Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 61


__ADS_3

Langkah Rana pelan, selain tidak ingin membuat keributan, suasana rumah juga sangat gelap sehingga Rana harus berhati-hati ketika menuruni tangga. Pelan tapi pasti, beberapa kali Rana sempat salah berpijak tetapi dia bisa menjaga keseimbangan karena berpegan pada pembatas tangga. Sampai akhirnya Rana sampai di bawah dengan selamat. Dia kemudian menuju sisi kanan dimana disana pintu penghubung dengan halaman belakang.


Rana masih berhati-hati dan dia berharap pintu kaca penghubung itu tidak dikunci. Rana membukanya pelan dan senyumnya mengembang karena tidak di kunci.


Setelah melewati keheningan di dalam rumah, Rana sampai juga di pohon palem dan meraba mencari tangga itu. Kakinya menyandung sesuatu yang tidak lain adalah tangga. Rana membungkuk dan mencoba menempatkan posisi tangga itu. Rana sudah memakai jaket dan celana jeans panjang agar saat terkena kawat berduri tidak terlalu parah. Rana sudah siap untuk beberapa hal yang akan menyakiti tubuhnya, setidaknya dia bias pergi dari neraka ini. Rana tahu konsekuensi besar yang harus dia hadapi yaitu cidera di tubuhnya. Apalagi tembok beton ini begitu tinggi, dia hanya bisa berharap bahwa Tuhan akan menjaganya dan melindunginya. Hanga ini satu-satunya jalan untuk bisa lepas dari cengkraman Vino.


Posisi sudah pas, Rana memejamkan mata berdoa meminta perlindungan Tuhan. Setelah itu dia mulai menaiki tangga yang ternyata tidak bisa mencapai batas tembok diatas. Rana harus berjuang untuk menggapai dan ketika telapak tangannya meraih batas itu, Rana memekik kesakitan karena tangannya menyentuh sesuatu yang tajam. Tentu saja tajam, selain kawat berduri disana juga ditancap pecahan kaca. Rana mencoba meraba mencari sisi yang kosong tetapi terlalu rapat pecahan-pecahan kaca itu.


Rana meringis karena tangannya mulai basah dan sudah pasti itu adalah darah. Sekali lagi dia tidak memiliki pilihan lainnya, ini sudah 50 persen dan jika ditunda lagi sudah pasti dia tidak akan lagi mendapat kesempatan seperti ini lagi. Rana terus memaksa dan menahan kesakitan.


Setelah bersusah payah, akhirnya Rana berhasil juga. Setelah tangannya, yang harus di hadapinya saat ini adalah kawat berduri. Dengan susah payah Rana mencoba berdiri, sendal yang di pakainya juga tidak luput tertusuk pecahan kaca, dia harus melompat dan berharap tidak mengalami cidera mengingat ini sangat tinggi. Rana menghitung dalam hati dan tidak berhenti berdoa agar Tuhan menyelamatkannya.


1..... 2..... 3......


Melompatlah Rana, dia tidak berpikir di bawah sana itu ada jurang, ataupun semak belukar, yang ada dalam pikirannya hanyalah bisa segera keluar.


aaaarrrgghhh.... Rana memekik dan kakinya merasakan bahwa dia mendarat di semak-semak. "Oh God.... Semoga tidak ada hewan berbahaya...!" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Bruuukkkk.....


Kaki Rana menapak dan dia tersungkur diantara semak-semak. "Auuuuwwwhhhh....." Rintihnya kesakitan.


Dia harus segera pergi dari tempat ini, takut ada ular atau hewan berbahaya lainnya. Rana mencoba berdiri tetapi


pergelangan kaki kirinya terasa sakit sekali. Rana tetap mencoba berdiri, dan menyeret kakinya. Dia sama sekali tidak mau merasakan kesakitan yang ada di seluruh tubuhnya, luka di kedua telapak tangannya, wajah juga kakinya.


Suasana sangat gelap, Rana sebenarnya sangat takut tetapi menjauh dari tempat ini harus semakin cepat dia lakukan. Pada akhirnya dia berhasil bebas dari semak-semak itu. Rana terus berjalan menyeret kaki kirinya yang terkilir dan melihat kanan kiri. Dalam gelap dia berharap bisa menemukan cahaya dari lampu, entah lampu kendaraan atau lampu dari rumah. Sayangnya dia tidak menemukannya. Yang ada di sekelilingnya ini sepertinya sebuah tanah kosong dengan berbagai tumbuhan liar.


Ketakutan mulai menggelayuti pikiran Rana, bukan ketakutan terhadap mahluk halus melainkan kepada hewan-hewan melata atau hewan buas. Sampai saat ini dia tidak tahu sedang berada dimana, dan Vino membawanya kemana.


Rana terus berjalan sampai akhirnya dia bisa melihat sebuah sungai dan ada bebatuan di sekitarnya. Rana kemudian duduk dan menyandarkan tubuhnya sejenak disebuah batu besar dan menghela napasnya panjang. Rasa syukur tidak berhenti dia panjatkan kepada Tuhan tetapi ini masih belum 100% karena perjalanannya masih panjang. Bagaimanapun caranya dia harus bisa mencari bantuan.


Sekitar 30 menit Rana beristirahat, dia kemudian berdiri lagi dan mendekat ke sungai untuk membasuh darah yang ada di seluruh tubuhnya seperti tangan, kaki dan wajahnya. "Semoga air sungai ini jernih dan tidak ada buaya ...!" Gumamnya.


Rana membasuh telapak tangannya dengan air sungai kemudian mencuci kakinya juga agar tidak terjadi infeksi di lukanya. Ketika luka itu terkena air, sudah pasti Rana meringis dan menahan rasa perihnya. "Aku tidak boleh menyerah.... Langkah besar sudah aku ambil dan sudah sejauh ini....!" Ucap Rana penuh keyakinan.

__ADS_1


Rana merasakan kemanakah aliran sungai ini, dia harus mengikutinya untuk bisa menemukan jalan. Dia pun mulai mengikuti aliran sungai itu dan masih berjalan terseyek-seyek.


Lama sekali, dna Rana tidak tahu ini sudah jam berapa, yang jelas dia sudah berjalan sangat jauh sekali tetapi masih belum ada tanda-tanda yang bisa membantunya. Rana mulai ketakutan lagi, takut dia justru terjebak. Mulut dan hatinya juga terus menyebut nama Tuhan dan meminta pertolingannya, karena tidak ada yang lebih hebat selain kuasa dan pertolongan Tuhan.


Hingga akhirnya senyum Rana mengembang ketika dia mulai mendengar ada suara kendaraan. Rana menoleh ke kanan, ke kiri untuk mencari sumber suara itu. Lelah sudah pasti dirasakan olehnya hanya saja dia tidak mau menyerah begitu saja. Entah sudah berapa lama dia berjalan, yang jelas ini sudah sangat larut sekali karena malam semakin gelap tetapi beruntungnya Rana terbantu oleh sinar dari bulan yang cukup terang. Langut malam ini seolah bersahabat padahal kemarin-kemarin setiap malam selalu hujan. Tuhan sepertinya mendengarkan doanya, yang ditunggu Rana saat ini hanyalah agar bisa mendapat pertolongan.


Suara kendaraan semakin jelas, dan Rana akhirnya bisa melihat lampu dari kendaraan yang lewat meskipun itu di jarak yang smcukup jauh. Senyum lebarnya menghiasi wajahnya. Rana semakin bersemangat. Semoga setelah ini kesakitan dan penderitaannya berakhir dan dia bis memulai hidup baru lagi setelah Vino menghancurkan semuanya. Pernikahan impiannya justru menjadi awal dari kehancuran hidupnya. Lelaki yang selama ini di cintai dan dibanggakannya justru melukainya dengan sengaja yang entah untuk apa tujuannya melakukan itu. Bagi Rana hatinya saat ini sudah tertutup dan dia akan berhenti mencintai lelaki itu. Tidak ada yang bisa diharapkannya dari Vino, dan dia juga sudah siap jika harus menyandang status perempuan yang sudah menikah, atau harus menandang status janda di usia muda. Daripada haarus hidup dengan laki-laki yang kejam juga tidak mencintainya, makan pilihan terbaik adalah pergi dari kehiduoan Vino selamanya.


Kaki Rana yang terkilir membuatnya tidak bisa berjalan dengan ceoat seperti biasa. Rasanya luar biasa sakit hanya saja Rana mengabaikannya dan ingin segera bertemu dengan orang dan meminta bantuan.


Usaha Rana akhirnya berhasil, dia semakin dekat dengan jalan raya, dan suara adzan subuh mulai terdengar dri kejauhan. Pertanda bahwa dia sudah menghabiskan semalam suntuk berjalan. Semua menjadi lambat adalah karena kakinya terkilir, jika tidak mungkin tengah malam tadi dia sudah bisa sampai sejauh ini.


Rana terus menyeret kakinya agar bisa segera sampai. Fajar juga mulai menunjukkan cahaya jingganya. Dengan penuh semangat dan tidak berhenti berdoa, akhirnya Rana sampai di tepi jalan raya. Tubuhnya sangat payah tetapi dia memilih untuk tidak menyerah. Hingga ketika sampai di tepi jalan Raya, Rana tidak bisa lagi menahan lelahnya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi klakson yang sangat kencang membuat Rana terkejut dan berteriak l. Setelah itu semua menjadi gelap.


"Astaga..." teriak pengemudi mobil itu, dia berhenti dan keluar mobilnya kemudian berlari dan melihat Rana sudah terkapar di pinggir jalan.


Lelaki itu langsung duduk berjingkok dan mengangkat kepala Rana. Betapa terkejutny dia mengetahuiii siappa perempuan yang hamppir ditabraknya itu. "Rana...???" Gumamnya....

__ADS_1


Vitto menepuk nepuk pipi Rana, kemudian mengangkatnya dan membawanyya masuk ke dalam mobil. Vitto melihat ada darah yng keluar dari taaangan kaki juga wajah Rana. Panik, Vitto harus langsung membawanya ke rumah sakit untuk menyelamatkannnya.


__ADS_2