Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 227


__ADS_3

Vitto akhirnya sampai di rumahnya, dia turun dan memasuki halaman rumahnya. Bersamaan dengan itu, mobil Vino juga datang. Vitto menoleh ke belakang tetapi hanya beberapa detik dan terus berjalan menuju pintu rumahnya. Wajahnya masih terlihat kesal sekali terhadap sikap adiknya.


Vino membuka pintu mobilnya dan keluar, berlari mengejar Vitto. "Vit...." Teriaknya lagi tetapi Vitto tidak menoleh dan tetap berlalu begitu saja.


"Vitto....!!!" Vino memegang pundak Vitto dan napasnya sedikit tersenggal. "Kau brengseek sekali... Kenapa begitu saja kau marah???"


Vitto menyingkirkan tangan Vino dari pundaknya. "Pergilah..!"


"Sorry sorry... Aku minta maaf... Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi..."


"Kau pergi dari rumahku, dan kembali lah ke kantor, jangan menggangguku, aku harus bersiap untuk keberangkatanku malam nanti, setidaknya jangan lagi menggangguku untuk saat ini..!"


Vino tersenyum. "Aku akan pergi, kau jangan marah lagi..! Kau kakakku yang terbaik...!" Vino mengedipkan matanya kemudian meninggalkan Vitto.


Sementara itu Vitto masuk ke dalam rumahnya, dan dia menuju ke halaman belakamg untuk menjemput Rana. Sebenarnya Vitto berbohong pada Vino mengenai persiapan keberangkatannya ke luar kota. Vitto tidak sedang ingin bersiap-siap karena barang-barangnya kemarin yang sudah dia persiapkan tidak dia bongkar dan sudah tertata rapi di tas carrier nya. Setelah kejadian Rana, dia sengaja tidak membongkar tas itu, sehingga ketika dia berniat melanjutkannya lagi, dia tidak perlu berkemas ulang.


"Bi...! Rana sudah bangun???" Tanya Vitto pada ART nya yang sedang menyapu daun yang tercecer di tanah.


"Eh Tuan Vitto sudah pulang... Non Rana masih di dalam, seperti nya belum bangun karena belum keluar...!"


"***** sekali dia, tidur sejak tadi dan belum juga bangun... Oh iya Bi, bisa tidak menolongku, tolong pergi ke Supermarket dan belanja segala keperluan untuk Rana selama satu minggu, beli apa saja seperti yang biasa Bibi beli untuk kebutuhan di rumah, karena aku akan pergi, jadi aku tidak mau Rana keluar rumah untuk berbelanja, nanti belanjaannya biar di bawah pulang oleh Rana, bisa kan Bi??? Supir akan mengantar Bibi...!"


"Bisa Tuan, saya akan bersiap...!"


Vitto mengangguk. "Iya, thanks ya Bi, bersiaplah dan aku akan mentransfers uang belanja nya ke rekening Bibi...!"


Asisten rumah tangga Vitto itu mengangguk dan dia akan bersiap setelah membuang daun yang tadi di sapu nya. Sementara itu Vitto masuk untuk membangunkan Rana. Perrmpuan itu terlelap dengan nyamannya, membuat Vitto hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Sayang....!" Bisik Vitto di telinga Rana. "Ayo bangun... Hari sudah sore...!" Ucap nya lagi.


Bukannya bangun, Rana justru membalikkan badannya membelakangi Vitto. "Astaga.... Dia benar-benar tukang tidur...!" Gerutu Vitto kemudian tanpa banyak bicara, dia mengangkat tubuh Rana dan membawa nya keluar.


Sampai di kamarnya, Vitto membaringkan Rana di atas tempat tidur kemudian menyelimuti nya. Tidur Rana nyenyak sekali dan Vitto tidak ingin mengganggu nya. Vitto duduk di sebelah Rana yang terbaring, Vitto mengambil ponselnya dan mentransfer uang ke rekening ART nya yang akan pergi berbelanja, kemudian Vitto melepaskan sepatu nya. Dia harus mandi lalu bersantai sebentar menunggu Rana bangun. Selama pergi nanti, Vitto harus tetap memastikan bahwa Rana tidak pergi kemana-mana. Sekali lagi dia tidak mau mengambil resiko apapun. Dan Vino mungkin saja bisa melakukan apapun untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan Rana.


Setelah kembali nanti, dia akan langsung memulai persiapan pernikahannya dengan Rana. Tidak lupa juga dengan rencana nya untyk melamar Rana. Vitto sangat berharap kondisi Rana lekas membaik dan bisa mengajak Rana pergi liburan.


Vitto terlonjak ketika sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Rana mendongak tersenyum ke arahnya sambil memeluk pinggangnya. "Kau bangun???" Tanya Vitto.


"Kau melamun??? Kenapa???" Rana melepaskan pelukannya pada Vitto dan kembali berbaring.


Vitto berbalik badan, membungkuk dan mengecup bibir Rana. "Aku hanya berpikir saja,kapan waktu yang bagus untuk kita menikah...!"


Rana tersenyum. "Semua hari itu bagus, hanya saja kau harus menyesuaikan jadwal kosongmu, apakah kau punya pekerjaan atau tidak, seperti syuting atau pemotretan, kau bisa mengeceknya, dan juga pekerjaan di kantor juga harus kau cek, sekira nya ada yang kosong ya kita bisa menikah di hari itu...!"


"Ada beberapa pekerjaan tetapi itu tidak lama dan hanya memakan waktu 2 sampai 3 hari saja, yang lama hanya pekerjaan yang di mulai besok karena sampai satu minggu, itu hanya untuk bulan ini sih, kalau bulan depan masih belum bisa memastikan..!"


Rana tersenyum. "Ya sudah, bulan depan saja, kau bisa mengatur waktu nya juga pekerjaanmu, sehingga bulan ini kita bisa banyak melakukan persiapan.. Pernikahan tidak perlu terlalu mewah, kita undang teman dekat kita saja dan keluarga, sehingga kita tidak perlu banyak melakukan persiapan, toh yang terpenting adalah sakralnya dari acara itu...! Menikah denganmu saja sudah membuatku bahagia, tidak ada lagi yang aku inginkan selain denganmu...!" Rana mengusap pipi Vitto dengan lembut.


"Tidak....! Aku ingin pernikahan kita di rayakan dengan meriah, semua orang yang hadir juga harus berbahagia seperti yang kita rasakan jadi kita harus merayakannya dengan meriah...! Kau mengerti???"

__ADS_1


Rana tersipu. "Terserah kau saja...!" Rana kembali membelai kedua pipi Vitto, Rana kemudian menarik wajah lelaki itu agar mendekat kepada nya. Mereka berhadap-hadapan, detik itu juga Rana seolah tersihir dengan ketampanan Vitto yang kini berada tepat didepannya. Vitto memang tampan tetapi ketampanannya semakin bertambah saat menatap wajahnya lebih dekat. Rana mulai merasakan perasaan hangat yang membanjiri dirinya.


Lalu dengan lembut Vitto menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Rana lembut. Rana langsung membalas kecupan itu. Membiarkan Vitto merasakan kelembutan bibirnya.


Rana memeluk punggung Vitto, mengusapnya dengan lembut kemudian menciumnya lagi, sambil terus menikmati tautan bibir dan liidah mereka. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam paguutan bibir mereka. Vitto menjelajah bibir dan mulut Rana, mencecap seluruh rasanya, menikmati setiap detiknya. Lama mereka larut dalam ciuman itu, dan entah setan apa yang merasuki Rana, tiba-tiba dia melepas ciumannya lalu menatap Vitto begitu dalam. saat ini Rana sangat menginginkan Vitto, sangat menginginkannya.


Sebenarnya Rana tidak mengalami nifas seperti perempuan pada umumnya setelah melahirkan atau setelah keguguran. Dia hanya sedikit mengeluarkan darah di hari pertama sampai hari ketiga setelah operasi. Awalnya dia bingung dan khawatir tetapi saat Arindah datang menjenguknya, Rana menanyakan perihal itu kepada Arindah. Dan Arindah memberi penjelasan bahwa bisa saja hal itu terjadi pada perempaun yang melahirkan caesar atau seperti Rana yang mengalami keguguran. Karena ada berbagai faktor yang bisa terjadi sehingga Rana tidak perlu mengkhawatirkannya dan Rana harus berfokus saja pada penyembuhan luka bekas operasi nya.


"Sudah??? Sekarang istirahat lagi, aku harus mandi dan kita makan, aku lapar sekali....!" Vitto tersenyum kemudian dia hendak menjauhkan tubuhnya dari Rana tetapi perempuan itu justru menahannya.


Vitto mengangkat alisnya. "Kenapa??? Kau melarangku mandi lagi seperti semalam???" Tanya Vitto dan Rana menggelengkan kepalanya.


Tanpa bicara dan Rana hanya menatap Vitto. Jemari Rana bergerak turun ke antara paaha Vitto, dan sedikit bermain disana.


Vittomeragu, lelaki itu mengernyit dan tidak menyangka Rana melakukannya. "Apa yang kau lakukan??? Berhenti dan jangan menggodaku, jangan membangunkannya jika rumahmu belum siap untuk menampungnya, karena itu justru akan membuatku kesakitan dan merasa nyeri..!"


"Kau akan pergi lama, setidaknya kita bisa melakukannya..!" Gumam Rana dengan suara serak.


Vitto mengernyit. "Melakukannya??? Tapi kau kan...???" Vitto Belum selesai berbicara, tetapi Rana menggelengkannya dan tersenyum.


"Tidak.... Aku tidak apa-apa, kita bisa melakukannya...!"


"Maksudku apa kau tidak sedang dalam masa niifas??" Tanya Vitto tidak percaya tetapi Rana menggeleng dan dia menjelaskan jika dia tidak mengalami itu.


Vitto terkekeh dan membuang muka tetapi dia kembali menatap ke arah Rana lagi. "Astaga... Kau benar-benar serius??? Jika iya, tentu tidak akan bisa mengendalikan diriku, apa kau yakin??? Maksudku aku bisa saja menyakitimu"


"Jika kau melakukannya dengan pelan dan hati-hati serta tidak membuat guncangan yang kasar padaku, aku rasa itu tidak masalah...!" Rana mendekatkan wajah Vitto dan mendaratkan kecupan disana.


Rana berusaha melepaskan Tshirt Vitto. Vitto mengangkat kedua tangannya untuk mempermudah Rana melakukannya, setelahnya kini giliran Vitto melepaskan gaun yang dipakai Rana kemudian memeluk perempuan itu, menenggelamkan kepalanya di gundukan yang ada di daada Rana. Ariel menciuminya, memujanya, disana terasa begitu kenyaal dan hangat.


"Aku tidak memaksamu, tetapi kau sendiri yang memaksaku melakukannya, ku pikir kau sepertinya ketagihan dengan yang pertama ku berikan, lalu kau merindukannya dan memintaku melakukannya lagi.." Ucap Vitto dengan suata serak, dia kemudian tanpa permisi membuka pengait dan melepaskan penutup daada Rana kemudian melemparnya ke lantai.


Vitto mulai bermain disana, sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini, setiap hari dia menahan nyeri di tubuhnya karena tidak memiliki tempat untuk meluapkan kebutuhan bathinnya karena Rana beberapa minggu ini sedang sakit. Vitto memainkan liidahnya dengan ahli di titik berwarna piink milik Rana. Menghiisapnya, menikmatinya secara bergantian dari kiri ke sebelah kanan, dan Ranaa hanya bisa mengeluarkan suara-suara rintihan pelan yang tidak bisa dia tahan lagi, rasanya juga tidak bisa dia gambarkan.


Vitto kemudian menciumi seluruh wajah perempuan itu, lalu turun ke lehernya, turun lagi ke daadanya kemudian perrutnya hingga sampailah diantara kedua paaha halus Rana. Jemari Vitto memainkannya dengan lembut disana.


Rana sedikit mengejang merasakan sensaasi aneh yang menyengat di pussat dirinya ketika jemari Vitto bermain di sana. Vitto begitu ahli, mengetahui titiknya yang paling sensit*f itu, lalu menggerakkan jemarinya memutar di sana membuat Rana merasakan keniikmatan aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Sementara itu Vitto merespon gerakan Rana, miliknya telah begitu keras, mendesak cellananya. Ingin segera merasakan tub*h Rana dan menenggelamkan diri disana tanpa ragu.


"Kau menginginkannya sayang? Jawab aku" Suara Vitto begitu para. "Aku tidak ingin memaksamu, aku ingin kau menyerah karena kau mau" Vitto mengeluarkan miliknya yang mengeras dari c*lana nya untuk menggantikan jemarinya.


Vitto menunggu, menunggu Rana menjawab, dia membutuhkan persetujuan perempuan itu lagi, entah dalam bentuk kata-kata, entah dalam geliatan respon tubuhnya yang menunjukkan bahwa perempuan itu setuju.


"Lakukanlah! Bmaku menginginkannya" Ucap Rana.


"Kau sudah memberiku ijin, aku akan melakukannya, kau tahu sudah beberapa hari menahan ini? Aku pasti akan meledak dengan cepat tetapi ku pastikan aku tidak akan membuatmu hamil dan justru kau akan merasa ketagihan"


Perlahan Vitto mengusapkan miliknya di titik pusat Rana secara perlahan, membuat Rana menggeliat pelan. Hingga akhirnya perlahan Vitto menenggelamkan miliknya didalam milik Rana, membuat keduanya mengerrang bersamaan. Vitto langsungmerasakan kehangatan yang selama ini dia rindukan, sementara Ranaa merasa milik Vitto telah memenuhi seluruh dirinya hingga membuatnya merasakan denyuutan yang luar biasa.

__ADS_1


Vitto mulai bergerak dengan riitme pelan, agar bisa menikmati setiap detiknya memasuki Rana juga agar Rana tidak mengalami nyeri di bekas luka operasi nya. Setiap gerakannya membuat Rana berteriak karena kenikmatan.


"Aku suka suaramu yang artinya kau sangat menikmati nya sayang... Berteriaklah sekeras mungkin, tidak akan ada yang mendengarnya, selain karena kamarku kedap suara, tidak ada siapapun di rumah ini..."


Pelan tapi pasti dengan ahli Vitto bergerak sangat pelan dan sedikit bermain dengan Rana untuk terus berusaha membuat Rana semakin menggila karena dirinya. Vitto sangat merindukan suara-suara menggila dari perempuan yang sedang menyatu dengannya, suara itu seolah lagu penambah kenikmatan untuk percintaan mereka.


Rana memeluk Vitto dengan erat dan meraacau tidak karuan. milik Vitto benar-benar memenuhi tubuhnya. Rana merasa ini luar biasa. Tetapi kemudian dia tiba-tiba menegang dan berteriak di telinga Vittk sambil melengkungkan punggungnya.


"Ahhhhh.....!!!" Teriak Rana.


Vitto mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Rana. "Kau sudah sampai lebih dulu ternyata, tetapi aku akan membuatmu seperti itu lagi dan lagi kemudian baru aku akan menyusulmu"


Vitto mempertahankan ritme gerakannya, sesekali dia menyessap put*ng Rana bergantian, membuat Rana semakin menggila. Beberapa kali Vitto merasakan Rana meledak di dalam sana dan errangan kecil Rana selalu mengikutinya, sampai akhirnya,Vitto mulai merasakan denyutan yang menandakan dia akan segera mencapai puncaknya.


Dia pun manarik dirinya dari Rana dan melemlar senyum. "Aku tidak bisa meledak di dalam sana, tetapi mau kah kau membantuku??" Tanya Vitto.


"Apa yang harus aku bantu???" Tanya Rana balik.


"Buka mulutmu, dan aku akan mengajarimu cara menyenangkanku dengan menggunakan mulut bagian atasmh, bukan mulut bagian bawah, tetapi tenang untuk sekarang aku tidak akan meledak di dalam mulutmu sayang, aku hanya akan mengajarimu agar kita sama-sama puas.. Bagaimana kau mau???" Tanya Vitto lagi.


Rana terdiam sesaat. Tetapi kemudian dia mengangguk. Vitto tersenyum kemudian meminta Rana agar bangun dan duduk sementara dia akan berdiri di depan Rana. Vitto membimbing Rana agar Rana bisa melakukan permainan kecil pada miliknya dengan menggunakan jemari perempuan itu. Rana mulai menggerakkan jemari nya pelan tapi itu bisa membuat Vitto mendesis keniikmatan.


Wajah Rana sumringah mendapati Vitto senang dengan apa yang di lakukannya. Tetapi kemudian Vitto menghentikannya dan meminta nya agar membuka mulutnya. Vitto kemudian mengarahkan senjata nya ke mulut Rana, dan bergerak pelan disana, meminta Rana diam karena dia yang akan bergerak maju dan mundur. Awalnya Rana tersedak ketika Vitto terlalu dalam menekan pingg*l nya. Vitto lekas meminta maaf dan berjanji tidak akan terlalu menekan ke dalam.


"Ohhhh shiiiiittt.....!!! Shhhssshhhh...." Vitto tidak berhenti mengerrang menikmati sensasi mulut Rana. "Astaga sayang.. Kau begitu niikmaat........! Oh ya Ampun......! Aku akan sedikit mempercepatnya ya?? Aku rasa aku akan meledak...!" Gumam Vitto.


Rana mengangguk dan Vitto mulai mempercepat gerakannya, hingga akhirnya dia menarik diri, menggenggam miliknya dan menggerakkan tangannya kemudian setengah berteriak. Beberapa detik kemudian milik Vitto menyemburkan cairan tepat di wajah Rana membuat Rana terkejut. Beberapa kali cairan itu menyembur keluar dan Vitto tersenyum karena rasanya sungguh luar biasa.


Vitto kemudian duduk dan menatap Rana. "Kau terkejut ya???" Tanya Vitto dengan napas tersenggal.


Rana terdiam menatap Vitto kemudian mengangguk. "Amis.." Guammnya pelan yang langsung membuat Vitto tertawa, kemudian Vitto mengambil tisu dan membersihkan wajah Rana.


"Kau terlihat S*×y saat memejamkan mata karena terkejut tadi, aku menyukai nya...!" Vitto emngecup bibir Rana lagi. "Kau tahu, orang bilang itu adalah skincare terbaik untuk awet muda...!" Ujar Vitto.


"Jika itu benar, seharusnya semua pabrik skincare bangkrut sejak dulu...!"


Sontak ucapan Rana itu membuat Vitto tertawa. "Benar juga ya??? Haha tetapi apa kau menyukai nya???"


"Entahlah... Tetapi jika kau merasa senang, aku akan berusaha untuk terbiasa...!" Gumam Rana sambil tersenyum.


Vitto terkekeh. "Good girl...!" Puji Vitto. "Sekarang lebih baik kita berdua mandi.. Aku lapas sekali...!"


Rana membalas senyum Vitto dan menganggukkan kepala nya. Kemudia mereka beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.


****


Vino sampai juga di rumahnya dan tidak kembali ke kantor nya. Dia menanyakan kepada Pelayannya dimana kah Papa nya, dan pelayan mengatakan jika Papa nya ada di kamar. Vino pun ke kamar sang Papa, dia mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban. Perlahan Vino membuka pintu kamar Papa nya tetapi ketika melihat ke dalam, kamar itu sepi hanya saja ada suara air dari dalam, sepertinya Papa nya sedang berada di kamar mandi. "Pa... Papa...!" Teriak Vino.


"Iya Vin, Papa sedang buang air kecil...!" Sahut Papa nya dari dalam.

__ADS_1


Vino tersenyum kemudian duduk di tempat tidur Papa nya dan tidak sengaja tangannya menyentuh ponsel Papa nya yang tergeletak disana. Vino mengambilnya kemudian dia terpikir tentang Rana. Papanya pasti memiliki nomor kontak Rana. Vino membuka ponsel itu dan mencari nama Rana disana. Dia mencoba mengetik kata Rana dan benar saja, ada. Vino mengambil ponsel miliknya dan mencatat nomor itu, ini adalah awal yang baik dan kesempatan untuk bisa mendapatkan informasi tentang Rana dan tempat tinggalnya.


__ADS_2