
Vino dan Arindah sampai di restoran hotel yang berada di tepi pantai. Vino langsung memesan makan siang untuk dirinya sendiri, sedangkan Arindah hanya memesan minuman dan es krim untuk Naufal. Vino memangku Naufal di atas paaha nya dan bocah itu tampak tenang dan sibuk bermain mobil-mobilan kecil yang ada di tangannya. Arindah hanya melempar senyumnya, Naufal memang mudah sekali dekat dengan seseorang meskipun baru pertama kali bertemu dan tidak pernah rewel. Itulah kenapa sejak tadi di gendongan Vino, Naufal terlihat nyaman dan tenang.
"Apa yang membuatmu memutuskan untuk datang kesini??? Sebelumnya kau menolak??" Tanya Arindah.
Vino melempar senyum. "Aku ingin datang saja.. Tidak ada alasan khusus... Aku hanya tidak ingin orang bergunjing tentangku dan Vitto, meskipun tahu bahwa mereka akan tetap bergunjing jika melihatku..!"
Arindah tertawa mendengar jawaban Vino. "Kau benar.. Hahaha apapun yang mau lakukan akan tetap salah di mata orang lain, jadi kau harus cuek... Mungkin jika Vitto bukan aktor, kehidupan kalian tidak akan di ekspos banyak orang... Hahaha tetapi senang melihatmu mau datang dan mengabaikan segala permasalahan yang terjadi..!"
"Aku juga tidak peduli dengan mulut mereka..!"
"Vitto pasti senang melihatmu datang kesini??"
Vino membuang muka. "Senang??? Dia baru saja mengusir ku, bagaimana dia senang dengan kedatanganku??"
Arindah terperanjat. "Vitto mengusir mu??? Kok bisa?? Kapan dia mengusir ku??" Tanya Arindah.
"Tadi, baru saja sebelum aku datang kesini... Aku datang ke villa, aku datang untuk mengucapkan selamat padanya dan juga Rana, tetapi dia malah mengusir ku.. Padahal aku ingin istirahat disana sampai acara nanti sore, dia memang breengsekk...!" Ucap Vino jengkel.
__ADS_1
Mendengar itu, Arindah tertawa terbahak-bahak. "Kenapa kau ke Villa??? Kau bisa memberi ucapan selamat nanti saat acara, kenapa juga kau harus datang kesana sebelum acara di mulai.. Astaga Vino, kau konyol sekali..!"
"Memangnya apa beda nya disana dengan di hotel??? Toh beberapa jam lagi acaranya di mulai.."
"Vino??? Villa itu selain di gunakan untuk acara resepsi di bagian belakang, juga di gunakan sebagai tempat Rana dan Vitto berbulan madu, setelah acara siang tadi, mereka memilih langsung ke villa untuk beristirahat dan mungkin mereka melakukan tugas mereka sebagai pengantin baru, tentu saja Vitto marah kepadamu, kau pasti akan mengganggu nya dan Rana yang sedang beristirahat..!"
"Eh tunggu-tunggu... Apa kau bilang tadi??? Vitto dan Rana ada di villa???" Tanya Vino dan Arindah mengangguk.
"Brengseeekk.... Jadi dia membohongiku...?" Ucap Vino dengan raut wajah kesal.
"Membohongimu??? Membohongi apa Vino??" Tanya Arindah.
"Kau ke hotel ini karena Vitto mengatakan jika ada Rana disini????" Arindah menggeleng-gelengkan kepala nya. "astaga Vino Vino... Memang apa yang ingin kau lakukan?? Sudahlah Vino, kau nanti juga akan bertemu Rana, jadi untuk apa kau ingin menemui nya disini..!"
"Aku masih belum bisa menerima jika Rana menjadi istri Vitto.." Ucap Vino.
"Lalu?.?? Apa yang ingin kau lakukan??? Fakta nya Rana sekarang sudah menjadi istri Vitto.. Kau ingin membuat masalah lagi??? Sudahlah Vino, masih banyak di luaran sana perempuan yang bisa kau jadikan kekasih dan istri, kau tampan dan memiliki segala nya, kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan, jadi biarkan saja Rana bahagia dengan Vitto.. " Lanjut Arindah lagi.
__ADS_1
Arindah juga berusaha menasehati Vino agar berhenti melakukan hal konyol yang justru akan semakin memperburuk hubungannya dengan Vitto. Lagi pula sudah tidak ada lagi harapan untuk Vino bisa memiliki Rana, karena Rana sudah menentukan pilihannya dengan menjadikan Vitto suami nya Saat ini itu tidak akan merubah keadaan. Karena semakin Vino berambisi usaha dengan Rana, itu hanya akan semakin membuat hati tidak tenang, dendam semakin menumpuk dan Vino akan selalu di lingkupi kemarahan. Jadi Arindah menyarankan agar Vino bisa mulai menerima keadaan yang saat ini terjadi. Membiarkan Rana dan Vitto bahagia.
Arindah juga sudah mendengar bahwa sejak Vino mengetahui hubungan Vitto dan Rana, Vino mendiamkan Papa nya sendiri karena merasa jika Papa nya tidak berbuat adil kepadanya dan terus mendukung Vitto. Arindah merasa miris dengan sikap yang di tunjukkan oleh Vino. Bagaimanapun Vino tidak boleh bersikap seperti itu kepada orang tua nya, apalagi Papa nya yang selama ini sudah menjaga nya dan Vitto. Dan kondisi Papa Vino juga sedang tidak sehat sehingga sangat memerlukan peran Vino dan juga Vitto untuk memastikan kesehatannya, bukan alah mendiamkan Papa nya. Mengingat Vino yang tinggal bersama Papa nya.
"Aku tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga kalian, tetapi alangkah baiknya kau harus bisa mengesampingkan ego mu Vin..?"
"Aku hanya kecewa saja dengan Papa, seharusnya dia tidak melakukan seperti itu, dengan membohongiku..! Aku kecewa..!"
Makanan pesanan Vino datang, begitu juga dengan minuman yang Arindah pesan serta es krim untuk Naufal. Arindah berdiri mengangkat Naufal agar duduk di kursi kosong yang ada di sebelahnya, supaya Vino bisa makan dengan nyaman.
Arindah menyuapi Naufal es krim vanilla yang menjadi kesukaan dari putranya itu. Naufal adalah penyemangat Arindah selama ini. Naufal sebagai kekuatan Arindah menjalani kehidupannya setelah perpisahannya dengan mantan suami nya dulu. Arindah tidak tahu bagaimana jika tidak ada Naufal, mungkin dia akan memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya. Masa itu begitu sulit hingga membuat Arindah trauma. Arindah sangat membenci perselingkuhan, dan dia tidak bisa memaafkan hal itu begitu saja. Bahkan Arindah merasa dia tidak ingin lagi untuk menikah. Dia ingin berfokus membesarkan Naufal sendiri.
Vino menikmati makan siangnya dengan lahap sambil memandangi Arindah yang sedang menyuapi Naufal. Vino bisa melihat berapa lembutnya Arindah dan perempuan itu terlihat sangat mencintai Naufal. Vino menyayangkan ada laki-laki yang bisa menyia-nyiakan Arindah, padahal Arindah adalah definisi perempuan dan istri yang sempurna. Tetapi malah di tinggalkan dan di selingkuhi. Arindah pasti telah melewati masa yang sulit saat itu, yang pada akhirnya membuatnya semakin bisa tegar dan kuat hanya untuk Naufal.
Melihat Arindah dan membayangkan penderitaannya, Vino jadi teringat dengan Rana. Nasib Arindah sama dengan Rana, dan mungkin Rana mengalami hal yang lebih menyakitkan daripada Arindah. Vino benar-benar merasa bersalah jika mengingat apa yang sudah di lakukan olehnya dulu pada Rana. Mungkin benar jika Rana mungkin mengalami trauma yang begitu berat sehingga menolak untuk bertemu dengannya. Tetapi Vino sendiri masih belum bisa menerima jika Rana menjadi istri Vitto.
"Ndah... Menurutmu apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mengikhlaskan Rana dengan Vitto??? Rasanya berat sekali untuk menerima itu..." Tanya Vino tiba-tiba.
__ADS_1
Arindah melihat ke arah Vino.m dan tersenyum. "Kau ingin tahu caranya??? Hanya ada satu Vin supaya kau bisa berfokus pada hal lain, kau harus cari pacar atau pasangan lagi yang mencintaimu dan kau juga harus mencintainya, maka perhatianmu akan teralihkan dengan hal itu, dan kau akan fokus dengan kekasihmu saja, bukan Rana..!"