Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 51


__ADS_3

Rana masih memejamkan matanya dan dia sudah tidak merasakan ada gerakan lagi di sebelahnya. Sepertinya Vino dan Angel sudah tidur. Kedua orang itu sudah kehilangan akal sehatnya, mereka sama sekali tidak punya malu dan juga hubungan mereka begitu bebas, melupakan semua norma yang ada padahal mereka belum menikah. Rana kembali ingin menangis meratapi nasibnya tetapi dia mencoba menahannya. Rana masih diam di posisinya menunggu kedua orang itu benar-benar terlelap dengan nyenyak sehingga nanti dia bisa bangun dan keluar dari kamar ini.


Setelah menunggu sekitar 30 menit, dan tidak ada gerakan, Rana pun perlahan turun dari tempat tidur. Dia melangkah pelan untuk keluar dan dia sempat menoleh menemukan Vino dan Angel tidak mengenakan apapun dan mereka tidur saling berpelukan. "Tidak tahu malu sama sekali....!" Gerutu Rana kesal. Dia kemudian membuka pintu dan keluar.


Rana menuruni tangga dan berjalan menuju halaman belakang dimana ada kolam renang tempatnya terjatuh kemarin. Rana juga sering melihat taman belakang dari jendela kamarnya, disana terlihat asri dan dia yakin akan merasa nyaman berada disana.


Rana menyusuri tepian kolam renang dan senyumnya mengembang menemukan sebuah bangku kayu yang berada di bawah sebuah pohon palem. Rana mempercepat langkahnya dan duduk disana. Halaman belakang ini cukup luas dan banyak tanaman bunga, suasananya asri. Rana tersenyum, memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya diterpa angin. Jika saja tidak dihalangi oleh tembok, Rana yakin suasana disini pasti lebih indah dan nyaman.


Rana melirik ke segala arah melihat suasana sekitar. Rana juga mendongak ke atasatas ke balkon tempat dimana kemarin dia di lempar oleh Vino. Rana baru menyadari bahwa balkon itu memang cukup tinggi juga Rana teringat bagaimana putus asanya dirinya kemarin dan mengira bahwa kemarin hidupnya akan berakhir. Beruntungnya Tuhan masih memberinya kesempatan dan Vitto datang menyelamatkannya. Rana tidak tahu bagaimana jika lelaki itu tidak datang diwaktu yang tepat.


Rana memejamkan matanya menarik napasnya dalam-dalam. "Sampai kapan ini harus terjadi.....!" Gumam Rana dan dia kemudian menghela napasnya panjang.


"Aku masih tidak tahu dengan apa yang terjadi, tetapi bagaimana aku harus mencari petunjuk tentang penyebab Vino menghukumku seperti ini...?" Gumam Rana lagi.


Vino tidak pernah mau mengatakan alasan kenapa dia melakukan semua kejahatan ini padanya. Rana kemudian memutuskan akan mencari waktu yang pas untuk berusaha menemukan alasan kenapa Vino melakukan ini semua. Tidak akan ada asap jika tidak ada api, begitu juga Vino, dia melakukan ini pasti karena dia memiliki alasan yang kuat dan Rana penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Rana sudah mencoba mengingat berbagai hal yang pernah terjadi di hiduonya, satu persatu dia berusaha mengingatnya apakah dia pernah menyakiti seseorang atau tidak sehingga saat ini suaminya sendiri sangat membencinya. Sayangnya Rana sama sekali tidak pernah merasa melakukan hal yang menyakiti orang lain. Bahkan sekedar bergosip atau menjelekkan seseorang, dia tidak pernha melakukannya. Selama ini dia selalu berusaha berbuat baik kepada seseorang dan Rana sudah berprinsip kuat bahwa dia tidak akan pernah mau untuk bergunjing dengan yang lain membicarakan keburukan orang lain. Itu adalah pantangan yang sampai detik ini selalu Rana pegang dengan kuat. Tetapi sayangnya saat ini ada seseorang yang sangat membencinya entah karena apa.

__ADS_1


★★★★★


Angel membuka matanya dan dia menyadari bahwa dia dan Vino sedang tidur di kamar Rana. Angel melepaskan pelukannya dan mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru arah mencari keberadaan perempuan itu, sayangnya dia tidak menemukan dimana keberadaan Rana. Angel kemudian membangunkan Vino dengan menggoyangkan tubuh Vino pelan. Laki-laki itupun akhirnya bangun dan membuka matanya.


Angel mengatakan pada Vino jika Rana sepertinya tidak sedang berada disini. Sontak Vino langsung terperanjat dan meminta agar Angel juga segera mengenakan pakaiannya lalu mencari keberadaan Rana. Selepas memakai pakaian mereka berdua langsung meninggalkan kamar Rana untuk mencari keberadaan perempuan itu. Ternyata hari sudah sore, Angel dan Vino tidur cukup lama setelah percintaan mereka.


Vino berpapasan dengan pelayan dan langsung menanyakan keberadaan Rana, pelayan itu memberitahu jika Rana saat ini berada di halaman belakang, sedang duduk sendirian sejak beberapa jam yang lalu. Vino dan Angel menghela napas secara bersamaan mengungkapkan kelegaan mereka bahwa ternyata Rana masih berada disini. Mereka berdua kemudian menyusul Rana untuk melakukan sesuatu pastinya.


Ketika berada di pintu penghubung antara rumah dan halaman belakang, Vino dan Angel bisa melihat dengan jelas Rana sedang duduk sendirian dibawah pohon palem. Keduanya saling berpandangan dan melangkah mendekati Rana. Sementara itu Rana menyadari jika Vino dan Angel datang menghampirinya. Rana menghela napasnya panjang, kedua orang itu pasti sudah merencanakan sesuatu lagi kepadanya, Rana tidak ingin berurusan dengan mereka karena dia sudah mulai merasa muak dengan semuanya. Rana pun berdiri untuk pergi dan enggan berbicara atau berhadapan dengan keduanya.


Rana melangkah perlahan dan ketika Vino dan Angel sudah hampir mendekat, Rana melangkah ke kiri untuk memberi mereka jalan. Rana melakukan itu juga agar dia bisa menghindari keduanya. Sayangnya Vino sudah bisa membaca pikiran Rana, dengan sigap, Vino menarik rambut panjang Rana yang diikat sekenanya oleh Rana. Tentu saja hal itu membuat kepala Rana tertarik kebelakang dan dia langsung berhenti.


Rana berdiri tetapi dia memilih diam, baik itu mulut dan juga langkahnya. Rana tidak menjawab pertanyaan Vino, dan laki-laki itu juga masih belum mau melepaskan pegangannya dari rambut Rana. Merasa kesal karena tidak direspon oleh Rana, Vino semakin kuat menarik rambut Rana hingga membuat Rana harus meringis dan memundurkan langkahnya. Karena itu juga akhirnya Rana harus berhadapan dengan wajah Vino yang menatapnya sedingin es.


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau sudah mai berani denganku" Tanya Vino lagi.


Rana masih diam. Rana berpikir inilah yang harus dilakukannya ketika berhadapan dengan lelaki didepannya itu. Rana harus menunjukkan sikap tidak pedulinya dengan keadaan saat ini karena melawan Vino pun itu sama saja dan justru membuang waktunya.Jika laki-laki ini marah kepadanya juga Rana sudah tidak peduli lagi, karena semakin dia mencoba melawannya Vino justru akan menyiksanya dan melakukan hal gila lainnya lagi, tetapi Rana tahu konsekuensinya jika dia mendiamkan lelaki itu akan membuat Vino semakin marah. Tetapi Rana tidak akan peduli lagi dengan hal itu, diam adalah cara terbaik untuk melawan Vino. Kalaupun dia harus mati ditangan Vino, Rana tidak masalah.

__ADS_1


"Kenapa kau diam...!!!" Teriak Vino tepat di depan wajah Rana.


Rana tidak bergeming dan menatap lelaki itu dalam pandnagan datar sambil terus diam dan tidak mengatakan apapun. Sementara Vino semakin terlihat marah. Mata menyala itu terlihat semakin menakutkan tetapi Rana tidak boleh menyerah begitu saja, dia harus bisa menunjukkan pada Vino bahwa dia bukanlah perempuan yang lemah. "Kurang ajar.....!!!" Teriak Vino lagi.


Vino kemudian menarik rambut Rana lagi, karena begitu kuatnya tarikan itu Rana sampai terjatuh di lantai tepi kolam renang tetapi Rana masih tidak mengatakan apapun dan mempertahankan kediamannya. Vino benar-benar dibuat marah oleh Rana, dan tanpa berpikir dia langsung menendang keras perut Rana dengan kakinya, begantian dari kaki kanan ke kaki kiri secara berulang-ulang. Tetapi sayangnya itu masih tidak merubah keadaan karena rana masih memilih untuk diam sebagai bentuk perlawanannya.


Rana mencoba menahan kesakitan diperutnya akibat tendang Vino tetapi dia tidak boleh merintih kesakitan dan harus bertahan. Vino menarik rambut Rana semakin kuat menyeretnya ke tepi kolam renang. Vino duduk berjongkok dan tidak melepaskan Rana. "Kau sudah berani menentangku dengan tidak mau menjawab pertanyaanku, berani sekali kau...! Aku tidak akan mengampunimu....!" Geram Vino.


Lelaki itu kemudian menekan punggung Rana hingga Rana tengkural di atas telian kolam Renang dan Vino mulai menenggelamkan kepala dan wajah Rana. Sementara Rana terus diam tidak bereaksi, dia hanya memejamkan matanya ketika wajahnya menyentuh air kolam itu. Rana pasrah dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan jika hari ini adalah hari terakhirnya. Vino sudah mulai meluapkan kemarahannya dan menghukumnya.


Vino menenggelamkan kepala dan wajah Rana, lalu menahannya beberapa detik, kemudian menariknya dan menenggelamkannya lagi. Vino semakin marah karena Rana terus diam padahal dia sangat berharap Rana mau menyerah dan memintanya untuk berhenti. Sayangnya keinginan Vino itu tidak sesuai dengan ekspektasinya. Rana terus saja diam. Vino semakin menjadi-jadi dan terus mengulang lagi dan lagi meneggelamkan kepala Rana. Ketika Vino menarik kepalanya, Rana menarik napasnya dalam-dalam, dia menyerah dalam siksaan Vino tetapi dia tetap berusaha untuk mempertahankan hidupnya meskipun kecil kemungkinanya karena lelaki itu tidak memiliki hati.


Kemarahan Vino semakin menjadi dan seolah dia todak terima dengan sikap Rana. Vino pun berdiri dan terus menyeret Rana sampai masuk ke dalam rumah. Angel mengikutinya dari belakang, dan Rana masih sama tidak melakukan perlawanan. Vino terus menyeret Rana membawanya ke toile bawah, dimana itu hanya berisi sebuah closet duduk dan sempit, berbeda dengan toilet atau kamar mandi di dalam kamar yang luas. Vino kemudian melepaskan pegangannya pada Rambut Rana dan mengambil selang air, kemudian menyiramkan air itu ke seluruh tubuh Rana hingga Rana basah kuyup.


Vino tidak berhenti menyiksa Rana yang masih diam. Sikap Rana itu semakin membuatnya memuncak. Sambil terus menyiramkan air, Vino juga menendang Rana, perempuan itu juga masih tidak bergeming. Vino kemudian duduk dan mendongakkan kepala Rana, memaksa istrinya itu agar membuka mulutnya, kemudian Vino memasukkan selang itu ke dalam mulut Rana dan menggelonggongkan air ke kerongkongan Rana. Cukup lama tetapi kemudian Angel menyuruh Vino berhenti karena itu akan membuat Rana akan cepat mati. Vino pun menghentikannya dan kembali menendang perut Rana.


Sementara Rana langsung terbatuk-batuk tetapi masih tidak mengatakan apapun, lalu pada akhirnya dengan kemarahan yang memuncak Vino mengunci toilet itu dari luar dan meninggalkan Rana disana dalam keadaan basah kuyup.

__ADS_1


Setelah pintu kamar mandi ditutup dan dikunci oleh Vino, Rana terduduk lemas dan menangis tetapi dia mencoba menahan tangisnya itu agar tidak terdengar dari luar. Rana terisak dengan pedih.


__ADS_2