
"Kenapa??? Kok bahas Angel dan Reino???" Tanya Rana pada Vitto.
"Reino... Dia mengajukan gugatan hak asuh Naufal..."
"Hak asuh Naufal??? Kenapa???"
"Ya karena dia ingin merebut Naufal dari Arindah... Vino menghubungi pengacara untukembantu Arindah, dan ternyata Reino juga meminta bantuan pengacara yang terkenal... Reino tadi datang ke tempat Arindah bekerja hanya untuk mengejek Arindah, menyombongkan diri jika pasti dia akan memenangkan hak asuh Naufal karena dia sudah membayar mahal pengacara yang terkenal sangat jarang sekali kalah dalam persidangan..."
. "Lalu???" Tanya Rana lagi.
"Vino membayar orang untuk mengikuti Reino, jadi dia tahu jika Reino datang ke tempat kerja Arindah, Vino menyelamatkan Arindah dari Reino lalu mengajaknya pergi.. "
"Lalu ada apa dengan Angel di rutan??? Aku sama sekali bingung dengan pembicaraan mu tadi... "
"Vino dan Arindah pergi, tetapi setelah mereka pergi, anak buah Vino merekam Reino yang sedang mengangkat telepon, mengatakan jika besok dia akan datang ke rutan dan menemui si penelepon, dan Reino sempat bertanya apakah yang menelepon Angel, tidak tahun pasti tetapi seperti memang Angel.. Hanya saja apakah itu Angel si nenek gayung itu, atau Angel yang lain... Karena rutan yang di maksud adalah rutan yang sama dimana Angel saat ini berada... Aku menyuruh Vino untuk mencari orang yang punya kenalan penghuni rutan itu, untuk memastikan Angel siapa yang di temui Reino... "
__ADS_1
"Dan Vino takut ada sesuatu hal yang sedang di rencanakan Reino begitu???"
Vitto mengangguk. "Ya bisa kau bayangkan jika orang-orang seperti mereka berdua bertemu, apa yang akan di bahas jika bukan rencana yang mencurigakan, apalagi di panggilan itu ada nama Vino yang di sebut oleh Reino, sangat mencurigakan sekali... "
"Dan hal sama akan kalian lakukan seperti pada Mama dan juga Clara kemarin??? Aiisshshh kalian ini... Hmmm... "
Vitto tersenyum. "Segala kemungkinan bisa terjadi, dan kita tidak bisa percaya begitu saja, tidak ada salahnya kita berjaga-jaga... " Vitto mempererat pelukannya pada Rana. Dan mereka masih ingin di tempat ini sambil menunggu sore, baru setelah itu pulang.
★★★★
Arindah masuk ke kamar Vitto yang tadi malam dia temoati bersama Vino. Dia membawa setelan jas dan kemeja milik suaminya yang baru dia ambil dari kamar mereka. Vino masih mandi, dan Naufal sedang di atas tempat tidur, sudah rapi karena sejak pagi sebelum menyiapkan sarapan, Arindah sudah memandikan anaknya itu.
"Oh ya ampun, aku lupa mengambil dasi dan sepatu nya... " Gumam Arindah.
Vino keluar dari kamar mandi. "Pakaianmu ada di dalam, gantilah, aku akan mengambil dasi dan sepatumu d
__ADS_1
sebentar... " Ucap Arindah sambil mentoel pipi Vino lalu meninggalkan lelaki itu. Vino pun masuk ke ruang ganti yang ada di kamar Vitto kemudian memakai pakaiannya.
Tak lama, Arindah kembali, dan Vino sudah memakai celana nya juga kemeja nya tetapi belum menyusupkan kancing nya. Seindah dengan sigap membantu suami nya. "Kau sengaja ya???" Tanya Arindah.
Vino tersenyum. "Bolehlah aku sedikit manja dengan istriku... Lihatlah wajahmu, kau terlihat lelah sekali, aku bilang tidak perlu menyiapkan sarapan, biar itu di urus pelayan, aku membayar mereka untuk mengurus rumah dan menyiapkan makanan, tetapi kau yang aku jadikan istri justru merepotkan dirimu sendiri dengan menyiapkan sarapan... Besok-besok tidak usah ya??? Kau masih harus bekerja dan mengurus Naufal, gunakan tenaga mu untuk itu saja, jangan melakukan hal lain yang semakin merepotkan mulai..."
"Aku tidak kerepotan, itu bagian dari tanggung jawabku sebagai istrimu... Yups sudah selesai" Arindah selesai mengancingkan kemeja Vino. kemudian menyodorkan jas kelakuan itu dan memakaikan dasi lelaki itu.
"Tugasmu hanya mengurus Naufal, dan mengurus pasien mulai, serta melayaniku di ranjang dan di semua tempat ketika aku menginginkannya... Hanya itu saja.. Jangan lakukan yang lain... Aku tidak mau kau terlalu lelah...
Arindah melempar senyum. " Memasak dan menyiapkan makan untuk suami adalah kewajiban istri, jadi apa yang salah dengan hal itu???"
Vino mengecup bibir Arindah. "Baiklah memang tidak ada yang salah, aku hanya takut kau merasa kelelahan saja sayang... Kalau kelelahan kan jadi tidak bisa menggodaku.. "
"Vino....??? Kau ini nakal sekali... " Arindah mencubit pinggang Vino dan lelaki itu langsung memeluknya dengan gemas. Vino sudah mulai te rbiasa dengan Arindah. Memiliki istri ternyata sangat menyenangkan dan melengkapi kehidupannya. Arindah pandai dalam segala hal, hingga Vino mulai tidak bisa jauh dari Arindah.
__ADS_1