
"Itulah kenapa aku ingin meminta maaf padamu Ran??? Aku sangat menyesali apa yang dulu terjadi...!"
"Sudahlah Vin, jika kau ingin meminta maaf, minta maaf saja tetapi jangan gunakan embel-embel lainnya, Rana butuh waktu jadi biarkan dia beristirahat dulu...!" Sahut Vitto. "Lebih baik kau pulang, Papa pasti membutuhkanmu, Papa juga ingin kesini, kau bisa kembali lagi dengan Papa nanti, bukan bermaksud mengusir tetapi saat ini Rana sedang tidak dalam kondisi baik, beri dia waktu...!" Pinta Vitto lagi pada Vino.
"Tidak.... Aku tidak akan pulang, tidak masalah jika Rana belum memaafkanku sekarang tetapi bukan berarti aku bisa meninggalkan dia disini, Papa nanti akan di antar supir kesini, jadi aku tidak perlu menjemputnya. ..!"
"Terserah kau saja, susah jika harus berdebat dengan kepala batu sepertimu...! Kalau kau tidak mau pergi maka diamlah dan jangan mengganggu Rana....!" Ujar Vitto.
Vino diam dan memilih untuk duduk di sofa, sementara Rana juga melakukan hal yang sama. Dia berbaring dan tidak mau melihat ke arah Vino. Vitto duduk di sebelah Rana. Adiknya memang keras kepala dan egois, sama sekali tidak mau menghargai privasi Rana, padahal tahu bahwa Rana sama sekali tidak nyaman ada Vino disini. Tetapi Vitto sadar bahwa berdebat panjang dengan Vino hanya akan membuatnya emosi saja.
Sementara itu, Rana menatap nyalang langit-langit ruang perawatannya. Tangannya tampak mengusap lembut perutnya. Matanya berkaca-kaca, teringat dengan bayinya. Kemarin dia begitu bahagia dan itu terjadi di setiap harinya, segala keinginan serta berbagai hal yang ingin dia persiapkan jika bayinya itu lahir sudah memenuhi seluruh fantasi Rana. Sayangnya semua itu sudah berakhir. Begitu cepat semua lebahagiaannya itu berubah menjadi kehilangan yang menyesakkan dada. Lagi-lagi airmata Rana mengalir di pipinya, dunianya seperti berakhir begitu saja. Apa dan bagaimana semua itu bisa terjadi, Rana tidak tahu, makanan apa yang sebenarnya dia konsumsi sehingga bisa terjadi seperti ini, padahal semuanya adalah makanan yang biasa dia konsumsi.
Petugas mengantar sarapan untuk Rana. Vitto bergegas untuk membantu Rana bangun, agar Rana bisa sarapan dengan nyaman sehingga bisa segera pulih. Vino sebenarnya ingin membantu Rana juga tetapi dengan cepat Vitto menghalanginya.
Vitto menyeka air mata yang menetes di pipi Rana lalu tersenyum kepada perempuan itu, membantunya agar bisa duduk.
"Kau harus sarapan, agar kondisimu cepat pulih dan bisa segera pulang...!" Ucap Vitto pada Rana.
Rana mengangguk dengan sedih. Dia ingin segera pulih dan bisa segera datang ke makam bayinya. Dia belum sempat berpamitan dengan bayinya itu semalam. Rana juga cukup senang karena Vitto memakamkan bayinya di dekat makam kedua orang tuanya, memudahkan Rana untuk berziarah kesana.
Vitto tersenyum dan menyuapi Rana sedikit demi sedikit. Meskipun sebenarnya tidak napsu tetapi Rana mencoba memakannya. Ada semangat untuknya supay bisa segera sembuh.
Sementara itu Vino hanya diam memandangi Vitto yang sedang menyuapi Rana. Mereka terlihat begitu akrab sekali. Vino tidak tahu sedekat apa mereka selama ini srhingga Rana bisa begitu nyaman. Bagaimana pertemuan Rana dengan Vitto. Rana juga terlihat nyaman berada di dekat Vitto.
Di tengah lamunan Vino, suara ketukan pintu membuat Vino menoleh ke arah pintu berada, begitu juga dengan Vitto dan Rana. Perlahan pintu di buka dari luar. "Permisi... Boleh kami masuk???"
Senyum Vitto tersungging di bibirnya. "Cahya.... Masuklah...!" Vitto meletakkan piring yang di pegangnya ke atas meja lalu berdiri, menghampiri Cahya dan Aditya yang baru saja masuk.
"Pagi sekali sudah sampai disini??" Tanya Vitto sambil menyalami Aditya juga Cahya.
"Adit harus ke kantor, jadi aku sekalian memintantnya mengantar kesini...!"
"Terima kasih sudah datang...!" Ujar Vitto.
"Sejak semalam Cahya sangat mengkhawatirkan Rana, itulah kenapa aku harus bersiap pagi-pagi sekali dan mengantarnya kesini..!" Ucap Aditya.
Aditya dan Cahya saling melirik ke arah Vino. Lelaki itu ada disini, dan mereka berpikir mungkin hubungan Rana dan Vino sudah membaik. Aditya pun melempar senyumnya ke Vino dan menyalami rekanan bisnisnya itu. Vino menyambut uluran tangan Aditya dengan sopan, dia sebenarnya beberapa kali bertemu dengan Aditya untuk urusan bisnis, Vino sendiri juga sudah mendengar dari Vitto bahwa Aditya adalah teman baik dari kakaknya itu.
"Hai pak Vino... Senang sekali bisa bertemu anda lagi..." Ucap Aditya.
"Senang juga bisa bertemu anda, Vitto sering mengatakan jika anda adalah teman baiknya...! Terima kasih banyak sudah sering membantu keluarga kami, ku dengar kau juga yang meminjamkan pesawatmu untuk menjemput Papa..."
Aditya tersenyum. "Vitto meminta bantuan, sebagai teman aku juga harus membantunya jika aku bisa... Oh iya, kenalkan ini Cahya istriku...!"
Cahya tersenyum dan menyalami Vino. Vitto kemudian mempersilahkan Aditya dan Cahya untuk melihat Rana.
"Rana.. Bagaimana keadaanmu???" Tanya Cahya.
Rana memeluk Cahya dan menangis terisak. "Aku sudah kehilangan bayiku Ca....! Aku sudah kehilangan dia...!" Ujar Rana sambil terisak pilu.
Cahya terkejut dengan apa yang baru saja di katakan Rana. "Kehilangan??? Maksudnya???" Tanya Cahya bingung dan dia memandang ke arah Vitto.
"Kami belum mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi dan makanan apa yang di konsumsi oleh Rana, Jeany menemukannya pingsan di lantai dengan darah yang mengalir dari paaha nya, dokter mengatakan jika ada zat kimia berbahaya yang masuk ke tubuh Rana dan itu berakibat ke janinnya, janinnya tidak bisa diselamatkan, sudah tidak ada lagi detak jantungnya, jadi untuk pastinha, dokter memintaku membawa sampel makanan dari rumaah yang sekiranya di konsumsi oleh Rana...!" Jawab Vitto.
__ADS_1
"Ya Tuhan... Kenapa bisa seperti itu??? Lalu hasilmya bagaimana??? Apa yang di konsumsi oleh Rana???" Tanya Cahya.
"Hasilnya belum keluar, nanti siang baru keluar...!"
"Apa mungkin karena makanannya kadaluarsa???" Tanya Aditya.
"Entahlah, tetapi sepertinya Rana tidak mengkonsumsi makanan yang instan, dia memakan makanan yang dia oleh sendiri..."
"Lalu kira-kira apa ya??? Agak membingungkan tetapi itu pasti berbahaya sekali sampai langsung bisa berpengaruh pada Janin Rana....!"
Rana memeluk Cahya sambil terisak. Cahya pun mengusap punggung Rana dan menenangkannya, Cahya meminta Rana agar sabar dalam menghadapi musibah ini. Cahya tahu betul bagaimana rasanya kehilangan janin yang masih ada di dalam kandungan, karena dulu dia juga pernah merasakan hal yang sama, bahkan itu juga membuatnya depresi cukup berat selama berbulan-bulan. Sangat sulit menerima keadaan seperti itu, apalagi ini terlalu mendadak sekali. Tetapi pada akhirnya iklhas dan legowo akan membuat semuanya lebih baik.
"Sorry aku harus berpamitan, ada meeting di kantor" Ucap Aditya kemudian menyalami Vino dan Vitto. "Rana.... Kau harus sabar dan ikhlas ya?? Percaya bahwa Tuhan sangatlah menyayangimu dan bayimu, ini musibah, kau harus sabar...! Cahya akan disini untuk menemanimu, cepat sembuh dan ajari Cahya membuat berbagai kue enak seperti biasanya...! Aku permisi dulu...!"
"Thanks Dit....!" Ucap Rana.
Aditya pun meninggapkan ruang perawatan Rana. Cahya mengambil piring makan Rana dan mengambil alih posisi Vitto menyuapi Rana. Vitto pun memilih untuk ke kamar mandi, karena Cahya yang akan menemani Rana. Itu hal bagus agar Rana bisa merasa lebih baik. Sementara Vino kembali duduk di sofa lagi.
"Bagaimana keadaanmu??? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit atau bagaimana???" Tanya Cahya.
"Hanya nyeri di bekas jahitan...!"
Cahya tersenyum. "Kau hanya perlu beristirahat...!"
"Aku sedih dan masih tidak menyangka jika harus kehilangan bayiku....!"
"Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan, kau pasti tahu bahwa aku juga pernah kehilangan sepertimu, aku depresi berat karena terlalu berlebihan menyalahkan diriku sendiri, jika bukan karena orang-orang yang ada di sekitarku memberiku dukungan mungkin aku sudah gila... Tetapi terkadang kita melupakan satu hal yang penting ketika sedang menghadapi musibah ini, yaitu kita lupa bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah milik Tuhan, dia berhak mengambil dan memberi sesuatu yang dia mau kepada kita, tugas kita hanyalah menerima semua itu dengan baik dan hati yang ikhlas meskipun bisa jadi itu buruk bagi kita, tetapi baik menurut Tuhan, sekarang kau hanya harus bersabar, yakin dan percaya bahwa ada sesuatu yang baik sedang menantimu di depan sana...!" Ujar Cahya dengan bijak, berharao Rana tidak larut dalam kesedihan dan mengalami hal yang seperti dia alami dulu.
"Kau harus melanjutkan hidupmu Ran, Tuhan tidak akan pernah membiarkan hambanya menderita, yakin dan percaya bahwa suatu saat kau akan di anugerahi seseorang yang baik yang akan menjadi suamimu, dan kau bisa menjadi ibu lagi, bisa jadi kau akan memiliki bayi kembar sepertiku....! Tidak ada yang tidak mungkin...!" Ucap Cahya sambil memegang jemari Rana.
"Aku selalu berharap hidupku bahagia, aku sudah sangat lelah harus terus menderita seperti ini Ca....!"
"Selalu berpikirlah positif, pikiran yang positif akan membuatmu merasa lebih baik juga, setelah kau sembuh kau harus melakukan banyak hal yang bagus agar kau bisa melupakan segala kesedihanmu...!"
"Aku sedang berusaha ikhlas Ca meskipun aku benar-benar terpukul, aku juga tidak tahu apa yang aku makan bisa membuat aku kehilangan bayiku...!"
"Banyak hal yang bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa kita sadari, dan ke depannya kita harus lebih berhati-hati lagi...!" Gumam Cahya dan Rana mengangguk.
Vino berdiri dan mendekati Cahya dan Rana. "Kau juga pernah mengalami keguguran???" Tanya Vino pada Cahya.
Cahya menoleh ke arah Vino lalu mengangguk. "Ya, aku pernah mengalaminya, sekitar 4 tahun yang lalu..."
"Kalau boleh tahu apa penyebabnya???" Tanya Vino lagi.
"Tertusuk pisau, seseorang ingin menusuk Adit, aku melihatnya dan aku Menyingkirkan Adit dan pisau itu mengenai perutku...!"
"Astaga....! Siapa yang berani melakukan itu pada kalian???"
"Seseorang menjebak ku, dan aku di culik, saat itu Adit berhasil menemukanku dan berusaha membawaku pergi, tetapi kejadian itu terjadi, aku kehilangan bayiku, dan setelah mengetahui fakta itu aku menjadi diam, terus menyalahkan diriku sendir, bukan karena aku sudah menyamatkan suamiku dan mengorbankan diriku, tetapi lebih kepada aku tidak mematuhi Adit..!"
Vino mengernyit. "Tidak mematuhi??? Maksudnya????"
Cahya pun menceritakan pengalamannya yang sangat melnyakitkan itu, dimana dulu Aditya tidak pernah lelah meminta nya untuk berhati-hati terhadap banyak hal, selalu menyuruhnya langsung pulang setelah dari kantor. Tetapi hari itu Cahya tidak mematuhinya. Cahya menemui seseorang tanpa meminta ijin atau memberitahu Aditya, dan ternyata orang yang dia temui itu hanya ingin menjebak nya. Orang itu justru menculik Cahya. Lalu kejadian itu terjadi, dimana dia harus kehilangan Janin nya saat Aditya berhasil menemukannya dan ingin membawanya pergi dari tempat yang di gunakan untuk menyekapnya. Orang itu mengeluarkan pisau dan hendak menusuk Aditya dari belakang, tidak ingin terjadi sesuatu pada Aditya, Cahya akhirnya mendorong Aditya ke samping, lalu pisaunya justru menancao di perutnya yang sudah mulai membucit karena hamil. Cahya saat itu sangat merasa bersalah kepada suaminya dan keluarganya, rasa bersalah itu terus menggelayuti pikirannya dan Cahya sedikit depresi karena hal itu, syukurnya adalah suami dan keluarganya selalu ada bersama nya, begitu juga dengan sahabat-sahabatnya sehingga dia bisa melewati masa sulit itu.
__ADS_1
"Support system terbaik adalah orang terdekat... Rana saat ini sedang sangat membutuhkan itu, dan aku berharap kau jangan terlalu berlebihan Ran dalam memikirkan hal itu, jangan sampai mempengaruhi mentalmu... Kau mengerti itu kan???" Tanya Cahya dan Rana menganggukkan kepalanya.
★★★★
..
Hari sudah siang, Cahya masih berada di ruang perawatan Rana, Jeany juga sudah ada disana. Kehadiran Cahya dan Jeany membuat Rana senang karena mereka sedikit mengurangi kesedihannya. Jeany dan Cahya mengajak Rana mengobrolkan berbagai hal sehingga Rana bisa sedikit melupakan kesedihannya.
Sampai akhirnya, Dokter dan perawat masuk ke ruangan Rana. Vitto yang tadinya duduk di sofa berdiri begitu juga Vino, Cahya serta Jeany. Mereka mempersilahkan dokter dan perawat untuk memeriksa Rana.
Setelah memeriksa, dokter pun mulai menjelaskan keadaan Rana saat ini. Rana saat ini sudah dalam keadaan baik, dan hanya butuh istirahat untuk pemulihan pasca operasi. Kemudian dokter meminta berkas pemeriksaan Rana pada perawat yang ada di sebelahnya, membaca sebentar kemudian menatap Vitto dan yang lainnya bergantian.
"Kami sudah memeriksa sampel makanan yang kemarin bapak berikan, dan ada satu makanan yang mengandung zat berbahaya, zat itu jika di konsumsi berlebihan dan terus menerus akan mengakibatkan kelumpuhan secara bertahap..!" Ucap Dokter.
Sontak semua orang sangat terkejut dengan hal itu. "Mengakibatkan kelumpuhan???" Tanya Vitto.
"Iya pak, dan karena bu Rana hamil, efeknya pun langsung mengarah ke janin yang ada di kandungannya... Obat itu sebenarnya tidak bisa langsung bereaksi setelah di konsumsi, butuh berjam-jam sebenarnya tetapi mungkin karena bu Rana hamil jadi langsung bereaksi, kami juga harus memastikan apakah obat itu juga masih berdampak kepada bu Rana, kami takut itu masih berpengaruh nantinya, tetapi kami akan berusaha untuk mencegah hal itu dengan memeberikan beberapa obat lainnya...!"
"Tetapi bagaimana bisa ada zat seperti itu di dalam makanan!??" Tanya Vino.
"Bisa saja jika ada yang memasukkannya dengan sengaja atau tidak sengaja, banyak hal yang bisa terjadi, atau mungkin Bu Rana sendiri yang salah memasukkan itu pada makanan yang di konsumsi nya...!"
"Lalu zat itu ada di makanan yang mana dok???" Tanya Vitto.
"Dari 8 sample yang anda berikan, hanya ada satu makanan yang memiliki kandungan Zat itu, yaitu Pie Susu...!" Ucap Dokter itu.
"Pie Susu???" Tanya Vitto lagi dan Dokter mengangguk. "Kau membuat Pie susu kemarin??" Tanya Vitto pada Rana.
Rana terdiam sesaat. Dia ingat dia makan Pie susu yang di belikan oleh Vitto. "Aku tidak membuatnya, bukankah itu Pie susu yang kau belikan untukku???" Tanya Rana balik.
"Membeli Pie Susu??? Tidak... Aku tidak pernah membeli pie susu untukmu... Kau dapat darimana???" Tanya Vitto lagi.
"Mario, dia memberiku paperbag cokelat berisi Pie Susu itu, dia bilang dia menemukan itu di dalam mobilmu saat membersihkan mobil, dia lupa memberitahumu dan memberikannya kepadaku, aku pikir kau membelinya untukku jadi aku memakannya....!" Jawab Rana.
"Tidak... Aku tidak membelikanmu apapun kemarin...!" Gumam Vitto sambil mencoba mengingat sesuatu. Paperbag cokelat di mobilnya, paper bag apa, sedangkan kemarin dia sama sekali tidak membeli apapun untuk Rana.
"Itu artinya bodyguardmu yang ingin mencelakai Rana.... Kurang ajar dia, aku harus menyeretnya ke penjara, gara-gara dia aku dan Rana harus kehilangan bayi kami...! Aku akan menghubunhi polisi dan menyuruh menangkap Mario " Geram Vino kemudian mengambil ponselnya dan hendak menghubungi polisi.
Vitto merebut ponsel Vino membuat Vino marah. "Tunggu tunggu... Sepertinya aku mengingatnya...!" Gumam Vitto.
"Mengingatnya??? Apa yang kau ingat???" Tanya Vino dan mencoba merebut ponselnya dari tangan Vitto.
Vitto tersenyum miring. "Aku tahu paperbag itu, aku ingat semuanya, perempuan jallang itu.... Dia pasti yang sudah melakukan ini, tidak salah lagi... Pasti dia orangnya...!"
"Perempuan??? Perempuan siapa??? Tania maksudmu??" Sela Jeany.
Vitto menggeleng. "Tidak mungkin kedua bodyguardku melakukan itu, mereka tidak memiliki motif apapun untuk melukai Rana atau melukaiku...! Aku ingat sekali, kemarin seseorang sudah memberiku oleh-oleh saat di kantor....!" T
"Siapa Vit???" Tanya Cahya.
Vitto menatao tajam Vino. "Adikku pasti tahu siapa orang yang memberiku hadiah itu kemarin...! Kau pasti mengingatnya kan Vin???" Tanya Vitto.
Vino terdiam dan sedetik kemudian matanya terbelalak, dia ingat. "Angel...!" Gumamnya pelan.
__ADS_1