Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 326


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Arindah membereskan semuanya dan mencuci piring yang tadi dia dan Vino gunakan. Naufal masih tertidur dengan sangat pulas diatas sofa. Vino menggeser meja dan mendorong sofa tanpa sandaran di sebelah Naufal yang tertidur agar bocah itu tidak jatuh ketika bergerak.


setelah memastikan keamanan anaknya, Vino beranjak dan dia menatap Arindah dari belakang dengan senyuman yang manis. Perempuan itu telah mengubah banyak hal di hidupnya, membawa kebahagiaan dan membuat Vino mengerti bagaimana arti dari ketulusan itu. Warna baru dalam hidupnya di ciptakan oleh Arindah. Ada hal begitu jauh berbeda antara Arindah dan Angel, Vino tidak tahu apa itu, entah itu hanya sekedar kelembutan yang di miliki oleh Arindah tetapi tidak di miliki oleh Angel karena Angel adalah perempuan yang tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar dan terkesan cuek, berbeda dengan Arindah yang sangat peduli, hati nya begitu lembut serta Vino langsung bisa menyimpulkan bahwa Arindah benar-benar orang yang tulus. Apalagi dengan kehadiran Naufal yang membuat semua nya semakin berbeda dan luar biasa. Meski baru beberapa hari menjadi seorang ayah, itu adalah sesuatu yang begitu mengesankan di hati Vino. Bahkan dia ingin memberikan semua yang di inginkan oleh Naufal, serta tidak akan bisa menolak keinginan bocah itu. Sebuah dunia Baru yang tidak bisa Vino gambarkan bagaimana perasaannya saat ini, terlalu indah dan sempurna, sehingga tidak ada kata-kata yang sanggup untuk menjelaskannya.


Vino berjalan pelan, langkahnya terhenti di depan meja minimal bar, dan dia mengangkat satu kursi kayu yang ada di depan meja minimal bar nya, membawa nya masuk ke area dalam. Meletakkan nya pelan-pelan tak jauh dari belakang Arindah.


Vino masih tersenyum dan mendekati istri nya kemudian memeluk nya dari belakang, membuat Arindah yang sedang mengelap piring, sedikit terlonjak. Dia menoleh ke samping dan melempar senyum nya pada Vino. Lelaki itu menghujani leher dan pipi nya dengan ciuman-ciuman manja. Memeluk perutnya, dan mendekatkan tubuh mereka. "Jangan seperti ini. kita sedang tidak ada di rumah, nanti bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk????" Tanya Arindah, tetapi tidak berusaha menolak pelukan dan ciuman Vino


"Jika aku sudah mengatakan tidak ingin di ganggu, maka tidak ada yang berani mengganggu ku atau berusaha masuk tanpa ijinku....!" Jawab Vino. Sekretarisnya sedang pergi keluar untuk makan siang, dan ketika dia memberitahu mereka agar tidak mengganggu nya maka mereka tidak akan berani mengganggu sampai nanti Vino sendiri yang memerintah kan mereka untuk masuk ke ruangannya. Ini sudah berlaku sejak lama, karena dulu saat bersama Angel, Vino juga sering mengatakan hal itu pada sekretarisnya agar waktu nya tidak di ganggu ketika bersama Angel.


"Kalau begitu bagaimana jika nanti Naufal yang melihat...!?" Tanya Arindah.


"Anak kita sedang tidur.. Jadi setidaknya berikan aku ciuman juga... Tadi pagi kita sudah gagal, dan sekarang tidak boleh terjadi lagi... "


"Gagal???? Memangnya tadi pagi kau ingin melakukan apa???"


Vino kembali mendaratkan kecilnya manja di leher Arindah. "Menurutmu tadi pagi aku ingin melakukan apa???? Jika ada suami istri di dalam satu ruangan, dan mereka sedang berciuman, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya jika bukan saling melampiaskab hasratnya.... Dan tentu saja aku ingin bercinta denganku tadi pagi, tapi seperti nya anak kita tidak membiarkan hal itu terjadi jadi dia tiba-tiba muncul, padahal tadi Iibido ku sedang memuncak dan ingin menyetubuuhi mu.." Bisik Vino.


Arindah langsung mencubit lengan suaminya. "Vino....??? Kau ini dasar... !" Gumam Arindah dengan wajah memerah seperti udang rebus.


"Dan sekarang...????" Vino semakin mempererat oelukannya dan mendesak kan tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Arindah. "Sekarang kau bisa merasakannya kan kalau pen*s ku sedang menegang dan dia ingin di puaskan???? Well, mumpung Naufal sesng tidur, jadi tidak ada salahnya kita bermain sebentar... Hmmmm.... Memasuki **9*** mu yang sempit dan juga hangat itu, selalu membuatku senang, dan jika dekat denganmu seperti ini, rasanya, aku selalu ingin memasuki mu.." Vino memegang kepala Arindah dan menolehkan ke arahnya lalu mencium bibir istrinya itu dengan penuh kelembutan tetapi begitu bergaiirah. Arindah tidak menolak dan membalas ciuman itu. Lidah mereka beradu di dalam, yang tangan kanan Vino menyingkap gaun yang di pakai oleh istrinya. Menelusup masuk ke ceIana daIam suteera Arindah.


Jari tengah Vino, bergerak perlahan di kIitoris Arindah naik dan turun, tetapi bibirnya masih berciuman dengan perempuan itu. Suara erangan kecil dari mulut Arindah terdengar begitu menggaiirahkan, membuat Vino menggerakkan jari nya lebih cepat dan memasukkannya ke **9*** Arindah dan kembali bergerak keluar masuk.


Ciuman itu terlepas, Arindah kendaraan kepala nya di pundak Vino, memejamkan matanya sambil kedua jemarinya menggenggam lengan Vino. "Hmmmm..... oh.... Ouuuwwhhh, astaga....!" Dessah Arindah.

__ADS_1


"Ssshhhttt.... Jangan berisik sayang, nanti Naufal bangun.... Tahan suaramu dan nikmati..." Perintah Vino.


Arindah mengangguk, menutup mulutnya dengan telapak tangan kiri nya. "Hmmmmppttt... Astaga.... Aaahh... " Arindah mengecilkan errangannya. Vino kembali mengecup nya.


"Aku tidak tahan lagi untuk memasuki mu...!! Tumpu kan tubuhmu di kursi itu, kita akan bermain dari belakang, sekaligus aku bisa mengawasi Naufal, sehingga jika dia bangun kita bisa berjaga-ja.. " Ucap Vino.


"Kau yakin kita akan melakukannya????" Tanya Arindah meragu.


"Tentu saja sayang... Kau menunggiing dan bertumpu di kursi ini, kau tidak akan terlihat, hanya aku yang terlihat karena berdiri, jadi aku bisa sekaligus mengawasi putra kita... Ayo cepat, jangan membuatku menunggu..." Titah Vino pada istrinya.


. Arindah pun berdiri di depan kursi dan mulai membungkuk, menumpu kan tubuhnya di kursi itu. Arindah memposisikan tubuhnya secara nyaman di kursi itu. Vino kemudian duduk berjongkok, mengangkat gaun Arindah dan menurunkan ceIana daIam istrinya itu dengan perasaan berbunga. Setelah rerlepas, Vino sedikit bermain dengan kedua piinggul Arindah, sedikit memukulnya membuat Arindah terkejut. Vino lalu menciumnya dan mengucapkan jemarinya ke kIitoris Arindah. Setelah itu, Vino kembali berdiri dan membuka resIeting ceIana nya, mengeluarkan miliknya.


Vino maju satu langka, mendekatkan miliknya ke milik Arindah. Sedikit menggesek nya, hingga akhirnya menekusukannya di milik Arindah. Suara erangan keduanya pun terdengar. Dan sekali lagi Vino meminta agar istrinya bisa menahan suara nya nanti, dan dia akan bergerak perlahan.


"Kau menyukai nya????" Tanya Vino.


"Ya. .. Astaga.... Hmmmmpppttt... "


"Jangan berisik sayang.... Nikmati....!" Ucap Vino.


Cukup lama sekali, dan Vino terus bergerak dengan irama teratur, hingga akhirnya Vino mencapai puncaknya dan meledak di dalam milik Arindah. Napas mereka tersenggal. Vino ikut membungkuk dan memeluk istrinya. Vino mengecup pipi Arindah dari samping. "Thanks baby... Ini benar-benar luar biasa.... Aku harap kau merasa puas... "


"Aku selalu puas... Kau luar biasa... " Arindah masih mengatur napasnya.


Vino menarik dirinya secara perlahan. Mereka berdiri lalu berpelukan, untuk kemudian Vino mengambil tisu. Mereka tersenyum karena puas. Setelah itu Vino mengangkat Arindah dan mendudukkan istrinya di sofa, agar mereka bisa beristirahat sebentar. Vino menyandarkan punggungnya di sofa, menghela Arindah ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kau suka bermain disini???" Tanya Vino.


"Aku hanya takut tiba-tiba saja Naufal bangun atau ada yang masuk... "


"Tidak akan ada yang masuk.. Aku sudah mengatakan itu kan padamu tadi... Tetapi jika Naufal bangun, kita masih bisa ada waktu berhenti, itulah kanaoa aku mengajakmu melakukan posisi itu, sambil memantau Naufal... Dan Besok kamar akan di mulai di renovasi, untuk bisa di hubungkan dengan kamar Naufal, dan selanjutnya kita bisa bercinta dengan nyaman tanpa takut membangunkan anak kita..."


"Apa yang ada di otakmu hanya bercinta saja???" Tanya Arindah.


Vino terkekeh. "Pikiran laki-laki ya hanya itu saja saat bersama istrinya..."


Arindah membalas pelukan Vino. "Kapan kau akan memintaku untuk hamil???" Tanya Arindah. "Kau pasti juga ingin memiliki bayi sendiri nanti nya... "


"Kita pasti akan memiliki bayi, tetapi aku rasa tidak sekarang... Aku benar-benar ingin bisa menikmati waktu luang ku dengan Naufal, jangan sampai dia merasa cemburu jika kita memberinya adik... Aku tidak tahu kapan, tetapi aku ingin Naufal mengerti dulu, sehingga dia juga bisa menyayangi adiknya nanti...!"


"Terserah kau saja... Aku akan siap kapanpun jika kau ingin aku hamil...!"


Vino mendaratkan sebuah kecupan di kepala Arindah. "Kau juga harus siap kapanpun jika aku mengingat tubuhmu... "


Arindah mencubit pinggang Vino. "Kau nakal sekali....!" Gumamnya dan mereka berdua tertawa.


Ponsel Vino berbunyi beberapa kali, memberitahu jika ada banyak pesan yang masuk. Arindah meraih ponsel itu dari atas meja dan memberikan kepada suaminya. Vino melihat ada beberapa foto di kirim oleh seseorang kepada nya, dan orang itu adalah orang bayaran yang di tugaskan oleh Vitto untuk mengawasi gerak-gerik Mama mereka.


Saat membuka nya, Vino di buat terkejut oleh foto-foto itu, yang ternyata di ambil di sebuah restoran, dimana Mama nya sedang makan, dan di hampiri oleh seorang wanita. Tentu saja Vino langsung ingat siapa wanita itu, karena tadi dia bertemu dengannya. Baju yang sama seperti tadi pagi, dan dari postur tubuhnya juga itu mengindikasikan bahwa wanita itu Clara.


"Clara bertemu Mama????" Gumam Vino. "Siaaalll...!!! Untuk apa mereka bertemu....???"

__ADS_1


__ADS_2