
"Baunya harum sekali....! Kau sedang membuat apa???" Rana tiba-tiba muncul dari belakang membuat Vitto yang sedang sibuk menumis terlonjak kaget.
Vitto menoleh. "Astaga Rana, kau mngejutkanku saja...."
Rana tersenyum, kemudian dia mendekati Vitto dan berdiri disamping lelaki itu, melihat apa yang sedang dikerjakannya. Vitto sedang menumis brokoli, jamur dan jagung. Meskipun tampak sederhana tetapi baunya sangat harum membuat perut Rana berdemo ingin segera diisi. "Baunya harum terlihat enak dan aku lapar....! Gumam Rana.
"Kau mau???" Tanya Vitto.
"Ya, aku sangat lapar sekali, tadi pagi aku hanya makan buah saja"
"Ya sudah, duduklah yang manis di kursi makan, sebentar lagi siap, kau mau jus delima???" Tanya Vitto.
Rana mengangguk, tetapi dia akan membuatnya sendiri sementara dia juga meminta Vitto agar menyelesaikan masakannya. Rana membuka kulkas mengambil buah delima merah yang cukup besar. Membukanya lalu memerasnya dengan alat khusus dan menampungnya di sebuah pitcer kaca.
Setelah matang, Vitto meletakkan tumisan buatannya ke sebuah piring lebar kemudian membanya ke meja makan. Vitto kembali lagi ke dapur dan mengisi mangkuk dengan nasi, sementara jus delima buatan Rana juga sudah siap. Mereka duduk bersama dan mulai mengambil makanan itu.
"Kita jadi ke dokter hari ini???" Tanya Rana sambil menuang jus delima dan menyodorkannya ke Vitto.
"Jadi, aku sudah mengatur janji dengan temanku yang menjadi dokter kandungan di sebuah rumah sakit, dia meminta kita datang jam 2, karena jam segitu prakternya sudah berakhir...!" Jawab Vitto.
Rana menggmerutkan dahinya. "Prakteknya sudah selesai kenapa kita malah kesana???"
__ADS_1
"Karena aku sengaja meminta waktu khusus agar kita tidak berbaur dengan banyak orang, habiskan makananya lalu bersiaplah, oh iya bawa pakaian ganti juga, aku akan mengajakmu keluar jalan-jalan dan kita akan menginap di villa temanku...!"
"Jalan-jalan???? Menginap di villa temanmu?? Maksudnya???"
Vino tersenyum. "Kau ingat pada temanku Aditya yang meminjamkan pesawatnya kemarin???" Tanya Vitto dan Rana mengangguk, tentu saja dia ingat karena Vitto pernah membahasnya.
"Aku ada urusan dengan Aditya dan Temannya, tetapi sayangnya Aditya tidak berada disini sekarang, dia ada di villanya bersama dengan keluarganya, dia memintaku kesana dan mengajakmu juga, jadi kau bisa berkenalan dengan istrinya juga kedua anak kembarnya yang pernah aku ceritakan padamu itu dan aku sudah menunjukkan foto mereka padamu kan???"
"Iya... Tapi bagaimana jika mereka bertanya tentangku???"
Vitto terkekeh. "Jangan khawatir, Aditya sudah tahu segalanya tentang dirimu, itu sebabnya dia memintaku membawamu agar kau tidak bosan disini dan bisa mengobrol dengan istrinya..! Privasiku privasimu akan aman, Aditya sangat mengerti itu...! Kau bersiap dan bawalah beberapa pakaian, aku juga akan bersiap...!"
Vitto dan Rana pun menikamati makan siang mereka. Seperti baunya yang begitu menggoda, rasanya juga sangat enak, membuat Rana sangat memuji masakan Vitto. Ditengah menikmati makan siang itu, Vitto menceritakan kepada Rana mengenai rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh Angel dan Jason. Bahwa keduanya ternyata adalah pasangan kekasih, kemudian mereka bekerja sama untuk memanfaatkan uang dari keluarganya. Angel memanfaatkan Vino sedangkan Jason sengaja melakukan semua itu pada Vania juga Mamanya. Jason memanfaatkan keadaan itu untuk menipu mereka berdua, dan Jason juga Angel bahkan dengan sengaja menjebak Vania dan Mamanya saat di hotel itu. Angel memberitahu Vania saat itu agar datang ke sebuah hotel dan memergoki Jason sedang bersama Mamanya di dalam kamar hotel. Vania merasa dikhianati dan akhirnya memilih jalan untuk bunuh diri. Dan selama ini Papanya menyimpan semua kebenaran itu, dia sudah lama tahu segalanya tetapi memilih diam saja.
Mendengar itu Rana mengernyit dan terlihat heran sekali. "Jika Papamu sudah tahu sejak lama, kenapa dia diam saja dan membiarkan Angel memanfaatkan Vino???"
"Papa ingin mengetahui sejauh apakah kebusukan dan kejahatan Angel saat menjalankan misinya untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari Vino, juga tidak akan mudah menyadarkan Vino mengenai hal itu tanpa bukti kuat, dan seperti diawal, butuh persiapan dan bukti kuat...! Aku dan Paa sedang merencanakan sesuatu untuk memergoki Angel di depan Vino, tetapi itu butuh waktu, karena persiapannya tidak main-main ini mengenai bisnis juga, ya Kita tunggu saja uodate dari Papa karena ini urusan perusahaan...!"
"Semakin rumit saja masalah ini....!" Gumam Rana.
Vitto kembali tersenyum dingin, dia menjelaskan kepada Rana bahwa itulah salah satu alasan kenapa sejak awal dia tidak menyukai Angel meskipun perempuan itu mencoba bersikap baik. Ya karena Vitto bisa melihat ada ssesuatu yang salah dengan Angel selama ini. Dan inilah buktinya sekarang, bahwa Angel memiliki rahasia kelam dan sangat berbahaya dibalik kecantikan yang dimilikinya. Siapa Angel dan bagaiamana asal usulnya, Vitto dan Papanya akan berusaha mencari tahu lebih detail lagi, berharap itu bisa mengungkapkan sesuatu dan alasan kenapa Angel tega melakukan semua kejahatan itu pada keluarga Prakarsa.
__ADS_1
Vitto juga menceritakan mengenai kedatangan Mamanya tadi. Kekacauan juga perdebatan serta permasalahan perceraian anatara Papanya dan Mamanya yang sudah mulai disiapkan. Dengan hal itu, Vitto berharap kehidupan Paoanya menjadi lebih baik lagi setelahnya. Papanya bisa bebas dan menikmati hidupnya dengan baik.
Rana hanya bisa diam mendengarkan semuanya. Dia seperti ymterjebak diantara segala permasalahan yang dialami oleh keluarga Vitto. Begitu rumit dan sangat membingungkan. Rana hanya tidak habis pikir seorang Vino yang selalu terlalu mendominasi setiap keadaan, selalu ingin menang sendiri dan keras kepala ternyata terlihat begitu bodoh karena lelaki itu tidajmk sadar sama sekali jika dia ditipu oleh Angel.
Vitto dan Rana selesai menikmati makan siang mereka. Rana masuk ke kamar setelah membersihkan piring dan gelas untuk segera bersiap dan berpacking karena Vitto akan membawanya pergi keluar. Rana senang sekali karena akhirnya bisa menghirup udara segar di luar kemudian bertemu dengan teman-teman Vitto. Meskipun meragu tetapi Rana mencoba yakin dengan perkataan Vitto mengenai temannya itu. Vitto mengatakan mereka adalah orang-orang yang baik dan pasti akan bisa menjaga privasinya.
Sekitar satu jam kemudian, Rana keluar dari kamarnya dan terlihat sudah cantik. Rana menenteng tas kecil berisi pakaiannya dan melihat itu, Vitto berdiri dari sofa dan merebut tas yang dipegang Rana dengan mengatakan bahwa Rana tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Mereka kemudian keluar dari apartemen dan tetap di ikuti oleh dua bodyguard mereka.
Vitto membuka pintu mobil dan menyurub Rana masuk. Kemudian kedua bodyguard mereka akan mengikuti di belakang menggunakan motor. Vitto pun mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir.
"Apa Mario dan Tania juga akan ikut kita Puncak???" Tanya Rana .
"Iya tentu saja, mereka akan ikut kesana, bagaimanapun kau harus selalu dalam pengawasan mereka, juga mereka akan mengawasi keadaan sekitar dimana kau sedang berada...!"
"Lalu apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan dengan temanmu itu, sepertinya penting sekali sampai kau harus datang menemuinya. ...???"
"Urusan pekerjaan, kau tinggal terima beres saja dan jangan banyak bertanya... Oh iya nanti kau jangan sungkan-sungkan berbicara dengan istri Aditya, dia sangat baik, kau bisa berteman dengannya nanti..... Aku sudah menjelaskan segalanya pada Aditya tentang apa yang terjadi padamu, aku minta maag untuk itu tetapi ku harap kau mengerti karena aku harus menjelaskan segalanya ketika Aditya bertanya tentang pesawatnya yang aku sewa itu dipakai untuk keperluan apa...! Ya, aku jelaskan segalanya padanya dan syukurnya dia sangat mengerti sekali keadaanmu, mereka irang yang sangat baik sekali, kuharao kau bisa akrab juga dengan istri serta anak Aditya...!"
Rana melempar senyumnya. "Dari ceritamu sepertinya mereka memang orang yang sangat baik, dan kau memanfaatkan kebaikan merema dengan menerima berbagai hal yang luar biasa, kau dipinjami pesawat dan sekarang kau akan menginap di villanya hahaha, kau dan aku sangat menyusahkannya sekali... Hahaha..." Rana tertawa.
Vitto juga ikut tertawa mendengar ucaoan Rana dan juga membenarkannya. Karena memang dia sangat merepotkan Aditya sekali.
__ADS_1