Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 197


__ADS_3

"Kenapa kau memegang ponselku tanpa ijinku???" Tanya Vitto kemudian dia melihat layar ponselnya dan ternyata Jeany yang menghubunginya. Tetapi kenapa tadi Vino menyebut Rana, jangan-jangan Jeany tidak tahu jika yang menjawab panggilannya adalah Vino.


"Kau..... Darimana kau mendapatkan semua itu??? Dan kau...."


Belum selesai berbicara, Vitto dengan kasar melepaskan pegangan Vino pada bajunya dan mendorong adiknya itu ke belakamg. Vitto kemudian meletakkan ponselnya ke telinganya. "Iya Jean... Ada apa?? Kau sudah sampai di rumah???" Tanya Vitto.


Terdengar suara Jeany menangis dan memanggil nama Rana membuat Vitto terperangah. "Jean.....! Jeany.....! Ada apa Jean??? Kenapa kau menangis dan memanggil nama Rana... Jeann.... Hallo... Jeany....!???!" Panggil Vitto dengan suara panik, lupa jika di depannya ada Vino, dan Vino sendiri masih mencoba menelaah apa yang tadi di dengarnya dari Jeany yang menghubungi Vitto. Perempuan itu mengatakan tentang Rana, kehamilan dan pendarahan, Vino masih belum bisa mengerti maksudnya.


"Jeany.....!!!" Panggil Vitto lagi.


Suara Jeany terisak. "Vitto...!!! Rana... Dia tidak sadarkan diri dan darahnya tidak mau berhenti keluar....!"


"Apa...???"


"Kami sesang membawanya ke rumah sakit, Rana pingsan dan sepertinys mengalami pendarahan!"


"Rana pendarahan??? Kok bisa...???!!" Seru Vitto.


"Aku tidak tahu, dia terkapar di lantai dan darahnya banyak sekali, cepatlah menyusul kami....! Kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit....!"


"Astaga Rana.... Apa yang terjadi denganmu..??? Aku sudah bilang agar jangan naik turun tangga.. Oke oke... Aku akan menyusul kalian...!"


Vitto memutup panggilan Jeany. Dia bergegas mengambil dompet dan kunci mobilnya yang ada di atas meja, lalu bergegas berlari keluar, meninggalkan Vino yang masih cukup bingung dengan keadaan yang terjadi.


"Vitto.....!!!" Teriak Vino tetapi kakaknya itu tidak memperdulikannya.


Vino berlari keluar dan ternyata mobil Vitto sudah berjalan keluar dari halaman rumahnya. Vino pun melakukan hal yang sama dan menyusul Vitto dari belakang.


Vitto panik dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa Rana pingsan dan juga mengalami pendarahan. Tetapi dia tahu bahwa dia tidak akan bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya itu sekarang. Rana pasti ada di dalam rumah sendirian, baik Marco dan Tania mereka ada di depan rumah. Yang bisa menjawabnya hanya Rana sendiri, dan Vitto berharap kondisi Rana baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan kehamilannya.


Di tengah lamunnnya, ponselnya berbunyi dan itu dari Papa nya. Vitto mencari hansfree nya dan mengangkat telepon dari Papanya itu, serta akan memberitahu keadaan Rana sekarang.


"Ya Pa...!" Jawab Vitto.


"Papa baru selesai meeting, Papa lupa memberitahumu bahwa Vino akan ke rumahmu jadi masalah itu bisa kalian bahas disana saja dan kau tidak perlu datang ke rumah...!" Ucap Papanya.


"Dia tadi sudah di rumah dan dia masuk ke kamarku tanpa aku ketahui, aku meninggalkannya begitu saja...!"


"Meninggalkannya??? Kenapa malah meninggalkannya???" Tanya Papa nya heran.


"Pa... Aku sekarang menuju rumah sakut, Jeany menghubungiku mengatakan bahwa dia menemukan Rana pingsan di rumah, dan ada darah juga yang keluar, Jeany khawatir dengan kehamilan Rana, jadi aku sekarang menuju kesana...! Astaga Papa... Vino.... Dia tadi mengangkat telepon Jeany saat aku dinkamar mandi, dan dia mengucapkan nama Rana... Dan karena panik serta terkejut aku lupa bahwa Vino ada di dekatku, dan aku membicarakan keadaan Rana dengan Jeany... Astaga....!"


"Vitto....! Bagaimna kau bisa melakukan kesalahan sebesar itu..? Selama ini kau selalu berhati-hati dalam bertindak...!"


"Aku panik Pa mendengar Rana tidak sadarkan diri..!"


Papa Vitto menghela napasnya. "Jika memang ini waktunya Vino mengetahui segalanya, kita tidak bisa melakukan apapun...!"


"Aku memang bodoh....!"


"Fokuslah pada Rana, Papa akan kesana sekarang juga, di rumah sakit mana???"


"Mungkin di dekat tempat tinggal kami...!" Jawab Vitto.


"Oke, Papa akan kesana, jangan khawatirkan apapun, Rana pasti akan baik-baik saja .."


Papa Vitto menutup panggilannya, dan dia memanggil sekretaris Vino agar membawanya keluar dari kantor dan menyuruh supir mengantarnya ke rumah sakit. Dia juga harus menghubungi Vino untuk memancing mencari jawaban apakah putranya itu mengetahui perihal Rana dan Vino pasti akanenanyakan hal itu kepadanya nanti. Jika Vino benar-benar mengetahuinya dan menanyakan tentang Rana kepadanya, ya mungkin ini memang sudah waktunya Vino mengetahui Rana, dan mengenai informasi tentang Angel, dia juga nanti akan memberitahu segalanya tentang apa saja yang selama ini dilakukan oleh Angel kepada keluarganya. Sehingga Vino nanti hanya tinggal melihat buktinya saja yang sudah di kumpulkan oleh Vitto selama ini.


Sambil membuntuti Vitto, Vino pun mencoba mencari jawaban dari setiap pertanyaanya. Dia belum sempat menanyakan perihal Jeany yang menelepon tadi dimana Jenay terdengar panik mengatkan bahwa Rana tidak sadarkan diri, Rana pendarahan dan juga Jeany takut kehamilan Rana akan terganggu. "Rana hamil???" Gumam Vino.


Di tengah lamunan dan fokusnya mengikuti Vitto, ponselnya berbunyi dan itu adalah telepon dari Papanya. Vino mengambil hansfree nya dan mengangkatnya. "Halo Pa...!"


"Hai Vin... Papa sudah keluar dari kantor? Kau jadi ke rumah Vitto???" Tanya Papanya mencoba menilisik mencari jawaban dan apa yang dilakukannya sekarang.


"Ya Vino sudah berada disana, dan sekarang sedang mengikuti Vitto...!"


"Mengikuti??? Memangnya Vitto akan pergi kemana???"


Vino terdiam sesaat. Dia harus menanyakan ke Papa nya tentang Rana. Vino yakin sekali Papa nya mengetahui segalanya tentang Rana. "Mengikuti Vitto...! Papa... Aku ingin vertanya sesuatu kepada Papa... Aku harap Papa jujur dan tidak lagi membohongiku...!"


"Bertanya apa???? Memangnya Papa pernah membohongimu apa???"


"Rana...!" Gumam Vino.


"Rana???? Rana yang pernah kau nikahi???"


"Ya... Rana mantan istriku, Papa selama ini pasti sudah membohongiku kan??? Papa tahu dimana keberadaan Rana, dan apakah Rana sekarang hamil???" Tanya Vino.


Papa Vino menutup matanya dan Vino ternyata memang sudah mengetahuinya. "Darimana kau tahu Vin???" Tanya Papa nya.


"Aku sudah mendengar dari Vitto ketika seseorang menghubunginya dan mereka membicarakan tentang Rana, kehamilan dan pendarahan yang sedang di alaminya... Aku langsung mengasumsikan bahwa Rana memang hamil, siapa ayah dari bayi yang di kandung Rana??? Dia pasti menceritakan pada Papa segalanya, mungkin dia juga sudah menceritakan jika aku pernah sekali mencoba menggaulinya dengan cara yang tidak baik, apakah bayi itu adalah bayiku???"


"Vino... Mungkin yang di maksud Vitto bukan Rana yang itu... Nama Rana kan banyak sekali Vin...!"


"Papa please... Jangan lagi membohongiku, setidaknya katakan semua kebenarannya? Bahkaan aku sudah mengetahui segala tentang Angel dan kebohongannya selama ini, aku sudah melihat foto, video, dan berkas berisi data keluarga Angel, segalanya aku sudah melihatnya, aku yakin, Papa juga sudah mengetahui semua itu selama ini, tetapi kenapa Papa membohongiku? Vitto juga sama bahkan kalian berdua pasti tahu keberadaan Rana selama ini, jadi tolong Pa, berhenti menyembunyikan sesuatu dariku, katakan segalanya yang mungkin tidak aku ketahui...!" Ucap Vino.


Papa Vino kembali terdiam. Dia berpikir bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Vino, di sisi lain dia juga memikirkan Vitto. Jika dia memberitahu tentang kehamilan Rana dan Vino adalah ayah dari bayi itu, dia khawatir dengan nasib hubungan Vitto dan Rana. Tetapi jika dia berbohong lagi dan mengatakan bayi Rana bukanlah bayi Vino, putranya itu pasti akan berpikir buruk tentang Rana karena Rana belum menikah sampai saat ini dan bagaimana mungkin Rana bisa hamil. Baik Vino atau orang lain mungkin akan menuduh Rana dengan tuduhan yang tidak benar dan Rana di anggap sebagai perempuan tidak baik. Itu tidak boleh terjadi. Tidak ada pilihan lain bagi Papa Vino untuk tidak menjelaskan kepada Vino tentang apa yang terjadi pada Rana selama ini.

__ADS_1


"Ya... Papa selama ini tahu dimana Rana berada... Papa hanya menuruti keinginanya untuk tidak mengatakan tentangnya kepadamu...! Maafkan Papa...!"


Vino mengernyit. "Lalu apa Papa tahu tentang kehamilannya???"


"Ya, dia mengatakannya juga dan Papa juga tahu apa yang kau lakukan padanya saat itu, kau sudah menodai kehormatannya dengan hal yang buruk, kau menyakitinya...!" Jawab Papa Vino lagi.


"Kenapa Papa tidak memarahiku jika Papa sudah tahu?'!!"


"Karena Rana melarangnya, dia ingin bebas darimu dan todak ingin lagi mengingatmu, dia ingin melupakanmu dan memulai hidup barunya...!"


"Oke... Aku mengerti...! Sekarang katakan yang sebenarnya? Rana hamil, apakah yang di dalam kandungannya adalah bayiku??"


"Iya Vin, itu adalah darah dagingmu....!"


"Kenapa Papa tidak mengatakan semuanya padaku sejak awal....! Hal sebesar ini, bisa-bisanya Papa menyembunyikannya...!" Vino setengah berteriak.


"Apa yang akan kau lakukan jika mengetahui itu.? Kau sudah menceraikan Rana dan memberinya kehidupan pernikahan yang buruk, kau memiliki Angel, apa yang kau lakukan sudah melukai hati Rana begitu dalam... Papa ingin membuatnya kembali pada kehidupannya itulah kenapa Papa tidak memberitahumu hal ini...!"


"Tapi Papa sejak awal sudah mengetahui jika Angel hanya mempermainkanku kan??? Aku membaca segalanya tadi, bahkan Papa sudah tahu hal itu sebelum Papa mulai sakit-sakitan dan sebelum Papa ke Perancis untuk berobat, begitu banyak waktu kenapa sekalipun Papa tidak memberitahuku, mungkin saja aku bisa meninggalkan Angel....!"


Papa Vino terkekeh. "Saat ini kau memang mudah untuk mengatakan hal itu, tetapi Papa tidak yakin apa dalam kenyataannya kau bisa melakukannya karena Papa tahu bagaimana tabiatmu kepada Angel serta sebesar apa cintamu kepadanya, kau sudah terlalu banyak meninggalkan kesakitan pada Rana, bahkan otakmu juga sudah di cuci oleh Angel, semua sudah terlambat Vino....!"


Papa Vino menutup panggilannya, dan wajah Vino berubah kesal, marah, kecewa semuanya menjadi satu. Memang benar apa yang di katakan oleh Papanya tentang cintamya kepada Angel. Banyak hal yang sudah dia dan Angel lakukan, bahkan menyiksa Rana juga mereka lakukan berdua. Tetapi kenyataannya, Angel hanya mempermainkannya, membohonginya dan juga memaanfaatkan cintanya yang begitu besar hanya untuk mendapatkan uang darinya.


"Aku tidak akan memaafkanmu Angel.... Kau sudah menipuku.... Kau pasti akan aku seret ke penjara.....! Aaarrrgggghhhhh....!" Teriak Vino.


"Semuanya belum terlambat Pa, belum terlambat, aku akan meminta maaf kepada Rana, aku juga akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan kepadanya, aku akan menjaga Rana dan tidak lagi menyakitinya, aku akan pastikan kebahagiaannya karena dia sekarang sedang mengandung darah dagingku, akan menjadi suami yang baik untuknya, aku masih memiliki kesempatan memperbaiki hubunganku dengannya.... Rana aku menyesal sekali.... Maafkan aku....!" Ucap Vino.


Dia terus mengikuti kemana mobil Vitto pergi. Sampai akhirnya mobil Vitto masuk ke sebuah rumah sakit.


Vitto memarkir mobilnya dan langsung berlari masuk ke rumah sakit. Jeany memberitahunya jika Rana sudah di tangani oleh dokter. Vitto menuju ruang UGD dan dia melihat Jeany dan Edward serta Tania dan Mario ada disana. Bergegas dia menghampir mereka.


"Bagiamana Rana???" Tanya Vitto.


Jeany menangis sambil memnggelengkan kepalanya. "Dokter belum keluar...!"


"Sebenarnya apa yang terjadi?? Bagaimana bisa Rana seperti ini???" Tanya Vitto lagi.


"Tidak tahu Vit, saat aku masuk ke dalam rumah aku memanggilnya tetapi tidak ada jawaban, aku pikir dia ada di kamarnya di atas, saat aku dan Ed akan nanik, Ed melihat Rana sudah tidak sadarkan diri di lantai... Ada banyak darah yang keluar di kedua paha nya, kami langsung membawanya kesini...!"


"Astaga....! Lalu apa Rana sebelumnya tidak menghubungi kalian???" Tanya Vitto pada kedua bodyguardnya.


Belum sempat menjawab, Jeany melihat Vino berjalan ke arah mereka. Dan Jeany memegang lengan Vitto memberi kode agar Vitto melihat ke belakang. Vitto pun menoleh, mendapati Vino mendekat. Vitto mengasumsikan bahwa sepertinya Vino mengikutinya tadi. Panik membuat Vitto tidak waspada.


"Kenapa kau kesini?? Kau mengikutiku???" Tanya Vitto.


"Apa peduli mu terhadap Rana???" Tanya Vitto. Dengan cepat Vitto mendekati Vino dan menyurub agar Vino pergi dari tempat ini. "Pergilah... Rana tidak butuh perhatian dan belas kasihan darimu...!"


"Kau siapa dan punya hak apa terhadap Rana??? Aku yang lebih berhak atas dia, jadi jangan halangi aku untuk berada disini...!" Sela Vino lagi.


Melihat ketegangan yang terjadi, Jeany segera menengahi kedua saudara itu agar tidak semakin memperkeruh keadann. "Berhentilah kalian berdua, ini rumah sakit dan jangan membuat keributan, Rana ada di dalam dan butub doa dari kita...!" Ujar Jeany.


Vitto dan Vino saling beradu pandangan dingin seolah mengisyaratkan bahwa masalah mereka belum selesai. Vitto menjauh dari Vino dan memilih duduk di sebelah Edward, sementara Vino terdiam dan berdiri menatap pintu ruang UGD.


"Tania, Marco, kalian belum menjawab pertanyaanku tadi, apa Rana sempat memanggil atau menghubungi kalian dan mengeluhkan sesuatu???" Tanya Vitto.


Tania menggeleng. "Tidak Pak, sekitar 5 menit sebelumnya saya masuk untuk ke kamar mandi dan saya lihat dia baik-baik saja, bahkan sedang asyik menonton tv dan terlihat menikmati pie susu..!" Jawab Tania.


"Pie Susu???" Tanya Vitto heran.


"Iya pak... Bahkan sempat menawari saya juga...!"


Belum sempat bertanya lebih detail, pintu ruangan itu terbuka, dokter keluar bersama salah seorang perawat. "Apa disini ada suami dari pasien Ibu Rana??? Saya perlu berbicara dengannya...! Karena ini mengenai kondisi Ibu Rana dan juga bayinya, sangat urgent...!" Ucap dokter itu.


Vitto hendak berdiri dan menghampiri dokter itu, sayangnya disaat yang bersamaan Vino sudah berlari mendekat ke dokter. "Saya suaminya...!" Ucap Vino.


"Baik pak, mari ikut saya...!" Ujar dokter itu.


Sontak Vitto, Jeany dan Edward terkejut mendengar itu. Jeany dan Edward saling melempar pandangan. Mereka tahu bahwa sebenarnya yang lebih berhak adalah Vitto, karena selama ini Vitto yang menjaga dan memastikan semua kebutuhan Rana terpenuhi meskipun Vitto bukan suami Rana tetapi Vitto adalah orang yang penting untuk hidup Rana sekarang.


"Maaf dokter...!" Ucap Jeany kemudian, membuat dokter, perawat serta Vino yang hendak masuk ke ruang UGD terhenti langkahnya.


"Iya...!" Jawab dokter itu menatap Jeany.


"Dia...!" Jeany menunjuk ke arah Vitto. "Dia adalah kakaknya Rana, selama ini dia yang bertanggung jawab menjaga Rana selama ini, karena Rana sudah bercerai dengan suaminya, jadi jika boleh, tolong biarkan kakaknya saja yang ikut masuk mengetahui keadaan Rana, bagaimana dok???" Tanya Jeany.


Dokter terdiam memandangi Vitto dan Vino bergantian. "Baikalh mari silakan pak...!" Dokter pun mempersilahkan Vitto masuk.


Sementara Vino masih berdiri di tempatnya dan pintu kembali di tutup. Vino membalikkan tubuhnya menatap tajam Jeany.


"Kenapa kau berkata seperti itu Jean??? Bayinya Rana adalah bayiku, jadi aku yang bertanggung jawab..!" Seru Vino kesal.


"Tanggung jawab apa yang sedang kau bicarakan??? Sebelum berbicara tanggung jawab, alangkah baiknya kau ingat saja dengan apa yang sudah kau lakukan padanya, ingat saja apa yang kau lakukan setelah menikahinya bahkan sampai kau menceraikannya....! Setelah kau mengingat segalanya, kau pasti akan sadar diri...!" Gumam Jeany dengan tenangnya.


Wajah Vino memerah penuh kemarahan dan dia mendekati Jeany. "Kau.... Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku...! Kau ini...!!!" Vino sudah mengangkat tangannya untuk menampar.


"Vino.....!" Teriak seseorang di belakang mereka.

__ADS_1


Vino, Jeany, Tania, Marco dan Edward langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata Papa Vino dan Vitto datang dengan supirnya yang mendorong kursi rodanya. Dia mendekati Vino.


"Papa...!"


"Apa yang sedang kau lakukan? Jangan membuat masalah di tempat seperti ini, setidaknya tahan kemarahanmu, apa yang di katakan Jeany ada benarnya, kau ini...!" Ujar Papa Vino kemudian beralih ke Jeany dan melempar senyumnya.


"Jean... Apa kabar??? Om senang kau sudah terlihat lebih baik...!"


Jeany membalas senyum Papa Vino. "Iya om, kabar saya sangat baik, terima kasih atas segala bantuannya kemarin, saya bisa sembuh lebih cepat...!"


"Syukurlah... Bagaimana keadaan Rana di dalam??"


Jeany menggelengkan kepala. "Belum tahu om, dokter tadi memanggil Vitto dan sepertinya akan menjelaskan kondisi Rana saat ini, semoga semuanya baik-baik saja...!"


Sementara itu, dokter mengajak Vitto masuk ke ruangannya dan mempersilahkan Vitto duduk. Raut wajah dokter datr tetapi ada penyesalan terlihat disana. "Begini pak...! Setelah kami melakukan pemeriksaan kami menemukan ada sesuatu yang salah dengan ibu Rana...!"


"Yang salah??? Apa maksud dokter???"


"Sepertinya ibu Rana mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya, dan itu langsung berimbas ke janinnya.. Entah apa yang di konsumsinya, sekarang kami sudah membawa hasil darah dan air liurnya ke lab, yang jelas, janinnya sudah tidak bisa di selamatkan lagi, tidak ada lagi detak jantungnya!"


"Apa.....?????!!! Bagaimana bisa dok?? Itu tidak mungkin...!"


"Pendarahan yang terjadi adalah akibat dari sesuatu yang di konsumsi olehnya, entah bahan apa yang terkandung di dalamnya, mungkin bisa dari air atau makanannya, dan itu bukan efek dari jatuh atau benturan, sesuatu yang salah sepertinya terjadi, apa sebelum ini ibu Rana memakan sesuatu yang expired atau sejenisnya??"


Vitto menggeleng. Dia tidak tahu apa yang di makan oleh Rana mengingat sejak pagi dia berada di kantor, dan Rana di rumah sendirian. Kemudian dokter meminta Vitto agar nanti bisa mengecek seluruh makanan yang ada di rumah dan membawa sampelnya kesini, makanan yang mana yang kira-kira dimakan oleh Rana, serta obat dan vitamin Rana, sehingga nanti datanya bisa di cocokkan dengan hasil test darah dan air liur Rana. Vitto mengangguk dan akan menyuruh orang untuk memeriksa rumah.


Dokter menghela napasnya. "Kami harus melakukan olerasi mmpengangkatan janinnya, karena jika tidak segera di lakukan akan membahayakan ibu Rana, kami butuh persetujuan bapak...!"


Mata Vitto berkaca-kaca, dia masih menciba menyadarkan dirinya dengan apa yang baru saja dokter katakan. Bayi Rana, dia dan Rana sudah menunggunya lahir dan bertumbuh sehat tetapi sekarang semuanya berakhir. Vitto tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Rana ketika mengetahui bahwa bayinya sudah tidak ada.


"Bagaiamana pak??? Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi akan sangat berbahaya untuk bu Rana....!" Tanya dokter lagi.


Dengan pedih dan airmata nya menetes Vitto pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dokter meminta perawat untuk mengurus suratnya agara bisa di tanda tangani oleh Vitto.


Vitto akhirnya keluar dari ruang UGD dengan langkah gontai. Matanya sedikit sembab, operasi Rana akan segera di lakukan, dan semuanya harapannya dan Rana tentang bayinya sudah hancur, tetapi Vitto mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia harus kuat menerima semuanya karena yang terpenting saat ini adalah memulihkan psikis Rana yang bisa saja bermasalah nantinya ketika sudah sadar.


Melihat Vitto keluar, Jeany, dan yang lainnya yang sedang duduk langsung berdiri. "Vitto bagaimana kondisi Rana???" Tanya Jeany.


Vitto terdiam lalu menggelengkan kepalanya dengan sedih.


"Kenapa Vit??? Ada apa!!???? Rana baik-baik saja kan???" Tanya Jeany lagi.


Vino mendekati Vitto, menatap kakaknya tajam dan mendorong bahunya. "Kenapa? Kenapa diam saja bagaimana kondisi Rana???"


"Marco...!" Panggil Vitto.


"Iya pak....!"


"Apa Rana tadi memesan makanan dari luar atau menyuruhmu dan Tania membeli makanan dari luar???"


"Tidak pak... Tidak ada sama sekali... Seharian ini bu Rana hanya di dalam rumah seperti biasa dan tidak memesan atau meminta kami membeli sesuatu...!" Jawab Marco lagi.


"Kalau begitu planglah bersama Tania, periksa rumah, ambillah sampel makanan di rumah yang sekiranya di konsumsi oleh Rana, apapun itu, termasuk air, jus atau lainnya, bawa kesini....! Obat dan vitamin nya juga." Perintah Vitto.


Semua orang saling berpandangan, bingung kenapa Vitto mengatakan hal itu.


"Baik pak....!" Jawab Marco, kemudian dia bersama Tania pergi meninggalkan Vitto untuk membawa apa yang diperintahkan oleh bos nya itu.


"Kenapa Vit? Setidaknya jawablah pertanyaan kami???" Ujar Papa nya.


Air mata Vitto kembali menetes di pipinya. "Rana kehilangan bayinya...!" Gumamnya.


"Apa....???!!!!" Seru semua orang bersamaan.


"Bagaimana bisa terjadi????" Tanya Papanya.


Vitto menggeleng. "Enttah apa yang Rana komsumsi, sesuatu yang berbahaya membuatnya seperti ini...!"


"Maksudmu Rana keracunan???" Tanya Vino.


"Entahlah, dokter sendiri baru membawa sampel darahnya dan meminta sampel dari beberapa makanan juga sehingga mereka bisa tahu apa yang di konsumsi oleh Rana....!"


Vitto kemudian menjelaskan jika Rana sekarang harus menjalani operasi untuk mengeluarkan janinnya. Sudah tidak di temukan detak jantung pada janin Rana. Obat itu langsung mempengaruhi kehamilan Rana. Dan sepertinya pendarahan itu terjadi karena efeknya. Jika tidak segera di keluarkan, justru akan memperburuk kondisi Rana. Setelah semua pengecekan selesai Rana akan langsung di bawa ke ruang operasi.


"Kenapa kau ceroboh sekali Vit??? Apa kau tidak bisa memastikan semua makanan yang akan di konsumsi Rana...! Sekarang lihatlah, kami harus kehilangan bayi kami....! kau sama sekali tidak berguna....!" Ucap Vino dengan emosi dan mendorong Vitto dengan keras. Vitto sampai terjatuh.


"Kenapa kau mendorongku???" Vitto bangkit dan mendekati Vino.


"Karena kau ceroboh aku jadi kehilangan bayiku.... Harusnya kau pastikan semua yang akan di konsumsi oleh Rana...!" Teriak Vino lagi.


"Kenapa bukan kau saja yang memastikannya??? Kau kan Ayah dari bayi itu? Kenapa menyalahkanku???" Teriak Vitto lagi.


"Bagaimana aku akan memastikannya, kau saja selama ini membohongiku, tidak memberitahuku jika Rana hamil, andai aku tahu pasti kejadiannya tidak akan seperti ini....! Aku akan menjaganya dengan baik...!" Ucap Vino.


"Kau akan menjaga nya??? Apa kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan kepadanya, kau memberikan neraka untuk.hidupnya, kau menyiksanya lahir dan bathin, sekarang bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu??? Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri... Pergilah dari sini dan urus saja calon istrimu, kau sudah tidak ada hak apapun terhadap Rana....!" Ucap Vitto.


"Kurang ajar....!" Seru Vino Tiba-tiba saja dia memukul wajah Vitto, Vitto terjatuh dan hidung Vitto mengeluarkan darah.

__ADS_1


__ADS_2