
Keesokan hari nya.....
Vino turun dari kamarnya dan berjalan menuruni tanggan kemudian menuju ruang makan, dimana disana dia melihat Papa nya sedang duduk sendirian menikmati sarapan. Sejak dia tahu mengenai kabar pernikahan Rana, Vino tidak pernah lagi mengajak Papa nya bicara. Kecuali saat ada sesuatu yang mendesak di kantor, itupun hanya seperlu nya saja. Vino masih menyimpan kemarahan dan kekecewaan terhadap Papa nya yang selalu membela Vitto selama ini. Dan sekarang mau tidak mau, Vino harus melibatkan Papa nya untuk membahas rencana pernikahannya dengan Arindah, seperti melamar Arindah hingga nanti ke acara pernikahan. Mengingat dia masih memiliki orang tua dan dia tetap wajib untuk melibatkan Papa nya, apalagi mengenai lamaran untuk Arindah dimana peran Papa nya juga sangat penting dan juga Papa nya mengenal orang tua Arindah. Karena tidak mungkin jika dia melamar Arindah sendiri, lalu tiba-tiba orang tua Arindah menanyakan keberadaan Papa nya. Itu akan jadi masalah besar nanti nya.
"Pagi Vin....!" Sapa Papa nya.
Vino menarik kursi makan dan duduk. "Pagi...!!" Jawab Vino singkat dan langsung mengambil selembar roti panggang dan menuangkan sirup maple di atas nya. "Pagi ini ada meeting dengan Nj Corp, bisakah Papa mengurusnya??? Aku tidak bisa ke kantor pagi ini, ada urusan mendesak, siang baru akan kembali...!" Ucap Vino pada Papa nya.
"Bisa... Kau tenang saja, Papa akan menghandle nya..."
"Baiklah...!" Gumam Vino.
"Memangnya kau mau kemana???" Tanya Papa Vino.
"Aku ada janji dengan Arindah, mau menemui orang tua nya... Oh iya, jika nanti sudah mendapat persetujuan, aku ingin besok Papa menemani ku ke rumah Arindah, aku ingin melamarnya..."
__ADS_1
Papa Vino yang sedang meminun teh pun langsung tersedak dan batuk-batuk setelah mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh putra nya. Dia pun mengambil air dan meminumnya. "Apa....!!!!???? Kau ingin melamar Arindah???" Seru nya dengan perasaan yang enggan percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Vino menganggukkan kepala nya. "Ya....! Aku ingin melamar lalu menikah dengan Arindah..." Jawab Vino dengan santai nya.
"Kau serius???" Tanya Papa Vino lagi.
"Memangnya Papa melihat bahwa aku sedang bercanda???"
"Papa masih tidak mengerti bagaimana bisa kau mengambil keputusan secepat ini??? Kapan kau berhubungan dengan Arindah??? Apa ini ada hubungannya dengan masalahmu di hotel kemarin???"
"Tidak...!" Jawab Vino singkat.
"Aku sudah dewasa Pa, jadi apa salahnya aku mengambil keputusan ini???"
"Iya Papa tahu... Tetapi bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi, karena selama ini Papa tidak melihatmu sedang menjalin hubungan dengan siapapun selain Angel.. Atau kau mengambil keputusan ini karena kakakmu menikah dengan Rana??? Vin... Jika alasannya itu, Papa tidak setuju, apa kau akan mempermainkan seorang perempuan lagi hanya untuk membalas dendam atau memenuhi keegoisan mu itu??? Tidak Vin... Papa tidak akan setuju.. Tidak bisakah kau bersikap lebih dewasa dan belajar dari apa yang dulu sudah terjadi??? Jangan pernah mempermainkan sebuah pernikahan dan juga hati perempuan..."
__ADS_1
Vino menatap Papa nya, meletakkan garpu dan pisau yang di pegangnya. "Sekali lagi Papa sudah menunjukkan sikap buruk Papa dengan tidak mempercayaiku dan selalu meragukanku.. Ya, aku memang pernah melakukan kesalahan dengan menyakiti mantan istriku, memperlakukan nya buruk, membalaskan dendamku, mempermainkan pernikahanku... Tetapi tidak selama nya aku akan bersikap seperti itu... Sampai kapan Papa akan berhenti mendikte ku dengan pemikiran Papa yang selalu buruk kepadaku??? Sampai kapan??? Apa yang kurang dariku selama ini??? Aku sudah menjalankan semua keinginan Papa, mengurus perusahaan dengan baik, tetapi Papa selalu saja meragukan setiap keputusan yang aku ambil..."
"Vin... Bukan seperti itu... Papa sama sekali tidak pernah meragukanmu, kau adalah putra kebanggaan Papa, Papa sangat menghargai semua keputusanmu, hanya saja yang ini benar-benar membuat Papa terkejut... Dan Papa ingin tahu alasanmu atau ceritamu bagaimana bisa ingin menikahi Arindah??? Karena kau sudah lama juga tdak bertemu dengannya, kalian lost contact, dan Papa dengar kau baru bertemu Arindah juga saat di pernikahan Vitto... Wajarkan jika Papa bertanya padamu?? Apalagi ini masalah tentang pernikahan.."
"Tidak penting bagaimana aku memutuskan ini, yang jelas aku dan Arindah sudah sepakat untuk menikah... Aku juga sudah menceritakan ini pada Vitto, dan dia juga sudah memberiku nasehat serta saran, jadi Papa tidak perlu mengkhawatirkan apapun... Sekarang pertanyaannya adalah Papa mau mengantarku atau tidak ke rumah Arindah? ? jika tidak mau, aku akan pergi sendiri..!" Vino beranjak dari tempat duduknya dan meminum jus nya lalu pergi begitu saja meninggalkan Papa nya di ruang makan.
Vino pergi dengan perasaan cukup kesal dan marah kepada Papa nya. Niat baiknya justru di ragukan lagi. Dia benar-benar merasa tidak di hargai. Kecewa, itulah yang Vino rasakan saat ini.
★★★
Vino saat ini sedang menuju rumah Arindah. Agenda nya kali ini adalah untuk berbicara dan menjelaskan semua nya kepada orang tua Arindah. Semalam dia sudah membahas beberapa hal dengan perempuan itu, terutama mengenai ijin dari orang tua nya. Arindah dan Vino mencoba bersama-sama mencari alasan yang kuat untuk meyakinkan mereka agar bisa mendapatkan restu, mengingat pernikahan ini terjadi karena hal yang tidak terduga. Serta akan di lakukan dalam waktu yang cepat.
Semalaman Vino tidak bisa tidur, memikirkan berbagai hal tentang persiapan apa ssaja yang harus di lakukannya. Dan jika usahanya dan Arindah berhasil meyakinkan orang tua nya, Vino akan langsung mengurus pendaftaran pernikahannya lalu hal yang lainnya juga.
Vino tidak tahu kenapa dia begitu antusias dengan pernikahan ini. Seolah alasan untuk menolong Arindah itu hanyalah sebuah alasan tanpa arti apapun, melainkan ada hal yang tidak bisa Vino gambarkan yang membuatnya merasa bahagia sekali. Selain itu, bayangan dulu Arindah pernah mencintai nya juga membuatnya merasa teduh dan menyesal karena terlambat mengetahui itu. Andai saja dia tidak mengenal Angel, dan dulu mengetahui perasaan Arindah, tentu cerita nya akan sangat berbeda. Yang pertama, dia tidak akan kehilangan adiknya yaitu Vania, yang kedua mungkin keluarga nya tidak akan hancur dan tercerai berai, dan dia juga tidak akan kehilangan banyak hal dan juga materi akibat ulah Angel, serta tidak akan juga menikahi Rana dan menyakiti perempuan itu. Begitu banyak hal yang sudah hancur dan hilang karena kebodohannya selama ini yang mencintai Angel. Hancur hati dan juga hancur segala nya.
__ADS_1
Dan Vino juga sudah mendapatkan kabar dari pengacara nya mengenai kelanjutan kasus Angel dan keluarga nya, dimana ternyata sebentar persidangan mereka akan di mulai. Dan dia tentu akan di minta untuk menjadi saksi nanti nya. Vino harus siap dan Angel, Jason serta Mama mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka.
Vino membelokkan mobilnya, memasuki perumahan tempat Arindah tinggal. Vino menghela napasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Oh God... Please kali ini beri kelancaran untukku dan Arindah... Supaya kami bisa meyakinkan orang tua nya.... Setelah itu lancarkan segala persiapannya, dan beri aku kekuatan dan kemudahan untuk bisa menjadi suami yang baik untuk Arindah.. Bisa menerima nya dan mencintai nya... Sudah cukup aku menjadi bodoh kemarin dengan menyakiti istriku, please jangan jadikan aku suami yang bodoh untuk kedua kali nya....." Gumam Vino dalam hati.