
Melihat luka yang dialami Rana, Vitto lekas membawanya ke rumah sakit. Ini masih dini bari dan dia juga baru kembali dari lokasi syuting. Dia lelah sekali dan ingin pulang karena 2 hari ke depan dia mendapat cuti 2 hari sebelum nanti kembali sibuk syuting lagi. Saat tengah menguap dan sangat mengantuk, tetapi mencoba tetap fokus ke jalan, tetapi dia merasa terkejut sekali ketika tiba-tiba seorang perempuan muncul dari tepi jalan. Dan beruntungnya dia mengerem mobilnya tepat waktu sehingga tidak menabrak Rana.
Lalu bagaimana bisa Rana malam-malam sendirian dengan luka disekujur tubuhnya. Vitto bingung apa yang sebenarnya dialami oleh perempuan disampingnya itu. Rana masih tidak sadarkan diri, pakaiannya juga kotor, lusuh serta di penuhi dengan duri-duri. "Darimana dia sebenarnya?" Gumam Vitto.
"Vino....!" Gumam Rana dalam tidurnya.
Mendengar itu Vitto langsung menoleh dan mengernyit.
"Kau tidak akan bisa lagi menyakitiku... Aku sudah berhasil pergi dari rumahmu yang seperti neraka itu..." Lanjut Rana lagi masih dalam posisi tidak sadarkan diri.
Rana menyebut nama Vino dan bergumam bahwa Vino tidak akan bisa lagi menyakitinya. Mendengar itu Vitto terlihat bingung sekali, dan terkejut juga, Vino menyakiti Rana? Tapi untuk apa?
Dalam kebingungannya Vitto tidak mau terlalu memikirkan mungkin Rana hanya mengigau saja. Dan dia harus segera sampai ke rumah sakit.
Vitto semakin mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit, sangat berbahaya jika luka Rana dibiarkan terlalu lama. Karena hari masih pagi, dan matahari juga sudah mulai menampakkan diri, Vitto akhirnya sampai juga dirumah sakit dan langsung mengangkat Rana menuju ruang IGD, lalu membaringkannya dan meminta perawat dan dokter segera menanganinya.
Sementara menunggu Rana di tangani Vitto ke bagian pendaftaran untuk mengurus administrasi Rana meskipun dia tidak tahu data lengkapnya seperti apa dan hanya tahu namanya saja. Pikiran Vitto masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Rana dan juga adiknya. Entah kenapa Vito merasa tidak tenang setelah mendengar ucapan Rana dalam kondisi tidak sadar. Apakah benar bahwa Vino menyakiti Rana, lalu untuk apa, semua pertanyaan itu terus menggelayuti pikirannya membuatnya gusar.
"Ini pak mohon diisi...!" Petugas bagian administrasi itu memberikan sebuah kertas kepada Vitto.
Sementara Vitto diam dan melamun tidak memperhatikan apa yang diberikan oleh petugas itu. "Pak...." Petugas itu menepuk bahu Vitto membuat Vitto terhenyuk dan tersenyum lalu meminta maaf.
Vitto kemudian mengisi form untuk data Rana. Setelah selesai dia memberikannya pada petugas itu lagi. "Oh iya mbak, boleh saya berpesan sesuatu kepada Mbaknya atau pihak rumah sakit ini, tolong sekali agar informasi mengenai perawatan dan keberadaan teman saya ini jangan diberitahukan kepada siapapun selain saya, saya ingin menjaga privasi dan keamanannya karena saya pikir dia sedang dalam kondisi bahaya saat ini, saya tidak mau juga ada orang lain ada yang menjenguknya selain saya, bisa kan???" Tanya Vitto.
"Iya pak bisa, saya akan menandai itu di data ibu Rana sehingga petugas yang ada disini bisa tahu...!"
Vitto tersenyum. "Terima kasih....!"
"Sama-sama..."
Vitto kemudian kembali lagi ke ruang IGD untuk mengetahui keadaan Rana. Dia berharap Rana masih bisa diselamatkan. Dan ketika perempuan itu sadar dia bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Vitto sendiri masih sangat penasaran. Dia meminta privasi Rana dijaga selama dirawat disini adalah untuk menghindarkan Rana dari gangguan orang lain yang justru akan menghambat pemulihannya. Vitto juga tiba-tiba saja memiliki firasat buruk jika benar apa yang dikatakan oleh Rana tentang adiknya itu artinya Vino pasti aka mencari dan menyebar orang-orangnya untuk mencari dan menemukan Rana. Vitto sangat tahu bagaimana cara adiknya saat dia menangani orang-orang yang tidak disukainya. Dan itulah salah satu alasan Vitto harus merahasiakan serta menyembunyikan keberadaan Rana sementara waktu.
Sementara itu kehebohan sudah mulai terjadi di villa Vino. Pelayan dan penjaga dibuat bingung dengan hilangnya Rana. Mereka mencari keseluruh ruangan tanpa terkecuali dan tidak menemukannya. Sampai akhirnya mereka panik karena melihat tangga berdiri di tembok pembatas juga ada tetesan darah. Mereka memastikan bahwa Rana sudah kabur. Panik dan ketakutan itu yang terlihat diwajah mereka.
Hal seperti ini tidak bisa mereka sembunyikan dari Vino. Mau tidak mau mereka harus melaporkan semuanya kepada majikan mereka itu. Dan mereka juga harus bersiap dengan kemarahan serta dampratan dari Vino. Mereka juga tidak yakin apakah Vino masih akan mempertahankan mereka atau tidak.
Kemudian salah seorang dari penjaga gerbang menghubungi Vino, yang lainnya masih mencoba berkeliling mencari Rana lagi, takut Rana terjebak disebuah ruangan seperti sebelumnya.
Vino membuka matanya dan mendapati Angel memeluknya tampak mencari kehangatan. Ya, mereka berdua telanjan9 dibalik selimut setelah percintaan panas mereka semalam suntuk. Vino melampiadkan hasratnya yang tertahan setelah kemarin sempat memperkos* Rana. Vino mengerjapkan matanya, tersenyum dan memandangi kekasihnya yang cantik itu. Semua kerinduannya sudah terobati karena Angel sudah kembali. Dan dia juga bisa melanjutkan lagi menghukum Rana, karena Angel yang selalu bisa memberi ide gila kepadanya. Sayangnya Vino belum sempat memberitahu Rana agar tidak melaporkan pada Angel apa yang sudah dilakukannya kemarin. Siang nanti dia akan ke Villa dan akan memperingatkan Rana agar jangan berani-berani kepadanya.
Saat sedang memandangi Angel, ponsel Vino berdering, dia meranggapai ponsel yang ada di atas meja itu agar tidak mengganggu tidur Angel. Vino mengernyit menemukan nama penjaga gerbang villanya. "Ya.... Ada apa? Kenapa pagi-pagi sekali kau menghubungiku? Apa kau tidak punya sopan santun...!" Gumam Vino dengan suara pelan takut membangunkan Angel.
Penjaga itu menelan ludahnya, keringat dingin mulai keluar dari dahinya. Dia ketakutan setengah mati dengan apa yang ingin disampaikannya pada Vino. "Begini tuan....!" Suaranya terputus dan dia kembali menelan ludah nya. "Nona Rana sepertinya kabur, kami menemukan sebuah tangga di tembok pembatas juga ada bercak darah yang sepertinya milik nona Rana"
"Apa......?????!!!!!" Teriak Vino dengan suara keras yang langsung membhat Angel terlonjak dan bangun. "Bodoh.......! Bagaimana bisa dia menemukan tangga.....!!!"
"Kami lupa memasukkan tangga ke gudang kemarin setelah digunakan untuk mengecat!"
Mata Vino melotit dan wajahnya memerah penuh dengan kemarahan. "Ceroboh sekali kalian...... Dan kenapa bisa tidak mengunci kamar Rana semalam......! Aku akan kesana sekarang, dan aku akan memberi kalian semua pelajaran....! Bodoh dan tololl sekali kalian itu.....! Sekarang kalian pergi ke belakang Villa dan temukan jejak Rana kemana dia pergi, juga hubungi teman kalian yang lain minta bantuan mereka, semoga perempuan bodoh itu masih belum pergi terlalu jauh....!"
"Baik Tuan...!"
Ekspresi Vino sungguh dipenuhi kekesalan, kecewa dan marah sekali. Anak buahnya sama sekali tidak berguna, dan sangat ceroboh.
__ADS_1
"Apa yang terjadi???" Tanya Angel.
"Mereka semua memang tidak berguna..... Rana kabur menggunakan tangga, sepertinya dia nekat melewati tembok pembatas itu....! Mereka bodoh sekali dan bisa dengan mudahnya teledor dengan tugas mereka padahal baru aku tinggal semalam..... Shiiittt..... Shiiitttt..... Ku rasa kita harus segera kesana, untuk mengatasi keadaan ini, aku tidak ingin si bodoh itu membuat kegaduhan dan kita semua dalam masalah besar....!" Ujar Vino dan Angel mengangguk.
Mereka berdua mandi dan langsung menuju ke villa Vino. Sedangkan kedua pelayan serta kedua penjaga masih sibuk mencari keberadaan Rana. Mereka ada di bagian luar villa tepatnya di belakang dimana disana habya ada lahan kosong dengan semak belukar yang di penuhi oleh duri.
Ada semak belukar yang terbuka dan dahannya patah seperti ada sesuatu yang menimpanya sehingga membuatnya sedikit terbelah. Dan mereka juga menemukan ada darah serta jejak kaki. "Coba kau ikuti ini dan aku akan mencari sekitarnya..." Ucap seorang penjaga kepada temannya.
Mereka berdu akhirnya berpencar sementara kedua pelayan masih berjaga di villa berusaha menemukan Rana.
Cukup lama sekali Vitto menunggui Rana dan tidak sadar dia tertidur di kursi. Seorang perawat menepuk pundaknya membuat Vitto terlonjak. Lelaki itu berdiri dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ya sus...!" Vitto tersenyum. "Bagaimana keadaan teman saya???" Tanya Vitto.
"Nona Rana terluka hampir diseluruh bagian tubuhnya, kami sudah membersihkan semuanya agar tidak terjadi infeksi, dan dua akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap, kakinya juga sepertinya terkilir, kami memastikan bahwa dia mungkin melompat dari ketinggian, dan dokter ingin menemui anda, mari saya antar...!"
Vitto mengangguk dan mengikuti perawat itu dari belakang hingga dia dipersilahkan untuk menemui dokter diruangannya. Dokter kemudian mempersilahkan Vitto duduk dan meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi pada Rana kenapa Rana bisa sampai seperti itu. Karena selain luka akibat duri atau sobekan di kaki serta tangannya, dokter juga menemukan ada beberapa luka lebam di perut Rana seperti bekas pukulan.
"Jujur sebenarnya saya juga tidak tahu pastinya dok, saya menemukannya di tepi jalan tadi, saya pernah bertemu dengannya sekali itu sebabnya saya mengenalinya ketika menemukannya semalam dan langsung membawanya kesini..." Jawab Vitto.
Vitto tidak boleh memberitahu beberapa hal yang dia ketahui kepada dokter seperti tentang masalah Rana yang bergumam menyebut nama adiknya. Setelah ini Vitto akan mencaritahu sendiri perihal kebenaran itu.
"Ya jika begitu ceritanya sepertinya Ibu Rana sendiri yang mengetahuinya, setelah sadar kami akan menanyai hal itu..."
Vitto mengangguk. "Saya juga minta kepada pihak rumah sakit ini agar bisa menjaga privasi Rana dan tidak mengijinkan siapapun untuk bertemu dengannya selain saya, jangan ijinkan siapapun, karena saya takut Rana ada yang berniat jahat kepadanya...." Pinta Vitto.
"Baik pak, kami akan melindungi dengan baik privasi pasien kami, dan anda tidak perlu khawatir, kami selalu melaporkan kepada pasien dan keluarganya jika ada pergantian petugas jaga atau perawat, jadi kami pastikan semuanya aman...!"
"Terima kasih dok..."
Dikter itu tersenyum lalu mengangguk. "Nona Rana sedang dipindahkan ke ruang perawatan, anda bisa menungguinya disana..."
"Ini pak ruangannya mari masuk..." Ucap perawat itu.
Vitto memandangi Rana yang terbaring di ranjang rumah sakit, dan matanya masih terpejam. Sementara perban ada di mana-mana di kedua tangan serta kakinya juga bebrapa lainnya menempel di wajah manis perempuan itu. "Tolong beri waktu Ibu Rana untuk beristirahat karena dia sangat membutuhkan itu, jika sudah bangun beritahu kami, agar kami bisa memeriksa keadaannya lagi"
Vitto menganggum dan perawat itu kemudian meninggalkan Vitto di ruangan itu bersama Rana yang terbaring. Vitto sangat mengantuk dan butuh istirahat juga sebenarnya. Ada sebuah sofa panjang di ruangan ini dan dia langsung berbaring disana dan memejamkan matanya.
★★★★★
Vino dan Angel sampai di Villa dan mereka langsung keluar dari mobil. Vino tidak bisa menyembunyikan kemarahannya membuatnya langsung membanting pintu mobilnya dengan kasar. Mereka berdua masuk ke dalam villa, kedua pelayannya langsung menyambutnya, tetapi Vino langsung memarahi mereka berdua dengan berbagai umpatan mengungkapkan kemarahannya. Dia masih tidak menyangka kenapa mereka bisa teledor dan membiarkan tangga tergeletak begitu saja tanpa mengembalikannya ke gudang lagi. Semua itu sama saja memberi jalan untuk Rana bisa kabur.
"Bodoh.....! Dimana otak kalian hah.....! Aku sudah bilang untuk mengawasi dan menjaga Rana, dan bagaimana bisa kalian teledor seperti itu.....!"
Kedua pelayan itu hanya bisa menunduk dalam diam saja. Vino terus saja mengumpat mereka, dia sangat kecewa dan marah sekali. Pembalasannya pada Rana belum sepenuhnya dia jalankan dan perempuan itu saat ini justru sudah kabur.
"Tenanglah sayang....! Ayo kita lihat cctv lebih dulu....!" Ujar Angel.
"Kalau sampai Rana tidak ketemu, tunggu saja apa yang aku akan lakukan pada kalian.....! Dasar tidak berguna...!"
Vino meninggalkan kedua pelayannya dan berjalan menuju ruang kerjanya bersama Angel untuk melihat cctv memastikan apakah Rana benar-benar kabur atau tidak.
Sampai disana Vino langsung menyalakan perangkat komputernya dan mengecek rekaman cctv. Vino memulainya dengan melihat hasil rekaman cctv dikamar Rana sehingga nanti dia bisa lebih mudah mengecek ruangan lainnya di jam yang sama ketika Rana meninggalkan kamarnya. Dengan hati-hati Vino menarik mouse nya secara perlahan untuk mengetahuinya.
Sampai akhirnya Vino sudah tahu jam berapa Rana meninggalkan kamarnya. Terluhat jelas sebelum pergi, Rana berjalan mondar-mandir dan sesekali dia berhenti sejenak di depan jendela kamarnya. Hingga tibalah Rana perlahan membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Sementara Vino langsung beralih ke cctv yang ada di lorong rumahnya. Rana terlihat berjalan dengan hati-hati dan tampak memastikan keadaan disekitarnya. Satu persatu Vino membukanya dan benar saja Rana menaiki tangga itu berusaha naik ke atas tembok pembatas lalu dia melompat begitu saja keluar dari villa ini. Rana seperti lupa diri bahwa dia sudah dihalangi begitu kuat dan menahan kesakitannya.
"Shiiiiitttt..... Aku pikir dia bodoh ternyata dia cukup cerdik....." Umpat Vino lagi.
"Lalu sekarang bagaimana? Dia sudah kabur...! Timpal Angel.
"Kita harus menemukannya....! Bisa bahaya jika dia tidak kita temukan..... Kalaupun dia tutup mulut, kita akan tetap kesulitan untuk melanjutkan misi kita....!"
Angel mengangguk. Vino benar bahwa perginya Rana akan sangat menyulitkan misi mereka selanjutnya. Ini hal yang sama sekali tidak mereka berdua. Vino yakin jika tidak ada tangga itu ataupun jika saja kamar Rana dikunci hal seperti ini pasti tidak akan terjadi.
Beberapa jam berlalu, dan mereka masih belum menemukan Rana. Jejak Rana berupa tetesan darahnya juga sudah diikuti tetapi jejak itu hilang di tepi jalan. Yang mengartikan bahwa Rana mungkin sudah ditolong oleh seseorang. Vino mengernyit dan kemarahan semakin memuncak karena Rana berhasil kabur.
"Bagaimana kalau kita berpencar mencari nona Rana di rumah sakit, klinik atau fasilitas kesehatan, mungkin dia meminta bantuan seseorang dan dia dibawa untuk di obati...." Ucap salah seorang penjaga gerbang villa Vino memberi saran.
Vino dan Angel saling berpandangan. "Kurasa idenya bagus....!" Timpal Angel.
"Tetapi kita semua sekarang harus meninggalkan tempat ini, sementara, aku takut si bodoh itu melapor ke polisi" Gumam Vino. "Kita ke villa milikku lainnya jaraknya cukup jauh dari sini...! Sementara kirim teman-temanmu untuk mencari informasi keberadaan Rana dan lapirkan padaku, cari ke seluruh fasilitas kesehatan di kota ini dan sekitarnya sambil lihat jalanan, siapa tahu Rana ada....!"
"Baik tuan.....!"
Akhirnya semuanya bersiap begitu juga Vino serta Angel dan kedua pelayan. Mereka harus meninggalkan tempat ini tetapi tentu Vino masih menyuruh seseorang untuk mengawasi tempat ini dari jauh karena mungkin bisa jadi ada sesuatu yang terjadi disini.
***
Vitto terbangun dari tidurnya, dia masih bingung karena berada di suatu tempat yang asing, kemudian berusaha mengumpulkan ingatannya. Vitto ingat dan dia menoleh ke arah Rana yang masih terbaring dan perempuan itu belum sadar. Vitto mencium bau badannya dan dia terkekeh dia belum mandi, pakaiannya ada di dalam mobil, dia harus mengambilnya lalu mandi agar merasa segar. Rana juga belum sadar.
Saat hendak beranjak, sebuah ketukan mengalihkan Vitto. Perawat masuk membawa banyak suntikan untuk Rana. Kebetulan sekali, Vitto bisa pergi sebentar dan meminta perawat itu agar menjaga Rana sebentar saja untuk beberapa menit. Perawat itu pun mengangguk dan Vitto bergegas keluar untuk ke parkiran.
Vitto berjalan cepat dan sampai di mobilnya dia langsung mengambil pakaiannya. Ya, Vitto memang baru pulang dari lokasi syuting dan dia memang selalu membawa banyak pakaian jadi dia tidak kesulitan saat ini ketika merasa tidak nyaman dengan pakaian yang sudah digunakannya sejak semalam. Setelah mengambilnya, Vitto menutup pintu mobilnya dan bergegas kembali lagi ke ruang perawatan Rana.
Seorang pria memakai celana jeans berkaus hitam menghampiri meja resepsionis. Tak lama setelah itu Vitto juga masuk, langkah Vitto terhenti ketika mendengar seseorang yang berada di depan meja resepsionis menyebutkan nama Rana.
"Maaf mbak, apa disini ada pasien bernama Rana? Dia perempuan berkulit putih dan tidak terlalu tinggi, mungkin dia dirawat disini? Saya temannya....!" Tanya lelaki itu.
"Rana??? Dia mencari Rana???? Siapa dia???" Gumam Vitto dalam hati tetapi dia tetap berdiri dan terus memperhatikannya.
"Sebentar ya pak??? Saya cari dulu...!" Jawab resepsionist itu.
Resepsionist terlihat sibuk menatap layar komputer, hingga akhirnya dia berdir lagi dan mengatakan pada pria itu bahwa tidak ada pasien bernama Rana disini. Ya, resepsionist itu berbohong karena memang di data Rana sudah ada informasi bahwa tidak boleh mengatakan informasi keberadaan Rana disini. Mendengar itu Vitto tersenyum dan ketika pria yang mencari Rana itu hendak berbalik, Vitto langsung menghadap samping menghindari pria itu.
Setelah pria itu benar-benar pergi, Vitto langsung menuju meja resepsionist. "Thanks ya mbak, jangan ijinkan atau beritahu siapapun bahwa Rana dirawat disini, tidak boleh ada siapapun yang menjenguk dan menemui Rana kecuali saya...!" Ucap Vitto.
Resepsionist itu kemudian mengangguk. Dan Vitto bergegas ke kamar perawatan Rana lagi.
Saat sampai disana ternyata perawat sedang mengobrol dengan Rana yang sudah siuman. "Ah ini bapak yang saya maksud, beliau yang membawa anda kesini...!" Ucap perawat itu, kemudian dia mengucap permisi dan meninggalakan Rana dan Vitto. Sementara wajah Rana berubah menjadi ketakutan, dia tidak menyangka jika Vitto yang membawanya kesini. Rana takut jika Vitto nanti memberitahu keberadaannya kepada Vino, yang artinya usahanya kabur semalam akan menjadi sia-sia.
Vitto menghampiri Rana. "Bagaimana keadaanmu???" Tanya Vitto.
"Aku baik, sekali lagi terima kasih sudah menolongku...." Jawab Rana dengan suara pelan.
Vitto tersenyum. "Syukurlah.... Aku tadi sangat terkejut ketika kau tiba-tiba muncul dari dalam hutan.... Apa yang membuatmu ada disana? Dan bagaimana kau bisa mengalami hal mengerikan seperti ini???" Tanya Vitto.
Rana menggeleng dan diam tidak mau mengatakan semuanya pada Vitto takut lelaki itu hanya memancingnya saja. Vitto menatap Rana dalam-dalam seolah membaca ketakutan dari perempuan itu. "Kenapa menggeleng? Apa hal buruk terjadi padamu, eh sorry tadi tidak sengaja aku mendengarmu mengigau dan menyebut tentang Vino, bahwa Vino tidak akan menyakitimu karena kau berhasil kabur darinya... Apa Vino melakukan sesuatu padamu??? Katakan saja semuanya padaku, jangan takut aku tidak pernah membela orang yang berbuat salah, meskipun itu adikku atau keluargaku sendiri.... Aku sudah memastikan keamananmu disini, kau bisa tenang dan akan nyaman sampai kau benar-benar sembuh.... Ceritakan semuanya padaku....!"
__ADS_1
Rana masih diam tetapi dia melihat kesungguhan dari ucapan Vitto. Meskipun begitu, Rana meragu sekali jika harus menceritakan semuanya pada Vitto. Sangat takut jika Vino tiba-tiba datang kesini karena diberitahu oleh Vitto.
Vitto memandangi Rana, menunggu jawabannya tetapi ternyata Rana tidak mengatakan apapun. Vitto tersenyum menyadari bahwa perempuan itu sepertinya takut kepadanya. "Kau bisa pegang ucapanku, bahwa aku akan memastikan keamananmu disini, tidak akan ada yang bisa menemuimu selain aku, kau bisa tanya pada dokter dan perawat disini... Itu ku lakukan untuk memastikan keamananmu.... Tadi ada seorang pria yang datang mencarimu, tetapi karena aku sudah memastikan privasimu disini, resepsionis pun mengatakan kepada pria itu bahwa tidak ada pasien bernama Rana disini....! Katakan Rana apa yang sebenarnya terjadi...." Tanya Vitto lagi.