Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 107


__ADS_3

"Bertahun-tahun aku menyimpan dendamku untuk orang yang tidak salah atas kematian adikku, tetapi kebenaran itu akhirnya aku ketahui juga.... Aku melakukan kesalahan besar dengan menghukumnya, itu akan selamanya menjadi penyesalan terbesarku, dan ternyata ibuku sendiri yang menjadi otak dari penyebab kematian Vania, ciiihhh...!" Vino meludah dan membuang muka, merasa jijik menatap Mamanya. "Kau melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang Ibu untuk anak-anaknya dan juga melupakan tugasmu sebagai seorang istri, kau tidak akan bisa seperti saat ini jika bukan Papa yang mengangkatmu, menjadikanmu istrinya, memberimu hak memakai nama besarnya, tetapi kau memang tidak tahu diri, rakus, tamak dan pengkhianat...." Ujar Vino.


"Kalian berdua keterlaluan sekali...! Mama datang untuk meminta maaf dan kalian justru mengingatkan lagi kesalahan-kesalahan Mama, sudah Mama katakan bahwa Mama datang untuk meminta maaf pada kalian, Mama tahu Mama salah tetapi kenapa kalian seperti ini? Mama menyesal dan ingin kembali lagi....!"


Mama Vino dan Vitto itupun terisak dan menangis, tentu saja itu hanya kepura-puraan saja untuk tetap memohon belas kasih dari kedua putranya itu. Bagaimanapun dia harus bisa kembali bersama mereka dan berusaha mengumpulkan lagi uang dari mereka. "Mama ingin kembali dan memperbaiki semuanya....!" Ujarnya lagi sambil terisak.


Vittk dan Vino saling berpandangan sementara Papa mereka hanya diam saja. Vitto tiba-tiba mengangguk kepada adiknya. Sementara Vino langsung mengambil ponsel dari saku celananya. Vino mencari nama seseorang kemudian menghubunginya. Dia menunggu panggilan teleponnya diangkat, hingga akhirnya di angkat juga.


"Halo pak Handika, saya Vino Prakarsa... Bisakah bapak datang ke kantor saya sekarang juga? Atau kalau tidak bisa, anda bisa mengirim anak buah anda kesini sekarang, karena ada yang harus kita bicarakan!" Ucap Vino.


"Jika boleh tahu, apa yang ingin anda bicarakan mas Vino???" Tanya pak Handika.


Vino tersenyum, kemudian melirik ke arah Mamanya. "Ini mengenai Papa saya yang ingin bercerai dengan Mama saya, dan kebetulan sekali Mama saya sedang ada disini, jadi saya pikir ini waktu yang tepat, mohon datang sekarang juga, saya tunggu dikantor...!" Ucap Vino lagi.


"Baik Pak, saya akan kesana sekarang, sekitar 45 menit saya akan sampai....! Kebetulan saya sedang ada di jalan...!"


"Oke baiklah saya tunggu...!" Vino menutup panggilannya.


Mama Vino langsung terperangah mendengar aa yang baru saja diucapkan oleh Vino. Putranya itu justru menghubungi pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan suaminya. Ini sama sekali tdak dia duga bahwa Vino akan melalukan itu.

__ADS_1


"Vino....!!! Kau bercanda kan dengannucapanmu itu??? Bagaimana bisa kau ingin memisahkan kedua orangtuamu??? Apa kau sudah tidak waras???" Wajah Vita berubah panik.


"Bukan aku yang memisahkan kedua orangtuaku, tapi tidak sadarkah bahwa Mama sendiri yang sudah memisahkan diri dari suami Mama dan juga dari anak-anak Mama....!"


"Tidak Vino.... Mama tidak mau bercerai dengan Papamu, Mama juga tidak mau berpisah dengan kalian, kenapa kalian seperti ini??? Mama sudah berniat kembali dan kalian justru melakukan ini....!". Vita melangkah mendekati suaminya dan duduk berjongkok di depannya. "Pa... Papa tidak akan menceraikan Mama kan??? Mama minta maaf Pa, dan tolong katakan pada Vino agar tidak melakukan ini, tolong maafkan Mama Pa....!" Vita memelas sambil menundukkan kepalanya sambil menangis.


Vitto kali ini terkekeh. "Sudahlah Ma, berhentilah berakting, dan biarkan aku saja yang pandai berakting, aku seorang aktor, dan Mama bukanlah aktris jadi akting Mama sangat buruk serta tidak cocok....! Tangisan dan airmata Mama tidak berguna sama sekali.... Itu tidak akan merubah apapun, Papa tetap akan menceraikanmu..!Keputusan itu sudah aku dan Vino setujui" Ucap Vitto mengejek.


Vita tidak mempedulikan perkataan Vitto dan tetap memohon kepada suaminya agar menolak keinginannitu dan kembali dengannya karena dia sangat menyesal sekali. Tentu saja itu hanya aktingnya saja, karena dia tidak mau rencananya harus gagal total karena perceraian ini. Semua sudah dia siapkan, dan jika dia diceraikan tentu dia tidak akan mendapatkan keinginannya untuk memanfaatkan Vino dan juga Vitto. Kedua putranya itu justru mempermalukannya dan tidak mau memaafkan kesalahannya sama sekali.


Papa Vino dan Vitto masih memilih diam dan tidak merespon atau mengatakan apapun. Kedua putranya sudah mengatakan semua yang ingin dikatakannya pada Vita. Dia juga bisa melihat kesedihan dan kekecewaan dari Vitto ataupun Vino. Kesakitan serta bebannya seolah menghilang begitu saja ketika kedua putranya mengungkapkan segalanya pada Ibunya. Memang benar, jika dia dan juga Vino serta Vitto bukanlah sebuah mainan yang bisa didatangi sesukanya ketika membutuhkan lalu akan dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja ketika tidak diperlukan.


Jika Vita meminta maaf tentu Papa Vino dan Vitto sudah memaafkan, tetapi untuk kembali tentu tidak akan pernah bisa. Begitu juga melupakan segalanya serta kenyataan yang ada juga bukan hal yang mudah. Dan saat ini dia juga tidak bisa memastikan apakah istrinya itu benar-benar tulus meminta maaf dan menyesali perbuatannya, atau semua itu hanya dijadikan tameng untuk rencana besar lainnya.


"Vitto sayang.... Vino sayang.... Jangan lakukan ini pada Mama...! Please jangan lakukan... Mama tidak mau lagi berpisah dengan kalian??? Mama menyesal...!" Vita kembali memasang wajah memelas.


"Memang apa lagi ang Mama inginkan??? Mama sudah bertahun-tahun hidup dengan brondong Mama, bahagialah bersamanya selamanya... Kami juga tidak pernah mengusik kalian kan selama ini???" Ujar Vino.


"Mama sudah berpisah dengannya dan Mama ingin kembali bersama kalian....!"

__ADS_1


Vitto tersenyum dan bertepuk tangan, lalu melangkah memutari Mamanya. "Berpisah??? Kenapa Mama berpisah dengannya??? Apa dia sudah mencampakkan Mama yang sudah tua ini??? Atau karena dia mengkhianati Mama dan berselingkuh dibelakang Mama???? Atau karena uang Mama sudah habis jadi dia mencampakkan Mama???" Tanya Vitto.


"Eehhmmmm.... Eh......!" Ucap Vita sambil berpikir jawaban apa yang harus dia katakan pada Vitto. "Ya itu... Karena itu.... Karena Mama ingin kembali bersama kalian, Mama sudab menyesali perbuatan Mama jadi Mama meninggalkannya....!" Jawabnya bohong lagi. "Please Vitto, Vino, Papa.... Jangan memberiku hukuman seperti ini???" Lanjut Vita lagi sambil menangkupkan kedua tangannya.


Vino dan Vitto kembali duduk di sofa sambil menunggu kedatangan pengacara keluarga mereka yang akan mereka mintai bantuan untuk mengurus perceraian Papanya dan Mamanya. Vino dan Vitto mengabaikan permintaan Mamanya dan justru memilih untuk bermain dengan ponsel mereka. Vitto teringat jika dia harus menghubungi temannya yang menjadi dokter kandungan bahwa dia akan datang mengantar Rana untuk berkonsultasi dengannya. Itu hal penting yang harus Vitto lakukan sekarang daripada mendengar dan mekihat drama dari Mamanya. Sedangkan Vino mengirim pesan pada pengacara itu agar segera datang.


Merasa tidak di pedulikan dan tidak di dengar. Vita merasa malu sekali dan dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan ini. Karena jika dia terus menunggu, tentu saja nanti dia akan semakin di permalukan lagi di depan pengacara yang tadi dihubungi oleh Vino. Dia harus pergj, dan memikirkan rencana lain agar perceraian ini tidak terjadi. Dia juga harus menghubungi Jason untuk berdiskusi tentang apa yang harus dilakukannya dalam situasi seperti ini. Vita melangkah untuk pergi keluar dari ruangan Vino.


"Mama....! Tunggu. ..." Panggil Vino dari belakang dengan suara lembut tidak terdengar menghina seperti tadi.


Vita berhenti dan tersenyum. Vino memanggilnya pasti untuk menahannya agar tidak pergi lalu mencabut niatnya untuk memisahkannya dari suaminya. Vita menoleh ke belakang. "Iya Vino...!" Jawabnya.


Vino tersenyum. "Mama mau pergi???" Tanya Vino.


"Iya... Untuk apa Mama disini jika kalian saja tidak mau menerima Mama....!" Ucao Vita.


"Ya sudah Mama pergi saja.... Kehadiran Mama disini hanya membuatku ingin muntah saja... Sudah pergilah sana dan jangan kembali lagi....!" Ucap Vino


Wajah Vita langsung berubah menjadi merah padam karena malu, dan Vino serta Vitto pun terkekeh melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2