dalam.
"Cluster Supernova???" Gumam Davica. "Apa iya tinggal disini??? Tetapi jika tidak tinggal, untuk apa dia disini???" Gumamnya lagi.
Mobil Vitto sudah masuk dan tidak terlihat lagi karena cluster itu sepertinya berada beberapa ratus meter ke dalam tetapi gerbang masuknya ada di pinggir jalan. Semakin penasaran, Davica pun berniat untuk terus mengikuti Vitto. Davica menghentikan mobilnya tepat di depan portal masuk ke cluster. Seorang security langsung menghampiri nya. Davica menurunkan kaca pintu mobilnya.
"Selamat sore... Maaf sebelumnya, anda mau kemana? Ke blok berapa?" Tanya security itu pada Davica, mengingat dia mengenal dan tau siapa saja yang tinggal di cluster ini. Dan pasti akan langsung mengenali jika ada orang-orang yang ingin masuk. Tetapi jika ada yang belum dia ketahui, pasti akan di hentikan lebih dulu untuk memastikan tujuannya datang.
Davica mengernyit tetapi mencoba melempar senyum. "Ah itu, tadi mobil yang di depan itu mobil teman saya, saya tidak tahu dia tinggal dimana, say di suruh mengikuti...!" Ucap Davica berbohong.
Mengetahui bahwa mobil sebelumnya adalah milik dari aktor terkenal, selain itu juga sudah tanggung jawabnya untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penghuni di dalamnya. Jika dia tidak mengenalnya tentu dia akan memeriksanya lebih dulu. "Tetapi pemilik mobil tadi tidak memberitahu kami jika dia membawa tamu, biasanya setiap yang datang kesini jika membawa teman akan memberitahu kami dan menyuruh kami untuk mempersilahkan mereka masuk..!" Ucap security itu.
Davica tersenyum. "Ah mungkin dia lupa, jadi bisakah anda membiarkan saya masuk???" Tanya Davica.
"Kalau begitu saya akan menghubungi pemilik mobil itu melalui panggilan video dan menanyakan kepadanya apakah anda di ijinkan untuk ke rumahnya atau tidak....! Sebentar ya mbak???"
"Eh pak pak... Tunggu dulu, jangan lakukan itu.... Lagipula kenapa sampai segitu nya sih???" Gerutu Davica.
"Maaf mbak, memang sudah seperti itunoeraturannya sejak dulu, semua tamu yang akan masuk dan mereka bukan penghuni Cluster ini maka kami harus memastikan bahwa mereka memiliki ijin atau belum dari orang yang akan di temui, bahkan untuk kurir pun jika ingin masuk harus mendapat ijin dari pemilik rumahnya baru kami ijinkan...!"
"Shiittt...!!!!" Gumam Davica dan wajahnya langsung terlihat kesal sekali, hanya untuk masuk saja kenapa harus serumit itu. Benar-benar menyebalkan sekali, dan baru kali ini ada sistem pengamanan seperti ini. Davica baru menemukannya yang seperti ini.
Tanpa membantah dan mengatakan apapun lagi, Davica langsung menutup kaca pintu mobilnya dan memundurkan mobilnya. Memutar dan pergi meninggalkan kawasan cluster itu dengan penuh kekesalan dan kemarahan. Jengkel sudah pasti di rasakannya. Menyebalkan sekali, dan dia harus merelakan untuk tidak mengikuti Vitto padahal dia masih penasaran dengan Vitto.
Selepas kepergian Davica, security pun hanya bisa menggeleng kepala. Dan sepertinya menyadari bahwa mungkin saja Davica adalah salah satu fans dari Vitto, mengingat lelaki itu cukup terkenal. Tetapi security itu mengambil ponselnya dan memotret bagian belakang mobil Davica untuk nanti dia beritahu kepada penjaga rumah Vitto, atau bodyguard yang biasa berada di depan rumah itu.
★★★★
Vitto sampai di rumah dan seperti biasa dia masuk melalui pintu dalam yang ada di garasi. Vitto menenteng kantong plastik berisi pesanan Rana berupa cokelat, es krim dan buah-buahan serta beberapa sayur. Saat masuk, Vitto mendapati Rana sedang asyik berenang di kolam renang padahal hari sudah sore. Vitto pun menghampirinya. "Sudah sore dan kau asyik sekali berenang....!" Ucap Vitto.
Rana tersenyum. "Sedang ingin saja....! Apa kau sudah membeli cokelat untukku???" Tanya Rana.
"Ya, sangat banyak sekali, sepertinya aku juga ingin berenang, tapi aku bawa masuk dulu es krim nya agar tidak meleleh...!" Vitto pun membawa belanjaannya ke lantai dua dimana dapur berada.
Sampai di dapur, Vitto langsung memasukkan es krim ke dalam freezer. Hanya es krim saja, buah dan yang lainnya akan dia masukkan nanti saja, karena dia ingin segera masuk ke dalam kolam renang dan berenang bersama dengan Rana. Vitto bergegas kembali turun. Ternyata saat dia turun, ada bodyguard Rana yang berdiri di pintu kaca antara kolam renang dan ruang keluarga.
"Tania mencarimu... Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan...!" Ucap Rana pada Vitto.
Vitto menghampiri Tania. "Ya, ada apa????" Tanya Vitto.
Tania membungkuk memberi salam pada Vitto. "Begini pak, tadi security di depan menghubungi Mario, memberitahu bahwasannya ada seseorang yang ingin masuk ke cluster ini, tak lama setelah anda masuk juga, orang itu bilang bahwa dia adalah teman anda...!"
"Teman??? Aku tidak bersama siapapun... Jangan-jangan Vino???"
Tania menggeleng. "Bukan Pak... Bukan pak Vino, dia seorang perempuan...!"
"Seorang perempuan??? Angel atau Mama??" Tanya Vitto.
"Kurang tahu pa Tetapinitu wanita muda, sepertinya bukan Mama anda..!"
"Jangan-jangan dia membuntuti ku, bilang pada security agar janagn memperbolehkannya masuk...! Shiitt...."
"Perempuan itu sudah pergi sejak tadi karena tidak di ijinkan untuk masuk oleh security karena Anda saat masuk tadi tidak mengatakan apapun pada security, sehingga mereka menganggap bahwa orang itu bukanlah teman anda...! Dan bisa jadi adalah fans anda...!"
Vitto menghela napasnya, merasa lega. "Syukurlah...!" Gumamnya.
Tania kemudian menunjukkan ponsel milik Mario yang tadi di kirimi sebuah foto oleh security di depan. Foto sebuah mobil berwarna merah, dan itu adalah mobil yang tadi ingin masuk dan mengaku teman Vitto. Sayangnya Vitto tidak tahu itu mobil siapa, yang dia tahu mobil Angel tidak seperti itu, tetapi Vitto harus memastikannya dulu.
"Bilang pada security di depan, agar jangan memberi ijin kepada siapapun untuk datang ke rumah ini...! Kirimkan juga foto itu padaku" Ujar Vitto.
Tania mengangguk. "Baik Pak...!" Tania pun meninggalkan Vitto.
Vitto lekas mengambil ponselnya di saku dan dia langsung menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengawasi Angel. Vitto langsung menanyakan mengenai apakah Angel tadi pergi keluar dan membuntinya sampai ke cluster Supernova atau tidak. Dan jawaban dari anak buahnya membuat Vitto lega karena ternyata bukan Angel meskipun Angel keluar tetapi Angel bertemu dengan temannya. Anak buah Vitto juga tidak bisa memastikan obrolan apa yang mereka bahas karena dia berada cukup jauh, dan tidak ada kursi kosong untuk dia duduk agar bisa mendengar obrolan Angel dan temannya.
"Ya sudah kalau begitu, setidaknya bukan Angel yang tadi mengikutiku....!" Vitto kemudian menutup teleponnya.
Rana naik dari dalam kolam renang dan menghampiri Vitto. "Ada yang mengikutimu lagi ya???"
"Ya... Mungkin itu fans ku atau siapalah.. yang jelas bukan Angel ataupun Mama...!"
"Lain kali kau fokus, sering melihat ke belakang, ini sudah 2 kalinya bagimu di ikuti orang dan kau tidak menyadarinya...!" Ujar Rana.
"Ya, aku memang teledor, tetapi beruntungnya keamanan disini baik sehingga dia tidak bisa sembarangan masuk, mungkin aku akan menyuruh Mario membawa mobilku agar bisa di pasang kamera, baik di depan dan belakang....!"
"Selain itu kau juga harus berhati-hati lagi....!"
Vitto tersenyum kemudian mengecup kening Rana dengan lembut. "Besok kau akan memeriksakan kandunganmu serta melihat jenis kelaminnya ya??? Aku ingin anak perempuan...!" Gumam Vitto memeluk Rana.
Rana terkekeh. "Apa kau pikir meminta jenis kelamin bisa semudah membalikkan telapak tangan???? Dasar.....!"
"Hahaha... Akunkan hanya mengungkapkan keinginanku, mau laki-laki atau perempuan sama saja sih sebenanrnya yang terpenting kau dan bayimu sehat...!" Vitto mengusap lembut perut Rana.
"Sudah hampir gelap, kau mandi saja, aku sudah berenang sejak tadi, dingin...! Aku juga ingin makan es krim dan cokelatku...!"
"Kalau begitu kita mandi bersama....!" Ucao Vitto dan langsung mendapatkan pelototan dari Rana, Vitto pun terkekeh. "Bercanda... Sorry sorry... Ayo naik kalau begitu..!"
★★★★
Keesokan harinya....
Vitto membawa mobilnya masuk ke parkir dalam, dan dia turun dari mobilnya untuk segera masuk ke kantor. Dia sengaja berangkat lebih pagi karena ada beberapa pekerjaan penting yang harus dia selesaikan, karena sore nanti dia akan pergi mengantar rana bertemu dengan dokter kandungannya. Vitto sangat tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin bayi Rana, itulah kenapa dia harus menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih awal dari kantor.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berwarna merah juga masuk, langkah Vitto terhenti ketika melihat mobil itu. Dia seperti pernah melihatnya, dan ingatannya pun langsung ke kejadian kemarin. Vitto menatap mobil itu sampai akhirnya pemiliknya keluar dari dalam, Vitto juga membuka ponselnya untuk melihat mobil dan plat nomor mobil yang kemarin membuntutinya. Davica keluar dari sana, dan perempaun itu tersenyum pada Vitto menyapanya dengan ramah, sementara Vitto menatap tajam Davica. Tahu bahwa Davica yang kemarin mengikutinya. Perempuan ini kurang ajar sekali. Vitto benar-benar marah sekali. Dam dia harus memberi pelajaran pada Davica agar tidak kurang ajar.
"Pagi pak Vitto...!" Sapa Davica sambil mendekati Vitto.
Vitto diam tetapi pandangannya mencemokh Davica dan penuh dengan kemarahan meskipun kemarin Davica tidak berhasil masuk tetapi tetap saja apa yang sudah di lakukan Davica sangat tidak sopan. Davica mencoba tersenyum meskipun tahu bahwa Vitto akan bersikap dingin kepadanya.
"Saya masuk dulu pak...!" Ucap Davica pada Vitto setelah sapaannya tidak di tanggapi.
"Davica......!!!" Panggil Vitto yang membuat langkah Davica terhenti. Perempuan itu tersenyum dan membalikkan badannya menatap Vitto lagi.
"Ya pak... Ada yang bisa saya bantu???"
"Aku hanya ingin memberitahu mu bahwa kau itu hanya sekretarisku, dan jangan sampai kau melewati batasanmu...!"
Davica mengernyit, tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Vitto. "Maksud pak Vitto apa???" Tanya Davica.
"Berhentilah berpura-pura, kenapa kau kemarin membuntuti ku????"
Davica terperangah. Bagaimana Vitto bisa mengetahuinya. Davica sadar, pasti yang memberitahu masalah ini adalah security yang berjaga di pintu masuk. Tetapi bagaimana Vitto bisa mengetahui jika itu dirinya. Tetapi mungkin saja security itu merincikan mobilnya juga wajahnya, atau mungkin saja ada cctv disana. "Shiiittt...!!!" Gumam Davica dalam hati. Dia harus mencari alasan, karena jika tidak Vitto mungkin bisa melakukan sesuatu nantinya yang bisa jadi menjadi penyesalan bagi Davica.
Davica tersenyum. "Oh itu.... Kemarin tidak sengaja saya melihat mobil pak Vitto di jalan, tepatnya di lampu merah jadi tanpa berpikir saya mengikuti anda, saya berniat mampir tetapi tampaknya penjagaan disana sangat ketat....!"
"Jangan beralasan.....! Kau memang sekretarisku tetapi apa yang kau lakukan kemarin sama sekali tidak pantas...! Aku bisa saja langsung memecatmu jika kau berulah lagi....!"
"Maaf pak... Maafkan saya.... Tetapi bukankah rumah anda tidak berada di daerah itu???" Ujar Davica lagi yang membuat Vitto semakin marah.
"Davica....!!! Kau itu, apa kau tidak punya sopan santun??? Harusnya kau berpikir dulu sebelum mengatakan itu, aku ini atasanmu, dan kau tidak berhak mencampuri urusan pribadi ku... Aku punya privasi dan harusnya kau tidak perlu terlalu ingin tahu kehidupan pribadiku! Kau dari dulu sama saja, tidak pernah berubah....!! Lain kali jaga sikapmu dan juga mulutmu...!" Geram Vitto dengan mata melotot menandakan bahwa dia marah sekali dengan Davica, bahkan Davica sampai memundurkan langkahnya.
"Ingatlah Davica, jika sampai masalah ini di dengar oleh Vino, maka kau pasti akan mendapatkan SP, jadi lebih baik jaga sikapmu, dan posisikan dirimu sendiri, hal ini harus jadi rahasiamu dan juga rahasiaku, jika kau berani seperti itu lagi, maka aku tidak segan-segan melaporkanmu pada Vino...!" Ancam Vitto lagi. Vitto tentu ingin apa yang di lakukan oleh Davuca juga tidak di ketahui oleh Vino, karena jika Vino tahu pasti Vino akan mengoreknya lebih jauh lagi.
"Maafkan saya pak Vitto.....!" Ucap Davica.
__ADS_1
Vitto langsung meninggalkan Davica dalam keadaan marah. Sementara Davica sendiri merasa takut dengan ancaman Vitto. Kemarahan lelaki itu jelas terlihat, dan Vitto sepertinya terganggu sekali dengan apa yang sudah di lakukannya kemarin. Rasa penasarannya begitu besar dan dia malah sekarang mendapat masalah besar karena hal itu. Jika Vitto memecatnya itu adalah hal buruk.
★★★★
Rana sudah mengatur janji dengan Arindah, dokter kandungan yang juga adalah teman Vitto. Dan sekarang Rana dan Vitto sudah berada di dalam ruang pemeriksaan. Setelah berdiskusi dengan Arindah, Rana di persilahkan untuk berbaring dan Usg akan di lakukan. Selain melihat perkembangan bayi yang di kandung Rana, Arindah juga akan mengecek jenis kelaamin bayi Rana. Vitto sendiri tidak sabar untuk mengetahui nya. Arindah mulai melakukan tugasnya dan memeriksa perut Rana dengan peralatan USG, sementara Vitto sibuk dengan ponselnya untuk merekam momen pertama kalinya jenis kelamiin bayi Rana.
Arindah pun terlihat fokus memeriksa, butuh beberapa menit sampai akhirnya senyum Arindah mengembang di wajahnya. "Wah selamat ya Rana.... Bayimu berjenis kelaamin perempuan...!"
"Serius????" Seru Vitto.
"Ya... Coba lihat ini...!" Ujar Arindah sambil menujukkan ke Vitto dan Rana. "Bayimu sudah berkembang dengan sangat baik, kau hanya harus menjaganya dengan baik, jaga makananmu, jangan stres karena itu bisa mempengaruhi bayi mu nantinya...!"
"Terima kasih dok...!" Ucap Rana. Senyum Vitto dan Rana merekah, bahkan mata Vitto berkaca-kaca karena terharu, kemudian Vitto mendaratkan sebuah ciuman di kening Rana.
"Sama-sama.... sekali lagi selamat..." Ujar Arindah kemudian melanjutkan lagi memeriksa Rana.
###
Di tempat lain, Edward dan Jeany sedang jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan. Ini adalah kali pertama Jeany pegi shopping setelah dia sakit. Jeany sudah sangat merindukan aktifitas-aktifitas yang biasa dia lakukan dulu. Dia tadi juga ke restorannya untuk melihat kondisinya setelah berbulan-bulan dia tinggalkan. Jeany senang karena bisa memulai lagi kegiatannya seperti dulu meskipun terbatas. Dan Edward juga selalu ada di saat dia mmembutuhkan. Ya, lelaki itu sepertinya masih sangat merasa bersalah atas kejadian waktu itu, Edward telah membohongi Rana dan juga Jeany, dan ini adalah cara penebusan kesalahannya dengan selalu datang untuk menengok dan membantu Jeany, bahkan saat Jeany masih di rawat di rumah sakit di Singapura. Edward ingin menebus kesalahannya pada Jeany dengan melakukan semua ini, meskipun seringkali Jeany mengatakan bahwa apa yang menimpanya bukanlab salah Edward, tetapi Edward tetap merasa menyesal sekali dan merasa bahwa semua yang terjadi pada Jeany dan Rana adalah kesalahannya.
"Aku ingin ke toilet, kau tunggu sebentar ya???" Ucap Jeany pada Edward, kali ini mereka sedang berada di sebuah cafe setelah Jeany puas berbelanja. Mereka sudah akan pulang tetapi Jeany ingin meminum sesuatu di cafe yang sudah menjadi langganannya dulu, dia dan Rana sering menghabiskan waktu di cafe ini untuk sekedar mengobrol.
"Aku akan mengantarmu...!" Ujar Edward.
Jeany tersenyum. "Kau mau masuk ke toilet perempuan??? Hahaha sudahlah kau disini saja, hanya sebentar dan aku baik-baik saja, kau bisa lihat kan aku sudah bisa jalan-jalan dan sejak tadi tidak ada masalah yang terjadi... Tunggu sebentar...!"
Edward mengangguk. "Baiklah... Hati-hati dan langsung hubungi aku jika kau merasa ada yang sakit...!"
Jeany mengangguk dan berdiri dari kursi yang di dudukinya, kemudian meninggalkan Edward menuju toilet.
Beberapa saat kemudian setelah masuk toilet, Jeany keluar dan mencuci tangannya di wastafel yang masih ada di dalam toilet itu. Jeany menatap wajahnya di cermin yang ada disana dan sedikit merapikan bulu matanya sampai tiba-tiba ponselnya berbunyi. Jeany mengira itu dari Edward tetapi ternyata dari Rana. Senyum Jeany terpancar di wajahnya dan dia langsung mengangkatnya. Bersamaan dengan itu, ternyata Angel juga berada di toilet yang sama. Angel membuka pintu toilet dan hendak keluar tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Jeany di depan wastafel. Angel memundurkan langkahnya dan menutup pintu toilet tetapi tidak sepenuhnya, dia masib mencoba memastikan bahwa itu adalah benar-benar Jeany, mengingat sudah cukup lama dia tidak melihatnya.
"Hai Rana sayang....! Apa kabar??? Bagaimana hasil Usg nya?? Keponakanku laki-laki atau perempuan???" Jeany langsung bertanya pada Rana, mengingat tadi sahabatnya itu sudah memberitahunya bahwa hari ini akan pergi Usg untuk melihat jenis kelaamin janiinnya.
Jeany tampak diam sesaat sebelum kemudian berseru kegirangan. "Perempuan....! Ahhh senangnya....! Congrats ya??? Uhhhh aku berharap dia mirip sepertimu saja, aku tidak ikhlas jika mirip seperti Vino, lelaki itu sudah banyak meninggalkan luka kepadamu, dan jangan sampai wajah bayi kalian mirip dengan si Vino, dia kurang ajar dan sangat tidak bertanggung jawab...! Lihat saja nanti, dia pasti akan sangat menyesal jika tahu bahwa kau punya bayi yang manis, ah lupakan saja dan mulailah hidup yang baru... Besok aku akan menemuimu...!" Ujar Jeany.
"Ah iya iya, aku senang sekali....! Sekali lagi selamat ya???" Jeany kemudian mematikan kran air dan melenggang keluar dari toilet sambil menutup ponselnya.
Sementara itu, Angel menutup lagi pintu toilet, dan dia benar-benar terperangah setelah memdengar apa yang tadi di ucapkan oleh Jeany. Rana hamil anak Vino. Bagaimana itu bisa terjadi, Angel tidak tahu sama sekali karena selama ini Vino tidak pernah menceritakan apapun padanya. "Rana hamil....!???!" Gumam Angel.
###
Angel keluar dari toilet dengan langkah pelan. Dia mencoba memahami setiap ucapan Jeany mengenai kondisi Rana yang saat ini sedang hamil. Dan mengejutkannya lagi adalah ayah dari bayi Rana itu Vino. Angel ingin menampik bahwa mungkin saja bukan Rana yang itu yang sedang hamil, tetapi ternyata nama Vino juga di ucapkan oleh Jeany dengan nada kesal. Vino ternyata sudah membohonginya selama ini, Vino sudah melakukan itu dengan Rana, tetapi kapan dan bagaimana terjadinya, Angel tidak tahu dan dia harus bisa membuat Vino mengaku nantinya. "Vino sangat keterlaluan sudah membohongiku....!" Gumam Angel dalam hati.
Sementara itu, Vitto dan Rana tidak berhenti tersenyum selama perjalanan pulang. Vitto juga terus mengusap lembut perut Rana. Keinginannya terwujud, bayi Rana adalah bayi perempuan, dan berharap bahwa nanti wajahnya cantik, manis seperti Rana. Vitto bahkan tidak bisa melukiskan betapa bahagianya dia sekarang.
"Kau sejak tadi mengelus perutku.... Apa sebegitu bahagianya dirimu???" Tanya Rana.
"Aku bahkan tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, aku sangat bahagia, bayimu perempuan, seperti kata Jeany bahwa wajahnya nanti pasti mirip denganmu...!"
Rana terkekeh. "Tentu dia akan mirip denganku, aku yang mengandungnya....! Bagaimana jika seandainya ini laki-laki, apa kau akan sebahagia ini???"
"Tentu saja.....! Mau laki-laki atau perempuan sama saja, kenapa aku berharap perempuan, karena aku sangat suka melihat anak perempuan yang rambutnya di kuncir dan memakaia pakaian yang menggemaskan... Itu saja... Tetapi jika laki-laki pun tidak masalah..." Ujar Vitto.
Rana tersenyum pada Vitto. Lelaki ini begitu excited padahal tahu bahwa bayi ini bukanlah anaknya melainkan keponakannya, tetapi Vitto bahagia layaknya seorang ayah yang tidak sabar menantikan kehadiran anaknya. Sedangkan Vino??? Rana tidak tahu apakah jika nanti Vino mengetahu ini akan merasa seperti Vitto atau tidak akan tetapi Rana tidak mau berharap bahwa Vino akan mengetahui ini.
Tiba-tiba Rana merasa takut Vino akan mengetahui semua ini, karena itu seperti sebuah kebetulan untuk saat ini. Dari Vitto, Rana mengetahui jika Vino sempat bermimpi mengenai seorang anak perempuan yang menghampirinya dan memanggilnya Papa. Lalu sekarang anaknya juga di katakan bahwa seorang perempuan. Rana takut mimpi itu jadi kenyataan, dan Vino mungkin saja akan mengambilnya karena Vino sendiri memiliki firasat bahwa mungkin saja saat ini dia hamil.
"Bagaimana perkembangan pembangunan bakery ku???" Tanya Rana mencoba menghilangkan ketakutan di hatinya mengenai Vino.
"Masih berjalan, aku sendiri belum sempat kesana untuk melihatnya...!" Jawab Vitto. "Apa kau ingin melihatnya juga???" Tanya Vitto balik.
"Ingin sekali sebenarnya...!" Gumam Rana.
"Aku akan terima beresnya saja baru kesana setelah baby nya lahir....!!"
"Ya sudah tersrrah kau saja....!"
★★★★
Merasa tidak tenang dan tidak nyaman, Angel pun tadi meminta Vino untuk bertemu di sebuah restoran untuk makan malam bersama. Dia sudah menemukan cara untuk membuat Vino bicara tentang pengkhianatan yang di lakukan oleh Vino. Sejak tadi dia sama sekali tidak bisa duduk dengan tenang dan mmterus mengutuk Vino yang sudah berani mengkhianatinya dengan berhubungan dngan Rana. Angel tidak menyangka Vino bisa sebeejat itu dan melakukan hal ini kepadanya.
Angel sekarang sudah berada di restoran dan akan menunggu Vino datang. Amarahnya sejak tadi sudah membumbung di kepalanya, tetapi Angel harus menahannya dan bersikap seolah tidak ada apapun, tetapi dia akan mengorek sesuatu yang selama ini di sembunyikan oleh Vino kepada nya. Padahal sejak awal di perjanjian dia dan Vino, lelaki itu sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang melebihi batas tetapi nyata nya Vino malah melakukan hal itu dan sekarang Rana hamil.
Angel juga penasaran sebenarnya dimana keberadaan Rana saat ini. Perempuan itu hilang begitu saja sejak bercerai dengan Vino, dan Vino mengatakan jika Rana mungkin sudah di berikan tempat tinggal oleh Papa nya. Jika nanti Vino sudah mengaku, Angel akan mencari dimana Rana berada sehingga dia bisa memastikan apakah benar perempuan itu hamil.
"Hai sayang....!!!" Sapa Vino yang baru saja tiba dan membuyarkan lamunan Angel.
"Hai....!" Jawab Angel.
"Lama ya??? Sorry tadi terjebak macet....!"
"Its okay.... Kita pesan makanan ya???"
Vino tersenyum, mengangguk dan dia memanggil pelayan untuk memesan makanan. Pelayan datang kemudian mencatat pesanan Vino dan Angel, meminta keduanya untuk menunggu.
Ariel pun mengajak Angel mengobrol membahas persiapan pertunangan mereka yang akan di adakan beberapa minggu lagi. Angel mencoba menanggapi dengan biasa saja meskipun dia merasa kesal sekali karena di bohongi. Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya Angel pun akan memulai untuk menelisik Vino lebih jauh lagi.
Angel tersenyum dan menggenggam jemari Vino. "Sayang....!" Panggilnya dengan suara lembut.
"Iya....!!! Kenapa???" Tanya Vino.
"Kita sebentar lagi akan bertunangan, lalu menikah...! Bagaimana jika kita bermain mini games tujuan mini games ini adalah untuk membuat kita bisa lebih saling memahami lagi...!" Ujar Angel.
Vino tersenyum. "Mini games apa sayang???" Tanya Vino penasaran.
"Games kejujuran....! Kita akan suit, dan yang kalah harus menjawab dengan jujur pertanyaan dari yang menang, jadi kau boleh bertanya kepadaku tentang sesuatu yang ingin kau ketahui dan aku akan menjawabnya jujur, begitu juga sebaliknya??? Bagaimana???" Tanya Angel.
"Boleh saja....!" Jawab Vino sambil tersenyum.
"Oke sambil menunggu makanan, kita suit dulu, yang kalah harus menjawab pertama...."
Vino mengangguk. Dan Angel pun mulai menghitung satu sampai tiga kemudian mereka melakukan suit batu kertas gunting. Dan Angel ternyata kalah, itu artinya Angel harus menjawab pertanyaan Vino lebih dulu.
"Aku menang....! Aku dulu berarti yang bertanya... Tapi aku bingung harus bertanya apa kepadamu...!" Ucap Vino.
"Ayo tanyakan saja .. apapun boleh dan aku akan menjawab jujur...!"
Vino tampak berpikir, dia benar-benar bingung harus bertanya apa karena selama ini dia sudah sangat mengenal Angel. "Aku tidak tahu ingin bertanya apa, kita sudah lama bersama dan aku sangat mengenalmu sayang, oke oke, aku akan bertanya padamu, seberapa besar kau mencintaiku???" Tanya Vino.
"Sangat besar sekali hingga aku sendiri tidak tahu sebesar apa cintaku untukmu, mungkin besarnya lam semesta masih belum cukup untuk mengungkapkan rasa cintaku....!" Jawab Angel.
Vino tertawa. "Hahahaha serius???? Tetapi seharusnya itu yang jadi jawabanku... Hahahha....!"
Angel tertawa tetapi kemudian dia bergantian bertanya hal yang sama pada Vino, dan Vino pun menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang di katakan Angel tadi.
"Ah tidak asyik jawabanmu sama seperti jawabanku... Protes Angel.
"Mau bagaimana lagi sayang, sejauh yang aku tahu alam semesta ini sangatlah luas dan seperti tidak ada batasnya jadi ya itu adalah pengungkapan yang cocok...!"
"Oke oke... Aku akan bertanya satu lagi, kita sudah bersama-sama bertahun tahun, dan juga saling mengikat janji satu sama lain, apakah sekalipun kau pernah mengingkari janjimu dan membohongiku??? Maaf aku bertanya seperti ini, karena kita sudah akan menikah dan aku tidak ingin ada yang di sembunyikan satu sama lain..." Tanya Angel.
Vino terdiam sesaat. Sebenarnya selama ini tidak ada yang dia sembunyikan dari Angel mengenai hubungan mereka, Vino selalu mengatakan yang sebenarnya dan melakukan sesuatu selalu memberitahu kepada Angel. Tetapi tiba-tiba dia teringat dengan mimpinya, Vino takut mengatakan semuanya pada Angel tetapi benar kata kekasihnya itu, jika mereka akan menikah dan tidak baik jika ada sesuatu yang di sembunyikan. Mungkin ini sudah waktunya dia mengatakan sejujurnya kepada Angel mengenai apa yang sudah dia lakukan pada Rana.
__ADS_1
Vino kembali memegang jemari Angel. "Sayang....! Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku jujur kepadamu dan aku harap kau tidak marah atas kejujuranku ini..! Karena aku sangat mencintaimu....!" Ujar Vino sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Ya, katakan saja, ku rasa itu lebih baik...!" Ucap Angel.
Vino menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghelanya panjang. Dan cerita itupun mengalir tentang apa yang sudah di lakukannya saat Angel pergi dari Villa ketika itu, karena marah sekali kepada Rana akhirnya Vino memaksa Rana untuk memuaaskannya dan Rana menolak yang artinya Vino sudah memperk0ssa nya. Dan Vino bersumpah bahwa dia hanya melakukannya sekali, karena itu juga mungkin Rana memilih kabur dari villa.
Mendengar itu, Angel benar-benar terkejut. "Kau mengkhianati janji yang kau buat.. Tega-tega nya kau melakukan itu.... Aku mempercayaimu dan kau malah bebmrbuat seperti itu, aku sangat kecewa padamu...!" Ucap Angel sambil terisak. "Bagaimana bisa kau melakukan itu???"
"Aku khilaf sayang.... Aku menyesal sudah melakukannya dan aku juga takut terjadi sesuatu pada Rana setelah hal itu, dan beruntungnya ketakutanku itu tidak terjadi...! Karena saat itu aku tidak memakai pengaman dan Rana juga tidak mengkonsumsi pil kb atau semacamnya, tetapi sekali lagi aku tekankan bahwa ketakutanku tidak benar... Jadi aku bisa tenang, dan masih bisa bersamamu...!"
Mata Angel berkaca-kaca. "Dan seandainya itu terjadi?? Apa yang akan kau lakukan padanya??? Kau akan bersamanya, tidak akan menceraikannya dan akan membuangku???" Tanya Angel dengan suara bergetar.
Vino menggeleng. "Tidak sayang...! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu, aku tidak mungkin melepaskanmu...!"
"Lalu bayimu dan Rana???"
Vino terdiam. "Tetapi itu tidak terjadi kan sayang??? Jadi apa yang harus di khawatirkan???"
"Itu memang tidak terjadi tetapi bukankah aku bertanya jika seandainya itu terjadi??? Ayo katakan??? Apa yang akan kau lakukan jika seandainya Rana hamil???" Tanya Angel lagi. "Kau pasti akan mempertahankannya kan, karena aku tahu bahwa kau sangat menyukai anak kecil dan selalu meminta kepadaku bahwa kau ingin menikahiku dan aku lekas memiliki bayi, jika Rana hamil aku sangat yakin kau akan mempertahankannya.. Iya atau tidak??? Jujur saja.. Bukankah kita sedang bermain tentang kejujuran??? Jadi kau harus menjawab jujur...! Jawablah...!"
Vino kembali terdiam. Semua yang di katakan Angel benar adanya dan dia memang sangat ingin memiliki bayi, itulah kenapa dia selalu meminta Angel agar bisa segera menikah dengannya. "Aku akan menunggu sampai Rana melahirkan, lalu akan menceraikannya dan membawa bayinya...!" Jawab Vino.
"Bisa-bisanya kau ingin melakukan itu, tetapi aku suka dengan kejujuranmu... Hanya saja aku sekarang sangat kecewa dan marah kepadamu atas pengkhianatan besarmu kepadaku, bisa-bisanya kau melakukan itu dengan Rana, kau pasti sangat puas menikmati Rana yang masih viirgin.. Enak ya? Aku yakin kau tidak akan oernah melupakan rasanya...!" Angel pun berpura-pura memuncak amarahnya kepada Vino, dia berdiri dan langsung meninggalkan restoran itu dengan perasaan kecewa dan marah.
"Sayang...!" Pangg Vino. "Tunggu....!" Vino meletakkan beberapa lembar uang di atas meja kemudian berusaha mengejar Angel.
Angel berlari ke arah mobilnya, masuk dan langsung meninggalkan are parkir. Vino masih berteriak dan berusaha memanggil Angel tetapi perempuan itu tidak mau berhenti.
Angel marah sekali, tetapi dia tidak boleh berlebihan dan ini hanya pura-pura saja, karena dia tentu saja belum mau untuk kehilangan sumber uangnya yaitu Vino. Karena ini belum waktunya untuk meninggalkan lelaki itu.
Jadi benar bahwa Vino sudah melakukan itu kepada Rana. Dan Rana sekarang memang hamil. Angel langsung berpikir bahwa jika Vino mengetahui ini sebelum acara pertunangan atau pernikahan mereka itu akan sangat berbahaya, bisa saja Vino akan membatalkan semuanya dan akan kembali lagi bersama Rana. Yang artinya, dia akan kehilangan uang dari Vino. Usahanya untuk mendapat tambahan uang dari Vino bisa saja gagal. "Shiiiitttt....!" Geram Angel.
"Aku harus mencari tahu entang Rana dan kehamilannya untuk memastikan semuanya...! Aku harus menyingkirkannya jika bisa sebelum Vino mengetahuinya...!" Ucap Angel.
Angel menghentikan mobilnya di tepi jalan dan mengambil ponselnya. Dia menghubungi seseorang. "Hallo...!"
"Iya bos....!"
"Aku punya pekerjaan untukmu, mulai besik kau harus melakukan ini, bayaran awalmu akan ku berikan besok, aku akan mengirimimu foto seorang perempuan, dia adalah perempuan pemilik mobil yang dulu pernah kau potong kabel rem mobilnya, dia pemilik restoran, aku akan mengirim alamat restorannya juga, awasi restoran itu sampai kau melihat dia, lalu ikuti kemanapun pergi, laporkan padaku secepatnya.. Bagaimana kau siap???"
"Baik bos...!"
"Nama perempuan itu Jeany dan akan bagus juga jika kau melihat Rana, langsung hubungi aku...!" Ujar Angel. Dia akan memanfaatkan Jeany untuk menemukan Rana, mengingat hanya Jeany satu-satunya petunjuk yang Angel ketahui. Besok kalau tidak salah, Jeany juga akan menemui Rana.
###
Beberapa hari kemudian...
Angel ternyata masoh belum bisa mendapatkan apapun tentang Jeany dan juga Rana. Anak buahnya sudah mengawasi restoran Jeany tetapi ternyata perempuan itu tidak pernah berada disana sepertinya. Jeany tidak pernah terlihat di restoran itu. Angel bingung karena dia segera mendapatkan yang dia cari. Angel ingin sekali memastikan apakah Rana benar-benar hamil atau tidak.
Angel tahu hal yang bagus jika benar Rana hamil dan tidak memberitahu Vino. Astinya Rana menyembunyikannya, tetapi Angel sekarang hanya ingin memastikan apakah Rana masih tinggal disini atau sudah pergi ke luar kota. Akan lebih bagus jika Rana berada di luar kota. Sebenarnya itu saja yang saat ini ingin Angel ketahui.
Angel juga sudah mengakhiri permasalahannya dengan Vino kemarin. Dia sudah berpura-pura untuk memberi maaf pada lelaki itu. Dan kemarahan itu tentu saja hanya kepura-puraan yang di buatnya untuk membuat Vino membuka mulut mengenai kejadian itu. Angel berharap masalah kehamilan Rana jangan sampai terbongkar sampai dia sudah hampir menikah dengan Vino. Angel tidak peduli jika masalah itu terungkap saat dia sudah menyelesaikan misi nya tetapi dalam waktu dekat ini itu tidak boleh terjadi.
Angel memasuki area parkir basement kantor Vino. Hari ini dia ingin mengnujungi laki-laki itu dan nanti akan makan siang bersama. Sekarang Vino sedang di ruangannya sendirian karena Papa nya tidak maasuk kantor karena tidak enak badan. Sudah lama sekali rasanya Angel tidak melakukan percintaan di dalam ruangan Vino sejak kepulangan Papa Vino dan mereka satu ruangan. Angel ingin melakukannya lagi, dan itulah kenapa dia memutuskan untuk datang kesini.
Bersamaan dengan itu, mobil Vitto memasuki area parkir basement juga. Vitto baru saja menemui manager nya untuk meeting proyek terbarunya sehingga dia baru datang ke kantor. Vitto keluar dari mobilnya dan dia menyadari bahwa Angel juga baru saja keluar dari mobil. Vitto tahu bahwa Angel pasti ingin menemui Vino di ruangannya mengingat hari ini Papa nya tidak berada di kantor.
"Waaaaahhhhhh......!!! Akhirnya aku bertemu lagi dengan ratu drama disini.... Wooow...!!!"
Suara itu membuat Angel langsung menoleh ke belakang dan mendapati Vitto terkekeh sambil bertepuk tangan seolah mengejeknya.
"Oh hai Vitto... Calon kakak iparku... Apa kabar???? Wah sepertinya kau sibuk sekali dengan urusanmu ya sampai kita tidak pernah bertemu....!"
Vitto mengernyit. "Aku calon kakak iparmu???? Ushhhh usssshhhh uuussshhh kenapa kau yakin sekali akan menjadi istri adikku??? Aaaiiiisssshhh... Rumah kami sepertinya tidak akan pernah menampung orang yang hidupnya di penuhi dengan drama dan kebohongan, ya bisa kau lihat, Mama ku saja bisa terhempas dan di buang oleh kami semua karena tingkah lakunya, maybe itu bisa juga terjadi padamu nanti... Hahaha jadi jangan merasa tinggi dulu, kalau jatuh sakit... Bisa gagar otak, patah tulang dan bisa jaadi gila...!"
"Apa maksudmu bicara seperti itu Vit???" Tanya Angel.
Vitto terkekeh. "Tidak ada maksud apapun...!"
"Kau itu memang sangat menyebalkan Vitto....!"
Vitto semakin tergelak menertawakan Angel. "Syukurlah kalau kau menyadari itu dariku..! Dan jangan berpikir bahwa kau bisa terus mempermainkan keluargaku, Vino memang buta karena cintanya padamu, tetapi ingatlah keburukan dan segala kecurangan akan terbuka dengan sendirinya jika sudah waktunya, berhati-hatilah dengan orang yang kau anggap bodoh, biasanya mereka memiliki kecerdikan di luar dari pemikiranmu terhadapnya....!"
Vitto berlalu begitu saja meninggalkan Angel sedangkan perempuan itu terlihat kesal sekali. Vitto selalu saja bersikao buruk kepadanya. Kebencian Vitto kepadanya begitu jelas terlihat dan Angel sangat terganggu dengan hal itu. Vitto berbicara kepadanya seolah tahu segalanya. Sangat menyebalkan sekali.
"Vitto....!" Teriak Angel pada Vitto yang sedang berjalan meninggalkannya.
Vitto menoleh dan tersenyum. "Ya....!"
Angel berjalan menghampiri Vitto. "Berhentilah bersikap buruk terhadapku, setidaknya kita harus sama-sama saling menghormati, aku selama ini mencoba menghormatimu tetapi kau tetap saja bersikap buruk terhadapku...!"
"Sikapku adalah diriku, bukan urusanmu, terserah saja aku mau bersikap bagaimana terhadapmu atau terhadap orang lain, lalu apa masalahmu???"
"Kalau kau bukan kakaknya Vino, aku pasti akan memaki dan menampar mulutmu yang angkuh itu, kau benar-benar menyebalkan....!"
Vitto tidak menanggapi dan hanya tertawa lalu meninggalkan Angel lagi. Dalam waktu dekat ini dia akan membongkar semuanya pada Vino, dan permainan Angel akan berakhir. Vitto benar-benar muak sekali dengan kelicikan Angel, Jason dan Mama mereka. Mereka adalah keluarga gila yang sudah buta akan segalanya sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain.
"Tunggu saja tanggal mainnya... Sekarang puaskanlah dirimu dengan Vino, sebentar lagi semua kebusukanmu akan berakhir...!" Gumam Vitto dalam hati.
★★★
Angel masuk ke ruangan Vino dan menutup pintu ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Angel menghampiri Vino, menyapanya dengan manja dan langsung memeluk Vino yang sedang duduk di kursi kerjanya dari belakang. Angel mencium pipi Vino. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini???" Tanya Angel.
"Semuanya lancar.... Kau datang lebih awal, ini kan belum jam makan siang...!"
"Pikirmu aku ha ya akan datang untuk makan siang saja????" Angel mengedipkan matanya dan duduk di atas paaha Vino.
Vino terkekeh. "Kau ini....!"
"Aku tadi bertemu Vino di basement, kakakmu itu kenapa selalu saja bersikap buruk kepadaku... Menyebalkan sekali...!"
"Sudahlah jangan terlalu di ambil pusing... Kau sudah tau tabiat Vitto seperti apa..!"
"Bagaimana kabar Papa? Dia sakit apa???" Tanya Angel.
"Hanya pusing saja, jadi aku melarangnya kesini..! Oh iya sepertinya bakery milik Rana sedang di renovasi...!"
"Direnovasi??? Kau tahu darimana? Apa Papamu mengatakan itu???" Tanya Angel.
"Tidak... Papa sama sekali tidak pernah membahas Rana lagi denganku, dan kemarin aku tidak sengaja lewat di jalanan tempat bakery itu, ada pembangunan disana..!"
"Lalu??? Kau bertanya pada Papa mu??? Mungkin saja itu salah satu langkah Papamu bertanggung jawab karena kau sudah membaakarnya...!"
Vino mengangguk dan Papamya mengatakan bahwa itu bukan orang-orangnya karena Rana sama sekali tidak mau di bantu untuk merenovasi tempat usaha nya begitu juga pengembalian rumah yang sudah di sewakan olehnya. Rana tidak mau menerima bantuan apapun dari keluarga Vino. "Papa mengatakan bahwa bisa saja Rana menjual tempat itu pada orang lain dan sekarang di renovasi..!" Ucap Vino.
"Ya bisa jadi...!" Gumam Angel.
Mendengar itu, tiba-tiba saja Angel terpikirkan kenapa dia tidak mencari Rana di bakery itu saja. Dan mengenai Rana tidak mau menerima bantuan dari keluarga Vino, sepertinya itu hanya omong kosong dari Papa Vino. Pria tua itu pasti sudah menyembunyikan sesuatu dari Vino, dan bisa saja dia lah yang merenovasi bakery itu untuk Rana. Tetapi jika mungkin ucapan Papa Vino benar, bahwa Rana tidak mau menerima bantuannya ya bisa saja. Dan renovasi itu mungkin saja dari uang Rana sendiri, yang artinya Rana masih berada di sekitar sini. Dia nanti harus mengabari anak buahnya agar kesana. Siapa tahu bisa melihat Rana.
"Sudahlah lupakan dia, aku tidak ingin membahasnya, itu hanya mengingatkanku pada apa yang kau lakukan padanya saja...!" Gerutu Angel.
Vino tersenyum dan memeluk Angel untuk menghilangkan kemarahan perempuan itu. Seperti niat Angel sebelumnya, mereka berdua juga akhirnya bercinta di dalam ruangan itu.
__ADS_1
★★★★