Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 153


__ADS_3

Selesai mengemasi barangnya, dan memastikan Mamanya pergi, Vitto bergegas pulang ke rumahnya. Sejak tadi Vino sudah menghubunginya agar dia bergegas pulang karena ada hal hang ingin dibicarakan oleh adiknya itu. Vitto sudah menyuruh Vino agar berbicara di telepon saja tetapi Vino menolak dan menyuruhnya agar pulang saja. Vitto pun menurutinya dan sebentar lagi dia akan sampai di rumah. Entah ada masalah apa lagi sekarang, rasanya Vitto benar-benar muak.


Vino duduk di ruang tamu menunggu Vitto datang. Dia sama sekali tidak napsu untuk makan malam dan mengabaikan makan malamnya. Mamanya lagi lagi membuat ulah dan merusak moodnya. Vino sampai bingung harus bersikap dan melakukan apa lagi. Privasinya dan keluarganya benar-benar dirusak, ini mungkin baru di ranah perkantoran, dan akan berbahaya jika sampai hal yang sama dilakukan oleh Mamanya di depan orang banyak. Vino sangat tahu sifat dari Mamanya yang sering membesar-besarkan masalah, dan berlebihan dalam bersikap. Vino hanya takut akan terulang lagi nanti. Mamanya bukan orang yang mau menyerah dengan suatu keadaan yang membuatnya gagal.


Vitto akhirnya sampai dan dia masuk ke dalam rumahnya. Vino dan Papanya ternyaa sudah menunggunya. Vino bisa melihat raut wajah kesal Vitto, kakaknya itu saat ini pasti merasa kesal sekali dengannya karena dia telah memaksana agar segera pulang. Vitto melempar tubuhnya ke sofa dan memanggil ART nya agar membawakan minuman dingin untuknya.


"Wanita itu memang sudah gila.....!" Gumam Vitto tiba-tiba.


Vino terperanjat. "Wanita??? Siapa??? Dan apa yang dilakukannya....???" Tanya Vino.


"Dia mengikuti lalu datang dan membuat ulah serta drama barunya, jika dia bukan ibuku aku pasti akan menghajarnya sampai babak belur....! Shiiit.....!" Geram Vitto kesal.


"Maksudmu Mama????" Tanya Vino lagi memastikan.


"Ya....! Siapa lagi jika bukan dia....! Dia benar-benar seperti benalu....!"


"Apa yang dia lakukan?" Tanya Vino lagi.


Vitto kemudian menceritakan jika sang Mama mengikutinya sampai apartemen, tetapi Vitto tidak mengatakan pada Vino jika itu apartemen rahasianya melainkan mengatakan itu sebagai apartemennya yang satunya lagi, apartemen yang sering di datangi oleh Vino. Serta apa yang dilakukan oleh Mamanya tadi, yaitu berteriak, histeris dan tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai tetapi ekspresinya seolah kesakitan. Vitto merasa aneh sekali dengan apa yang dilakukan oleh Mamanya tadi.


"Jadi dia juga mendatangimu????" Tanya Papanya.


Vitto mengangguk. "Iya Pa, aneh sekali dan itu membuatku kesal sekali....!"


"Mama tadi juga membuat keributan di depan kantor....!" Sahut Vino.


Vitto terbebelalak matanya. "Apa....???? Dia datang lagi ke kantor????"


"Ya... Kali ini keributan bukan di dalam ruanganku, tetapi di luar kantor saat aku dan Papa akan pulang...! Dan dilihat oleh para staff, dia berteriak histeris, menangis dan memohon hal yang sama.... Bagaimana dia bisa melakukan itu dan tidak merasa bersalah sama sekali? Padahal jelas-jelas dia itu berbohong...!"


"Dia seperti ular...! Tidak tahu diri....!" Gerutu Vitto. "Jika seandainya Papa tidak mengikat kami berdua dalam sebuah janji, ku rasa aku dan Vino akan benar-benar menghajar Mama agar dia bisa menyadari semua kesalahannya, tetapi kami berdua sangat menghormati setiap keinginan dan keputusan Papa...!" Ujar Vitto.


Papanya hanya bisa tersenyum saat Vitto memprotesnya. Tetapi sebagai seorang aah tentu dia ingin membuat anak-anaknya menjadi orang yang baik dan tidak durhaka terhadap orang tua meskipun kesalahan yang sudah dilakukan istrinya sudah sangat berlebihan, dan bukannya disadari tetapi justru semakin melukai hati kedua putranya.


"Sudahlah... Kalian sudah tahu bagaimana sifat mama kalian, sekarang beristirahatlah dan hentikan obrolan ini, percuma saja jika harus dibahas setiap hari....! Papa mengantuk, antar Papa ke kamar...!"


Vino mengangguk kemudian beranjak dari duduknya dan mengantar Papanya ke kamar, tetapi dia memberi kode pada Vitto bahwa pembicaraan ini belumlah berakhir. Vitto pun mengerti dan akan menunggu Vino nanti untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Vitto memberi tanda pada Vino agar ke kamarnya saja nanti. Setelah Vino pergi mengantar Papanha beristirahat, Vitto meminum habis segelas air sirup lalu beranjak menuju kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih badan dan mengganti pakaian.


****


Selesai mmmandi, Vitto ternyata sudah ditunggu oleh Vino di kamarnya. Adiknya itu duduk di atas tempat tidurnya, dan Vitto memintanya agar menunggu sebentar karena dia akan memakai pakaian lebih dulu. Tak lama Vitto pun kembali dan mereka berdua membahas lagi tentang Mama mereka. Tiba-tiba Vino merasa seperti ada yang tidak beres dengan apa yang dilakukan oleh Mamanya yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Pemikiran itu muncul ketika Vitto bercerita jika Mama mereka sengaja menjatuhkan diri ke lantai padahal tidak di dorong oleh Vitto, hal yang sama juga Vino rasakan dimana ketika tadi dia menarik paksa kakinya dan Mamanya juga terdorong begitu saja ke belakang padahal Vino merasa tarikannya tidak begitu kasar dan keras.


Vino merasa mungkin saja itu hal yang disengaja dengan tujuan tertentu, apalagi itu terjadi ketika Jason ada disini. Mungkin mereka sudah atau sedang merencanakan sesuatu untuk keuntungan mereka. "Bagaimana menurutmu Vit???" Tanya Vino.


"Aku juga semlat berpikir seperti itu tadi, tetapi rencana apa yang akan mereka lakukan???"


"Entahlah tetapi lebih baik kita bersiap saja, kita tidak tahu apa yang sednag dipikirkan oleh 2 bajin9an itu....! Otak dan hati mereka sangat busuk, seribu satu hal bisa mereka lakukan tanpa dipikir lebih dulu... Lebih baik kita bersiap dan berhati-hati saja....!" Ujar Vino dan Vitto hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu, siapa yang tahu isi dari kepala manusia rakus seperti Mamanya dan si brengs*k Jason itu.


Di tempat lain, Vita sedang pergi keluar sebentar untuk membeli makanan. Sedangkan Jason berada di rumah sendirian. Jason pun mengirim pesan pada Angel mengatakan bahwa dia sangat merindukan perempuan itu dan ingin berbicara lewat panggilan video. Angel membalas dan langsung menghubungi Jason, karena dia juga merindukan lelaki itu.


Mereka mengobrol dan Jason mengajak Angel untuk bertemu besok karena besok Vita akan keluar untuk menemui pengacara dan berkonsultasi mengenai perceraiannya juga rencana yang sudah mereka lakukan hari ini pada Vitto dan Vino. Angel pun meragu jika mereka harus bertemu meskipun dia juga sangat merindukan Jason. Lelaki itu meyakinkan Angel bahwa besok selain menemui pengacara, Vita juga akan ke salon untuk perawatan jadi mereka punya waktu beberapa jam untuk bertemu. Jason akan membooking hotel dan mereka bisa menghabiskan beberapa jam disana untuk bertemu dan saling melepas rindu. Jason pun bertanya apakah Angel ada janji dengan Vino atau tidak, tetapi Angel menggeleng, Vino sedang sibuk akhir-akhir ini dan dia tidak akan bertemu dengan Vino besok hingga lusa. Senyum bahagia pun terpancar di wajah Jason, itu adalah hal yang bagus sehingga dia dan Angel bisa bertemu.


"Ayolah sayang, kita bertemu sebentar saja, aku sudah sangat merindukan tubuhmu, dan ingin segera memasukimu... Kita bertemu besok ya??? Aku akan membooking hotel... Please....????" Pinta Jason dengan manja.


Angel tampak berpikir sedikit meragu tetapi kemudian mengiyakan dan menyuruh Jason untuk mengatur waktunya.


****


Keesokan harinya, setelah Vita pergi, Jason pun pergi setelah memanggil taksi untuk ke hotel yang sudah dibookingnya untuk bertemu Angel. Jason memilih hotel yang bagus meskipun hanya dia gunakan beberapa jama saja. Jason menunjukkan ponselnya pada resepsionis jika dia sudah membooking hotelnya lalu diberi kunci kamar hotelnya dan akan menunggu Angel yang sedang dalam perjalanan.


Jason menunggu Angel di dalam kamar, tidka sabar untuk bertemu perempuan itu. hingga akhirnya suara ketukan pintu membuat Jason lekas berdiri dan membukannya. Senyumnya melebar karena Angelnya sudah datang dengan cantiknya. Jason langsung menarik Angel, memeluknya dann menutup pintu hotel menguncinya dari dalam. Jason tidak mau banyak bicara karwna dia ingin segera menyetub*hi Angel yang sangat dirindukannya. Jason langsung memeluk Angel dan menciumi bibir serta seluruh wajah Perempuan Itu.


"Aku sangat merindukanmu sayang, aku tidak bisa menunggu lama..." Gumam Jason.


Lelaki itu tersenyum kemudian menarik Angel agar diatasnya. Dengan lembut lelaki itu mencium bibir Angel dan Angel bergerak dengan lembut di atasnya. Jemari Jason menyentuh pelan, menyentuh lembut bagian belakang Angel, membuat perempuan itu terp. Lalu dengan lembut tetapi cekatan, Jason menurunkan gaun Angel, begitu pelan gerakannya, seolah ingin menyiksa dirinya sendiri, seperti seorang lelaki yang membuka hadiahnya dengan penuh antisipasi dan mengintip dengan hati-hati.


Kulit Angel yang lembut terlihat sedikit demi sedikit, Jason melepasnya sampai ke pinggangnya dan menatap kekasihnya dengan penuh antisipasi. Angel selalu sempurna, perempuan cantik itu tengkurap dengan baju terbuka, menampakkan kulitnya dan begitu luar biasa. Jason membantu Angel menurunkan gaun tidurnya hingga sepinggang, kemudian sambil menciumi leher Angel dan memainkan lidahnya dengan lembut.


Napas Angel makin tersenggal ketika Jason menyentuh kedua bukitnya yang lembut sambil lalu, mengusap bulatannya dengan gerakan seolah tak sengaja, sehingga membuatnya itu mengeras, seakan ingin disentuh lagi. Angel meracau merasakan sensasi hangat yang mulai membakarnya di miliknya. Jason masih menciumi lehernya, lalu bibir yang membara itu naik, mencium bibir Angel dan berbisik di sana.


"Di mana kau ingin aku menyentuhmu sayang? Ayo katakan padaku."


Suara Jason menjadi serak dan oenuh gaira.


"Jason" Angel meracau lalu memejamkan mata ketika Jason menggulingkannya dan kini Angel ada dibawah lelaki itu.


Kemudian lelaki itu menunduk dan mengecup bagian atas si kembar, kemudian, bibirnya lewat sambil menghembuskan napas panasnya sambil lalu di atas miliknya, membuat bulatannya Angek mengencang dengan kerasnya.

__ADS_1


"Sayang.." suara Angel makin keras ketika Jason mengulangi perbuatannya berkali-kali dan menyesapnya, memainkan lidahnya disana. Lelaki itu mengecupi seluruh bagian kembar miliknya tetapi mengabaikan bulatannya yang mendamba. Yang dilakukan Jason hanyalah menghembuskan napasnya sambil lalu, menggoda Angel, menyiksa Angel.


"Kau ingin aku menyentuhmu dimana sayang?" Jason berbisik di sela-sela kecupannya. Menikmati ketika jemari Angel tanpa sadar menyentuh rambutnya, mencoba mengarahkan bulatan Angel ke bibirnya.


"Disini, please mainkan lidahmu, aku menyukainya" Angel meracau seolah kesulitan bernapas.


Bulatannya begitu tegak dan panas, karena godaan-godaan Jason, dia ingin lebih.. dia ingin bibir Jason yang hangat mencium bulatan berwarna pink miliknya, menyesapnya dengan lembut.


Dan Jason melakukannya. Bibirnya dengan lembut mengatup di bulatan si kembar, lalu lidahnya bergerak menggoda di dalam, begitu hangat, memainkannya dengan usapan-usapan lembut di dalam mulutnya. Sensasi rasanya membuat Angel lemas, kedua jemarinya mencengkeram rambut Jason, membuatnya acak-acakan, lelaki itu sekarang sudah di atanya sepenuhnya, tubuhnya yang tinggi besar melingkupi Angel. Jason bertumpu pada kedua siku dan lututnya, dan menenggelamkan kepalanya di keindahan milik Angel. lelaki itu memuja si kembar milik Angel, memainkan dengan lidahnya, dan menyesap bulatannya lagi secara perlahan, membuat Angel meracau gelisah atas sensasi yang dirasakannya.


Setelah puas. Jason mengangkat kepalanya dan mengecup pucuk ujung hidung Angel yang tersenggal, napas mereka berkabut oleh keinginan yang pekat. Ketika Jason menggeserkan tubuhnya, Angel merasakan milik lelaki itu sudah mengeras di sana, menyentuhnya, begitu keras dan siap.


"Kau begitu indah Sayang" bibir Jason turun ke leher Angel, mengecupnya dengan lembut, lalu turun menelusuri Angel, memberi hadiah kecupan lembut ke kedua bulatan di kembar. Lelaki itu membungkuk dan mengecupi perut Angel, membuat perempuan itu merasakan sensasi panas menjalari perutnya, menuju miliknya yang ada di bawah.


Kemudian lelaki itu menarik turun satin putih yang membungkus milik Angel. "Kau selalu membuatku gila luar biasa...! Tubuh indahmu selalu aku rindukan, aku juga sangat merindukan kita bisa bercinta bertiga lagi dengan Mama, aku snagat merindukan hal itu, bisa memasuki kalian berdua secara bergantian!" Gumam Jason


Kata-kata Jason membuat Angel gemetar penuh keinginan, dia juga merindukan bercinta dengan Jason juga Mamanya, dan terus gemetar ketika Jason menurunkan satin putihnya melalui sebelah kakinya dan melepaskannya. Membiarkannya masih menggulung di kakinya yang lain. Jason menggerakkan jemarinya dengan lembut, dan dengan gerakan lembut, meraba kaki Angel dari atas sampai bawah, mengirimkan sinyal-sinyal dorongan yang bagaikan sengatan listerik di sana. Ketika sampai di kaki Angel, Jason melepaskan seluruhnya dari Angel, lalu menatap keseluruhan Angel yang polos di bawahnya, dan siap dimiliki olehnya.


Kepala Jason pening oleh keinginan luar biasa dan antisipasi ketika dia menggerakkan jemarinya lagi, pelan mengalun dari lutut Angel dan naik ke pahanya. Sampai kemudian menyentuh milik perempuan itu. Hanya sepersekian detik, menyentuh di sana. Dan Angel terkesiap, berjingkat kaget oleh sengatan aneh yang menyengatnya seketika.


Jason tersenyum. Karena Angel sangat sensitf dan selalu siap olehnya. Jemarinya menyentuh milik Angel, memainkannya lembut dengan usapan ahli, membuat Angel setengah bangun, bingung atas sensasi yang mengalir deras di dirinya, sekaligus takut.


"Sayang...!!!"


"Sssshh.... Tenanglah sayang" Jason menghela Angel agar berbaring lagi, menikmati. "Aku akan memberimu surga dunia dari seluruh dirikuu, dari jemariku, dari bibirku..." Lelaki itu mendunduk, lalu mengecup milik Angel dengan lembut. Membuat perempuan itu menggeliat, mencoba merapatkan kakiknya. Kaget atas apa yang sudab dilakuka oleh Jason, itu luar biasa sekali.


"Jason sayang.. jangan di situ... astaga......"


"Sekarang, biarkan aku memberimu kenikmatan.." Lidah lelaki itu mulai menelusup, menemukan titik paling sensitif di milik Angel dan memainkannya dengan ahli. Lidah Jason hangat sehangat bibirnya yang bermain dengan ahli, dengan penuh pemujaan.


Angel terbaring di sana dengan mata berkabut, dengan napas tersenggal dan terasa melayang akibat sensasi luar biasa nikmat yang menyelimuti tubuhnya, bersumber pada v nya. Gerakan bibir dan lidah Jason begitu ahlinya, membuat Angel berkali-kali mengerang ketika lelaki itu dengan sengaja menggerakkan lidahnya memutar, menggoda titik pusat miliknyanya. Membuat Angel seakan dibawa ke sebuah tepi pencapaian yang tmsudah dia tunggu. Angel memejamkan matanya. Dia sudah hampir sampai ke tepi itu. Digigitnya bibirnya, merasakan sensasi hangat melandanya dan menggetarkannya.... Hendak membawanya ke suatu tempat yang tidak berbatas Napasnya tersengal, jantungnya berdetak cepat, matanya terpejam menyerap kenikmatan itu. Tetapi kemudian, Jason berhenti.


Lelaki itu menghentikan ciumannya di milik Angel, , membuat Angel membuka matanya memprotes. Tetapi senyum Jason begitu manis dan penuh rahasia, membuat Angel selalu bergetar karena sensasi yang ditularkan Jason.


"Jangan. Kau harus menungguku. Kita akan mencapai puncak itu bersama-sama"


Lelaki itu menegakkan tubuh dan bertumpu pada lututnya yang memamerkan dada bidangnya dengan kulit putih yang halus.Bagaikan sati yang halus, dan hangat, membungkus otot-otot tubuhnya yang kekar dan keras. Membuat Angel selalu merasakan dorongan luar biasa untuk menyentuhnya.


Lelaki itu lalu setengah berdiri menanggalkan semuanya. Seluruh pakaiannya akhirnya terlempar ke lantai. Dan sekarang Angel menatap seorang lelaki yang berlutut di atasnya, dengan tubuh yang luar biasa indahnya, dan milik Jason yang telah mengeras dan siap untuknya. Jason begitu indah dan lelaki itu adalah kekasihnya.


Jason tersenyum lembut, lalu meraih jemari Angel dan mengecupnya.


Angel menganggukkan kepalanya, dan lelaki itu membawa jemari Angel ke miliknya yang keras dan siap untuknya. Angel menyentuh kekerasan yang sehalus satin itu dan mengusapnya.. Membuat Jason mengeluarkan racauan sedikit keras. Mendengar itu, Angel semakin mempercepat gerakannya.


"ya seperti itu" Gumam Jason tertahan, "Teruskan sayang, terus gerakkan jemarimu dengan lebih cepat...!"


Jemari mungil Angel membelai kembali milik Jason membuat lelaki itu harus menggertakkan giginya, menahan racauannya. Angel begitu kagum, karena milik Jason besar, keras dan terasa begitu halus juga lembut. Angel mengeksplorasi milik Jason, dia sudah sejak lama mengenalinya dan selalu merindukannya. Sampai kemudian Jason menggenggam tangan Angel dan menahan jemarinya.


"Cukup!!!" Ucap Jason.


Dengan penuh keinginan lelaki itu kembali mengatur posisi sehingga bisa pas. Sang lelaki berpadu dengan perempuannya.


"Buka sayang." Jason setengah membantu Angel membuka kakinya dan membiarkan milik Jason mendesak di antara kaki Angel, mendesak masuk dan bersatu. Lelaki itu menggerakkan tubuhnya dengan lembut, mengirimkan getaran listrik yang membuat angel semakin membara.


"Kau selalu basah dan siap untukku" Jason menyentuh Angel dengan miliknya, merasakan betapa Angel sudah begitu hangat dibawahnya, "Kau milikku dan hanya akan menjadi milikku sayang"


Lelaki itu bertumpu kepada kedua sikunya, dan mendorongkan dirinya. Menekan Angel dengan begitu ahli. Menekankan dirinya dalam-dalam dan menahan dirinya untuk tidak langsung bergerak, mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Angel lembut.


Dengan lembut Jason mulai menggerakkan tubuhnya. Setiap Jason bergerak, Angel sellaun menikmati gelenyar luar biasa yang terkirim dari miliknya ke sekujur badannya. Membuatnya meracau, sambil berpegangan pada tubuh Jason.


Tubuh mereka berdua berkeringat, di atas tempat tidur berseprei putih yang sekarang sudah acak-acakan itu. Jason bergerak di dalam milik Angel, semula lembut dan hati-hati. Dan Angel merespon dengan napas terangah dan erangan pelan, Jason bergerak dengan Luar biasa, membawa mereka menuju puncak masing-masing.


Ketika puncak itu hampir tiba, Jason mengajak Angel untuk membawanya lebih dulu mencapai punvak yang luar biasa itu. Dan ketika racauan Jason dalam pencapaiannya menandainya, Jason merasakan milik Angel mencengkeram miliknnya dengan kuat di dalam, membuatnya tak tahan lagi, hingga kemudian meledak di dalam milik Angel.


Kenikmatan itu begitu intens dan luar biasa, sehingga membuat tubuh mereka lemas. Jason kemudian tengkurap diatas Angel menahan dengan siku dan lututnya supaya tidak membebankan beratnya di tubuh kekasihnya, kepalanya menunduk di sebelah leher Angel. Napas mereka berdua tersenggal. Kepalanya masih dipenuhi kabut kenikmatan itu. Luar biasa rasanya menyatu dengan orang yang dicintai. Pencapaian puncaknya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jason membuka matanya dan mengecup telinga mungil Angel yang ada di depannya,


"Apakah aku memuaskanmu?"


Angel masih berusaha menormalkan napasnya. Apakah Jason memuaskannya? Tentu saja. Itu selalu terjadi ketika mereka bersatu. Kalau benar ledakan luar biasa yang dirasakannya dan menerbangkannya ke tingkat ke tujuh adalah sesuatu yang orang-orang sebut sebagai puncak tertinggi ketika bersatu, berarti Jason telah memberikan puncak yang paling nikmat kepadanya.


"Ya, tentu saja sayang..!"


Lelaki itu tersenyum mesra dan mengecup Angel lagi. Lalu mengangkat kepalanya, dan menarik tubuhnya yang masih tenggelam di dalam milik Angel dengan hati-hati.


Di tempat lain, dua orang laki-laki yang mengikuti Angel dan Jason menghubungi Vitto untuk memberi tahu jika saat ini Angel dan Jason berada di hotel yang sama karena tidak sengaja kedua lelaki itu bertemu disini ketika bertugas mengikuti Angel dan Jason. Dimana ternyata Vitto juga mengirim satu orang lagi kemarin untuk mengawasi gerak gerik Jason, sedangkan temannya yang sebelumnya masih mengikuti Vita.


★★★

__ADS_1


Saat ini Vitto sedang berada di rumah yang akan dia tinggali sementara bersama Rana. Tadi dia berhasil membohongi Vino untuk bisa keluar dari kantor. Vitto berniat menjemput Rana sebenarnya di rumah Aditya, tetapi Rana mengatakan jika dia akan datang bersama Cahya. Vitto tidak khawatir mengingat Cahya sendiri memiliki pengamanan yang baik dari Aditya ketika sedang keluar. Vitto akhirnya langsung datang kesini dan ternyata Ariel juga menunggunya disini. Rana dan Cahya sedang dalam perjalanan, Vitto pun memilih mengobrol dengan Ariel di bagian belakang rumah, disamping kolam renang.


"Ya, ada apa???" Tanya Vitto saat menjawab sebuah panggilan telepon dari anak buahnya.


"Begini bos, saya bertemu dengan Daniel di Titans Hotel, saya sedang mengikuti Jason, sedangkan Daniel mengikuti nona Angel, kami berpikir sepertinya mereka sedang bertemu disini bos....!"


"What???? Kalian ada bertemu di Titans Hotel?" Seru Vitto.


Mendengar nama Titans Hotel, Ariel mengernyit karena itu adalah salah satu hotel miliknya. Ariel tidak tahu siapa yang bertemu siapa di hotel miliknya tetapi dari raut wajah Vitto terlihat jika lelaki itu terkejut.


"Iya bos, sepertinya Jason datang lebih dulu, sekitar 15 sampai 20 menit kemudian baru nona Angel, tetapi kami sendiri belum bisa memastikan mereka bertemu atau tidak dan menginap di kamar nomor berapa... Sudah sekitar lebih dari satu jam kami berdua ada disini, tetapi mereka berdua belum juga keluar....!"


"Tetapi bagaimana Jason keluar dari temoat tinggal Mama? Apa dia tidak pergi dengan Mama???" Tanya Vitto.


"Tadi ketika saya masih berada di sekitar tempat tinggal mama Anda, bu Vita oergi keluar lebih dulu dan Rowman mengikutinya sampai sekarang, entah kemana perginya, selang 30 menitan Jason keluar jadi saya mengikutinya...! saya terkejut ketika bertemu dengan Daniel disini...!"


"Aku yakin mereka pasti berada di satu kamar, oke kalian berdua pantau saja sampai mereka keluar, lakukan tugas seperti biasa, aku akan memikirkan sesuatu nanti...!" Ujar Vitto kemudian menutup panggilannya.


Vitto meletakkan ponselnya di atas meja dan menoleh ke Ariel meminta maaf karena obrolan mereka harus terjeda karena telepon itu. Ariel yang merasa penasaran pun mencoba bertanya pada Vitto mengenai apa yang terjadi karena tadi Vitto membahas tentan Titans Hotel yang ternyata adalah salah satu hotel miliknya.


"Jadi itu hotel milikmu???" Tanya Vitto.


"Ya... Itu milikku..!"


Vitto tersenyum. Dan tiba-tiba saja dia memiliki sebuah ide bagus, dimana jika Ariel pemilik dari hotel itu mungkin dia bisa meminta bantuan Ariel. "Ah kebetulan sekali, kira-kira jika aku meminta bantuanmu apakah kau mau membantuku???" Tanya Vitto.


"Bantuan?? Bantuan apa???"


Vitto pun kemudian menceritakan apa yang sekarang terjadi di hotel itu pada Ariel. Dimana ada seorang perempuan yang tak lain adalah kekasih dari adiknya sedang berada di hotel itu, bersamaan dengan itu juga ada seorang laki-laki yang menjadi selingkuhan Mamanya. Mereka berada di tempat yang sama secara bersamaan. Dan permasalahannya sekarang adalah Vitto sedang mencoba mengumpulkan bukti tentang perempuan yang menjadi kekasih adiknya itu bahwa perempuan itu sedang bermain belakang dengan laki-laki lain padahal dia sudah berencana menikah dengan Adik Vitto.


"Ya intinya begitulah Iel, aku dan Papa sedang mengumpulkan bukti tenang perempuan itu karena adikku itu keras kepaka dan terlalu bucin dengan perempuan itu hingga sangat sulit untuk memberitahu yang sebenarnya jika perempuan itu adalah penipu, harus ada bukti kuat untuk meyakinkan adikku itu bahwa perempuan ini bukanlah perempuan yang baik....! Juga aku merasa ada konspirasi besar antara oerempuan dan laki-laki itu yang sedang disusun untuk menghancurkan keluargaku..!"


Ariel mengangguk-angguk. "Oke aku mengerti, lalu apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu????"


"Kira-kira bisa tidak aku melihat atau meminta rekaman cctv di hotelmu itu jika benar perempuan ini memang bertemu dengan laki-laki itu???"


Ariel tersenyum. "Tentu saja Vit, kami akan memberikan rekaman itu jika ada sesuatu yang urgent dibutuhkan...!" Jawab Ariel.


"Thanks....!"


"Aku akan mengantarmu kesana nanti, kebetulan aku ada jadwal untuk berkunjung kesana.... Setelah dari sini kita kesana...!"


Senyum Vitto mengembang di wajahnya, sangat menguntungkan ketika memiliki koneksi seperti ini. Dia tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan rekaman cctv itu. "Baiklah, sekali lagi terima kasih....!"


★★★★


Jason mendekap tubuh Angel yang berbaring miring disebelahnya. Jason mengecup pipi Angel. Pertemuan mereka kali ini cukup untuk menghilangkan kerinduan mereka satu sama lain. "Aku sangat merindukanmu....!" Bisik Jason.


"Aku juga....!" Angel berbalik badan, menatap wajah Jason, mengusap pipi laki-laku itu dengan penuh kelembutan.


"Sebentar lagi kita akan menyelesaikan semua ini, aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku sudah muak tinggal dengan wanita tua itu, aku ingin hidup bahagia dengan kau dan Mama....!"


Angel membalas pelukan Jason. "Sama... Kau juga muak sekali dengan Vino, apalagi sekarang ada Apanya juga Vitto yang sangat menyebalkan itu...! Lalu bagaimana perkembangan tentang rencanamu dan Vita???" Tanya Angel.


"Berjakan dengan baik, jebakan yang kami susun berhasil, itulah sebabnya wanita tua bodoh itu sekarang menemui pengacara untuk membantu masalahnya, jika rencana itu berhasil dan dua sudah mendapatkan uang, aku tinggal mengeksekusinya....!"


Angel tersenyum. "Semoga dia berhasil...!"


Mereka berdua berpelukan dibalik selimut tanpa mengenakan apapun. Waktu yang sedikit ini harus mereka manfaatkan dengan baik, karena hal seperti ini akan sangat sulit untuk didapatkan lagi. Angel dan Jason pun melanjutkan lagi sesi percintaan mereka sebelum nanti mereka keluar makan siang direstoran hotel lalu pergi dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.


****


Sebuah ketukan pintu mengalihkan fokus Vino pada layar laptopnya begitu juga dengan Papanya. Vino mempersilahkan orang yang berada di luar ruangannya itu untuk masuk. Sekeretaris Vino masuk membawa map berisi berkas-berkas kemudian menyodorkannya pada Vino.


"Ini berkas meeting hari ini sudah siap...!" Ucap sekretaris itu.


"Ah iya, aku lupa... Pa, hari ini kita ada meeting sekaligus makan siang dengan direktur MITAM Group di restoran yang ada di Titans Hotel...!"


Papa Vino mengangguk. "Ya sudah, meetingnya jam berapa? Ini bukannya sudah waktunya makan siang???"


"Iya pak, kita bisa berangkat sekarang, saya sudah menghubungi supir untuk bersiap mengantar kita...!" Ujar perempuan cantik itu.


"Well... Apa lagi yang kita tunggu, kita bisa bersiap sekarang...!" Ujar Vino.


Dia kemudian beranjak dari kursi kerjanya, mengambil jasnya dan memakainya, lalu membantu Papanya berdiri dan sekretaris Vino juga lekas mengambil kursi roda. Vino membantu Papanya duduk di kursi roda, dan menyuruh sekretarisnya agar membawa berkas yang tadi dan mereka bertiga akan berangkat sekarang.


"Oh iya, jangan lupa titipkan pesan pada Monica agar nanti memberitahu Vitto jika kita pergi untuk meeting, aku takut dia mencariku dan Papa, soalnya tadi aku lupa memberitahunya" Pinta Vino pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Baik Pak....! Saya akan memberitahu Monica tentang keberangkatan kita...!"


__ADS_2