
Vitto meninggalkan kantor lebih awal lagi, sebenarnya dia hari ini ingin tidak masuk, marena lagi dia ada meeting dengan managernya dan sorenya dia akan mendatangi bakery Rana untuk melihat pekerjaan disana sudah sejauh apa. tetapi Vitto ingat bahwa ada beberapa hal yang harus dia kerjakan di kantor jadi dia memilih untuk datang ke kantor meskipun hanya beberapa jam saja.
Vitto menghentikan mobilnya tepat di depan bakery milik Rana. Vitto pun seperti biasa memakai kacamata dan masker. Dia meminta Mario menunggunya di sebuah jalan untuk bertukar mobil dengan bodyguard nya itu menggunakan mobil yang dia belikan untuk Rana. Jadi sekarang Vitto memakai mobil Rana, dan mobilnya di bawa pulang oleh Mario. Vitto melakukan ini karena dia mendapat kabar dari Papanya bahwa Vino kemarin melewati jalan domana Bakery milik Rana berada, dan Vino menanyakan kepada Papanya tentang renovasi dari bakery itu. Padahal sebenarnya Vitto ingin melihat itu dengan Rana, melainkan situasi yang seperti itu, Vitto pun melarang Rana dan akan melakukan panggilan video nantinya. Vitto juga berniat mengundur kedatangannya tetapi dia sudah terlanjur berjanji dengan kepala kontraktor, tidak enak jika dia membatalkannya begitu saja.
Vitto pun memasuki bangunan yang sedang di renovasi itu. Dan dia di sambut oleh kepala kontraktor yang sudah menunggu nya. Vitto pun meminta maaf karena sedikit terlambat. Mereka pun mengobrol dan Vitto juga menghubungi Rana lewat panggilan video, sehingga dia juga bisa menyimak obrolan itu. Sambil mengobrol, Vitto juga mengarahkan kamera ponselnya ke berbagai sudut. Renovasi sudah sekitar lima puluh persen, dan lantai dua juga sudah selesai di cor dan sudah ada bangunan diatasnya.
★★★★
"Ini seperti Vitto???" Gumam Angel dalam hati ketika dia menerima kiriman foto dari anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengecek lokasi bakery milik Rana.
Meskipun foto itu diambil dari jauh juga terlihat bahwa Vitto memakai kaca mata serta masker, tetapi Angel langsung bisa mengetahui bahwa itu Vitto. Bahkan pakaian yang di kenakan oleh Vitto tadi saat bertemu dengannya di area parkir kantor Vino.
"Itu artinya, Vitto juga berperan dalam permasalahan yang Rana hadapi, bisa jadi Vitto bekerja sama dengan Papanya untuk membantu Rana.... Jangan-jangan Vitto juga tahu bahwa Rana hamil??? Shiiiittt....! Aku harus menghubungi Mama dan Jason untuk menceritakan semuanya...."
Angel mempercepat laju mobilnya menuju apartemen nya dan dia harus menceritakan semua ini. Dia butuh ide dari sang Mama. Jika Vitto sudah tahu kehamilan Rana bisa saja lelaki itu memberitahu Vino dan semua permainannya akan berakhir.
Sementara itu, Vitto masuk ke dalam mobilnya untuk pulang. Dia cukup puas dengan pekerjaan merenovasi Bakery milik Rana. Pengerjaannya cepat, dan sesuai dengan janji dari kontraktornya. Orang-orang Ariel memang sangat profesional. Dan masih lama juga pembukaannya karena Rana ingin pembukaannya setelah dia melahirkan saja sednagkan ini akan selesai dalam beberapa bulan ke depan. Tetapi itu tidak menjadi masalah, yang terpenting siap lebih dulu.
Angel melempar tas nya ke atas tempat tidur setelah dia sampai di apartemennya. Dia langsung menghubungi Mamanya yang saat ini sudah berada di luar negeri lagi bersama dengan Jason setelah liburan mereka beberapa waktu yang lalu. Angel melangkah ke arah balkon apartemennya sambil menunggu Mamanya menjawab panggilannya. Beberapa kali Angel mencoba menghubungi tidak ada jawaban, tetapi kemudian panggilannya itu di angkat oleh sang Mama.
"Hai Angel sayang....! Mama sedang di dapur tadi membuat sarapan, ada apa???"
"Mama.... Aku ingin memberi tahu sesuatu kepada Mama, aku belum sempat memberitahu ini pada Mama atau pun Jason, ini mengenai Rana....!"
"Rana???? Perempuan bodooh itu???" Tanya Mamanya.
"Ya...! Aku beberapa hari yang lalu bertengkar dengan Vino, karena ternyata Vino sudah memperkoosa Rana saat mereka masih menikah dulu, dan Vino baru mengatakannya padaku, dan Rana sekarang hamil anak Vino!"
"Hamil...????? Bagaimana kau tahu itu? Apa Vino juga memberitahu mu???"
"Tidak...!" Jawab Angel cepat. "Vino bahkan tidak tahu mengenai hal itu Ma..!"
"Lalu dari mana kau tahu jika Rana hamil???" Sahut Jason di seberang telepon.
Angel pun menceritakan mengenai ketidaksengajaannya bertemu dengan Jeany dan dia mendengar percakapan Jeany dengan Rana. Jeany mengatakan jika Rana hamil anak perempuan dan menyebut Vino juga yang artinya anak itu adalah anak Vino. Lelaki itu juga bercerita bahwa dia melewati tempat usaha Rana yang dulu terbakar dan tempat itu sekarang sedang di renovasi. Vino sempat membahas bahwa Papanya sama sekali tidak tahu jika tempat itu di renovasi karena Rana menolak bentuan dari Papa Vino tetapi ternyata hari ini dia mendapat sebuah bukti bahwa Vitto sedang berada di tempat itu.
"Aku menyimpulkan bahwa Papa Vino dan juga Vitto telah membohongi Vino, mereka masih tetap mengurus Rana sampai sekarang, aku pikir mereka berdua juga tahu temtang kehamilan Rana tetapi memilih masih bungkam...!"
"Ya bagus dong sayang....! Jika mereka tidak memberitahu Vino, artinya mereka tidak ingin si Rana kembali pada Vino kemudian membiarkanmu bersama Vino...!" Ucap Mama Angel.
"Tetapi bisa jadi Rana sendiri yang menolak kembali dengan Vino, itu sebabnya dia menyuruh Vitto dan Papanya agar diam dan tidak memberitahu kepada Vino tentang kehamilan Rana...!" Timpal Jason kemudian.
Angel terdiam sesaat, dan tiba-tiba saja dia teringat pertemuannya siang tadi dengan Vitto. Dimana Vitto sempat berucap bahwa dia tidak akan membiarkan Angel masuk ke dalam keluarganya dan Vitto juga sempat menyinggung tentang kecurangan yang akan terbongkar. "Jangan-jangan, dia tahu...!" Gumam Angel.
"Tahu apa??? Dia siapa sayang???" Tanya Mama Angel.
"Astaga Ma, kenapa aku baru menyadarinya...!" Ujar Angel panik.
"Menyadari apa???"
"Vitto......! Tadi aku bertemu dengannya, dan dia mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari keluarganya, dan dia juga berbicara tentang keburukan dan segala kecurangan akan terbuka dengan sendirinya jika sudah waktunya, dan menyuruhku untuk berhati-hati dengan orang yang djanggap bodoh, biasanya mereka memiliki kecerdikan... Itu yang di katakan oleh Vitto tadi kepadaku...! Bisa jadi Vitto sudah mengetahui segalanya... Bagaimana ini Ma???" Angel bergumam panik, keringatnya membasahi dahinya.
"Vitto mengatakan itu???" Seru Mama Angel.
"Iya... Dia mengatakan itu....! Apa dia sudah mengetahui segalanya??? Apa kalian ingat dengan foto Jason dan Vita di rumah itu? Bahkan surat perceraian juga di kirim kesana, itu artinya seseorang telah mengetahui tempat itu, dan foto itu juga muncul dari salah satu akun fanbase Vitto, bisa jaadi Vitto sengaja mengatur semua itu.. Ohhhh shiiiiittt kenapa aku baru terpikirkan semua itu...! Kenapa kita telat menyadarinya...! Astaga...!"
"Benar... Angel benar Ma.... Jangan-jangan mereka tahu tentang rencana kita...!!" Gumam Jason.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Ma??? Kita belum mendapatkan uaang kita sepenuhnya dari mereka tetapi mereka sudah mengetahui segalanya....! Kalau Vitto memberitahu Vino, dan pertunanganku belum di lakukan, kita tidak akan mendapatkan uang kita, Vino akan marah dan meninggalkanku, bisa jadi dia akan menyeret kita bertiga ke penjara...! Saat ini semua masih terlihat tenang, tetapi kita tidak bisa menjaamin besok dan selanjutnya akan seperti apa...!" Sahut Angel dengan suara dan wajah yang tampak frustasi sekali.
"Mama harus memikirkan sesuatu untuk mengatasi masalah ini....!" ucap Jason.
"Beri mereka bertiga pelajaran atau habisi saja mereka..!" Gumam Mama Angel.
"Mereka bertiga???" Tanya Jason.
"Ya, Vitto, Papanya dan juga Rana, karena aku yakin Rana juga mungkin saja mengetahui segalanya, mulut mereka harus di bungkam sebelum pertunangan dan pernikahanmu dengan Vino, secepatnya..!" Ucap Mama Angel lagi.
"Bagaimana caranya???" Tanya Angel. "Sementara aku juga masih belum bisa mengetahui keberadaan perempuan bodoh itu..!"
"Jangan bersamaan, dan jangan secara langsung, semua harus di lakukan dengan cermat, hati-hati, perlahan kita buat mereka bungkam lebih dulu baru membuat mereka mati perlahan...!"
Mama Angel pun mulai menyusun rencana nya untuk membuat Vitto, Papa nya dan Rana bungkam serta tidak mengungkapkan kebenaran yang mereka ketahui. Jika bisa, Mama Angel menyuruh Angel untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa jadi bukti yang sekarang di miliki oleh Vitto ataupun Papa nya mungkin juga Rana memiliki nya.
Angel terlihat bingung karena bagaimana caranya melakukan atau menemukan bukti itu, sedangkan sangaat sulit untuk bisa masuk ke rumah Vitto. Rumah itu seperti sebuah benteng, dan tidak sembarang orang bisa masuk.
Mama Angel pun meminta agar putrinya itu memaanfaatkan Vino supaya putrinya itu bisa masuk ke rumah Vitto. Dan berusaha mencari sesuatu yang bisa di jadikan bukti oleh Vitto nantinya. Angel terlihat meragu tetapi dia akan mencoba nya. Itu juga akan jadi cara untuk Angel melakukan hal lainnya, yaitu tujuan utamanya membungkam mulut Vitto.
__ADS_1
★★★★
"Hai sayang....!" Vitto mencium kening Rana kemudian beralih ke perut Rana.
"Kau langsung pulang setelah dari Bakery???"
"Ya.... Aku langsung kesini..." Jawab Vitto sambil melepas jas yang di pakainya.
Rana ke dapur dan membuka kulkas, mengambil botol air dan menuang ke gelas untuk Vitto minum. Vitto menghampiri Rana dan memeluknya dari belakang kemudian menciumi leher perempuan yang sangat di cintai itu. "Aku sangat merindukanmu hari ini....!" Bisik Vitto di telinga Rana.
"Benarkah??? Kau mengatakan itu setiap hari...!"
Vitto terkekeh. "Ku harap kau tidak bosan mendengarnya...!"
"Semoga saja....! Hehehe..! Bagaiamana Meeting mu tadi pagi???"
"Minggu depan aku syuting sebuah acara, jadi ya akan libur ke kantor beberapa hari...!"
"Kau jaga kesehatan agar tidak lelah...!"
"Oke...! Aku maandi dulu... Lengket...!" Vitto kembali mendaratkan ciuman di pipi Rana kemudian pergi ke kamaarnya.
★★★
Beberapa hari kemudian....
Vitto di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor. Dia harus menyelesaikan beberapa hal sebelum cuti untuk pekerjaan lainnya lusa nanti. Dia ada jadwal untuk syutingnya di luar kota. Vitto harus meninggalkan Rana, dan itu membuatnya berat tetapi dia harus melakukannya dan akan menitipkan Rana pada kedua bodyguard nya.
Sekitar dua minggu lagi pertunangan Vino dan Angel akan di laksanakan. Persiapan mereka juga sudah siap. Dan Vitto juga akan memberitahu Vino secepatnya, besok atau lusa sebelum dia pergi ke luar kota nanti. Vitto juga harus mengecek seluruh foto dan video yang dia miliki sebelum memberitahu ke Vino. Semua harus disiapkan dengan baik agar tidak terjadi kesalahan. Video Angel dan Sony sudah dia edit sehingga hanya menampilkan apa yang terjadi di dalam kamaar hotel itu, rekaman cctv hari itu juga sudah Vitto minta pada pihak hotel. Berkas dan seluruh data keluarga Angel juga sudah ada di tangannya, Papa nya sudah memberikannya beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu, Angel membatalkan rencananya untuk mendatangi rumah Vitto. Angel meragu dan takut jika Vitto mengetahui rencananya atau mencurigai nya datang kesana malah akan berbahaya untuknya sendiri. Bisa-bisa Vitto langsung mengungkapkan segalanya pada Vini dan akan berakhir semua rencananya. Sejauh ini masih aman karena Vitto belum buka suara pada Vino. Dan Angel akan melakukan rencana nya yang kedua, rencana yang sudah dia susun dengan Mamanya dan juga Jason. Angel berharap ini berhasil, dan Vitto tidak akan bisa menghentikannya untuk bertunangan dengan Vino, karena pada pertunangannya itu, Vino akan memberinya berbagai hadiah berupa uang dan perhiasan serta barang-barang mewah lainnya, dan Angel tidak mau kehilangan itu. Uang Pelunasan gedung serta hal lainnya menyangkut pernikahan juga tidak boleh lepas begitu saja, Angel akan mendapatkan banyak dari Vino, kemudian sebelum hari H dia akan meninggalkan Vino. itu adalah rencana Angel.
Sekarang Angel sudah berada di kantor Vino, dia membawa oleh-oleh untuk Vino dan Papanya juga untuk Vitto. Dia sudah berpura-pura pada Vino bahwa dia dari luar kota untuk urusan pekerjaan dan sekarang dia membawa buah tangan untuk mereka bertiga sesuai arahan dari sang Mama. Angel mengetuk pintu ruang kerja Vino, terdengar suara menyuruhnya untuk masuk, dan Angel masuk dengan senyumnya yang merekah. "Siang Om.. Siang Vin..!" Sapa Angel.
"Sayang.. Kau sudah kembali???" Seru Vino.
"Ya, aku sudah kembali, dan aku membawa oleh-oleh untukmu dan om Andri...!"
"Terima kasih....!" Ucap Vino mengambil oleh-oleh dari Angel.
"Eh itu masih satu, untuk siapa???" Tanya Vino.
Vino mengangguk. "Baiklah, ayo aku antar kau ke ruangannya...!" Vino berdiri dan berpamitan pada Papanya untuk mengantar Angel.
Mereka berdua pun menuju ruangan Vitto. Bersamaan dengan itu, Vitto keluar dari ruangannya untuk makan siang. Seperti biasa melihat Angel, Vitto langsung memasang wajah juteknya.
"Mau makan siang ya Vit???" Tanya Vino.
"Ya... Kau mau kemana???" Tanya Vitto balik.
"Aku akan ke ruangan mu, ini Angel memintaku mengantarnya, dia baru saja kembali dari luar kota dan membawakanmu oleh-oleh..." Ucap Vino.
Lelaki itu kemudian meboleh ke Angel dan meminta Angel agar memberikan oleh-oleh yang di bawanya kepada Vitto. "Ini ada snack untukmu Vit, aku harap kau menyukainya, ambilah...!"
Vitto menatap Ang tajam dan mengambil pemberian Angel. "Thanks...!" Ucap Vitto ketus. "Vin, aku tidak kembali ya?? Aku ada urusan...! Berkasnya sudah aku tanda tangani, kau ambil saja itu ada di meja, tadinya aku mau menyuruh Davica memberikannya padamu tapi kau sudah berada disini...!"
Vino mengangguk. "Ya tidak masalah, pergilah... Yang penting pekerjaanmu beres....!"
Vitto kemudian meninggalkan Angel dan Vino membawa oleh-oleh yang di berikan Angel.
"Kan, Vitto akan menerimanya, kenapa kau khawatir... Ayo kita kembali ke ruanganku dan pergi makan siang bersama...!" Vino masuk ke rua gan Vitto mengambil berkasnya dan mengajak Angel ke ruangannya lagi.
Senyum Angel mengembang, Vitto sudah menerima hadiahnya, dan itu artinya permainannya akan di mulai. Vitto tidak akan ada kesempatan untuk memberitahu Vino nantinya, begitu juga dengan Papa Vino nantinya.
★★★★
Vitto sampai juga di rumah Rana, dia sudah mengatur janji dengan perempuan itu untuk.makan siang bersama. Dan Rana juga sudah memasak untuknya. Karena akan pergi, jadi Vitto harus menikmati waktunya bersama Rana. Vitto keluar dari mobilnya, dan sepertinya lupa dengan oleh-oleh dari Angel, karena Vitto meninggalkannya di kursi belakang mobilnya. Besok dia harus pulang dan mempersiapkan keberangkatannya. Syuting untuk sebuah acara itu akan di lakukan di pegunungan jadi Vitto harus mempersiapkan segalanya dengan baik dan seluruh peralatan mendakinya ada di rumahnya seperti tas carrier, jaket tebal dan lainnya.
"Wah baunya harum, apa yang sedang kau masak???" Tanya Vitto menghampiri Rana.
"Sekali-kali aku membuat masakan rumahan, aku membuat sambal, tempe goreng, ada bakwan jagung juga..."
"Ini sayur apa?? Warnanya kuning dan baunya harum...!?" Tanya Vitto.
"Oh ini sayur asam...!"
"Sayur asam??? Tetapi yang aku tahu bukan seperti ini???"
__ADS_1
Rana tersenyum. "Ya, berbeda dengan yang disini, ada beberapa tambahan bumbu yang di gunakan seperti ketumbar, kemiri dan kunyit, itulah kenapa warnanya jadi kuning cerah seperti ini, dan ini resep dari Cahya, kemarin dia membuatnya dan aku bertanya itu sayur apa, ternyata dia bilang itu sayur asam yang biasa dia buat dan resep dari Ibunya, Ibunya orang jawa dan setiap daerah punya ciri khas masakanya sendiri...! Karena sepertinya enak jadi aku meminta resepnya juga...!" Jawab Rana.
"Waaahhh.. Benar juga...! Perutku jadi semakin lapar...!"
"Setidaknya ganti pakaian mu dulu, ini juga belum mendidih, aku akan menyiaokan semuanya di meja...!" Ujar Rana.
"Oke...!" Vitto mengecup pipi Rana dan berlalu meninggalkan perempuan itu.
Rana membawa hasil masakannya ke meja makan sambil menunggu sayur yang di masaka mendidih. Rana juga menuang sirup rasa melon ke dalam pitcher menambahkan air dan juga es batu. Setelah siap dan sayur juga mendidih, Rana menuangnya pelan-pelan ke mangkuk dan membawanya ke meja makan. Vitto sepertinya maandi, karena belum juga keluar dari kaamar padahal hanya berganti pakaian saja tidak mungkin lama seperti ini.
***
Vitto akhirnya keluar dari kamaarnya dengan hanya memakai celaana pendek tanpa atasan, dan justru handuk yang ada di pundaknya. Dia turun menuju lantai dua dimana dapur dan ruang makan ada disana. "Sudah siap???" Tanya nya pada Rana yang membuat perempuan itu terlonjak karena kaget.
"Kau ini mengagetkanku saja....!" Ucap Rana dan dia langsung mengernyit mendapati Vitto tidak memakai baju dan hanya ceelana saja. Sesaat pandangan Rana tertuju pada tubuuh Vitto yang atletis itu. Dada nya bidang membuat Vitto semakin terlihat gagah dan tampan. Rana lekas membuyarkan pikirannya yang sudha berjalan ke arah yang jauh.
Vitto terkekeh dan menghampiri Rana. "Aku lapar sekali, jadi aku ingin segera makan...!"
"Memangnya butuh berapa jam untuk mengambil pakaian dan memakainya??? Tidak ada satu menit...! Ada-ada saja kau ini...!"
"Kau biasanya yang menyiapkan pakaianku, tapi karena kau sibuk memasak kau tidak menyiapkannya, ah lupakan, ayo makan, aku lapar sekali..!" Vitto menarik kursi dan duduk.
Rana hanya menggelengkan kepalanya dan ikut duduk. Vitto mengambil nasi serta sayur dan lainnya kemudian mulai menikmatinya. Rasanya benar-benar enak dan dia memuji Rana. Tidak pernah sekalipun masakan Rana tidak enak. Rana adalah istri idaman membuat Vitto ingin segera menikahinya dan berbahagia. Sebuah impian kecil yang selalu Vitto bayangkan ketika suatu saat dia bisa menemukan perempuan yang seperti ini, tahu cara mengurus suami, tidak rewel dan tidak banyak menuntut, bonusnya adalah dia pandai memasak. Vitto akan sangat betah ketika berada di rumah.
Setelah selesai makan siang, Vitto membantu Rana beberes. Dan mereka melanjutkan untuk bersantai di ruang baca. Hal sederhana yang selalu mereka berdua lakukan di rumah. Jika tidak menonton, mengobrol atau berenang, mereka memilih untuk membaca buku. Vitto dan Rana selalu membaca buku yang sama, dimana Vitto biasanya bertugas memegang buku sambil memeluk Rana kemudian membacanya bersamaan. Rana merasa nyaman di pelukan Vitto, mendengar detak jantung lelaki itu dan saking nyaman nya, Rana terkadang tertidur di pelukan Vitto dan ketika bangun sudah berada di kamarnya. Vitto yang membawanya kesana.
Kali ini Rana memilih untuk membaca novel yang dia pinjam dari Cahya beberap waktu yang lalu ketika Cahya berkunjung kesini, Cahya mengatakan jika novel nya bagus dan Rana belum sempat membacanya. Dia dan Vitto kemudian duduk dengan nyaman di sofa, seperti kebiasaannya, Rana pun menyadarkan tubuh dan kepala nya di dada Vitto kemudian mulai membaca novel itu. Di depan meja juga sudah ada dua gelas air, untuk mereka minum. Mereka mulai membacanya.
Hening....
Sesekali hanya terdengar bunyi dari kertas yang di balik oleh Vitto, yaitu ketika Vitto mengganti halaman per halaman. Keduanya menikmati alur cerita yang ada di dalamnya.
Cukup lama Rana sejak tadi diam dan tidak ada gerakan, Vitto mengira perempuan itu sedang tertidur, jadi Vitto terus membaca novel itu, tidak menyadari jika Rana ternyata juga membacanya dan tidak tidur karena Rana sangat menikmatinya.
Sampai akhirnya, Vitto melempar senyumnya ketika pada akhirnya sampai juga di part yang cukup menarik. Yang Vitto baca adalah part dimana kedua karakter di dalam novel itu sedang melakukan hubungan penyatuan yang menggebu-gebu. Awalnya hanya menceritakan tentang ciuman saja dan Vitto mencoba menikmati, kemudian itu terus berlanjut ke hubungan yang lebih panaas. Sebagai lelaki yang normal, tentu Vitto merasakan sesuatu yang berbeda yang dia rasakan, jantungnya berdetak lebih cepat dan miliknya juga terasa menegaang.
"Jika tidak ku selesaikan akan sayang, tetapi jika aku lanjutkan, aku sendiri yang akan tersiksa... Shiiit.... Novel ini...! Untung Rana tidur dan tidak membacanya, bisa-bisa kami malah jadi salah tingkah..." Gumam Vitto dalam hati.
Sementara itu ternyata Rana tidak tidur, sejak tadi dia menikmatinya hingga membuatnya diam saja, lupa jika dia membacanya bersama dengan Vitto. Adegan itu, kedua karakter di dalamnya sedang berhubungan dan terlihat sangat mendebarkan bagi yang membacanya. Membaca itu tiba-tiba saja bayangan Vitto muncul di pikiran Rana. Lelaki itu yang setiap hari di lihatnya dan selalu membuatnya tersenyum dan berbahagia. Vitto sangat tampan dan luar biasa, terkadang Rana juga memiliki pikiran yang jauh dan melenceng tentang Vitto. Sesekali Rana terkadang berpikir tentang sesuatu yang di miliki oleh Vitto yang membuatnya penasaran, tetapi itu hanya sebatas pikiran yang normal untuk perempuan dewasa sepertinya, hanya saja itu akan terbuyarkan jika dia mengingat apa yang pernah di lakukan oleh Vino. Sesuatu hal yang seharusnya di lakukan dengan romantis dan memiliki kesan luar biasa, malah menjadi sesuatu yang mengerikan membuat Rana selalu takut untuk membayangkan betapa menyenangkannya melakukan itu. Karena rasa sakit yang Vino tinggalkan padanya di hari itu masih bisa Rana rasakan. Dan pikiran Rana untuk bisa melakukannya dengan penuh cinta bersama seseorang suatu saat nanti pun, selalu coba dia tepiskan, termasuk dengan Vitto, meskipun hati nya terkadang di lingkupi rasa penasaran.
Tiba-tiba saja Rana mendengar detak jantung Vitto yang berbeda dengan sebelumnya. Sekarang suaranya terdengar berdetak lebih kencang, dan lengan Rana yang ada di atas kedua paaha Vitto juga bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal disana. Lelaki ini sepertinya sedang erreksi.
Vitto memutuskan untuk berhenti membacanya sebelum dia semakin parah dan akan mengangkat Rana yang sedang tertidur. Vitto menunduk untuk melihat Rana dan bersamaan dengan itu, dia dan Rana jutru saling berpandangan.
Menyadari sama-sama terkejutnya, Vitto tersenyum kepada Rana kemudian menutup novel yang mereka baca. "Ah.. ku pikir kah tidur...! Ja..di... aku... menu..tup bu..ku nya..!" Gumam Vitto.
Vitto mengusap kepala bagian belakangnya. Dia benar-benar merasa canggung, sedangkan Rana menjauhkan tubuhnya dari Vitto. "Aku sejak tadi membacanya, kenapa kau berpikir bahwa aku tidur...!"
"Kau tidak bergerak tadi, jadi aku pikir tertidur seperti biasanya...!"
"Tidak bergerak karena aku nyaman di pelukanmu, kau jahat sekali kenapa tidak peka.. Dasar....!"
Vitto tersenyum kemudian mengambil air yang ada di atas meja dan meminumnya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman yang dia rasakan setelah membaca novel itu. "Ya tidak ada salahnya sih aku mengira kau sedang tidur...!" Ucap Vitto kemudian meminum air dalam gelas yang di pegangnya.
"Kau berkeringat ya???" Tanya Rana kemudian mendongak ke atas melihat Ac yang sudah menyala, tetapi anehnya Vitto berkeringat.
Mendengar itu, Vitto langsung tersedak, dan air yang ada di mulutnya justru menyembur keluar tepat di depan Rana.
"Ih Vitto......! Kau mbah dukun ya? Sampai menyemburkan air di wajahku" Seru Rana.
Vitto meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dan mengambil tisu kemudian mengusap wajah Rana yang basah. "Sorry sorry....! Sembarangan bilang aku mbah dukun, memang tampangku seperti mbah dukun... Ada-ada saja....!"
Vitto mendekatkan wajahnya dan mengelap wajah Rana dengan tisu. Wajah mereka berdekatan dan Rana terkekeh. "Kau mbah dukun paling tampan...!" Gumam Rana.
"Diiihh...!" Vitto yang merasa gemas dengan Rana langsung mencium perempuan itu.
Bibir Vitto menyentuh bibir Rana yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Rana membuka bibirnya dan memagut bibir bawah Vitto. Keduanya saling menyesap dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Vitto menggerakkan tangannya dan mengangkat lengan Rana supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Rana erat-erat dan mencium bibirnya.
Ciuman Vitto selalu terasa luar biasa, semula dingin berubah menjadi paanas membakar. Lelaki itu mencium bibir Rana dengan penuh kehausan, mencecap seluruh sudutnya. Dan lidahnya juga menelusup masuk, bertemu dengan lidah Rana dan berjalinan disana, tubuh mereka menjadi semakin rapat dan bibirnya saling berpadu.
Rana mendorong Vitto ke belakang membuat laki-laki itu berbaring dan dia berada di atas Vitto tetapi tetap saling berciuman. Rana sangat menginginkan lebih dari ini, entah kenapa, pemikiran itu tiba-tiba saja muncul dari kepalanya. Entah karena efek ciuman yang begitu nikmat ini atau karena membaca novel itu, Rana tidak tahu, yang jelas dia sangat menginginkannya.
Dengan berani, Rana menyentuh milik Vitto membuat lelaki itu menghentikan ciumannya dan melepaskan bibir Rana. Vitto kemudian menatap Rana. "Aku rasa sudah cukup sayang...!" Ucap Vitto sambil tersenyum kemudian memegang kedua bahu Rana dan mendorongnya pelan agar dia bisa bangun dan duduk.
Tetapi yang membuat Vitto heran adalah Rana justru tidak bergeming dan malah mendorong Vitto lagi. Rana langsung mencium Vitto lagi. Bahkan ciuman Rana kali ini lebih agresiif dari biasanya. Vitto masih bingung tetapi dia tetap mengimbanginya dan merasa senang karena Rana berani melakukan hal yang tidak pernah di lakukannya. Bukan hanya bibir, tangan Rana kembali menyentuh milik Vitto.
"Rana sayang.... Setidaknya tanganmu jangan menyentuh bagian itu, jangan membuatku lepas kendali dan aku tidak mau kau menganggapku tidak sopan padamu...!" Gumam Vitto di sela-sela ciumannya.
__ADS_1
Rana tidak mengatakan apapun dan justru dengan sengaja menyentuh lagi dan lagi milik Vitto. Sementara milik Vitto semakin menegang. Vitto tidak bisa membiarkan ini, sebelum semakin memburuk. Vitto melepaskan ciumannya pada Rana dan menyingkirkan tangan Rana.
"Ku rasa sudah cukup sayang...! Jangan membuat suasana menjadi tidak terkendali.... Aku tidak mau kalau kau nanti menganggapku kurang ajar kepadamu...!" Ucap Vitto lagi.