
Arindah menarik tangan Vino, mengajak lelaki itu keluar dari ruang tamu menuju halaman depan rumah. Arindah ingin mengajak Vino berbicara berdua dan tidak bisa di dengar oleh kedua orang tua nya. Arindah benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang di janjikan Vino pada Reino.
Arindah mengajak Vino ke halaman depan, tepat di depan mobil mereka yang terparkir disana. Arindah menatap Vino dengan tatapan tajam menuduh. "Bagaimana bisa kau mengatakan itu Vin??? Aku pikir tadi kau hanya ingin membuat Reino pergi, tetapi tadi kau mengatakan jika kau benar-benar mengajakku menikah... Kau sudah gila???" Tanya Arindah dengan penuh kekesalan pada Vino.
"Ya tadi kau sendiri bertanya kenapa aku mengatakan itu, dan bertanya bagaimana jika Reino mengetahui kalau kita hanya berpura-pura menikah??? Ya aku menjawab kalau begitu kita menikah saja agar Reino bungkam dan dia tidak akan mengganggu mu dan juga Naufal, memangnya ada yang salah dengan ucapanku????" Tanya Vino dengan mudahnya tanpa memperdulikan kemarahan Arindah.
Arindah memalingkah muka nya lalu kembali menatap wajah Vino kesal. "Kenapa kau seperti nya menganggap enteng ucapanmu tentang sebuah pernikahan??? Apa kau tidak berpikir bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan itu langsung berhubungan dengan Tuhan, lalu kenapa bisa dengan entengnya kau mengajakku menikah hanya karena Reino??? Kita tidak pernah memiliki hubungan apapun selama ini, lalu bagaimana bisa kita menikah begitu saja??? Apa kau pikir pernikahan itu adalah sebuah mainan???"
"Bukan begitu Ndah, aku hanya ingin menolongmu saja, tidak berniat mempermainkan pernikahan..."
"Jika kau tidak berniat mempermainkan sebuah pernikahan, lalu kenapa kau dengan mudahnya mengatakan bahwa kita harus menikah saja??? Kenapa juga kau harus mengatakan hal seperti itu pada Reino??? Aku tahu kau berniat membantuku tetapi kenapa harus seperti itu Vin??? Kau bisa mengatakan hal lain pada Reino, bukan malah seperti ini..."
"Mengatakan hal lain bagaimana??? Bukankah kau sendiri yang mengatakan pada Reino bahwa aku calon suami mu??? Aku berniat membantu mu malah kau menyalahkanku... Yang benar saja Ndah...! Aku laki-laki, aku bisa membaca kemana arah Reino sebenarnya, dia bukan laki-laki yang mudah menyerah, dia akan terus mengejarmu, dan tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, itulah kenapa aku harus membuatnya menyerah dengan mengiyakan perkataanmu tempo hari saat di hotel... Seharusnya kau berterima kasih kepadaku... Malah memarahiku..."
"Ya tapi bagaimana kita bisa menikah Vin???? Bagaimana??? Orang menikah itu harus saling mencintai, saling mengenal lebih jauh, lalu kita apa???? Kita baru bertemu setelah sekian lama, lalu tiba-tiba saja kau memutuskan kita harus menikah dalam dua minggu, kegilaan apa ini???" Ujar Arindah dengan suara sedikit meninggi.
Arindah menatap nanar wajah Vino. "Aku tidak mau nasibku seperti Rana, kau menikahi nya karena menjebaknya dan setelah menikah kau menyiksa nya, kau mengkhianati nya, kau menghancurkan hidupnya padahal kau tahu jika dia mencintai mu.. Lalu bagaimana denganku???? Aku tidak mencintaimu, apalagi dirimu kepadaku..?? Bisa-bisa nasibku akan lebih buruk daripada Rana.. Tidak Vin.... Hidupku sudah hancur karena Reino dan aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama dalam sebuah pernikahan, apalagi kau memiliki riwayat buruk terhadap mantan istrimu juga" Lanjutnya lagi.
"Kenapa kau membawa-bawa masalalu ku dengan Rana??? Apa kau pikir aku akan melakukan hal seperti itu lagi pada seorang perempuan??? Asal kau tahu Ndah, aku sudah berubah, aku tidak akan pernah menyakiti hati perempuan lagi, apalagi jika dia menjadi istriku... Yang berlalu itu biar saja berlalu, dulu aku melakukan itu karena aku masih di lingkupi dendam, tetapi setelah aku mengetahui segala kebenarannya, aku adalah orang yang paling menyesal di dunia ini, kau harus tahu itu.. Jadi jangan kau bandingkan apa yang terjadi saat ini dengan yang terjadi padaku dan Rana, itu berbeda keadaan... " Vino mempertegas ucapannya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Vin, tetapi lihatlah keadaannya sekarang??? Bagaimana bisa kau mengatakan akan menikahi ku dalam dua minggu??? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya... Ini adalah sesuatu yang besar dan tidak boleh sembarangan di permainkan..."
Vino terdiam menatap kemarahan, kebingungan dan kepanikan di wajah Arindah. Perempuan itu seperti menahan tangisnya tetapi dia juga terlihat bingung. Vino sangat mengerti apa yang saat ini sedang di rasakan oleh Arindah, tetapi mereka berdua sudah terjebak dalam kebohongan yang sebelumnya di buat oleh Arindah.
__ADS_1
Vino memegang bahu Arindah, membuat perempuan itu menatapnya. "Aku minta maaf Ndah..." Gumam Vino.
"Aku bingung Vin... Aku terjebak dengan kebohonganku sendiri.... Bagaimana ini??? Apa lebih baik aku mengungkapkan kebenarannya pada Reino saja... Mungkin dengan itu dia tidak akan bisa mengambil Naufal dariku... "
"Dia memang mungkin tidak akan mengambil Naufal darimu, tetapi masalahnya dia akan terus menganggumu sampai kau mau menerima nya kembali lagi padamu..."
Air mata Arindah mulai tumpah, dia terisak pedih, membuat Vino refleks memeluknya. Vino mengusap lembut punggung Arindah, dan perempuan itu menangis tersedu-sedu hingga terdengar suara isakan yang begitu pedih.
"Aku bingung Vin.... Kita tidak bisa menikah, dan aku juga tidak suka jika harus terus berurusan dengan Reino..."
"Sudahlah Ndah... Untuk sementara kita jangan membahas ini... Lebih baik kita berpikir dan mencari jalan keluar yang terbaik dulu.... Setidaknya Reino tidak mengganggumu lagi... Dan inilah yang aku takutkan, dia akan mengusikmu dan melakukan hal hal bodoh lagi, itulah kenapa aku menawarkan mu untuk di jaga bodyguard, agar hal semacam ini tidak terjadi... Sekarang tenanglah... Jernihkan pikiran dan kita cari jalan keluarnya..." Ucap Vino sambil terus mengusap punggung Arindah.
"Besok aku akan mengirim bodyguard kesini, yang akan berjaga di rumah, dan satu nya akan mengikutimu saat kau bekerja, jangan khawatir, aku akan mengirim bodyguard perempuan untukmu, biaya nya akan aku tanggung... Reino tidak akan pernah menyerah dan bisa saja dia akan melakukan hal yang lebih parah dari sebelumnya, karena dia masih belum menerima tentang ucapanmu yang mengatakan bahwa aku calon suamimu, jadi aku harap, kau harus bersiap dan harus ada yang menjaga mu... Sudah malam, aku harus pulang, aku minta tenangkan dulu dirimu, kita sama-sama cari jalan keluarnya nanti..."
Vino tersenyum. "Mereka hanya akan menjaga mu, kau bisa tenang... Aku akan beroamitan dengan Om dan Tante.. "
Arindah mengangguk dan mengajak Vino untuk masuk lagi ke dalam rumah. Apa yang di katakan Vino benar bahwa dia harus menenangkan diri dan mencari jalan keluar yang terbaik untuk menghadapi masalah ini.
****
Sementara itu, di tempat lain....
Vitto sedang berada di kamar mandi, sementara Rana memilih membongkar koper untuk mengambil pakaian ganti yang akan dia dan Vitto kenakan. Tadi mereka memilih beristirahat sebentar dengan duduk di kursi santai yang ada di samping koam renang sambil menghilangkan jetlag baru setelah itu mandi. Dan Vitto juga sudah memesan makanan agar di antar ke villa karena Rana sudah merasa lapar. Mereka akan memilih makan malam di bagian belakang villa sambil menikmati matahari terbenam.
__ADS_1
Rana membuka koper dan mengeluarkan pakaian miliknya dan juga milik Vitto. Mereka membawa 2 koper dan koper yang satu nya berisi pakaian yang akan mereka kenakan ketika di Swiss nanti, jadi Rana tidak membuka nya. Rana mencarikan pakaian untuk Vitto sepertin Tshirt dan juga celana lelaki itu.
Saat sedang mengangkat tumpukan pakaian Vitto dari dalam koper, tiba-tiba Rana menjatuhkan sesuatu ke lantai. Karena menimbulkan bunyi, Rana meletakkan pakaian itu di atas meja dan menunduk melihatapa yang tadi terjatuh. Ada sesuatu berwarna keemasan di lantai. Rana membungkuk dan mengambilnya. Ternyata itu seperti sebuah cokelat.
"Mystery?????" Gumam Rana sambil mengernyit. "Cokelat apa ini??? Aku baru pertama kali melihat cokelat bermerk Mystery??? Aneh... " Gumam Rana bingung.
"Sayang......!!!" Panggil Vitto yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang walk in closet dimana Rana berada disana.
Rana terlonjak, terkejut karena Vitto tiba-tiba masuk, hingga membuat cokelat yang di pegangnya terjatuh lagi. "Astaga kau mengejutkan ku saja... " Ucap Rana kemudian membungkuk dan mengambil cokelat itu.
"Apa yang kau ambil???" Tanya Vitto.
"Ah ini tadi aku menemukannya di koper..." Rana memperlihatkan cokelat itu pada Vitto karena yakin bahwa itu milik Vitto karena dia tidak merasa membawa cokelat itu. "Kau membawa cokelat??? Kenapa cuma satu???"
Vitto menunduk melihat apa yang di pegang istrinya, dengan cepat Vitto merebut kasar cokelat itu dari genggaman Rana, yang membuat perempuan itu juga terkejut atas apa yang baru saja di lakukan suami nya.
Rana mengernyit. "Kenapa kau merebutnya dengan kasar???" Tanya Rana dengan heran.
Vitto tersenyum. "Tidak apa-apa sayang...." Jawab Vitto cepat.
"Kau merebutnya??? Kau tidak mau berbagi denganku ya??? Tapi itu cokelat apa??? Aku tidak pernah menemukan cokelat yang seperti itu...???" Tanya Rana lagi.
Vitto terdiam. Dia bingung harus menjelaskan apa dan bagaimana harus menjelaskannya pada Rana tentang cokelat itu, yang sebenarnya bukanlah cokelat tetapi permen, permen pemberian Aditya kemarin.
__ADS_1