
Papa Vino dan Vitto sudah selesai meeting, dia di antar oleh sekretaris Vino untuk kembali ke ruangan kerja nya. Sejak tadi dia masih terpikirkan dengan pembicaraannya dengan Vino tadi pagi. Dan sebenarnya dia juga ingin bertanya langsung kepada Vitto mengenai hal itu. Akan tetapi jika tadi dia langsung menghubungi Vittl, dia takut mengganggu istirahat Vitto, mengingat Vitto ada di Maldives dan ada perbedaan waktu sekitar dua jam, sehingga sudah di pastikan Vitto pasti masih beristirahat. Tetapi sekarang sudah jam 11 siang, dimana di tempat Vitto pasti sudah jam 9 pagi. Mungkin Vitto sudah bangun. Jadi ini waku yang tepat untuk berbicara dengan putra sulungnya itu. Sekaligus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Vino.
Dan mengenai permasalahan di hotel itu, sebenarnya Vitto dan Vino juga tidak menceritakan kepada nya. Dan dia justru di beritahu oleh orang lain jika telah terjadi sesuatu pada Vino dan Arindah. Tetapi dia mencoba memahami mungkin kedua putranya itu tidak ingin membuatnya khawatir dan juga masalah sudah bisa di selesaikan kedua nya dengan baik.
Sementara itu, di tempat lain, petugas villa mengantarkan sarapan ke villa Vitto. Rana mempersilahkan untuk di tata di meja yang ada di ruang tamu karena dia dan Vitto ingin menikmati sarapan di dalam villa saja. Sedangkan Vitto masih berada di kamar mandi. Sambil menunggu Vitto, Rana menyiapkan pakaian untuk suami nya itu. Entah ini sudah hari ke berapa mereka pergi honeymoon, Rana tidak mengingatnya karena dia terlalu bahagia dan sibuk bersenang-senang setiap waktu disini bersama Vitto.
Setelah menyiapkan pakaian untuk Vitto, Rana keluar dari walk in closet, dan bersamaan dengan itu Vitto juga sudah selesai mandi. "Eh makanan sudah datang ya???" Tanya Vitto pada istri nya.
"Iya... Kau ganti baju dulu, sudah aku siapkan di dalam.."
Vitto tersenyum mendekati Rana. "Thanks..." Ucap Vitto dan mendaratkan kecupan manis di dahi Rana lalu masuk untuk mengganti pakaian.
Rana hendak duduk di sofa sambil menunggu Vitto berganti pakaian, tetapi sayup-sayup dia mendengar suara ponsel berbunyi. Dan itu bukan ponselnya tetapi ponsel milik Vitto. Rana bergegas ke kamar dan mendapati ponsel itu ada diatas meja. Rana mengambilnya dan tertulis PAPA disana. "Papa menelepon..." Gumam Rana lalu menjawabnya. "Halo Pa, selamat pagi, eh disana pasti sudah siang ya???"
__ADS_1
"Pagi menjelang siang Rana sayang... Bagaimana kabarmu dan Vitto???"
"Baik Pa, alhamdulillah.... Papa sendiri bagaimana???" Tanya Rana.
"Papa juga baik disini, kau yang menjawab telepon Papa, apa suami mu masih tidur??? Dan apakah Papa mengganggu kalian???"
"Ah tidak sama sekali Pa, Vitto sedang berganti Pakaian dan kami juga baru akan sarapan, mungkin sebentar lagi Vitto selesai... Aku akan memanggilnya..." Rana berjalan keluar kamar menuju ruang tamu. "Ah itu Pa, dia sudah selesai.. Sayang.. Papa menelepon, dia ingin bicara denganmu.." Rana menyodorkan ponselnya pada Vitto.
"Ya Pa...???" Tanya Vitto kemudian duduk di sofa bersama Rana. Vitto menyesap kopi yang ada di meja.
"Adikku??? Vino??? Kenapa lagi dia???" Tanya Vitto sambil mengaktifkan speaker ponselnya agar Rana juga bisa mendengar obrolannya dengan Papa nya.
"Tadi pagi Vino meminta Papa untuk menemani nya ke rumah Arindah karena dia ingin melamar Arindah dan akan menikahi nya.... Dia juga mengatakan jika kau tahu mengenai masalah ini, tetapi dia tidak mau menjelaskan pada Papa ketika Papa bertanya apa yang membuatnya ingin menikahi Arindah... Dia sedikit jengkel karena Papa menasehati nya agar tidak sembarangan saat ingin memutuskan sesuatu.. Ya kau pasti tahu adikmu bagaimana kan???"
"Jadi dia sudah fix ingin menikahi Arindah???" Tanya Vitto tidak percaya.
__ADS_1
"Dia bilang ingin berbicara dengan orang tua Arindah karena dia dan Arindah sudah saling setuju untuk menikah, dan jika mereka sudah setuju, dia meminta Papa menemani nya untuk melamar Arindah... Sebenarnya apa yang terjadi Vit??? Kau juga sudah menasehati nya... Jelaskan pada Papa sekarang, agar Papa bisa mengerti dan tahu, lalu mengambil keputusan, karena Papa tidak mau, Adikmu melakukan kesalahan yang sama seperti dulu... Arindah anak yang baik.."
"Vitto tidak tahu jika Vino dan Arindah sudah setuju untuk menikah, karena aku berbicara dengan mereka kemarin lusa, dan belum ada kabar lagi dari mereka..." Ujar Vitto kemudian di lanjutkan dengan menceritakan semua nya awal mulai Vino dan Arindah mengambil keputusan untuk menikah, serta semua nasehat yang kemarin Vitto berikan kepada kedua nya. Vino juga mendengarkan dengan baik. bahkan meminta pendapatnya langsung, yang artinya Vino tahu bahwa pendapat orang yang lebih tua juga di butuhkan.
"Ya, I think...??? Vino sekarang sudah benar-benar ingin berubah Pa... Itulah kenapa aku mendukungnya dan memberi nya nasehat yang baik tentang rencana nya... Aku juga mengatakan bahwa dia tidak boleh lagi mempermainkan sebuah pernikahan dan harus memulai sesuatu yang baru, melupakan Angel... Lagipula Vino juga tidak lagi terpengaruh hal buruk dari perempuan gila bernama Angel itu, ya aku rasa Vino akan benar-benar menjadi lebih baik dan lebih bertanggung jawab... Jika tadi dia meminta Papa untukenemani nya, ya berarti dia serius dengan apa yang di katakan nya dan dia menghargai Papa sebagai orang tua nya... Jadi Papa harus mendukungnya juga, dan menuruti keinginannya..."
"Baiklah... Jika seperti itu, Papa akan mengantarnya.. Papa tidak lagi meragukannya karena dia juga sudah meminta pendapat darimu... Tetapi apa tidak terlalu cepat menyiapkan semuanya dalam dua minggu??? Kenapa harus secepat itu???"
"Ya kita tidak tahu, apakah akan di lakukan dalam dua minggu atau mungkin akan ada waktu lebih lagi, sekitar satu bulan mungkin??? Bisa saja kan Pa???"
"Ya kita lihat saja nanti, tetapi bagaimana denganmu dan Rana, kalian kan akan pergi honeymoon cukup lama, setelah ini kalian akan langsung ke Swiss juga kan???" tanya Papa nya lagi.
"Gampang lah... Nanti bisa di atur, jika memang dalam dua minggu mereka akan menikah, aku dan Rana akan menunda keberangkatan kami ke Swiss, lagipula aku juga belum membooking hotel karena memang rencana awal kan akan tinggal di rumah Aditya lebih dulu sebelum pergi ke pegunungan bersalju.. Aku dan Rana akan pulang setelah dari sini..." Jawab Vitto.
"Baiklah.. Jika memang seperti itu, Papa akan bicara pada Vino, lanjutkan kegiatan kalian, Papa juga akan makan siang, sebentar lagi jam makan siang.." Papa Vitto kemudian mengakhiri panggilannya dengan Vitto. Ada kelegaan di hati nya setelah mendengar penjelasan dari Vitto. Dan ada perasaan bahagia juga ketika dia nanti akan memiliki menantu seperti Arindah. Mengingat Arindah adalah perempuan yang baik hati, cerdas dan penyayang. Halo itu semoga bisa membawa perubahan yang positif pada Vino.
__ADS_1