
Pengacara akhirnya datang ke apartemen Vitto, dan langsung disambut oleh Vitto sendiri. Vitto kemudian mempersilahkannya untuk masuk dan mengenalkan Rana. Sambil menunggu pengacara itu datang, Vitto menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan Rana. Sedangkan Papanya beristirahat di kamarnya, lalu tantenya beristirahat dikamar Rana. Vitto kemudian meninggalkan pengacara itu sebentar untuk memanggil Papanya.
Ada sekitar 5menit akhirnya Vitto kembali ke ruang tamu dengan mendorong kursi roda Papanya. Pengacara itu berdiri sambil tersenyum kemudian menyalami Papa Vitto, karena dia sangat senang lagi akhirnya bisa melihat kliennya itu kembali lagi ke negara ini setelah bertahun-tahun berada di luar negeri. Dan dia juga merasa sangat terhormat lagi karena masih diberi kepercayaan oleh Papa Vitto. Kemudian pengacara itu kembali dipersilahkan untuk duduk oleh Vitto.
Pengacara tersenyum. "Pak Andre memanggil saya untuk datang kesini, kira-kira apa yang bisa saya bantu pak???" Tanya pengacara itu.
Papa Vitto melihat ke arah Rana. "Dia adalah menantuku, Rana! Dia istri dari Vino!" Ujara Papa Vitto.
"Istri mas Vino????" Pengacara itu mengernyit dan dia terlihat terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Ya, Rana adalah istri Vino dan mereka menikah secara sah dimata hukum dan juga dimata agama, pernikahan mereka baru berjalan beberapa minggu belum genap satu bulan, tetapi aku ingin kau mengurus perceraian dari mereka berdua...!" Ujar Papa Vitto lagi menjelaskan.
"Perceraian???? Kenapa bercerai? Bukankah mereka baru menikah?"
Papa Vitto kembali melempar senyumnya. "Rana akan menjelaskan semuanya kepada anda apa yang terjadi di dalam pernikahan itu".
Papa Vitto kembali menoleh ke arah Rana yang duduk di sebelah Vitto. "Rana sayang? Jelaskan semuanya tanpa terkecuali apa saja yang kau alami disana, dan alasanmu kenapa ingin bercerai dengan Vino....! Jangan takut, Om akan pastikan semuanya baik-baik saja...!" Ucap Papa Vitto lagi, sementara Vitto juga memandang Rana sambil menganggukkan kepalanya.
Kemudian cerita itupun mengalir dari mulut Rana, bagaimana awal dia dan Vino berhubungan hingga akhirnya Vino melamar dan mengajaknya untuk menikah. Kemudian apa ang terjadi di hari pertama setelah pernikahan, penyiksaan yang dilakukan Vino sampai hubungan badan yang dilakukan oleh Vino dan Angel di depan matanya. Tak lupa Rana juga menjelaskan bagaimana dia di kurung di dalam sebuah kamar yang setiap jendela dan pintunya diberi tralis besi, kemudian dilengkapi juga dengan cctv disetiap sudutnya, dan hanya menyisahkan kamar mandi saja tanpa cctv. Kondisi rumah yang begitu tertutup hingga tidak ada sirkulasi udara yang baik disekitarnya serta kawat berduri dan pecahan kaca diletakkan diatas tembok beton yang menjulang tinggi sekali, seperti sebuah rumah tahanan, dan Rana yakin bahwa itu memang sengaja di persiapkan oelh Vino untuk mengurungnya. Tetapi Rana masih tidak mau mengungkapkan entang kejadian oemaksaan Vino hari itu, dia merasa malu jika harus mengatakan itu pada orang. Itu hanya akan menjadi rahasianya sendiri.
__ADS_1
Pernyataan Rana itu juga di dukung oleh Vitto karena awalnya rumah itu adalah villa yang sangat nyaman tetapi entah sejak kapan Vino melakukan perombakan yang luar biasa pada villa itu. Vitto mengaku bahwa sudah hampir setahun dia tidak kesana, yang mungkin saja Vino melakukannya saat itu.
"Jadi bagaimana anda bisa pergi dari villa itu? Apa anda dibantu oleh seseorang atau mas Vino sendiri yangembebaskan anda???" Tanya pengacara itu pada Rana.
Rana menggeleng. "Tidak...! Saya kabur ketika malam hari dimana saya saat itu melihat sebuah tangga tergeletak di halaman belakang, saat semua orang tidur, saya keluar dari kamar saya yang tidak dikunci dan berusaha kabur dengan tangga itu, meskipun tangga itu sebenarnya tidak mencapai batas tembok itu, tangan dan seluruh badan saya terkoyak oleh pecahan kaca juga kawat berduri yang menancap disana, kaki saya terkilir karena melompat dari ketinggian tembok itu...!" Rana kembali menjelaskan semuanya dan dia berusaha menahan airmatanya.
"Saya semalam suntuk berjalan menelusuri hutan dan perkebunan yang tidak saya ketahui, dan saya terus berdoa agar ada yang mau membantu saya, sampai akhirnya saya hampir tertabrak oleh mobil Vitto, dan dia membawa saya ke rumah sakit, lalu disinilah saya saat ini...!"
"Jika kejadiannya seperti itu dan Mas Vino sudah mempersiapkan semua skenarionya dengan baik seperti itu, pastilah ada alasan dibalik semua itu? Apa anda pernah bermasalah di masalalu atau sebelumnya dengan mas Vino? "
Rana terdiam tetapi matanya melirik ke arah Vitto yang ada disebelahnya. Melihat Rana terdiam, Papa Vitto tahu sekali apa yang harus dilakukannya dengan pertanyaan itu. "Itu terjadi karena Vino melakukan balas dendam kepada Rana, tetapi sayangnya ku pikir itu adalah cara yang salah, dan dendam Vino itu salah sasaran, ini adalah mengenai kejadian kecelakaan yang menimpa Vania dulu, Rana adalah putri dari supir taksi itu, dan itulah alasan mengapa Vino melakukan ini, dia ingin balas dendam akibat kepergian Vania, karena Rana sudah sebatang kara, jadi dia melampiaskan semuanya kepada Rana, aku pikir kau sudah tahu juga dengan masalah itu, mengingat kau juga yang dulu menangani masalah itu...!" Papa Vitto menjelaskan tentang alasan dari Vino melakukan itu pada Rana.
"Iya pak Andre, saya mengerti sekali kalau begitu bagaimana permasalahan ini bisa terjadi....!" Ucap pengacara itu.
"Baik nona Rana, jika anda ingin pernikahan ini di akhiri saya akan menguus semuanya dengan baik dan akan membantu anda, tetapi bisakah saya meminta rekam medis anda dari rumah sakit kemarin, karena itu bisa jadi bukti bahwa ada KDRT di dalam pernikahan anda dengan Mas Vino...!"
"Tidak.....!!! Tidak perlu...!" Sela Rana dengan cepat yang langsung membuat semua orang disitu sedikit terkejut.
"Tidak??? Kenapa tidak nona???" Tanya Pengacara itu merasa heran.
__ADS_1
"Aku tidak mau permasalahan itu jadi alasanku bercerai, aku hanya ingin lepas dari vino saja, tanpa harus mengumbar aibnya di depan orang banyak dan tidak mau permasalahan ini semakin rumit, jika bisa tolong ajukan perceraian kami dengan alasan tidak ada kecocokan itu saja, penyiksaan yang aku alami, balas dendam dan semuanya tidak perlu di jadikan alasan, anda bisa kan melakukan itu???"
"Rana....! Itu adalah alasan yang kuat untukmu bisa berpisah dengan Vino, om sudah bilang padamu bahwa kau akan baik-baik saja dan akan aman, jangan takutkan apapun, Vino tidak akan bisa lagi menyentuhmu, Vino juga tidak akan di penjara jika kau tidak melaporkannya, ini hanya akan menjadi syarat untuk perpisahanmu dengannya, jadi kau jangan khawatir dengan apapun..." Papa Vitto berusha meyakinkan Rana dan dia serta Vitto juga siap jika diminta menjadi saksi nantinya.
Papa Vitto kemudian meminta pengacara agar lekas mengurus semua berkas dan kelengkapan yang dibutuhkan. Vitto juga masuk ke kamarnya untuk mengambil hasil rekam medis milik Rana dark rumah sakit. Setelah mendengar semuanya dan membawa hasil rekam medis milik Rana, pengacara itu berpamitan dan akan langsung mengurus semuanya. Dia berjanji akan selesai kurang dari satu minggu setelah itu akan membantu Rana untuk mengurusnya di pengadilan.
Vitti dan Papanya kembali meyakinkan Rana bahwa semua akan baik-baik saja. Papa Vitto mengatakan bahwa Vino tidak akan berani melakukan sesuatu jika dia berada disini. Jika Vino berani melakukan sesuatu seperti mengancam atau menakuti Rana, dia akan langsung bertindak. Dia tidak akan peduli jika Vino adalah putranya, karena jika putranya itu sudah melakukan kejahatan maka dia akan mendapatkan hukumannya. Bagi Papa Vitto, kejahatan seperti itu tidak bisa di tolerir lagi. Vino harus merasakan akaibat dari perbuatannya.
Rana akhirnya membiarkan apa yang akan dilakukan oleh pengacara yang akan membantunya. Dan dia sepenuhnya percaya kepada Papa Vitto yang ingin membantunya lepas dari Vino. Jika setelah semua ini berakhir, untuk menghindari Vino mungkin Rana harus merelakan rumahnya untuk tidak dia tempati dan pergi ke kota lain untuk melanjutkan hidupnya agar dia tidak harus berhubungan lagi dengan Vino.
★★★★
Keesokan harinya, Vino datang seperti biasa ke kantornya. Tetapi ketika dia berjalan dan berpapasan dengan beberapa stafnya, dia mendapati mereka tengah berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya. Hal itu membuat Vino geram dan memarahi mereka dan menyuruh mereka masuk dan bekerja, bukannya bergosip. Beberapa staf itu langsung pergi ketika mendapati kemarahan Vino tetapi itu tidak berakhir karena Vino masih terus mendapati hal yang sama terjadi padanya dan dilakukan oleh staf lainnya. Itu berlanjut hingga dia sampai di depan ruangannya. Tetapi ketika sampai disana dia melihat beberapa orang sedang mengangkat meja dan kursi membawanya masuk ke dalam ruangan.
Vino yang heran langsung menghampiri sekretarisnya dan menanyakan apa yang terjadi kenapa tanpa seijinnya ada meja dan kursi kerja yang di bawa masuk ke ruangannya padahal dia tidak meminta untuk menggantinya. Sekretarisnya hanya diam melihat kemarahan Vino dan dia tidak mengatakan apapun selain meminta Vino untuk masuk saja ke ruangannya. Karena kesal dan ingin sekali dia mengumpat sekretarisnya itu karena sudah berani kepadanya, tetapi Vino menahan diri, dan dia coba untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Saat masuk, Vini melihat meja dan kursi kerja itu di letakkan di sebelah meja dan kursi kerjanya. Dia ingin sekali marah dan mengusir orang-irang itu. Dengan wajah kesal dan marah, Vino berteriak memaki mereka. "Kurang ajar.....!!! Berani sekali kalian masuk ke ruanganku membawa meja dan kursi ini, siapa yang menyuruh kalian...!!!" Teriak Vino penuh dengan kemarahan yang memuncak.
"Aku yang menyuruh mereka membawa barang-barang itu kesini? Apa kau ada masalah dengan itu????"
__ADS_1
Mendengar suara yang tidak asing itu, Vino langsung menoleh ke arab sumber suara yang mana itu ada di sisi kanan, di arah jendela. Betapa terkejutnya Vino mendapati siapa orang yang ada disana. Mulutnya beku begitu juga dengan tubuhnya, dia terdiam dan tidak bergerak dan hanya menatap orang itu saja karena dia masih merasa terkejut serta tidak menyangka dengan kedatangan orang itu di ruangannya.