
"Kau ingin jadi kekasihku???? Hahahaha Tidak tidak.... Aku tidak mau kekasih untuk saat ini....!" Jawab Rana sambil tertawa.
"Kau tidak ingin kekasih ya?? Bagaimana kalau sahabat tapi mesra...!" Ujar Vitto lagi.
"Sahabat tapi mesra??? Maksudnya????"
"Maksudnya adalah seperti ini....!" Vitto memegang pinggang Rana menariknya pelan mendekat ke arahnya.
Vitto mendongakkan kepala Rana dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rana untuk menciumnya. Rana memejamkan matanya. Bibir Vitto mulai menyentuh bibir Rana. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya berusaha membuka bibir Rana, Vitto menunggu apakah Rana akan membuka bibirnya untuk menerimanya atau tidak. Jika ya dia akan melanjutkan aksinya jika tidak, dia akan menyerah dan menghargai keputusan Rana.
Seolah mengerti bahwa Vitto sedang menunggu untuk mendapatkan persetujuannya, Rana pun perlahan membuka mulutnya untuk membiarkan Vitto menciumnya. Vitto tersenyum karena Rana ternyata meresponnya lagi, dia kemudian memagut bibir bawah Rana. Vitto menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin Rana benar-benar menerimanya, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Rana supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Rana erat-erat dan mencium bibirnya.
Ciuman Vitto sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu mencium bibir Rana dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Rana kembali membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Rana dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.
Cukup lama mereka berciuman hingga akhirnya keduanya saking melepaskan dan napas mereka terengah. Vitto dan Rana saling melempar senyum. Terbawa suasana??? Ya, keduanya terbawa suasana dan saling menikmati. Ini kedua kalinya mereka melakukan hal itu, tidak ada penolakan diantara keduanya.
Setelah saling melempar senyum, mereka malah terkekeh bersama-sama. "Astaga... Kita melakukannya lagi....!" Gumam Rana sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Vitto....! Apakah dengan melakukan ini aku akan terlihat seperti perempuan rendahan???" Tanya Rana tiba-tiba.
"Rendahan??? Kenapa kau bicara seperti itu? Lagipula kita tidak terikat dengan siapapun, santai saja... Aku tadi hanya menunjukkan sesuatu padamu bahwa sahabat juga bisa melakukan itu, ahhh lupakan....! Dan aku minta maaf jika tadi berlebihan....!"
"Aku juga minta maaf...!" Ujar Rana.
__ADS_1
Mereka kembali tertawa bersama. Rana menyadari bahwa ucapan Vitto memang benar, dia sedang tidak terikat dengan siapapun. Dan sebenarnya kebersamaannya dengan Vitto selama ini tanpa dia sadari sudah menimbulkan kenyamanan dihati Rana, hanya saja dia belum yakin apakah itu sudah masuk dalam ranah jatuh cinta atau tidak. Vitto terlalu sempurna dan dikelilingi banyak wanita cantik disekitarnya, Rana meragu jika Vitto punya perasaan lebih padanya. Rana juga tidak ingin terlalu dalam dengan perasaannya pada Vitto, dia masih memiliki trauma tersendiri. Walaupun perlahan kehadiran Vitto di sampingnya membuat Rana mulai melupakan segala kesakitan yang pernah ditinggalkan oleh Vino. Jika apa yang terjadi tadi terulang lagi, Rana hanya akan menikmatinya sesaat saja, lalu akan melupakannya begitu saja.
"Rana...! Ku harap kau tidak berpikir hal buruk tentangku, aku tidak ada maksud untuk merendahkanmu atau memanfaatkanmu, sumpah aku tidak bermaksud seperti itu....!"
Rana tersenyum. "Sudahlah lupakan yang tadi.... Ayo kita kembali, takut yang lain sudah pulang dan mencari kita....! Ini juga sudah siang, aku akan menyiapkan makan siang...!"
Vitto mengangguk dan mereka berdiri, dengan hati-hati Vitto memegang tangan Rana saat menaiki tangga menuju villa.
★★★★
Keesokan harinya.....
Rumah Vitto terlihat sangat bagus dan nyaman. Hanya berlantai satu tetapi cukup luas di dalamnya juga bagian belakangnya. Vitto sudah menghubungi pelayan rumahnya kemarin agar menyiapkan kamar untuk Rana. Vitto memiliki 2 kamar utama dimana satunya adalah kamar untuknya sendiri sementara satunya lagi adalah untuk anggota keluarganya, Vino sering menempati kamar itu jika sedang berkunjung. Dan ada juga 2 kamar tamu. Dan kali ini Rana akan menempati kamar utama yang terletak bersebelahan di kamar Vitto.
"Ini kamarmu selama kau tinggal disini, aku ada di kamar sebelah, kau istirahat saja, aku harus menjemput Papa di kantor, baju yang kotor letakkan saja di keranjang yang ada di kamar mandi, Art akan mengambilnya nanti, ada pakaian baru u
juga untukmu yang sudah ada di lemari, jika ada apa-apa hubungi aku...!" Ucap Vitto panjang lebar membuat Rana tertawa.
"Iya iya.... Aku akan melaksanakan semua perintahmu, aku lelah, aku akan mandi dan istirahat, kau hati-hati....!"
"Mario dan Tania ada di depan untuk berjaga... See you...!"
__ADS_1
Sebelum pergi, Vitto mengusap lembut kepala Rana sambil tersenyum, kemudian meninggalkannya. Rana lalu masuk dan menutup pintu kamar itu untuk mandi lalu beristirahat.
Rana melihat sekeliling kamar ini, dan tersenyum sumringah. Kamar ini sepertinya memang di khususkan untuk laki-laki. Warna cat nya, ornamen yang ada di setiap furniturnya terlihat jantan sekali. Vitto tinggal sendiri oasti dia ingin segala sesuatu yang ada di rumahnya bisa membuatnya nyaman setiap hari. Rana berjalan menuju jendela dan membuka gorden berwarna emas itu kemudian dia membuka jendelanya. Angin langsung menerpa wajah Rana karena ternyata di bagian belakang rumah ini ada halaman belakang yang asri, dengan beberapa pohon aneka jenis, serta berbagai tanaman. Ada juga sebuah kolam renang berbentuk oval dengan air berwarna hijau sesuai dengan warna keramik yang menempel disana. Di tepi kolam renang ada ayunan berwarna putih yang cocok untuk bersantai serta beberapa kursi dan meja juga alat barbeque. Rana berpikir mungkin Vitto sering menggunakan halaman belakang untuk berkumpul bersama teman-temannya.
Ketukan pintu membuat Rana menoleh dan bergegas membukannya.
"Selamat sore non Rana... Tuan Vitto meminta saya mengambil pakaian kotor non Rana untuk di cuci sekaligud mengantar jus dan camilan ini...!"
Rana tersenyum. "Oh iya, terima kasih... Pakaian masih ada di koper, masuklah...!"
Art itu masuk ke dalam kamar dan Rana membuka kopernya mengambil beberapa pakaian kotor miliknya untuk di cuci. Dia adalah Art yang sama yang pernah dikirim oleh Vitto untuk datang ke apartemennya dan membantu Rana saat sakit selama beberapa hari.
"Senang bisa bertemu non Rana lagi...!" Ujarnya.
Rana melempar senyumnya. "Senang juga bisa bertemu anda lagi...!"
"Dari sekian banyak teman-teman den Vitto yang datang kesini, cuma Non Rana saja yang perempuan, saat kemarin saya diminta untuk membantu di apartemennya dan tahu bahwa ada non Rana disana, saya jadi berpikir bahwa Non Rana ini sepertinya spesial untuk den Vitto....! Cantik dan manis, juga baik...! Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, apa non Rana adalah pacarnya den Vitto??? Iya kan???" Tanya Art itu.
"Ah tidak.... Saya hanya temannya Vitto....!" Sahut Rana dengan cepat.
"Iya temannya tapi sepertinya kalian berdua sangat serasi, dan apa yang diinginkan oleh den Vitto ada pada diri non Rana, den Vitto sering bercerita pada saya seperti apa tipe istri yang diinginkannya, seleranya sejak dulu masih sama... Saya tahu segalanya karena saya sejak muda sudah bekerja di keluarga Prakarsa dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh mereka...! Kalian itu cocok sekali...! Saya doakan semoga berjodoh...! Amin..!"
__ADS_1