
"Kita baru akan memulai mendekatkan mereka tetapi sepertinya Tuhan ingin melakukannya sendiri, dan tentu nya ini adalah hal yang bagus.... Aku berharap Arindah mau menerima ajakan Vino..." Ucap Vitto pada Rana.
"Tetapi, kau harus membahas ini dengan Vino, maksudku, mengenai ketakutan Arindah.. Kau harus berbicara dengan Vino, bertanya apakah dia benar-benar serius dengan ucapannya... Aku sangat mengerti apa yang saat ini di rasakan oleh Arindah..."
"Ya.... Aku akan menghubungi Vino sekarang..."
"Kita keluar, matahari nya sebentar lagi tenggelam, aku tidak mau melewatkannya, kau bisa berbicara dengan Vino disana!"
Vitto tersenyum dan beranjak dari sofa membawa minuman yang ada di dalam botol dan juga gelas, sedangkan Rana membawa camilan. Mereka pun keluar dari villa dan menuju beranda belakang untuk duduk dan menikmati sunset.
Sementara itu, di tempat lain, Vino duduk di kursi putar nya, menatap serius layar laptop nya. Setelah makan malam, Vino masuk ke ruang kerja nya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Vino terus berpikir apa keputusan yang akan di ambil oleh Arindah. Vino berharap Arindah menerima permintaannya, walaupun Vino sendiri tidak tahu nanti ke depannya akan seperti apa. Saat ini yang ada di pikirannya adalah membantu Arindah terhindar dari Reino. Itu saja. Dan mengenai mengenal Arindah lebih jauh atau akan bagaimana nantinya pernikahan itu, Vino belum terpukirkan sama sekali. Saat ini hatinya masih belum bisa menerima kehadiran orang baru, pengkhianatan Angel, dan pernikahan Rana bersama Vitto juga masih coba Vino Terima. Sehingga hatinya benar-benar masih belum bisa di tebak.
Vino terlonjak dari lamunan nya ketika ponselnya berbunyi dan dia mendapati nama kakaknya disana. Vino mengernyit dan tidak tahu kenapa kakaknya menelepon. "Pasti dia ingin menunjukkan kemesraan nya padaku... Dasar baj*ngan..." Gerutu Vino tetapi dia kemudian tetap mengangkatnya karena itu panggilan biasa bukan panggilan video. Jika panggilan video, Vino enggan untuk mengangkatnya. "Ada apa?????" Jawabnya ketus.
Vitto terkekeh, dia kemudian mengaktifkan speakernya, agar Rana jua bisa mendengar obrolannya dengan Vino. "Kau kenapa ketus seperti itu... Aku menghubungimu karena aku ingin tahu keadaanmu dan juga keadaan Papa..."
__ADS_1
"Kalau kau ingin tahu keadaan Papa, kau bisa menghubungi nya langsung, dan kau juga tidak perlu mengkhawatirkan keadaanmu, aku bukan anak kecil yang harus di khawatirkan setiap waktu... Tho the point saja, ada apa menghubungiku??? Jika hanya untuk memberitahu tentang apa yang kau lakukan sekarang dengan istrimu, lebih baik tutup saja panggilan ini.."
Vitto tergelak. "Hahaha kau kenapa sensi sekali....??? Belum juga aku mengatakan tujuanku menghunungimu untuk apa, kau justru bersikap ketus seperti itu... Ah iya, aku cuma ingin bilang bahwa aku baru saja berbicara dengan Arindah, dia sudah mengatakan segala nya padaku tentangmu dan juga tawaran mu.."
"Apaaa...???" Seru Vino.
"Kau terkejut kan???? Hahahaha..."
"Apa saja yang dia katakan???" Tanya Vino penasaran.
"Kau menyalahkanku???" Tanya Vino balik.
"Tidak...??? Aku tidak menyalahkanmu... Aku hanya ingin mengetahui apa sebenarnya yang kau pikirkan saat mengajak Arindah menikah...? Itu saja... Karena dari raut wajah dan suara nya tadi, aku bisa melihat kekhawatiran dan ketakutannya.. Itulah kenapa aku menghubungimu, aku ingin mendengar penjelasan dari sisimu, dan maybe aku bisa membantu menyelesaikan permasalahan kalian... Sekarang katakan??? Kenapa kau melakukan ini??? Bukankah ada banyak cara untuk membantu Arindah???"
Vino menghela napasnya. Mungkin lebih baik dia juga menceritakan pada Vitto. Walaupun terkadang kakaknya sangat menyebalkan, tetapi Vino tahu bahwa Vitto juga selalu punya sisi yang baik sebagai pendengar dan kadang juga nasehat Vitto ada benarnya.
__ADS_1
Vino pun menjelaskan segala nya mengenai alasannya ingin menikahi Arindah. Dimana dia hanya ingin menjaga Arindah dan Naufal. Dan Vino sangat berharap bahwa Arindah mau menerima tawarannya, sehingga Vino harus menggunakan kata taaruf sebagai salah satu cara membujuk Arindah. Vino sendiri tidak terlalu paham dengan kata itu, sejauh yang dia tahu taaruf adalah proses saling mengenal sebelum pernikahan, tetapi Vino mengatakan pada Arindah bahwa dia ingin lebih mengenal Arindah lebih jauh lagi tetapi setelah pernikahan.
"Itu hanya alasanku saja Vit, aku sendiri bingung harus menjawab bagaimana semisal kau bertanya apa aku serius dengan ucapanku pada Arindah untuk mengenalnya lebih jauh... Aku tidak tahu akan menjawab apa, karena jujur, aku sendiri masih belum ingin membuka hatiku untuk perempuan manapun... Bayangan Angel dan segala pengkhianatannya padaku masih terus mengganggu pikiranku... Membuat aku membenci perempuan.." Ucap Vino dengan suara yang terdengar frustasi.
"Dan inilah masalahnya Vin...! Kau menawarkan sesuatu pada seorang perempuan, ingin menjadikannya istri, tetapi hatimu masih tertaut dengan masalalu mu, lalu pernikahan seperti apa yang akan kau jalani dengan Arindah??? Kasihan dia...!" Ujar Vitto.
"Okay... I know kau ingin membantu nya, itu baik sekali, tetapi ingatlah, sebuah pernikahan tidak hanya mengucap janji di depan penghulu, tetapi juga di hadapan Tuhan... Tidak bisa kau sembarangan mempermainkan pernikahan, belajarlah dari apa yang terjadi padamu dan Rana dulu... Kau sudah rasakan bagaimana karma itu menghantam mu ketika kau mengkhianati sebuah janji yang kau ucapkan di depan Tuhan... Meskipun kau hanya mengatakan Saya Terima Nikah dan Kawinnya si A, tetapi di balik kata saya Terima, ada tumpukan janji dan tanggung jawab seorang suami pada istrinya, jadi jangan lagi berpikir untuk mempermainkan sebuah pernikahan..." Lanjut Vitto lagi.
"Aku tidak bermaksud mempermainkan sebuah pernikahan lagi... Kau pikir aku tidak waras???" Tanya Vino.
"Bukan begitu... Maksudku adalah jika kau ingin mengajak Arindah menikah, tutup dulu seluruh hatimu dari bayangan Angel, dan buka hatimu untuk Arindah, penuhi janjimu untuk mengenalnya lebih dekat lagi, jangan hanya sekedar janji tetapi kau tidak berniat melakukannya dan hanya berharap Arindah mau menyetujui ajakanmu...! Kalau kau melakukan itu, kau sama seperti dulu, kau menjebak seorang perempuan untuk mau menikah denganmu, tetapi kau tidak berniat untuk mencintai dan menerima nya menjadi bagian hidupmu... Wrong.... It's big wrong Vin... So wrong..." Ucap Vitto.
Dia kemudian melanjutkan lagi memberikan nasehat untuk adiknya. Vitto pun memberitahu Vino agar harus bisa memenuhi setiap janji yang di buat. Dan jika adiknya itu benar-benar ingin menikahi Arindah, maka Vino harus berusaha membuka diri dan jika memungkinkan untuk bisa mencintai Arindah. Karena itulah yang biasa nya di lakukan oleh orang yang melakukan taaruf setelah menikah. Mempercepat diri satu sama lain, mencoba menerima segala kekurangan dan membiarkan alur mengalir seperti air. Dan hal itu perlahan bisa menumbuhkan cinta satu sama lain. Lalu tidak akan pernah ada yang merasa tidak di hargai, atau di abaikan, karena mereka bisa mengerti dan menerima satu sama lain.
"Jika kau ingin menikahi perempuan??? Yakinkan dulu dirimu, pantaskan dirimu, yakin kau bisa menerima dan mencintai segala kelebihan dan kekurangannya, menghapus segala masalalu mu dan berfokus pada dia yang ingin kau jadikan istri... Jika kau mampu melakukan itu, aku yakin Tuhan akan menunjukkan kuasanya dan memberimu kebahagiaan yang tidak bisa kau ukur seberapa besarnya... Niatmu menolong Arindah sudah bagus, hanya sekarang kau tinggal membuka hati dan berusaha menerima nya.. Sampai saat ini, dia masih mencintaimu meskipun tidak sebesar dulu.. Cintai dan terimalah orang yang mencintaimu.. Arindah masih memiliki rasa itu.." Lanjut Vitto lagi, berharap Vino memikirkan baik-baik segala nasehatnya ini. Vitto juga ingin melihat Vino bahagia dengan perempuan yang tepat. Dan Arindah adalah perempuan yang tepat itu.
__ADS_1