
Vino dan Angel melakukan beberapa sesi pemotretan, baik itu diluar studio maupun di dalam studio, sampai sore hari. Dan beberapa foto sudah diambil oleh Edward. Setelah selesai, Vino dan Angel berganti pakaian. Edward menyuruh mereka untuk ke ruangannya sambil memilih foto mana saja yang menurut mereka bagus.
Di dalam kantor Edward, Vino serta Angel terlihat berdiskusi memilih foto-foto mana saja yang bagus untuk di edit oleh Edward. Mereka bertiga terlihat serius sekali. Bahkan diskusi itu juga cukup lama hingga malam tiba. Vino sebelumnya sudah mengatakan pada Rana bahwa dia hari ini akan pergi keluar kota untuk pekerjaan, sehingga tidak bisa mengantar dan menjemput Rana. Tentu saja itu hanya alasan Vino, agar dia bisa menghabiskan waktu dengan Angel dan melakukan pemotretan ini.
Ditengah diskusi itu, ponsel Vino berdering, panggilan dari sekretarisnya dan dia mengangkatnya, sedikit menjauh dari Angel dan Edward. Beberapa menit dia pergi mengangkat telepon itu dan kembali lagi menghampiri Angel serta Edward. Vino meletakkan ponselnya diatas meja kerja Edward dan kembali fokus ke layar laptop Edward. Sampai akhirnya mereka sudah selesai memilih foto. Edward berjanji bahwa proses editing akan selesai malam ini sehingga besok foto sudah bisa dia kirim ke Angel. Vino dan Angel mengucapkan terima kasih lalu berpamitan Dan untuk pulang.
Setelah kepergian Vino dan Angel, Edward langsung kembali fokus ke laptopnya lagi untuk menyelesaikan tugasnya agar besok segera bisa mengirim foto-foto mereka. Edward sudah terbiasa lembur jika ada pekerjaan seperti ini.
Saat sedang asyik menyanyi di dalam mobil dan hendak membuka kotak pizza yang baru saja di pesannya, Jeany terperanjat ketika melihat Vino dan Angel keluar dari kantor Edward. Hari sudah gelap dan mereka baru keluar, sampai dia kelaparan karena menunggu mereka yang tidak kunjung keluar. Jeany mengabaikan pizza nya dan memilih fokus untuk melihat Vino dan Angel. Jeany mengambil ponselnya dan memotret keduanya sampai kemudian mereka masuk ke dalam mobil.
Selama menunggu seharian, Jeany tidak menemukan tanda-tanda orang lain yang dia perkirakan sebagai kekasih Angel yang masuk ke kantor Edward itu. Yang terlihat hanya orang berlalu lalang keluar masuk adalah staff dari kantor itu, juga orang-orang berpakaian biasa yang tampaknya adalah crew yang membawa bebagai properti pemotretan. Hanya itu saja, membuat Jeany semakin curiga, apakah kekasih Angel sebenarnya adalah Vino, tetapi sekali lagi Jeany tidak mau berspekulasi, dia harus mencari cara lagi untuk mendapatkan jawabannya.
"Bagaimana caranya ya?? Apa aku perlu menanyakannya pada Edward ?? Ah tidak-tidak....! Aku ikuti mereka sajalah... Tapi??? Ah itu tidak akan berguna...."
Jeany melihat, mobil itu sudah menyala dan perlahan meninggalkan kantor Edward. Jeany hendak memindahkan kotak pizza yang ada di depannya tetapi muncul sebuah ide di otaknya. Ide bagus untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi. Jeany tersenyum. "Semoga dengan ini aku berhasil mendapatkan sesuatu...!"
Jeany menyalakan mobilnya dan membawanya masuk ke area parkir kantor Edward. Jeany keluar dari mobilnya menenteng pizza dan masuk. Kantor itu sudah terlihat sepi karena memang sudah malam, dan hanya tinggal beberapa kendaraan saja yang terparkir di depan termasuk kendaraan Edward. Jeany berhenti dan bertanya ke security bahwa dia ingin menemui Edward untuk mengantar makanan. Security pun mempersilahkannya karena sebelumnya dia juga sudah pernah melihat Jeany datang kesini bahkan Edward sempat mengantarnya keluar saat itu.
Suasana kantor itu benar-benar sepi, tetapi ruangan Edward terlihat terang. Jeany mengetuk beberapa kali dan terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk. Jeany masuk dan menemukan Edward sedang duduk di kursi kerjanya, sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
"Oh hai Jean...! Astaga kau kesini malam-malam, kenapa tidak mengabari, bagaimana kau tahu aku masih disini!??" Edward beranjak dari meja kerjanya dan menghampiri Jeany.
"Aku kebetulan tadi lewat dan ada urusan disekitar sini, mobilmu terlihat dari jalan itu sebabnya aku mampir, dan aku membawa pizza, kau pasti belum makan malam...!"
Edward terkekeh. "Astaga kau repot-repot sekalui, kau benar sekali, aku memang belum sempat makan malam, duduklah...!"
Jeany duduk dan membuka kotak pizza itu, Edward mengambil air minum dari lemari pendingin kecil yang ada di ruangannya. Edward kemudian duduk dan mencomot pizza yang ada di kotak itu dan memakannya.
"Apa kau lembur...!!??? Kenapa jam segini belum pulang??" Tanya Jeany.
"Iya, aku harus menyelesaikan proses editong fotoku karena besok klienku memintanya...! Dia memintanya dengan cepat padahal pemotretan juga baru selesai sore tadi. Dan itu juga sudah biasa terjadi sih mereka suka meminta cepat, aku harus menurutinya jika tidak mereka akan marah besar, bisa gawat karirku kalau mereka marah haha! Yang perempuan model profesional yang laki-laki CEO perusahaan besar yang sangat berpengaruh di kota ini...! Jadi aku tidak boleh main-main, pengaruh pasangan itu cukup kuat!"
Edward pun tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Jeany. Memang benar bahwa Angel itu terkenal galak dan keinginannya harus dipenuhi dengan baik, jika tidak Angel akan merasa kecewa lalu bisa mempengaruhi yang lainnya agar ikut tidak menyukai apa yang membuatnya kecewa.
Sementara itu Vino tiba-tiba saja menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Angel terkejut. Angel langsung menanyakan kenapa kekasihnya itu berhenti secara tiba-tiba. Vino ternyata lupa, dia meninggalkan ponselnya diatas meja Edward. Angel pun lekas menyuruhnya untuk kembali.
Jeany dan Edward masih menyantap pizza sambol mengobrol ringan. "Kau sedang ada urusan apa di dekat sini???" Tanya Edward.
"Ah itu....!" Jeany bingung untuk menjawab apa, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia sedang mengawasi Angel. "Itu Ed, aku sedang mencari lokasi untuk restoran baruku, di kawasan sini sepertinya cukup ramai... Bagaimana menurutmu!?"
__ADS_1
"Itu ide bagus Jean....! Disini memang cukup ramai!" Timpal Edward.
Jeany menghela napasnya, merasa lega Edward tidak menyadari kebohongannya. Edward terlihat lahap sekali memakan pizza itu, membuat sekitar mulutnya berantakan.
Jeany tergelak melihat Edward makan. "Astaga kau seperti anak kecil saja...! Lihatlah mulutmu cemong haha...!"
Edwaed mengusap sekitaran mulutnya, dan ternyata ada saus disana. Edward berdiri. "Aku ke toilet dulu, ya Ampun aku berantakan sekali...!" Edward berdiri dan keluar dari ruangannya.
Jeany yang sejak tadi diam-diam melirik ke arah laptop Edward pun merasa penasaran, dia berpikir sudah pasti Edward sedang melakukan editing pada foto Angel. Jeany berdiri, melihat kondisi dan melangkah pelan menuju meja kerja Edward. Sampai disana, Jeany pun melihat ke layar laptop Edward dan matanya terbelalak. Dimana disana memang ada foto Angel dan laki-laki yang bersamanya adalah Vino. Jeany mencoba melihat satu perzatu foto mereka berdua. Itu bukan terlihat seperti saudara sepupu, tetapi lebih kepada sepasang kekasih. Jeany mengambil ponselnya dan membuka kamera lalu mengambil gambar dari foto Angel dan Vino.
Ketika sedang memotret laptop Edward, tiba-tiba pintu langsung dibuka dari luar. "Hai Ed.... Ponsel kekasihku terting...." Belum selesai berbicara, mata Angel terbelalak menemukan ada Jeany diruangan Vino. Jeany juga tidak kalah terkejut melihat Angel muncul secara tiba-tiba sampai dia menjatuhkan ponselnya.
__ADS_1