
"Thank You Ky... Thank you Kyra sayang....!" Ucap Rana.
"Heii.... Ada apa ini? kenapa kalian melingkar? Apa yang sedang kalian bicarakan... Ayo Amam ikut bergabung dengan kalian...!" Cahya datang membawa tisu dan menghampiri mereka bertiga.
"Ky pelit...! Dia tidak mau membagi sticknya pada Auntie, dan auntie menangis...!"
Cahya duduk berjongkok memgang pundak Rana menatapnya. "Rana...? Kau menangis??? Kenapa?? Apa kau baik-baik saja???"
Rana menggeleng melempar senyumnya pada Cahya. "Tidak...! Aku hanya kelilipan...!"
"Don't Lie Auntie... Nanti Tuhan marah...!" ujar Kyra yang langsung membuat Rana terkekeh.
"Oke oke... Sekarang kalian harus bersiap untuk mandi, sebentar lagi Apap pulang, nanti dia marah jika melihat kalian belum mandi...!" Ujar Cahya.
Cahya mengambil beberapa tisu basah dan mengelap wajah dan tangan Kyros yang belepotan dengan cokelat. Sedangkan Rana melepaskan ikatan rambut Kyra yang berwarna-warni di kepala bocah cantik itu. Setelah itu Cahya dan Rana membawa keduanya ke kamar mandi yang ada di kamar Cahya.
"Kau benar-benar tidak apa-apa Ran??? Kenapa menangis? Apa anak-anak melakukan sesuatu padamu???" Tanya Cahya lagi seraya menyiramkan air ke tubuh Kyros.
"Tidak apa-apa Ca, aku hanya ingat saja dengan Vino...!"
"Kau pasti mengingat Vino karena melihat anak-anak dan kau jadi memikirkan kehamilanmu kan??? Memikirkan masa depan bayimu nanti...??"
Rana tidak menjawab, dia hanya tersipu karena ternyata Cahya bisa menebak apa yang tadi di pikirkan olehnya. Selalu ada kesedihan dihatinya jika harus membayangkan atau memikirkan nasib anaknya nanti.
"Rana....! Kita boleh memikirkan sesuatu dimasa mendatang tetapi harus yang baik-baik saja agar kita tidak sedih, kau adalah perempuan hebat, aku yakin anakmu kelak akan sangat bangga memiliki ibu hebat sepertimu...!"
"Amin....!!!"
Mereka berdua kemudian melanjutkan memandikan si kembar lagi. Setelah selesai Rana membantu Cahya memakaikan pakaian juga, mengikat rambut Kyra dengan karet warna-warni membuat Kyra menjadi lebih menggemaskan.
"Tadi Vitto menghubungiku, dia bilang besok siang rumahnya sudah bisa ditempati...!" Gumam Rana pada Cahya.
"Oh ya??? Hmmm sedihnya kau akan pergi... Padahal aku senang sekali kau ada disini hehehe...!"
"Kau bilang begitu, tetapi aku dan Vitto sudah banyak merepotkan kalian... Tidak tahu harus membalas semua kebaikan kalian dengan apa...!"
"Kebaikan itu tidak perlu dibalas, biar Tuhan saja... Hahaha bolehkah aku mengantarmu sekaligus membantumu? Sudah seminggu yang lalu juga terakhir aku mengajak anak-anak berkunjung ke rumah ibuku, besok sekalian mengunjunginya lagi... Bagaimana???" Tanya Cahya.
"Aku merepotkanmu lagi nanti??"
__ADS_1
"Sudahlah Ran merepotkan apa, aku juga akan mengunjungi ibu besok kau pergi bersamaku saja ya, tenang deh, aman, ada bodyguardku juga yang akan mengawal kita....!"
Rana mengangguk. "Iya deh...!"
****
Vitto sudah sampai di apartemennya sejak tadi, dia sekarang sedang mengemasi barang-barangnya dibantu oleh Mario bodyguard Rana. Vitto akan menghubungi Rana nanti saja setelah barang miliknya sudah dia bereskan.
"Ambil semua buku yang ada di ruang tengah...!" Pinta Vitto pada Mario.
"Baik tuan...!" Mario pun meninggalkan kamar Vitto.
Di sisi lain, mobil yang dikemudikan oleh Jason memasuki area parkir apartemen yang dihuni oleh Vitto sesuai arahan dari Vita. Setelah mendapat tempat parkir kososng, Vita menyiapkan ponselnya untuk merekam, kali ini dia hanya akan merekam suara saja. Vita pun turun dari mobil untuk menuju unit milik Vitto, berharap putra sulungnya ada disana.
Keluar dari lift, Vita perlahan melangkah menuju unit paling ujung dimana sebelumnya dia melihat Vitto dan anak buahnya ada disana. Langkahnya pun terhenti tepat di depan pintu unit apartemen Vitto. Vita menarik napasnya dalam-dalam lalu menghelanya perlahan. Tangannya mulai menekan tombol interkom yang ada di tembok.
Vitto yang sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper dibuat terkejut. Vitto mengernyit, merasa heran, siapa yang datang ke apartemen ini. Penasaran, Vitto pun memanggil Mario agar melihat siapa yang datang. "Mario....!"
Beberapa detik kemudian Mario datang, lelaki itu juga mendengar suara interkom berbunyi.
"Siapa yang datang kira-kira???" Tanya Vitto.
"Entah Tuan, mungkin petugas kebersihan atau staf apartemen ini...!" Jawab Mario.
Mario mengangguk dan meninggalkan Vitto untuk melihat siapa yang datang. Mario mengintip lubang kecil yang ada di pintu tetapi Mario tidak melihat siapapun ada di depan pintu. Merasa heran, Mario pun membuka pintu sedetik kemudian tubuhnya terdorong dengan keras dan dan seseorang masuk begitu saja ke dalam apartemen itu.
"Vitto sayang....!" Teriak Vita.
Mario langsung menahan Vita. "Ibu kenapa main masuk saja...!"
"Kau ini, biarkan aku masuk menemui putraku.....!"
Mario tidak memperdulikan ucapan Vita dan menarik wanita itu agar keluar. Vita berteriak dan dan mengumpat Mario mengatakan bahwa Mario kurang ajar kepadanya. Tetapi Mario berhasil membawa Vita keluar.
Mendengar keributan, Vitto keluar dari kamar, dan dia melihat Mario sedang berdiri di depan pintu. Vitto bisa tahu suara siapa yang berteriak tadi. Sudah pasti itu adalah Mamanya. "Kenapa juga aku harus ada disini saat dia datang... Shiiittt...!" Gerutu Vitto.
Vitto pun menghampiri Mario.
"Maaf tuan, Mama anda tadi menyerobot masuk begitu saja, jadi saya terpaksa memaksanya agar keluar....!" Mario menunduk.
__ADS_1
"Kerja bagus...!" Puji Vitto. "Aku akan mengurusnya...!"
Vitto menatap tajam Mamanya yang ada di depannya, Vita tersenyum dan memeluk Vitto. "Putraku tampan sekali, apa kabarmu sayang???" Ucap Vita.
"Selalu saja begitu, apa kau sudah kehabisan akal sehatmu? Sehingga kau selalu saja masuk ke tempat orang sembarangan tanpa ijin darinya? Ini sudah berapa kali kau bersikap seperti ini????"
"Vitto sayang, ini kan tempat tinggalmu, masa harus ijin sih jika mama ingin menemui putra Mama...!"
"Persetan dengan siapa dirimu, tetapi harusnya kau mengerti bahwa kau tetap harus mendapat ijin dari pemiliknya ketika ingin masuk... Kau ada disini? Apa kau membuntutiku lagi???" Tanya Vitto.
"Membuntutimu? Tentu saja tidak....!"
"Lalu kenapa kau tahu jika aku ada disini???"
"Eh itu... Eh..... Vino yang memberitahu Mama, tadi Mama bertemu dengannya... Katanya kau ada disini....!" Jawab Vita berbohong.
"Vino????" Vitto terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lagi-lagi Mamanya berbohong. "Berapa kali lagi kau akan berbohong? Vino saja tidak tahu jika aku tinggal disini, sudahlah Ma, Mama pergi saja, aku sedang tidak ingin di ganggu...!"
Vita memegang pergelangan tangan Vitto. "Mama sudah pernah bilang bahwa Mama sangat merindukanmu, kenapa kau selalu menolak Mama....! Kita bicara di dalam saja sayang, jangan disini... Ayo biarkan Mama masuk...!" Vita berusaha untuk masuk tetapi Vitto menahannya dengan tubuhnya dan melarang Mamanya untuk masuk.
"Harusnya Mama itu sadar diri...! Sudahlah Mama pergi saja, aku sedang tidak ingin di ganggu...! Pergi sana...!!"
Vita terus memaksa masuk dengan mendorong tubuh Vitto agar menyingkir dan membiarkannya masuk sambil setengah berterian. "Tapi Mama sudah berubah, Mama ingin berubah tetapi niat baik Mama itu justru kau tolak, Vino juga melakukan hal yang sama...! Vitto sayang biarkan mama masuk..! Mama benar-benar tidak ingin berpisah dengan kalian bertiga, Mama sangat menyesal sekali atas kesalahan yang Mama lakukan dulu... Tolong Vit... Sekali ini saja...!" Vita memohon dan matanya berkaca-kaca untuk mencari kelembutan di mata Vitto dan terus berusaha untuk memaksa masuk ke apartemen Vitto.
"Itu tidak akan merubah apapun, semua sudah berakhir sejak lama, jadi Mama terima saja apa yang sudah diputuskan, setidaknya biarkan Papa hidup dalam kebebasan tanpa Mama..! Sudahlah Ma, Vitto lelah, Vitto ingin istirahat, Mama pergi saja dari sini....!"
"Mama sudah berubah Vit.. Sudah berubah kenapa tidak mau memberi Mama kesempatan...??? Kau kenapa jahat sekali, kau dan Vino sama saja, kalian jahat sudah memperlakukan Mama sangat buruk...!!! Papamu pasti yang sudah mengajarimu bersikap seperti ini, iya kan???" Vita berteriak tepat di wajah Vitto dan masih terus berusaha mendorongnya agar dia bisa masuk.
Vita menyiapkan diri dan kekuatannya untuk mendorong tubuh Vitto, dan Vitto masih tetap berdiri dengan tagak, usaha Vita itu gagal dan dia tiba-tiba saja terpental ke belakang padahal Vitto tidak mendorongnya. Vita jatuh dan memekik cukup keras, berteriak kesakitan lalu menangis histeris.
"Vitto .... Kau jahat sekali mendorong Mama sampai jatuh... Kau itu lahir dari rahim Mama, bisa-bisanya kau bersikap seperti ini, semua orang itu pernah melakukan kesalahan dan ada saatnya dia bertaubat atas kesalahannya, Mama melakukannya sekarang tetapi kau menolak Mama, kau jahat Vitto... Auuuwww......!!!"
Vitto tentu saja mencela seraya mengernyit. Dia tahu Mamanya sengaja menjatuhkan dirinya sendiri. "Drama Queen....!" Ucap Vitto lalu dia memundurkan langkahnya, dan menutup pintu apartemennya dengan keras.
Vita berdiri dan menggedor pintu apartemen Vitto, berteriak agar Vitto membukanya sambil berpura-pura menangis. Tentu saja Vitto mengabaikannya dan membiarkan Mamanya diluar. Mario hanya berdiri diam memandang Vita yang terus berteriak memanggil Vitto. "Ibu jangan membuat keributan, lebih baik pergi dari sini....! Daripada tuan Vitto memanggil pihak keamanan...!" Ucap Mario.
Vita mengarahkan pandangannya yang tajam ke arah Mario, lalu melengis dan pergi meninggalkannya. Vita berjalan menuju lift dan diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
Vitto duduk di sofa, wajahnya terlihat kesal sekali. Lagi dan lagi mamanya membuat ulah. Tadi bahkan dia sudah ingin sekali membungkam mamanya dengan menunjukkan foto kemarin yang diterimanya ketika Mamanya menyambut Jason tetapi Vitto tahu bahwa dia tidak boleh melakukan itu, karena itu adalah senjatanya nanti.
__ADS_1
Ponsel Vitto berbunyi, Mario menghubunginya memberitahu jika Mamanya sudah meninggalkan apartemen. Vitto pun menyuruh Mario untuk turun juga, memastikan Mamanya masih disana atau benar-benar pergi. Mario menutup panggilannya dan setengah berlari menuju lift satunya lagi untuk turun dan melihat apakah Mama Vitto bertahan atau memilih pulang.
Vitto tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Mamanya tadi, bagaimana bisa Mamanya berpura-pura menjatuhkan diri dan berterak histeris seolah sudah di dorong, padahal Vitto sama sekali tidak mendorongnya. Mamanya juga merintih kesakitan padahal tentu itu tidaklah sakit. Vitto tidak mengerti apa yang sebenarnya Mamanya lakukan itu, dia benar-benar seperti ratu drama bahkan akting Mamanya itu melebihi seorang aktris. Vitto ingat bahwa dia harus segera menyelesaikan tugasnya untuk berkemas, malam ini harus selesai dan dia bisa pulang sehingga besok bisa membantu Rana pindahan. Dia besok akan meminta ijin makan siang diluar pada Vino, lalu menjemput Rana.