
"Aduuuhhh...!" Teriak Vino. Dia kemudian mencoba bangkit. Dan sedetik kemudian Arindah berteriak lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena melihat Vino tidak mengenakan apapun.
"Aaaahhhhhhh....!"
Vino langsung naik ke tempat tidur dan menenangkan Arindah. "Heiii... Kenapa berteriak....???? Kau lupa ya kalau kita sudah menikah???"
Arindah terdiam sesaat untuk mengingat beberapa hal. Dan dia pun mengingat apa yang terjadi kemarin dan tadi malam. Dimana dia dan Vino kemarin sudah menikah lalu semalam mereka sudah melakukan hubungan sebagai suami istri. Arindah kemudian perlahan membuka kedua telapak tangannya dan bertataoan dengan Vino. "Sorry sorry..... Astaga aku tadi shock melihat ada laki-laki di sebelahku... Sorry ya sorry, aku masih belum terbiasa... Astaga..." Ucap Arindah dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Dia benar-benar merasa malu sekali pada Vino.
Vino tersenyum. Dan memaklumi sikap Arindah. Perempuan itu pasti shock sekali dan belum terbiasa. "It's okay... Walaupun aku juga sangat terkejut tetapi wajar karena kau belum terbiasa, tetapi aku berharap besok-besok jangan mendorongku seperti itu lagi, karena di kamarku ada meja di kanan kirinya, aku bisa tersengat listrik dari lampu kamar tidur yang ada di atas meja... Hahaha..."
Arindah langsung memukul baju Vino. "Kau ini...."
Vino tertawa terbahak-bahak. "Kau juga kenapa berteriak seperti itu melihatku teIanjang??? Bukankah semalam kau sudah melihat keseluruhan tubuhku, bahkan kau terlihat sangat menyukai adik kecilku ini???"
Wajah Arindah semakin memerah dan dia langsung teringat dengan kejadian semalam, bagaimana dia dan Vino bercinta untuk pertama kali nya. Dan Arindah merasa sangat bahagia sekali dan saat ini ada perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan, dimana dia sangat berbunga-bunga dan penuh kepuasan. Vino sangat luar biasa dan milik lelaki itu begitu besar hingga memenuhi nya.
Vino tersenyum melihat wajah merah Arindah, dan dia mendekati perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Meminta Arindah agar bangun dan tidak merasa malu lagi. Arindah kemudian duduk berhadapan dengan Vino di atas tempat tidur. Vino kemudian memegang kedua jemari Arindah dan mengecupnya.
"Terima kasih untuk yang semalam...!" Gumam Vino.
"Kenapa berterima kasih??? Bukankah itu sudah jadi kewajiban kita berdua..."
__ADS_1
Vino tersenyum. "Ya itu benar, dan setelah ini semoga hubungan kita semakin dekat lagi dan pada akhirnya kita bukan hanya sekedar saling membutuhkan lagi tetapi bisa saling mencintai... Aku berjanji bahwa aku akan melakukan tugas ku sebagai suami yang selalu bisa membahagiakan istriku dan juga Naufal anakku... Aku juga berharap dengan hadirnya dirimu, kau bisa membuatku berubah menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya..." Ujar Vino.
Arindah melempar senyum. "Aku tidak akan merubah apapun darimu, jika ada kesalahan di masa lalu mu dan jika kau berniat berubah menjadi lebih baik itu harus karena keinginan dalam hatimu sendiri..."
Vino kembali melempar senyumnya dan menganggukkan kepala nya. Membenarkan apa yang baru saja di katakan oleh istrinya. Dan sebenarnya sejak tadi Vino sedang memikirkan sesuatu yang memang harus dia bahas dengan Arindah. Tetapi mengingat kejadian semalam, Vino jadi meragu. Hanya saja dia harus tetap membahasnya apalagi Arindah juga pasti lebih tahu mengenai hal itu.
"Boleh aku membahas sesuatu denganmu??? Kita membahas dari hati ke hati saja dan aku harap kau tidak tersinggung dengan apa yang ingin aku bahas ini..."
"Kau belum membahasnya, lalu bagaimana aku bisa marah atau tersinggung??? Coba katakan saja, kau ingin membahas apa...!"
"Tadi malam seharusnya aku tidak mengeluarkannya di dalam, aku terlalu menikmatinya sampai aku tidak bisa berpikir... Padahal kau sudah memberiku pilihan..."
Arindah mengernyit dan bingung. "Maksudnya???" Tanya Arindah.
"Maksudmu kau ingin kita menjnda momongan???" Tanya Arindah dan Vino menjawab dengan anggukkan kepala. "Tetapi kenapa??? Apa alasannya!??" Tanya Arindah lagi.
Vino pun menjelaskan jika untuk saat ini dia ingin berfokus untuk mendekatkan diri dengan Naufal. Ingin memiliki ikatan yang kuat dan juga ingin memberikan kasih sayang penuh pada bocah itu, meskipun Naufal bukan anak kandungnya, karena Vino sudah kadung menyayangi Naufal dm sangat dalam. Dan Naufal juga sudah merebut hatinya sejak pertama bertemu.
Mendengar itu, mata Arindah berkaca-kaca. Tidak menyangka jika Vino bisa berpikir sejauh itu tentang Naufal. "Kau serius dengan ucapanmu itu???" Tanya Arindah tidak percaya.
Vino menggukkan kepala nya. "Ya... Aku ingin benar-benar mencurahkan kasih sayangku pada Naufal, dan mungkin kita bisa memberinya Adik satu atau dua tahun lagi saja, tidak apa... Tetapi itu jika kau setuju... Karena dari ceritamu, selama ini Naufal tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, dan aku ingin memberikan itu untuknya.. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadapnya, dia sangat manis, lucu dan menggemaskan, ku pikir kehadiran Naufal sudah sangat cukup untuk bisa membuatku belajar menjadi seorang Ayah... Dan kita bisa membahas lagi mengenai adik untuk Naufal nanti nya... Tetapi sekali lagi itu terserah padamu..." Ujar Vino.
__ADS_1
Arindah melempar senyum. "Jika itu yang kau inginkan, aku akan menyetujui nya, lagipula kita juga harus memiliki waktu yang banyak untuk bisa dekat lagi... Tidak masalah jika kau ingin menunda nya.." Ungkap Arindah dengan bijak. Dia tidak masalah jika Vino tidak ingin memiliki bayi lebih dulu. dan bagus jika Vino ingin berfokus pada Naufal. Arindah benar-benar merasa senang sekali dengan keputusan yang di ambil oleh Vino. Dan berharap Naufal nanti nya bisa mendapatkan kasih sayang seorang yang selama ini tidak pernah di dapatkannya. Dan memang Vino dari awal sangat menyayangi Naufal.
"Tetapi bagaimana dengan yang semalam??? Aku mengeluarkannya di dalam???? Kalau kau hamil bagaimana???" Tanya Vino.
Arindah tersenyum. "Tidak masalah.... Itu sudah terjadi..."
"Tetapi bagaimana jika kau hamil??? Kita kan baru saja sepakat untuk tidak memiliki anak lebih dulu...??? Kau pasti tahu dulu aku hanya sekali melakukannya pada Rana dan dia langsung hamil..."
Arindah pun tertawa menatap Vino. "Aku seorang dokter kandungan, aku tahu cara mencegah kehamilan, lagipula sekarang ada obat yang bisa di konsumsi setelah berhubungan agar tidak hamil, dan bisa di konsumsi tiga hari setelah berhubungan dan itu tidak akan membuat hamil... Jika kau khawatir aku hamil, aku akan meminum obat itu besok setelah itu aku akan memakai Kb. Kau jangan khawatirkan apapun tentang semalam..."
"Ada obat yang seperti itu???" Tanya Vino.
"Tentu saja ada...!" Jawab Arindah. "Memangnya dulu bagaimana dengan Angel??? Maksudku kalian kan pasti melakukannya, atau kau memakai pengaman atau selalu mengeluarkannya di luar???" Tanya Arindah balik.
"Dia meminum pil KB, tetapi sudahlah jangan membahasnya, membuatku malas saja..." Vino menarik Arindah ke dalam pelukannya.
"Aku tidak membahasnya, hanya saja aku bertanya tentang apa yang di konsumsi nya..."
"Besok aku harus menghadiri sidang untuk kasus Angel, bersama Vitto dan Papa, kau ikut ya??? Daripada harus di rumah sendirian, nanti kita antar Naufal ke rumah Mama Papa dulu..."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan... Tetapi kau tidak akan menjadikanku bahan untuk kau pamerkan pada Angel kan???"
__ADS_1
Vino terkekeh. "Aku sama sekali tidak berpikir sampai disana, aku hanya butuh seseorang yang bisa menenangkanku disaat suasana hatiku sedang panas... Sudahkah. Angel adalah masalaluku, dan kita jangan lagi membahas masalalu karena aku tidak mau itu jadi boomerang untuk kita yang akan membuat kita nantinya jadi bertengkar atau salah paham... Aku sudah memutuskan menikahi mu dan disaat itu juga aku memutuskan untuk menutup seluruh kisahku dengan Angel, aku akan menganggapnya sebagai pelajaran yang berharga agar aku tidak lagi terjatuh pada kesalahan yang sama..."
Vino mempererat pelukannya pada Arindah. Dan Arindah juga membalas pelukan Vino. Mereka berpelukan dalam keadaan tanpa mengenakan apapun, sehingga kulit mereka saling bersentuhan dan menimbulkan rasa hangat yang semakin menenangkan.