
Vitto dan Rana berbaring di kursi santai menikmati matahari terbenam di depan mereka. Ini waktunya bersantai setelah seharian menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. dan Rana tidak ingin melewatkan sunset setiap sore nya. Apalagi yang di lakukan oleh orang honey moon selain bersenang-senang setiap harinya apalagi harinya tempat yang begitu indah seperti ini.
Rana melirik ke arah Vitto yang ada di sebelahnya dan tersenyum. Sejak mereka menikah hingga detik ini, Rana benar-benar merasakan ang namanya kebahagiaan yang sesungguhnya. Bagi Rana pernikahan ini adalah sebuah awal dari kebahagiaannya, tidak ada lagi kekhawatiran dan juga ketakutan, karena dia merasa Vitto sebagai pelindungnya. Walaupun Rana tahu, di luaran sana banyak sekali perempuan yang mungkin nanti nya akan menatapnya dengan pandangan sinis karena pernikahannya dengan Vitto.
Di acara resepsi pernikahannya dengan Vitto kemarin, Rana bisa melihat itu dari beberapa perempuan yang datang sebagai tamu. Mereka memasang wajah tidak suka kepada Rana, meskipun saat menyalami Vitto, mereka berusaha tersenyum tetapi tentu senyum itu hanyalah kepura-puraan semata. Dan beberapa perempuan itu adalah perempuan-perempuan yang pernah di kabarkan dengan Vitto. Rana tahu itu karena mereka berprofesi sebagai model dan juga aktris lawan main Vitto di beberapa film. Tetapi Rana tidak mau ambil pusing karena sebelumnya Vitto sudah mengatakan padanya bahwa dia harus mengundang beberapa orang demi kesopanan karena beberapa alasan, walaupun sebenarnya Vitto enggan untuk mengundangnya.
Rana sangat tahu segala konsekuensi yang harus di Terima nya ketika dia menjadi istri dari orang seperti Vitto. Selain ada yang akan menyukai dan tidak menyukai nya, Rana juga harus siap dengan berbagai hal dalam pekerjaan Vitto, mengingat Vitto masih memiliki beberapa kontrak pekerjaan yang mengharuskan Vitto bersama perempuan-perempuan yang cantik. Tetapi Vitto berjanji setelah ini dia akan memilah tawaran pekerjaan untuknya. Sedangkan kontrak yang sebelumnya harus tetap di jalankan dengan profesional.
Vitto menoleh dan mendapati istrinya sedang senyum-senyum memandangi nya. "Hei...... Kenapa senyum-senyun??? Matahari nya ada disana kenapa kau malah memandangiky??? Katanya ingin melihat matahari terbenam???" Tanya Vitto.
"Matahari nya pindah ke wajahmu... " Jawab Rana.
"Apa...???!!!"
Rana tersenyum dan meraih tangan Vitto kemudian menciumnya.
"Kau ini dasar.... Jangan coba menggodaku, aku butuh istirahat sebentar, kalau mau menggoda, nanti malam saja..." Timpal Vitto lagi.
Rana tersenyum. "Tanpa aku harus menggodamu kau justru yang lebih sering menggoda ku..."
__ADS_1
"Itu benar....!" Kali ini Vitto yang mencium jemari Rana. "Aku benar-benar bahagia sekali bisa menikmati waktu berdua denganmu seperti ini tanpa gangguannya siapapun... Rasa nya bebas dan tidak perlu mengkhawatirkan apapun... Ahhh... Luar biasa sekali apalagi di tempat yang begitu luar biasa ini."
"Kau ingin seperti ini terus???" Tanya Rana.
Vitto tersenyum. "Iya tentu saja... Tetapi kita tidak selama nya akan terus berdua, tentu kita juga harus memiliki anak bukan...???"
"Kau benar... Seandai nya bayi ku masih ada, mungkin sebentar lagi aku akan melahirkan, dan kita baru akan menikah setelah aku melahirkan.." Gumam Rana sedih.
Vitto bangun dan berpindah duduk di sebelah Rana lalu memeluk istrinya itu. "Tuhan lebih menyayangi nya sayang... Kita tidak boleh larut dalam kesedihan, dan harus menatap ke depan.. Bayi mu sudah berbahagia disana, dia juga pasti tidak ingin melihatmu sedih disini... Tuhan sudah menjaga nya dengan baik disana... " Vitto mengusap lembut bahu Rana, mencoba menghilangkan kesedihan istrinya.
"Terima kasih, kau selama ini selalu ada di sampingmu, aku tidak tahu jika tidak ada dirimu, terima kasih..." Rana membalas pelukan Vitto.
"Aku ingin segera memiliki bayi lagi...!" Ucap Rana yang membuat Vitto melepaskan pelukannya, dan lelaki itu mengernyit. Rana terkekeh. "Iya maksudku setelah masa recovery ku selesai tentu nya.. Kita harus berdiskusi dengan Arindah, dan dia juga harus memeriksa ku.."
"Jangan buru-buru, kalaupun masa recovery mu selesai, setidaknya kau juga masih harus menambah nya selama beberapa bulan lagi, aku tidak mau mengambil resiko sayang.. Kita pasti akan memiliki bayi nanti, tetapi kesehatan mu, fisikmu, rahim mu dan semua nya harus di pastikan baik dan aman.. Jangan sampai karena kita terlalu antusias malah justru membuatmu dalam kondisi tidak siap dan membahayakan mu..."
"Iya....!" Rana kembali memeluk Vitto.
★★★★
__ADS_1
Di tempat lain Vino sampai juga di restoran yang di tunjuk oleh Arindah. Dia berhasil menembus kemacetan yang cukup parah dan sampai juga meskipun telat sekitar setengah jam. Tadi dia sudah mengatur untuk bisa menyelesaikan meetingnya lebih cepat agar tidak terlambat, tetapi malah terjebak macet dan dia tetap saja terlambat pada akhirnya. Vino jadi merasa tidak enak, karena Arindah pasti sudah menunggu nya.
Vino tahu bahwa mungkin makan malam kali ini Arindah akan memberi keputusan mengenai pernikahan yang kemarin jadi pembahasan mereka. Vino tidak tahu keputusan apa yang akan di ambil oleh Arindah, tetapi dia berharap Arindah mah menerima ajakannya, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Vino juga sebenarnya sudah kehilangan harapan untuk hal ini, dan dia berusaha memikirkan sesuatu jika Arindah menolaknya, hanya saja masih belum menemukan nya. Saat ini Vino hanya bisa pasrah dengan segala kemungkinan dan keputusan yang akan di ambil oleh Arindah nanti nya.
Vino masuk ke restoran itu, dan bertanya nomor meja yang sudah di booking oleh Arindah. Vino kemudian di antar oleh pelayanan ke meja itu, tetapi ternyata meja itu dalam keadaan kosong. "Kok kosong???" Tanya Vino.
"Iya Pak sejak tadi memang kosong, apakah bukan bapak yang mem bookingnya???" tanya balik Pelayanan itu.
"Teman saya yang membooking, mungkin dia belum datang.. Kalau begitu saya pesan espresso satu.. Makanannya nanti saja, sambil menunggu teman saya... "
"Baik Pak.. Mohon di tunggu..." pelayanan pun pergi meninggalkan Vino.
Vino mencoba mengirim pesan pada Arindah memberitahu jika dia sudah berada di restoran. Tetapi tidak langsung mendapatkan balasan dari Arindah. Vino berpikir mungkin Arindah sedang di jalan, jadi tidak bisa membalas pesan nya.
Waktu berlalu, dan jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, yang artinya sudah terlambat sekitar satu jam, tetapi Arindah belum juga muncul. Pesan yang Vino kirim belum juga di balas atau di baca oleh Arindah dan Vino juga beberapa kali mencoba menghubunginya tetapi tidak ada jawaban. Vino bingung, apakah Arindah lupa atau bagaimana.
"Aku lelah sekali hari ini dan ingin pulang lalu beristirahat, tetapi kenapa Arindah tidak datang-datang??? Dimana dia???" Gumam Vino. "Astaga kenapa aku lupa, aku kan mengirim bodyguard untuk bersama Arindah... Jadi lebih baik aku menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Arindah..."
Vino mengambil pknselnya dan menghubungi bodyguard yang dia tugaskan untuk mengawal Arindah. Cukup lama panggilan itu tidak di jawab. Hingga panggilan ketiga di jawab juga. "Hallo pak Vino, kebetulan sekali anda menelepon, kami sedang jalan ke restoran untuk menemui anda tetapi tiba-tiba kami mengalami kecelakaan... Bisakah anda datang kesini, bu Arindah pak...!??" Ucap perempuan yang menjadi bodyguard Arindah.
__ADS_1
Vino langsung terlonjak. "Kecelakaan??? Dimana???" Tanya Vino panik, dan bodyguard Arindah memberi tahu dimana keberadaannya saat ini. Vino bergegas memanggil pelayanan membayar pesanannya tadi dan langsung pergi menyusul Arindah.