
"Apa kau dan Vino sudah bersiap jika dia berulah???" Tanya Aditya.
Vitto pun terkekeh. "Ya, Vino sudah menyiapkan sesuatu, bahkan mungkin sebelum si brengseek itu berulah, Vino akan mengusirnya dari tempat ini... Kita lihat saja nanti..."
"Baguslah... Sedia payung sebelum hujan...." Gumam Aditya.
Reino memasuki tempat acara dengan memasang wajah masam. Melirik ke seluruh sudut, memperhatikan suasana yang mulai ramai. Pesta ini benar-benar mewah, dari dekorasi nya, venue tempat dimana acara ini berlangsung adalah ballroom dari sebuah hotel bintang enam, hotel paling mewah yang ada di kota ini, tentu bukanlah sembarang orang yang bisa menyewa nya. Dan Reino juga sudah mencari tahu siapa sosok Vino sebenarnya, dan dia sangat terkejut mengetahui siapa Vino. Akan tetapi hal itu tidak membuat Reino merasa takut untuk berurusan dengan Vino, karena jika ini mengenai Naufal, Vino sama sekali tidak memiliki hak apapun terhadap Naufal. Orang tua Naufal adalah dia dan Arindah, bukan Vino.
Dia masih tidak percaya jika Arindah benar-benar akan menikah dengan Vino. Dan Reino masih belum bisa menerima semua ini. Tetapi kenyataan yang ada di depannya saat ini adalah benar bahwa Arindah sudah menikah dengan orang lain. Sejak menerima undangan pernikahan ini, Reino tidak berhenti berpikir tentang beberapa hal yang harus dilakukan nya untuk membalas apa yang di lakukan Arindah saat ini. Arindah sudah menolak segala usaha nya untuk bisa kembali kepada perempuan itu. Dan Arindah justru menikah dengan orang lain, membuat Reino semakin murka saja. Dan dia harus melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran pada Arindah. Segala nya sudah Reino pikirkan dengan baik dan matang.
Waktu berlalu, dan para tamu undangan sudah memenuhi tempat acara. Master of Ceremony juga sudah memulai acara. Tibalah kedua mempelai di panggil dan riuh tepuk tangan dari seluruh tamu undangan menyambut Arindah dan Vino. Kedua nya muncul bak putri dan Pangeran yang sangat cantik dan juga tampan. Arindah memakai gaun lebar berwarna putih, sementara Vino dengan tuksedo berwarna hitam yang dijahit pas di tubuhnya. Membuat kesan tampan dan juga elegan. Arindah juga memegang bucket bunga mawar putih di tangannya, dan diantara keduanya ada Naufal yang juga memakai tuksedo hitam, kemeja putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam dan terlihat sangat menggemaskan. Dan jelas sekali kebahagiaan di wajah Arindah dan Vino, mereka benar-benar bahagia.
Vitto memeluk Rana, yang sedang memandang ke arah pelaminan, tempat dimana Vino dan Arindah berdiri. Raut wajah bahagia tidak bisa Vitto dan Rana sembunyikan melihat Vino bersanding dengan Arindah. Mereka turut berbahagia dan tidak berhenti merapalkan doa untuk hubungan kedua orang itu agar selalu di beri kebahagiaan dalam berumah tangga. Mengenai berbeda kamar, Vitto sudah membantu Vino menjelaskan kepada Papa mereka, hal itu Vitto lakukan agar jika nanti mendapati kedua nya tidak sekamar, Papa mereka tidak terkejut. Setelah menjelaskan itu, Papa mereka pun mencoba mengerti dan memahami, lalu meminta asisten rumah tangga agar menyiapkan kamar untuk bisa di tempati Vino nanti nya, karena kamar Vino akan di berikan kepada Arindah, mengingat kamar Vino lebih luas di banding kamar-kamar yang lain yang ada di rumah, sehingga Arindah bisa merasa lebih nyaman, apalagi Arindah juga mengajak Naufal nanti nya. Kamar pun langsung di siapkan dan pakaian Vino juga langsung di pindahkan ke kamar itu.
Sementara, tanpa di ketahuilah oleh Reino, dia sejak tadi di awasi oleh dua orang laki-laki. Kedua nya adalah orang-orang suruhan Vino yang sengaja di tugaskan untuk mengawasi dan membuntuti Reino saat di pesta ini. Vino tidak mau mengambil resiko dengan kedatangan Reino, dan juga ingin menunjukkan kepada lelaki itu bahwa pernikahan ini benar adanya.
Reino menatap sinis ke arah pelaminan sejak tadi. Arindah dan Vino tersenyum lebar sejak acara di mulai, menandakan bahwa mereka sangat bahagia dengan acara ini. Dan keduanya sekarang sedang sibuk menyalami para tamu undangan sedangkan Naufal sedang di gendongan Papa Arindah. Bocah itu sepertinya merasa lelah sehingga merengek dan meminta di gendong oleh kakeknya. Reino tersenyum penuh kemenangan, ini waktu yang bagus untuk menemui Naufal, dan jika ada kesempatan dia akan membawa Naufal pergi, mengingat semua orang sepertinya sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, tetapi dia harus mencari kesempatan yang bagus dimana nanti Naufal sedang tidak dalam pengawasan kakek Neneknya dan juga Arindah. Reino akan menunggu waktu yang tepat untuk membawa Naufal.
Vitto melambaikan tangan memanggil seseorang. Seorang laki-laki mendekat ke arah Vitto. "Ya Pak...???" Ucap lelaku itu.
"Kau pasti memperhatikannya, dia sejak tadi mengarahkan pandangannya ke arah Naufal, aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu, awasi dia, jika dia nanti hendak mendekat ke arah Naufal, langsung saja kalian bereskan seperti yang sudah di arahkan oleh Vino sebelumnya, aku tidak mau acara yang bahagia ini jadi rusuh karena si brengsek itu..." Titah Vitto pada laki-laki itu.
"Baik Pak.... Kami sejak tadi juga berpikir seperti itu.... Anda jangan khawatir, kami akan langsung membereskannya..."
"Oke... Lanjutkan mengawasi nya..."
Lelaki itupun pergi menjauh dari Vitto, dan kembali ke temannya yang satu nya lagi untuk mengawasi Reino.
Acara terus berlanjut, dan semakin malam semakin meriah. Orang-orang sebagian masih mengantri untuk menyalami kedua mempelai, sebagian lagi menikmati hidangan sambil mengobrol dengan tamu yang lain. Dan Reino masih sibuk memperhatikan Naufal yang ternyata saat ini sedang berlarian di depan pelaminan. Senyum sumringah menghiasi wajah Reino, dan dia pun berjalan mendekat ke pelaminan, mencari kesempatan bisa membawa Naufal pergi.
Perlahan Reino berjalan mendekat sambil memastikan keadaan dimana keluarga Arindah tidak memperhatikan Naufal. Dia terus mendekat sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Naufal sibuk bermain dan duduk selonjoran di lantai sambil memegang botol susu di tangannya. Reino tersenyum penuh kemenangan, dan saat semakin dekat dengan Naufal, Tiba-tiba tubuhnya terdorong oleh seseorang hingga dia tersungkur dan jatuh ke lantai karena dorongan itu cukup keras, lalu tak lama setelah itu, seseorang muncul dan menggendong Naufal, membawa Naufal pergi menjauh.
__ADS_1
"Maaf Pak maaf... Anda tidak apa-apa???" Tanya seorang laki-laki yang tadi mendorong Reino. Dia mendekati Reino, dan wajah Reino terlihat kesal karena dia gagal memanggil dan membawa Naufal.
"Aku tidak apa-apa..." Jawab Reino ketus sambil mengernyit karena tangannya sedikit sakit.
"Eh sekali lagi maaf Pak, bapak kesakitan ya???? Ayo ikut saya, kita lihat luka bapak..." Ucap lelaki itu sambil menarik Reino mengajak Reino menjauh. Orang itu memaksa Reino meskipun Reino menolak, tetapi tetap di paksa untuk menjauh dari kerumunan.
Reino terus di ajak oleh lelaki itu menjauh dari keramaian dan di ajak keluar venue. Reino yang bingung pun terlihat marah dan kesal. Tetapi lelaki itu justru menertawakannya dan tak lama setelah itu, ada dua orang laki-laki yang datang lalu menyeret Reino untuk di ajak keluar dan mengusir Reino dari tempat acara. "Anda harus pergi meninggalkan tempat ini, sebelum saya melaporkan Anda kepada pak Vino tentang apa yang anda akan lakukan pada Naufal... Sejak tadi kami mengawasi gerak-gerik mencurigakan anda, sekarang lebih baikda pergi, atau kami akan mencret anda..."
"Kurang ajar kalian..... Aku tamu undangan disini, dan apa yang kalian tuduhkan itu tidak benar.... Aku yang justru akan melaporkanmu pada Vino atas perlakuan tidak sopan kalian kepadaku..." Teriak Reino dengan wajah yang kesal dan juga marah.
Ketiga lelaki itu justru terkekeh. "Kami di bayar untuk mengawasi anda selama disini oleh pak Vino, karena pak Vino tidak mau pesta pernikahannya di rusak oleh orang seperti anda, jadi beliau berjaga-jaga.... Dan kekhawatiran pak Vino benar adanya bahwa anda pasti sedang merencanakan sesuatu saat pesta berlangsung, salah satu nya ingin mengganggu Naufal... Sekarang tidak perlu banyak bicara, kami akan membawa anda keluar dari tempat ini dan meninggalkan pesta yang sedang berlangsung di dalam... Ayo...." Para laki-laki itu pun menarik Reino dengan kasar untuk membawa Reino keluar dari hotel ini.
★★★
Pesta itu akhirnya berakhir juga. Waktu juga hampir menunjukkan tengah malam. Semua tamu undangan sudah meninggalkan tempat acara. Begitu juga dengan keluarga Vino dan Arindah yang sudah berpamitan untuk pulang. Arindah dan Vino akan menginap di hotel ini untuk semalam sebelum besok Vino memboyong Arindah ke rumahnya. Tadi sempat ada drama kecil juga, dimana Naufal ingin ikut Arindah, tetapi dengan bujukan luar biasa dari kakek neneknya, akhirnya Naufal mau untuk pulang bersama mereka. Dan Arindah serta Vino juga berjanji pada Naufal bahwa besok mereka akan menjemput Naufal di rumah. Akhirnya Naufal ikut pulang bersama kedua orang tua Arindah.
Petugas hotel mengantar Vino dan Arindah ke kamar pengantin mereka. Kamar pengantin itu terlihat sangat cantik dengan hiasan bunga mawar merah di beberapa sudut dan juga tak lupa di lantai ada taburan dari kelopak mawar merah dan putih, serta beberapa lilin yang di nyalakan. Di atas tempat tidur juga banyak sekali bunga, serta ada sebuah keranjang rotan yang di dalamnya ada sebotol Champagne dengan dua gelas dan di hiasi oleh bunga lagi. Champagne mahal itu adalah welcome drink yang sengaja di siapkan oleh hotel untuk kedua mempelai. Untuk sesaat, Arindah sempat tertegun tetapi dia lekas menyadari agar tidak terlihat norak oleh Vino. Mereka berdua masuk dan petugas menutup pintu kamar itu. Tinggal lah sekarang hanya Vino dan Arindah.
Arindah tersenyum. "Ini sangat cantik, tentu saja aku menyukai nya...." Gumam Arindah.
"Syukurlah... Ah aku ke kamar mandi dulu untuk bersih-bersih, kau bisa berganti pakaian disini, atau mungkin kau ingin berganti pakaian di kamar mandi???" Tanya Vino. Dia menawarkan hal itu, agar Arindah merasa nyaman dan juga agar tidak canggung.
"Eh kau saja... Aku akan menghapus make up lebih dulu disini, baru nanti bersih-bersih..."
Vino tersenyum dan menganggukkan kepala nya. "Baiklah... Kalau begitu aku akan ke kamar mandi..." Vino kemudian melepaskan jas nya dan meninggalkan Arindah.
Setelah Vino ke kamar mandi, Arindah menuju ruang ganti dan mencari pakaiannya yang ada di koper serta mengambil kotak berisi alat make up nya yang sudah dia siapkan sebelumnya dari rumah. Lalu dia berganti pakaian dengan pakaian tidur, baru setelah itu dia akan kembali ke kamar.
Sementara di dalam kamar mandi, Vino melepaskan pakaiannya dan dia akan mandi karena dia terbiasa melakukan itu setelah berkegiatan. Setelah mandi, Vino akan merasa lebih segar dan badannya juga tidak lengket. Vino menatap tubuh dan wajahnya di cermin. Dia dan Arindah berada di dalam satu ruangan dan hanya berdua. Vino sejak kemarin sudah memutuskan bahwa malam ini dia akan tidur di sofa saja dan membiarkan Arindah tidur di tempat tidur. Hal itu dia lakukan agar Arindah merasa nyaman nanti nya, dan mereka berdua juga tidak canggung lagi.
Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur berwarna merahnya, Arindah keluar dari ruang ganti menuju kamar. Arindah duduk di depan meja rias, diam menatap wajahnya di cermin. Dia mulai menyadari bahwa saat ini, di kamar yang begitu indah ini, hanya ada dirinya dan juga Vino. Saat ini mereka adalah pasangan suami istri.
__ADS_1
Arindah memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam lalu menghela nya panjang, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini adalah awal baru lagi dalam perjalanan hidupnya. Dia sudah mengambil keputusan yang besar untuk menikahi laki-laki yang dulu pernah di cintai nya dan meskipun cinta itu sudah hilang, tetapi entah kenapa dia merasa yakin bahwa dia bisa kembali menumbuhkan perasaan itu lagi nanti nya dan kembali mencintai Vino. Harapannya kali ini hanya satu, berharap laki-laki itu juga kelak bisa mencintai dan menyayangi nya serta menjadi Ayah sambung yang baik untuk Naufal, sehingga Naufal juga bisa merasakan kasih sayang seutuhnya dari seorang Ayah yang selama ini belum pernah Naufal rasakan. Arindah bisa tahu dari sikap Vino akhir-akhir ini yang selalu berusaha mendekatkan diri pada Naufal, mencoba memberikan kasih sayangnya, sehingga hal itu semakin membuat Arindah memiliki keyakinan bahwa Vino akan benar-benar bisa menjadi suami yang baik, meskipun tahu saat ini baik dia dan Vino belum saling mencintai. Akan tetapi Arindah sudah memutuskan bahwa setelah menikah, dia akan mengabdikan diri sebagai seorang istri yang baik, dan akan menghormati suami nya serta menjalankan kewajibannya dengan baik, karena hal itu adalah sebuah kewajiban yang harus di embannya setelah menjadi istri dari seseorang. "Siap.... Aku harus siap.... Semoga ini jadi awal yang baik untuk hubungan kami ke depannya.. " Gumam Arindah dalam hati dan penuh dengan keyakinan.
Arindah membuka matanya dan tersenyum menatap wajah cantiknya di cermin, lalu membuka kotak make up nya dan mengambil botol berisi micellar water dan mulai membersihkan make up di wajahnya dengan perlahan. Sampai keseluruhannya benar-benar bersih.
Tak lama, Vino keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk kimono berwarna putih. Arindah pun mengalihkanpandangan ke arah Vino sambil tersenyum. "Kau mandi???" Tanya nya.
"Iya... Gerah, dan aku terbiasa mandi setelah melakukan kegiatan, tidak nyaman dan terasa lengket saja kalau tidak mandi.. Aku ganti baju dulu.." Jawab Vino kemudian berjalan menuju ruang ganti.
Sementara Arindah beranjak dari kurai meja rias, dan bergantian ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia juga terbiasa tidur dengan wajah yang bersih dan supaya wajahnya juga sehat dan tidak mudah berjerawat, serta segar saat di pagi hari.
Beberapa saat kemudian....
Arindah keluar dari kamar mandi, dan mendapati Vino sedang membungkuk di depan tempat tidur. Tak lama setelah itu, Vino tampak membawa dua bantal.
"Loh... Kok bantalnya di bawa???" Tanya Arindah pada Vino.
"Ah... Ini aku akan tidur di sofa, jadi kau bisa tidur disini dengan nyaman..." Jawab Vino.
Arindah mengernyit. "Kenapa harus tidur di sofa??? Tempat tidurnya luas, aku juga tidak akan merasa sempit kalau kau tidur disini. . . Eh atau kau yang memang tidak nyaman tidur denganku???" Arindah tersenyum.
"Ah tidak... Tidak... Bukan begitu Ndah... Eh... Aku hanya takut jika nanti kita tidur bersebelahan dan saat tidur aku tidak sadar dan membuat gerakan-gerakan yang mungkin bisa mengganggu mu, lalu kita jadi merasa tidak enak dan canggung.. Aku tidak mau nanti kau berpikir hal yang buruk tentang ku, atau menganggapku tidak sopan.. Hanya itu saja alasanku... Dan di rumah aku juga sudah menyiapkan kamar untukmu, nanti kau bisa tidur dengan Naufal, dan aku akan tidur di kamar lain... Ya, sampai nanti kita benar-benar bisa terbuka satu sama lain, aku akan memberimu privasi, sehingga kau bisa nyaman.."
Arindah menatap Vino dalam diam lalu melangkah mendekat ke lelaki itu. Dan tiba-tiba Arindah merebut bantal dari tangan Vino. "Kenapa kau melakukan itu??? Apa aku pernah meminta itu sebelumnya padamu??? Bahwa aku ingin tidur berbeda kamar denganmu???" Tanya Arindah kemudian dia meletakkan bantal yang di oegangnya daneletakkannya di tempat tidur.
Arindah kemudian menarik Vino agar duduk di atas tempat tidur untuk mengajak lelaki itu mengobrol. Mereka duduk berhadapan dan Arindah memegang kedua jemari Vino. "Aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kepadamu, tetapi aku sejak awal tidak pernah mengajukan persyaratan apapun sebelum dan sesudah kita menikah... Kau sendiri yang sebelumnya bilang bahwa kau ingin kita bisa saling mengenal lebih jauh lagi setelah menikah. Lalu jika kita berpisah kamar, bagaimana kita akan bisa lebih dekat???" Tanya Arindah dengan senyum cantiknya menatap Vino.
Arindah terus menatap Vino sambil terus tersenyum. "Aku sekarang istrimu, kau memiliki hak sepenuhnya atas diriku, dan sebagai istrimu aku akan menuruti semua keinginanmu jika itu bisa membuatmu bahagia, dan salah satu kewajibanku adalah menyerahkan diriku sepenuhnya kepadamu, aku siap untuk segala nya, termasuk hal yang satu itu, kau bisa meminta nya padaku jika kau menginginkanku untuk memenuhi hasratmu sebagai suamiku... " Ujar Arindah, yang langsung membuat Vino terperangah mendengarnya. Arindah sudah memikirkan dengan baik apa saja keputusan yang akan di ambilnya. Termasuk hal yang satu itu, mengingat tugas seorang istri adalah melayani suami nya baik dalam hal keperluan sehari-hari ataupun hal pemenuhan kebutuhan bathin. Arindah yakin jika dia melakukan hal itu, hubungannya dengan Vino akan semakin dekat dan bisa jadi benih-benihbcinta di antara mereka juga bisa tumbuh dengan baik, dan suatu saat nanti mereka bisa benar-benar saling mencintai. Dan Arindah tidak ingin berdosa karena tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap suami. Itulah kenapa dia menyiapkan dirinya dengan baik untuk hal itu ketika menjadi istri dari seseorang.
"Apa.....????" Seru Vino terkejut dan masih tidak percaya.
Arindah menganggukkan kepala nya dan tersenyum menatap Vino dalam-dalam. "Kau bisa melakukannya, ataupun memintaku jika kau menginginkannya... Aku tidak mau menambah dosa ku jika aku tidak melakukan tugasku sebagaimana tugas seorang istri kepada suami nya... Mungkin dengan hal itu, hubungan kita bisa lebih dekat lagi... Kau bisa melakukannya..." Ujar Arindah lagi dengan penuh keyakinan. Dan tiba-tiba saja Arindah mendekatkan wajahnya ke wajah Vino lalu mengecuo bibir lelaki itu. Vino hanya terdiam dan membantu karena terkejut.
__ADS_1