
Vino mengangkat Rana dan membawanya naik ke kamar. Rana tidak sadarkan diri dan badannya sangat panas. Vino mulai berpikir mungkin ini terjadi karena dia membiarkan Rana kemarin di dalam kamar mandi. Wajah perempuan itu juga terlihat pucat sekali.
Sampai di kamar Rana, Vino membaringkannya di tempat tidur dan berteriak memanggil pelayan agar mengambilkan minyak kayu putih serta obat berjaga jika Rana nanti sadarkan diri. Vino menepuk-nepuk pipi Rana untuk menyadarkan perempuan itu. Vino berpikir untuk memanggil dokter atau membawa Rana ke rumah sakit, tetapi niat itu dia tanggalkan melihat tubuh Rana dipenuhi luka lebam yang terlihat jelas sekali. Vino tidak mau mengambil resiko jika luka-luka itu dilihat oleh orang lain yang nanti akan menimbulkan kecurigaan. Selain itu Vino juga tidak mau Rana membuka mulutnya pada orang lain tentang sikap dan perbuatannya selama ini. Pilihannya saat ini hanya satu yaitu tetap menempatkan Rana disini, dan dia akan membeli obat penurun demam sehingga Rana nanti bisa sembuh dengan sendirinya.
Pelayan datang membawa kotak obat serta air dingin untuk mengkompres Rana. Pelayan mengambil kapas dan menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih lalu meletakkan ke hidung Rana berharap dengan bau minyak kayu putih itu Rana mau membuka matanya. Sementara itu Vino mengompres dahi Rana dengan air dingin untuk menurunkan suhu tubuh Rana yang panas.
Rana akhirnya sadarkan diri, Vino terlihat menghela napasnya lega. Rana mengernyit dan memijat pelipisnya, dia merasa sangat pusing sekali. "Apa yang kau rasakan sekarang???" Tanya Vino dengan suara dingin ciri khasnya.
"Aku pusing sekali" Jawab Rana.
"Minum obat ini, panasmu akan turun, dan beristirahatlah..."" Ujar Vini lalu mengulurkan 2 pil obat kepada Rana. Paracetamol dan obat penurun panas. Vino membabtu Rana bangun, juuga memberikan segelas air. Rana hanya menatap lelaki itu, ternyata masih ada kebaikan dari lelaki itu kepadanya. Vino saat ini terlihat berbeda dari Vino yang biasanya meskipun suaranya masih terdengar dingin. "Terima kasih!" Ucap Rana, dia kemudian meminum obat itu dan Vino kembali membantunya untuk berbaring.
Vino juga kembali mengkompres kening Rana dengan handuk kecil lalu menyuruh Rana agar beristirahat sementara dia akan ke ruang kerjanya. "Jika kau butuh apa-apa panggil saja pelayan, aku harus bekerja...!" Suara Vino melembut kemudian dia meninggalkan Rana, dan meminta pelayan agar mengawasi Rana dan menjaganya.
Rana menatap kepergian Vino. Ini adalah Vino nya yang dulu yang sangat dia cintai, sikap dan kebaikannya hari ini adalah hal yang sama yang dulu dilakukan lelaki itu padanya. Bukan Vino yang kemarin yang menyiksanya. Tetapi Rana tidak mau besar kepala dan tidak mau larut dalam kebahagiaannya atas sikap Vino, karena bisa saja ini adalah trik Vino untuk menyenangkannya sebelum nanti lelaki itu kembali menjadi lucifer yang menakutkan.
****
Beberapa hari kemudian....
__ADS_1
Kondisi Rana semakin membaik, meskipun Rana sebelumnya berharap Vino mau membawanya berobat ke rumah sakit atau memanggil dokter tetapi itu tidak dilakukan oleh Vino. Rana mengerti sekali bahwa laki-laki itu pasti tidak akan pernah melakukannya dan memiki banyak pertimbangan. Selama sakit itu juga Rana tidak melihat keberadaan Angel, sementara Vino tetap bersikap dingin meskipun memutuskan berhenti menyiksanya ataupun marah kepadanya. Sepertinya Vino melakukan itu karena melihat kondisinya yang sakit dan Rana tidak tahu jika nanti Vino akan melakukan hal buruk itu lagi atau tidak. Tetapi Rana berharap bahwa Vino akan menghentikan kebiasaan buruknya itu selamanya lalu membiarkannya pergi, sehingga dia bisa kembali menjalani harinya dengan baik seperti dulu sebelum mengenal Vino.
Pintu kamar ini dibiarkan terbuka selama Rana sakit. Rana ingat jika dia sudah diberi kebebasan oleh Vino untuk bisa jalan-jalan di rumah ini sebelum dia sakit, jadi kali ini Rana ingin berjalan-jalan dan pergi ke halaman belakang menikmati suasana disana agar dia merasa lebih baik. Saat keluar, rumah terlihat sepi. Dan sepertinya Vino juga sedang pergi ke kantor. Rana menuruni tangga dan langsung menuju ke belakang. Ada seorang pelayan yang ada di dapur, dan pelayan itu memperhatikan Rana, tetapi Rana diam dan tidak peduli.
Rana tersenyum ketika sampai di halaman belakang, dia memejamkan matanya dan mencoba merasakan angin yang berhempus dan menerpa wajahnya. Rana berjalan pelan menuju bangku yang ada di bawa pohon palem lalu duduk disana.
Memandangi hijaunya taman itu dan bunga beraneka warana, Rana duduk diam dan membayangkan berbagai hal. Rana sangat merindukan kedua orangtuanya dia juga sangat merindukan Jeany. Ingin sekali dia meminta maaf dan memeluk sahabatnya itu karena sudah berpikir hal buruk. Rana juga kembali berangan ingin bahagia seperti dulu. Pernikahan yang diharapkannya untuk menambah kebahagiaannya justru membawa keterpurukan dan ketidakbenaran. Bukan surga yang didapatkannya melainkan neraka. Andaikan waktu bisa di putar, Rana sama sekali tidak akan pernah mau mengenal Vino.
Rana sibuk sendiri dengan pikirannya dan dia tidak sadar sudah menghabiskan waktunya duduk disini sekitar 2 jam lebih. Rana berdiri dan hendak kembali ke kamarnya. Dia masuk lagi ke dalam dan mendengar percakapan 2 pelayan yang ada di dapur bahwa baru saja listrik dirumah ini padam.
"Aku harus pergi berbelanja, kau jaga rumah..!" Ucap seorang pelayan kepada pelayan yang satunya.
Sementara Rana berjalan sambi lalu dan menaiki tangga. Tiba-tiba saja ide cemerlang keluar dari kepala Rana, dimana jika listrik padam semua hal yang berkaitan dengan listrik juga tidak akan berfungsi seperti cctv yang ada di rumah ini. Rana harus memanfaatkan situasi ini untuk mencari sesuatu yang bisa dia jadikan petunjuk untuk mengetahui sesuatu tentang Vino ataupun keluarganya, dan Rana juga berharap dia bisa menemukan petunjuk kenapa Vino sangat membencinya. Rana tahu jika dia tidak mungkin bisa pergi dari tempat ini dengan mudah karena di depan juga ada penjagaan yang sangat ketat sekali.
Rana masuk ke kamarnya dan menunggu sekitar 15menit untuk memastikan kedua pelayan itu tidak melihatnya dan dia akan masuk ke ruang kerja Vino.
Setelah semua terlihat aman, yang dilakukan oleh Rana pertama kali adalah mencari informasi. Dia pun memasuki ruang kerja Vino diam-diam, yang untungnya tidak dikunci.
Rana sudah memperkirakan bahwa dia harus segera mencari informasi apapun tentang Vino sebelum kedua pelayan ketus itu menyadari keberadaannya di ruang kerja Vino.
__ADS_1
Sejenak Rana berdiri ragu sambil menatap ke sekeliling ruang kerja Vino yang besar dan luas, yang didominasi oleh perabot kayu yang maskulin. Ada rak besar di sudut ruangan berisi buku-buku, dan ada meja besar ditengah ruangan, dengan lemari kaca di belakangnya. Rana bingung harus mulai dari mana. Tetapi kemudian dia melangkah menuju meja besar itu dan memeriksa laci-lacinya, biasanya orang menyimpan hal-hal pribadi dan rahasia di laci mejanya. Rana hanya berharap bahwa laci itu tidak dikunci.
Pelan Rana mencoba membuka laci pertama meja kerja Vino, tetapi terkunci. Dengan kecewa dia mencoba membuka laci yang lain, tetapi semuanya terkunci. Dia mendesah dan menghela napas kesal. Duduk di atas kursi besar milik Vino. Berusaha untuk tidak menyerah dan mencoba membuka laci-laci yang lain. Tetapi percuma karena semuanya terkunci.
Dahinya mengerut, pantas saja pintu ruang kerjanya tidak terkunci. Vino rupanya sudah memastikan semua berkasnya entah apapun itu, aman terkunci di laci ruang kerjanya.
Mata Rana kemudian memandang sekeliling, selain laci mejanya sepertinya tidak ada yang bisa diharapkannya, ruang kerja lelaki itu tampak steril. Bahkan meja kerjanya yang besar dan dilapisi kaca hitam ini bersih tanpa ada selembar kertaspun di atasnya. Hanya ada kotak berisi alat tulis seperti pena, penggaris, dan beberapa pensil di sana.
Rana memikirkan tentang kertas, dan terpaku ketika melihat ujung kecil kertas berwarna putih yang terselip tak kentara di laci nomor tiga meja. Dia berusaha menariknya, meskipun agak kesulitan. Gerakannya malahan membuat kertas itu sedikit masuk ke dalam.
Rana mengambil penggaris yang ada di atasmeja dan berusaha mengorek-korek kertas itu. Semakin lama usahanya semakin membuahkan hasil, kertas itu bisa ditariknya keluar.
Ternyata itu bukan kertas biasa. Dia tebal dan kaku, itu adalah sebuah foto.
Rana membalik kertas itu dan di depannya, tampaklah foto Vino. Foto Vino sedang tertawa dan memeluk seorang perempuan yang sangat cantik. Dan terlihat juga Vitto ada disebelah keduanya sambil tersenyum. Foto itu sepertinya diambil ketika mereka masih muda karena mereka memakai seragam sekolah, dimana Vino dan Vitto memakai seragam putih abu-abu sedangkan perempuan itu memakai pakaian putih biru, menandakan bahwa perempuan itu masih SMP. Itu jelas bukan wajah Angel, tetapi Rana juga tidak tahu siapa perempuan itu. Dan mereka bertiga tampak sangat bahagia, jelas dari raut wajah mereka.
"Siapa perempuan ini???" Gumam Rana.
Tiba-tiba saja Rana terlonjak ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Seseorang pasti akan masuk ke dalam ruangan ini. Sangat berbahaya jika ada yang melihat dia ada disini, bisa-bisa Vino kembali menghajarnya.
__ADS_1