
Setelah kepergian Vitto, Vino langsung berteriak memanggil pria itu memyuruhnya untuk masuk. Hampir saja pria bayarannya itu mengungkapkan pencariannya terhadap Rana di depan Vitto. Vino langsung memarahi dan memperingatkan pria itu agar lebih berhati-hati ketika berbicara. Dan harus melihat kondisi sebelum berbicara karena itu bisa menimbulkan kecurigaan orang lain. Beruntungnya Vitto tidak terlalu menganggap itu serta tidak banyak bertanya, sehingga Vino tidak harus berpikir keras untuk menjawab setiap pertanyaan dari kakaknya.
Vitto akhirnya sampai di apartemennya dan tangannya menenteng kantung plastik berisi makanan yang tadi dia beli di restoran untuk.makan siangnya bersama dengan Rana. Vitto masuk dan mendapati apartemen dalam keadaan sepi, dia kemudian menunu kamar Rana dan mengetuk pintunya tetapi tidak ada jawaban dari sana.
"Rana....!!!" Panggil Vitto. "Aku membawa makanan untukmu!"
Vitto memegang handle pintu dan menurunkannya perlahan kemudian mengintip. Tempat tidur kosong, tidak ada Rana disana. Vitto kemudian membuka seluruhnya dan memang tidak ada siapapun. "Kemana Rana???" Gumam Vitto, dia kemudian keluar lagi dai kamar Rana.
Ketika Vitto hendak ke kamarnya ternyata dia menemukan Rana sedang tertidur di sofa dan ada buku di tangannya. Melihat itu Vitto tersenyum dan menyadari bahwa sepertinya Rana tertidur ketika membaca buku.
Vitto mendekati Rana, tampak perempuan itu sedang tertidur dengan lelapnya. Vitto menarik sebuah kursi kayu kecil dan duduk tepat di depan Rana, lalu memandangi Rana sambil tersenyum. Wajah Rana semakin cantik ketika tidur. Entah kenapa sejak awal Vitto sudah jatuh hati kepada Rana dan saat ini dia sudah menghabiskan waktunya bersama perempuan ini, hanya saja Rana tidak bisa dia miliki karena Rana masih terikat dengan Vino. Andai saja dia bisa bertemu lebih awal dan menghindarkan Rana dari Vino, mungkin Vitto asih memiliki kesempatan untuk dekat dan bisa mencintai Rana sepenuhnya.
Vitto tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya pada peremluan lain. Dia memang sering dekat dengan banyak perempuan tetapi itu hanya dia jadikan hiburan dan tidak pernah serius dengan mereka karena Vitto tahu bahwa mereka hanya datang untuk memanfaatkan ketenarannya. Dan Rana, perempuan ini sangatlah berbeda. Baik, senyumnya sangat manis juga sangat kuat, Rana mudah memaafkan meskipun hatinya dilukai begitu dalam. Rana bahkan tidak pernah sekalipun mengeluhkan kejahatan Vino kepada Vitto, Rana justru menyalahkan dirinya sendiri dan juga seharusnya dia saja yang diaiksa oleh Vino, bukan orang-orang yang ada disekitarnya seperti Jeany yang tidak tahu apapun. Sampai saat ini Vitto tidak mengerti kenapa Rana bisa bersikap seperti itu padahal kejahatan Vino sangatlah tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Ditengah seriusnya Vitto menatap Rana yang terlelap, tiba-tiba Rana bergerak dan langsung membuka matanya, membuat Vitto panik, dia berdiri dari kursi itu dan karena gugup Vitto tidak sengaja menjatuhkan kursi itu hingga menimbulkan suara. Vitto membungkuk dan merapikan kursi itu, dia salah tingkah karena Rana memergokinya.
"Kau sudah datang? Sejak kapan? Dan kenapa kau duduk disitu? Apa yang kau lakukan???" Tanya Rana.
__ADS_1
"Ah tidak.... Aku tadi hanya duduk karena lelah dan tidak mau membangunkanmu....! Ah itu aku membeli makan siang untuk kita, mari kita makan bersama, ini juga sudah waktunya untukmu minum obat...!" Ucap Vitto untuk mengalihkan perhatian Rana, meskipun sebenarnya Vitto masih terkejut sekali karena Rana tiba-tiba bangun.
"Baiklah, tetapi aku harus ke kamar mandi dulu, aku tidak sadar jika aku tertidur saat membaca... Hehee.. Aku butuh menyegarkan wajahku..." Rana kemudian mengambil tongkatnya dan memasang ke lengannya lalu berdiri di bantu oleh Vitto.
"Hati-hati, aku akan menyiapkan makanannya...!"
Rana mengangguk lalu perlahan meninggalkan Vitto, sementara Vitto langsung menuju dapur dan menyiapkan makanan yang tadi di belinya.
Beberapa menit kemudian, Rana keluar dari kamarnya dan menghampiri Vitto yang ada di meja makan. Vitto tersenyum melihat kedatangan Rana, dan makanan juga sudah siap. Vitto kembali membantu Rana duduk dan sigap mengambilkan Rana nasi serta sayur juga lauknya.
Rana melirik ke arah Vitto yang sedang asyik menyantap makan siangnya. Lelaki itu tadi mengatakan bahwa dia akan pergi menemui Vino dan Rana sangat penasaran sekali dengan hal itu, apa yang sudah dibicarakan oleh Vitto pada Vino. "Bagaimana pertemuanmu dengan Vino???" Tanya Rana menyelidik.
"Apa kau tahu kapan dia akan berhenti melakukan itu padaku???"
Vitto menggeleng, tetapi dia kembali meyakinkan Rana bahwa semua akan baik-baik saja. 2 hari lagi Papanya akan pulang, dan Vitto yakin bahwa Papanya akan menghentikan Vino. Sehingga Rana nanti bisa kembali lagi dengan kehidupan yang baru tanpa ketakutakan karena Vino. Vitto meminta Rana bersabar dan banyak berdoa agar semua kesulitannya segera berakhir.
Setelah Papanya datang, semua jawaban dari pertanyaan Rana mengenai hal apa yang sebenarnya mendasari Vino melakukan semua ini juga akan terjawab. Vitto sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dulu terjadi dengan Vania, dan Vitto juga yakin bahwa sebenarnya Vino juga tidak mengetahui detailnya. Vino hanya tahu bahwa Vania meninggal karena menaiki sebuah taksi dan kecelakaan itu saja, tanpa tahu kebenaran dan hal apa yang dialami Vania sebelum itu. Jawabannya hanya pada Papanya dan juga Mamanya yang saat ini menghilang begitu saja meninggalkan mereka bertiga. Vino hanya terpengaruh ucapan Angel untuk melakukan semua ini.
__ADS_1
"Kemana nanti Papamu akan tinggal? Apa dia akan tinggal dirumahmu?" Tanya Rana.
Vitto tersenyum. "Tentu tidak, Papa memiliki rumah sendiri dan rumah itu adalah rumah yang ditempati oleh Vino, dia akan pulang kesana....!" Jawab Vitto kemudian menyendok makanannya lagi.
"Rana...!" Panggil Vitto lagi.
Rana langsung mengangkat kepalanya. "Ya...!"
"Jika Papa berhasil menghentikan semua ini, apa yang ingin kau lakukan pada Vino? Apa kau ingin menghukumnya dan menyeretnya ke penjara atas segala perbuatannya padamu???" Jika kau ingin melakukan itu aku akan mendukungmu, dan aku juga yakin Papa akan berpihak padamu, karena kami tahu bahwa Vino sudah berbuat kejam terhadapmu, dia salah!"
"Jika Papamu berhasil, aku hanya ingin lepas dari Vino saja tidak ada yang lain, dan hanya berharap Vino bisa berubah menjadi lebih baik lagi, dia punya tanggung jawab besar kepada perusahaan keluarga kalian, aku tidak ingin membuat semua itu hancur, dendam juga tidak akan menghasilkan apapun, aku terlepas dari Vino dan bisa kembali menjalani kehidupanku seperti sedia kala itu sudah sangat cukup...! Aku sudah menyiapkan diriku untuk bercerai ataupun membatalkan pernikahanku dengan Vino saja, dan tidak ingin menuntut apapun darinya atau kalian, aku sudah ikhlas kehilangan Bakery ku"
"Tapi kau juga nutuh keadilan dan harus membuat Vino jera? Urusan perusahaan keluarga kami itu mudah sekali tanpa harus diurus langsung oleh Vino...!" Bantah Vitto..
Rana tersenyum. "Vino sudah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mengembangkan perusahaan itu, aku tidak mau itu menjadi sia-sia....!"
"Lalu bagaimana dengan Bakery tempat usahamu itu? Bukankah kau dan orangtuamu sudah bekerja bertahun-tahun untuk membangun dan membesarkannya, dan itu adalah kerjaan keras yang sangat melelahkan, kemudian Vino menghancurkannya tak bersisa? Bagaimana bisa kau mengabaikan hal itu???" Tanya Vitto membantah lagi jawaban Rana.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, dendam tidak akan membuatku mendapatkan apapun, aku tidak ingin menumbuhkan dendam, yang terbaik adalah bersikap ikhlas, aku menganggap itu adalah cobaan dari Tuhan yang harus kuhadapu, biarkan saja, aku hanya ingin lepas dari Vino saja, dan berharap dia bisa menjadi manusia lebih baik lagi, yang bisa kau dan Papamu banggakan, serta dia tidak lagi menyakiti orang lain untuk mengungkapkan kemarahannya....!"
Vitto hanya bisa terdiam dengan sikap yang diambil oleh Rana. Dia tidak mengerti hati seperti apa yang dimiliki oleh perempuan yang ada di depannya itu. Rana sama sekali tidak mau memperpanjang permasalahannya dengn Vino, padahal seharusnya Rana memberi hukuman yang setimpal atas perbuatan yang dilakukan oleh adiknya itu Bahkan Rana juga bisa menuntut ganti rugi dengan nominal besar atas kebakaran hebat yang menghancurkan tempat usahanya pada Vino. Tetapi Rana justru menunjukkan sikap legowo nya. Vitto tidak pernah bertemu dengan perempuan seperti Rana. Hati Vitto jatuh semakin dalam membuatnya semakin mengagumi Rana dengan segala kebaikan hati yang dimiliki perempuan itu.