Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 311


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Gerbang di buka dari dalam dan mobil Vino memasuki halaman rumahnya. Dia dan Arindah sudah menjemput Naufal serta barang-barang milik Arindah. Ini adalah hari pertama Arindah dan Naufal akan menempati rumah baru dan tinggal di rumah Vino setelah menikah.


Memasuki halaman rumah Vino, Arindah tidak terlalu terkejut karena ini adalah rumah yang sama. dimana dulu dia sering bermain disini sepulang sekolah, karena berteman baik dengan Vino dan Vitto. Tidak terlalu banyak yang berubah dari rumah ini.


Supir menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Vino. Lekas turun dan membuka pintu mobil bagian belakang. Arindah keluar lebih dulu baru setelah itu membantu Naufal. Sedangkan Vino keluar dari pintu belakang sisi kanan. Vino lekas memerintahkan supir agar mengeluarkan seluruh koper yang ada di bagasi.


Vino menggending Naufal dan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Sambil menggendong Naufal, Vino juga menggandeng tangan Arindah. Belum sampai di depan pintu, ternyata pintu sudah di buka dari dalam oleh asisten rah tangga Vino yang langsung menyambut kedatangannya, juga ada Papa Vino yang duduk di kursi roda menyambut kedatangan, putra nya, serta menantu dan cucu nya.


Melihat ada Papa Vino, Arindah langsung membungkuk menyalami nya. "Selamat datang di rumah kami, semoga kau betah begitu juga dengan Naufal.... Papa sangat senang karena kau yang menjadi menantu Papa untuk Vino.." Ucap Papa Vino pada menantu nya.


Arindah tersenyum. "Arindah juga senang, bisa datang kesini lagi setelah sekian lama... Arindah pastikan akan betah tinggal disini begitu juga dengan Naufal... Arindah juga senang sekali bisa menjadi menantu Papa..." Ujar Arindah kemudian menyapa semua orang yang menyambut kedatangannya.


"Vin... Ajaklah istri dan anakmu ke kamar... Mereka pasti lelah.. Biarkan mereka beristirahat, dan kopernya nanti biar di bawa masuk oleh para pelayan.."


Vino mengangguk. Lalu menyuruh Naufal agar menyalami Papa nya dengan mengatakan bahwa nanti Naufal harus memanggil Papa nya dengan panggilan Opa. Naufal anak yang penurut sehingga ketika di suruh, dia dengan senang hati melakukannya. Setelah itu Vino mengajak Arindah dan Naufal masuk dan naik ke lantai dua, menuju kamar.


Sambil menggendong Naufal, Vino sampai di depan kamarnya dan membuka pintu. Kamar itu sangat luas dan rapi, dan semua terlihat khas laki-laki. Melihat itu, Arindah hanya bisa tersenyum, mungkin nanti dia akan sedikit merubah kamar ini agar tidak terkesan gentle dan lebih sedikit manis.


"Ayo masuk..." Ajak Vino.


Arindah mengangguk dan masuk ke kamar itu. Vino masih menggendong Naufal dan mengajak bocah itu ke sudut sisi kanan kamar itu, dimana disana terdapat deretan berbagai mainan, seperti mobil-mobilan, kereta, hingga berbagai robot. Vino sengaja menyiapkan semua itu untuk Naufal, sehingga Naufal bisa puas bermain nanti nya dan merasa betah tinggal di rumah.


Vino kemudian menurunkan Naufal ke lantai, lalu duduk berjongkik di depan bocah itu sambil tersenyum. "Semua mainan ini untuk Naufal yang menggemaskan ini, dan ini akan jadi kamar Naufal dan juga Mama sekarang... Naufa dan Mama akan tinggal disini bersama Uncle Vino dan juga Opa Andri.. Uncle Vino harap Naufal suka tinggal disini ya????" Tanya Vino.


mArindah mendekati kedua nya dan ikut Vino duduk berjongkok di depan Naufal. Arindah mengusap lembut pipi anaknya sambil tersenyum. "Naufal sayang????" Panggil Arindah yang langsung membuat putra nya itu menatap ke arahnya. "Naufal suka tidak dengan kamarnya???" Tanya Arindah dan Naufal mengangguk.


"Mainannya ini banyak, aku suka..." Jawabnya polos.


Arindah kembali tersenyum. "Good boy..." Puji Arindah. "Sekarang Mama ingin meminta sesuatu pada Naufal dan Naufal harus melakukannya.. Oke???" Arindah mengangkat kelingkingnya, ini sering dia lakukan dengan Naufal agar Naufal berjanji untuk melakukannya. Naufal pun membalas dan mendekatkan kelingkingnya, bertautan dengan kelingking Mama nya.


"Mulai sekarang, Naufal harus memanggil uncle Vino dengan panggilan PAPA... Karena Uncle Vino sekarang sudah menjadi Papa nya Naufal.... Mau???" Tanya Arindah lagi.


"Papa...????"


Arindah mengangguk. "Papa Vino...!"


"Papa Vino..." Naufal menirukan ucapan Arindah. Hal itu membuat Arindah mendaratkan kecupan di kening Naufal. Dan kembali memberi pengertian pada Naufal, bahwa putra nya itu harus memanggil Vino dengan panggilan Papa. Karena Vino adalah Papa Naufal sekarang. Dan Naufal sudah memiliki Papa saat ini. Mendengar itu, Vino tersenyum, dan merasa sangat bahagia sekali. Dia mengucapkan Terima kasih kepada Arindah karena sudah meminta hal itu dari Naufal. Sebenarnya Vino sudah ingin melakukannya tetapi dia belum memiliki keberanian dan takut pendekatannya dengan Naufal jadi gagal jika Naufal menolak untuk memanggilnya Papa. Akan tetapi Arindah berhasil melakukannya.


Beberapa pelayan membawa masuk koper milik Arindah ke dalam kamar. Vino pun menyuruh meletakkan di dekat tempat tidur dan nanti akan merapikannya sendiri bersama Arindah. Lalu menyuruh mereka keluar dan menyiapkan makan siang, karena dia dan Arindah belum sempat makan siang dan merasa lapar sekali. Pelayan kemudian pergi dari kamar Vino dan akan menyiapkan makan siang.


"Naufal sayang, kau bisa mengambil semua makanan ini dan bermain, Papa dan Mama akan membereskan pakaian di koper... Duduk manis dan bermainlah???" Ucap Vino, tanpa menunggu, Naufal mengambil beberapa mainan dan duduk di pantai yang diatasnya sudah di beri karpet bulu. Kemudian bermain. Arindah dan Vino meninggalkan Naufal yang sedang bermain dan akan langsung membereskan semua pakaian serta barang milik Arindah serta milik Naufal yang ada di koper.


Vino dan Arindah membawa koper ke dalam ruangan walk in closet milik Vino. Ruangan itu terlihat bersih, dan juga di lemari kaca yang panjang itu terlihat kosong semuai, tidak ada satupun pakaian yang tertata disana karena sepertinya Vino menyusahkan lemari itu untuknya. Di meja kaca yang ada di tengah ruangan itu ada barang milik Vino seperti jam tangan, ikat pinggang hingga gulungan dasi. Sebenarnya Vino sudah mengosontkan seluruh isi lemari dan memindahkan pakaiannya ke kamar lain yaitu kamar Vitto yang ada di rumah ini. Selain pakaian, Vino juga memindahkan seluruh sepatu nya, hanya saja dia belum sempat memindahkan barang yang ada di meja etalase tengah seperti jam tangan, dasi dan juga ikat pinggang serta beberapa dompet miliknya. Karena dia melarang para pelayan untuk melakukannya dan berniat melakukannya sendiri.

__ADS_1


"Yang ini kosong semua, kau sengaja mengosongkannya untukku ya???" Tanya Arindah sambil menunjuk ke arah lemari kaca.


Vino tersenyum. "Sebenarnya lemarinya kosong semua... Dan aku belum sempat memindahkan yang ada di meja etalase kaca itu..." Jawab Vino.


"Kosong semua????" Arindah mengernyit. "Kau tidak pernah menggunakan ruangan ini untuk menyimpan pakaianmu???" Tanya Arindah.


Vino menggeleng sambil tersenyum. "Aku kan sebelumnya sudah bilang bahwa aku akan memberikan kamarku untukmu dan Naufal lalu aku akan tidur di kamar lain, jadi seluruh pakaianku aku pindahkan ke kamar Vitto.."


"Hmmmm.... Sebegitu nya kau mempersiapkan semua nya tanpa bertanya padaku??? Lalu sekarang bagaimana???" Tanya Arindah. "Apa kau akan tetap berpisah kamar denganku??? Kau tidak mau tidur denganku??? Apa kau yakin akan melakukannya??? Bagaimana nanti jika di tengah malam atau sebelum tidur kau sedang menginginkan ku, atau aku sedang menginginkanmu dan kita harus bangun lalu berjalan untuk berpindah kamar????" Arindah mengangkat alisnya sambil tersenyum nakal. "Bagaimana??? Jika itu terjadi???"


Vino tertawa. "Mana aku tahu jika suasana akan seperti saat ini??? Aku kan hanya ingin memberi mu ruang untuk sementara sebelum nanti kita bisa benar-benar saling menerima satu sama lain, tetapi jika ternyata tadi malam kita sudah melakukannya dan benar-benar menjadi suami istri, artinya kita tidak akan berpisah kamar, dan aku akan membawa pakaian dan barangku kesini lagi... Tunggu disini dan bongkar kopernya, aku keluar sebentar..." Vino bergegas keluar meninggalkan Arindah sambil berlari. Arindah merasa bingung dan memanggil suami nya tetapi Vino sudah keluar dari kamar. Arindah pun hanya bisa tersenyum dan mulai membongkar kopernya serta mengeluarkan pakaian untuk kemudian menata nya di dalam lemari.


Beberapa saat kemudian, Vino kembali menghampiri Arindah dan ternyata Naufal juga berada di dalam ruang walk in closet itu, sedang duduk di lantai bermain mobil-mobilan.


"Kau dari mana??? Kenapa buru-buru tadi???" Tanya Arindah.


Vino tersipu dan mengatakan bahwa dia baru saja menyuruh pelayan agar memindahkan semua barang dan pakaiannya kembali ke kamar ini. Vino kemudian membantu sangat istri merapikan pakaian. Tidak butuh lama karena Arindah juga hanya membawa dia koper kecil pakaiannya dan juga pakaian Naufal. Sedangkan kebanyakan barangnya masih ada di rumahnya sendiri dan sisa nya ada di rumah kedua orang tua nya. Dan itu bisa di ambil kapan-kapan lagi.


Ketika seluruh pakaian sudah selesai di letakkan di dalam lemari. Vino dan Arindah memilih untuk menemani Naufal bermain sambil menunggu makan siang selesai di siapkan.


★★★★★


Sekitar setengah jam kemudian....


Pintu di buka dari dalam. "Eh Mas Vitto... " Sapa seorang pelayan.


"Pengantin baru nya sudah pulang ya???" Tanya Vitto.


"Oh sudah... Mari silakan masuk.. Saya panggilkan Tuan dan juga mas Vino..."


"Papa dimana???" Tanya Vitto lagi.


"Tuan ada di kamarnya, baru saja masuk... Saya akan panggilkan..."


Vitto dan Rana pun masuk ke dalam rumah. Sementara pelayan rumah Vino juga bergegas untuk memanggil Vino dan Arindah serta Papa nya. Vitto dan Rana duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Papa nya juga Vino dan Arindah.


Tak lama, pelayan itu kembali lagi menghampiri Vitto dan Rana, memberitahu jika Papa nya akan menemui mereka nanti karena saat ini sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Dan sekarang dia akan naik ke lantai dua untuk memanggil Vino. Vitto pun mempersilahkannya.


Di kamar, Vino sedang duduk memangku Naufal dan bermain robot. Arindah duduk menatap suami dan Anaknya dengan perasaan yang berbunga. Vino terlihat sangat menyayangi Naufal, dan entah kenapa Arindah sangat yakin jika Vino akan menjadi ayah yang baik untuk Naufal. suara ketukan pintubuat ketiga nya teralihkan danandang ke arah pintu, mendapati seorang pelayan berdiri disana.


"Ada apa??? Apa semua pakaianku sudah selesai?? Atau makanannya sudah siap???" Tanya Vino berdiri dan berjalan menghampiri pelayan nya.


"Oh bukan Mas, di bawah ada Mas Vitto dan Istrinua, ingin bertemu dengan Mas Vino dan Non Arindah..."


"Vitto dan Rana??? Baiklah, suruh mereka menunggu, aku akan turun menemui mereka..."

__ADS_1


"Baik Mas... " Pelayan itu pun pergi meninggalkan kamar Vino.


"Arindah...!!" Panggil Vino sambil menghampiri istrinya.


"Ya...???"


"Vitto dan Rana datang, kita turun temui mereka...." Ucap Vino.


"Mereka datang??? Iya.... Kita temui mereka..." Arindah pun berdiri dan mengajak Naufal untuk ikut turun bersama nya dan Vino sambil membawa mainannya. Akhirnya mereka bertiga turun untuk bertemu Vitto dan Rana.


"Kalian datang kenapa tidak menghubungiku???" Ucap Vino seraya menuruni tangga.


Mendengar itu, Vitto dan Rana mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Mendapati Vino dan Arindah turun bersama Naufal yang ada di gendongan Vino. Mereka menghampiri Vitto dan Rana lalu duduk di sofa. Sementara Arindah memeluk Rana dan mereka cipika cipiki.


Vitto melempar senyum. "Kami memutuskan untuk mampir, karena kebetulan kami dari bakery Rana untuk mengecek.."


"Sudah beres???" Tanya Vino.


"95% tinggal finishing dan juga etalase kue nya..." Jawab Vitto.


"Syukurlah.... Aku ikut senang... Sekali lagi aku minta maaf padamu Ran... Karena keegoisanku, kau jadi kehilangan tempat usahamu... Maafkan aku..." Ucap Vino.


"yang berlalu di lupakan saja... Aku juga sudah tidak memikirkannya..." Ucap Rana.


Sementara itu Naufal duduk di pangkuan Vino sambil memegang mainan nya. Dia sibuk bermain sendiri tetapi kemudian pandangannya tertuju pada halaman belakang rumah Vino, dimana disana terlihat ada kolam renang. Melihat itu, Naufal langsung turun dari pangkuan Vino dan menarik pergelangan tangan Arindah sambil merengek jika dia ingin ke halaman belakang dan bermain disana sekaligus berenang.


Vino pun meminta Arindah agar mengantar Naufal ke halaman belakang dan mengajak Rana juga, sehingga para perempuan bisa mengobrol dengan leluasa sesana perempuan. Arindah dan Rana setuju dan memilih ke halaman belakang bersama Naufal, membiarkan para lelaki mengobrol dengan urusan mereka.


"Kau sepertinya kompak sekali dengan Arindah... Senang melihatnya... Kau selama ini orang yang kamu tetapi sepertinya mulai terpengaruhi oleh Arindah... " Ujar Vitto.


Vino tersenyum. "Sekali-kali bolehlah..." Ja2ab Vino singkat.


"Maaf Mas..." Seorang pelayan menghampiri Vitto dan Vino. "Semua pakainas Vino sudah saya bereskan dari kamar Mas Vitto, dan sudah saya kembalikan ke kamar Mas Vino..." Lanjut pelayan itu, memberitahu Vino.


"Baguslah... Aku dan Arindah akan membereskannya sendiri nanti... Kau ke dapur dan bantulah menyiapkan makanan, aku sudah lapar sekali..."


"Baik Mas... " Pelayan itu meninggalkan ruang tamu.


"Mengembalikan pakaianmu ke kamarmu lagi????" Tanya Vitto. "Kau bilang kau ingin beda kamar dengan Arindah??? Kenapa di kembalikan lagi ke kamarmu??? Apa Arindah tidak mau tidur di kamarmu???" Tanya Vitto menelisik.


"Tidak... Bukan begitu Vit...."


"Lalu???" Tanya Vitto lagi.


"Eh sebenarnya....!!!" Vino tampak meragu.

__ADS_1


__ADS_2