
Setelah bercinta, Vino Dan Arindah kmbali ke kamar, Dan mereka duduk bersandar di tempat tidur, dengan Naufal yang berbaring diantara mereka. Vino menegang jemari Arindah, dan perempuan itu sedikit bergeser sehinnga dia bisa menyandarkan kepala nya di dada Vino.
Arindah tidak bisa mengungkapkan nya dengan kata-kata setelah bercinta dengan Vino. Karena terlalu luar biasa dan Vino sangatlah nikmat untuknya. Dan Vino juga merasakan hal yang sama. percintaanna dengan Arindah begitu memuaskan, menyenangkan Dan luar biasa. Sangat menyenangkan memiliki seorang istri, bisa di jadikan pelampiasan sebuah hasrat tanpa harus memikirkan dosa.
"Boleh aku beratnya sesuatu???" Gumam Vino.
.
"Bertanya apa??? " Tanya Arindah.
"Apa yang kau rasakan ketika kita bercinta??? Selain nikmat dan memuaskan? Maksudku bisakah kau deskripsikan... Sehingga kita bisa bertukar pikiran. ataupun sekedar membangun kebiasaan saat bercinta???" Tanya Vino.
"Aku harus menjelaskannya?? " Arindah terlihat meragu.
"Ya... Karena Aku ingin mendengarnya, dan kita bisa sama-sama sharing.... Atau mungkin dari jawabanmu Aku bisa mendapatkan sesuatu yang menarik untuk kita lakukan... "
Arindah tersenyum, dan jemarinya tiba-tiba saja memegang miliki Vino. "Ini begitu besar, panjang, selalu memenuhiku, hingga Aku benar-benar gila di buatnya...!"
"Hmmm pasti punya Reino tidak sebesar punya ku ya???"
Arindah tersenyum, tidak mengiyakan ataupun membantah. Memang jika di bandingkan dengan milik Vino, tidak ada apa-apa nya.
__ADS_1
"Apa setelah perceraian, kau benar-benar tidak menjalin hubungan dengan siapapun??? Maksudku apa kau tidak ingin merasakan apa yang biasa kau lakukan dengan mantan suamimu dulu???"
"Aku manusia biasa, dan tidak memungkiri bahwa terkadang aku sangat menginginkannya, akan tetapi ketika hasraat itu tiba-tiba muncul, aku teringat dengan Naufal, bahwa kebahagiaan nya lebih penting daripada kebahagiaanku, dan aku sangat takut untuk menikah lagi, takut aku akan mengalami hal yang sama seperti pernikahanku sebelumnya... " Ujar Arindah.
"Dan pada akhirnya kau malah memilihku??? Itu pasti keputusan besar yang kau ambil, jika boleh tahu kenapa pada akhirnya kau memutuskan untuk menikah denganku????" Tanya Vino.
"Di saat kau mulai mengusulkan agar kita menikah, setiap selesai sholat, aku selalu berdoa meminta petunjuk dari Tuhan, jika kau memang di ciptakan untukku, aku minta agar di dekatkan dan di beri petunjuk, jika kau bukan pilihan yang tepat, aku minta di jauhkan dan di beri petunjuk jika kau bukan yang terbaik.. Dan memang aku merasa jika kau semakin di dekatkan, kau begitu perhatian pada Naufal dan sikapmu juga membuat aku yakin bahwa kau mungkin yang terbaik..."
Vino mengecup pucuk kepala Arindah. "Terima kasih untuk kepercayaan dan keyakinanmu untuk menjadikanku suami mu, tetapi satu hal, aku akan berusaha keras untuk menjaga mu dan Naufal, tidak akan pernah menyakitimu atau menghancurkan kepercayaan yang sudah kau berikan itu... Tetapi please berikan pemaklukan jika kau mendapatiku bersikap tidak baik, karena aku sedang dalam proses memperbaiki diri untuk saat ini..."
"Untuk saat ini aku akan memaklumi tetapi tidak untuk nanti.!"
Mendengar itu Vino tertawa dan dia berjanji akan menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang suami dan juga seorang ayah. Sekarang dia telah memiliki dunia Baru yaitu Arindah dan Naufal. Kehadiran kedua nya benar-benar merubah kehidupannya 180° di bandingkan dengan sebelumnya. Dan dia tidak akan pernah mengecawakan kepercayaan yang Arindah berikan kepada nya
"Apa dia sudah menerima fotonya???"
"Ya... Dia sudah menerima dan melihatnya... Dan dia belum memberitahu Rana, wajar siih, karena Vitto pasti tidak ingin masa bulan madu nya menjadi rusak begitu saja... Mungkin setelah nanti kembali baru akan memberitahu Rana... Aku berharap tidak terlambat, karena berbagai kemungkinan bisa terjadi..."
"Ya bagus dong... Memang membahas hal yang sedikit sensitif di masa lalu pasti lah tidak pas jika di bicarakan saat bulan madu... "
"Aku akan mencari orang untuk menyelidiki Clara, guna untuk mendapatkan jawaban dari pertemuannya dengan Mama kemarin, Aku sangat yakin sesuatu pasti mereka bicarakan atau bisa jadi mereka sedang merencanakan hal yang buruk... Kalau pun tidak ada hal serius yang di obrolkan ya itu bagus, aku tidak akan melakukan apapun, tetapi awas saja jika ada rencana di pertemuan mereka tadi... "
__ADS_1
"Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk yang di rencana kan..."
. "Ya semoga saja... Kau besok berangkat pagi atau siang??? Biar aku mengantarmu... "
"Aku berangkat ke rumah sakit pagi, tetapi kita antar Naufal dulu ke Mama... ".
"Baiklah... Besok aku akan mengantar kalian... Oh iya bagaimana dengan rencana kita menunda kehamilan, apa kau sudah memakai alat kontrasepsi, atau kau masih mengkonsumsi pil itu???" Tanya Vino.
"Aku masih mengkonsumsi nya, besok aku akan meminum nya lagi, karena masa nya, tetapi segera aku akan menggunakan alat kontrasepsi... Tetapi masalahnya sampai kapan kita berbuat untuk menunda???? Itu tergantung kau, inginnya seperti apa, aku kapanpun akan siap... "
"Entahlah, mungkin untuk satu tahun ke depan atau dua tahun ke depan saja... Tidak apa...!"
"Selama itu??? Kau serius???" tanya Arindah meragu..
"Ya... Kan aku sudah bilang jika aku ingin berfokus pada Naufal dulu, jangan sampai dia merasa terabaikan akibat keegoisan kita.... " Jawab Vino.
Arindah tersenyum. Dia bisa merasakan dan melihat ketulusan lelaki ini. Vino sangat menyayangi Naufal, bahkan kasih sayang yang di berikan Vino begitu besar, bahkan perhatian Vino melebihi perhatian yang di berikan oleh Reino. Serta Naufal yang juga selaluerasa nyaman bersama Vino. Bermain layaknya seorang Ayah dan Anaknya sendiri. Arindah berharap bahwa Vino akan mampu menjadi Ayah yang baik untuk Naufal nanti nya, hingga tidak lagi terlihat bahwa mereka adalah ayah dan anak tiri, akan tetapi bisa terlihat sebagai ayah dan anak kandung. Selain itu Arindah juga berharap Reino bisa berhenti mengganggu hidupnya lagi, setelah dia menikah dengan Vino. Karena Vino juga berjanji akan menjaga nya dan Naufal dari gangguannya Reino sampai nanti Reino benar-benar bisa bersikap dewasa serta bersikap baik. Vino sangat tahu jika bagaimanapun Reino tetaplah ayah kandung Naufal, akan tetapi jika Reino berulah lagi, tentu ijin untuk bertemu Naufal tidak akan Vino berikan pada Reino.
Naufal harus melihat hal-hal yang baik di depannya, bukan hal-hal yang bisa memberi dampak buruk. Karena bagaimanapun Arindah dan Reino tetaplah orang tua Naufal.
"Aku mengantuk sekali, ayo kita tidur....!" Ucap Vino. Arindah mengangguk dan mereka pun berbaring untuk kemudian tidur di antara Naufal.
__ADS_1
Arindah berbaring miring, tersenyum menatap wajah Naufal yang tidur begitu lelap. Arindah juga menatap Vino dalam senyuman manis nya, tidak berhenti mengucap syukur karena dia bisa bersatu dengan laki-laki yang dulu hanya ada dalam anginnya saja. Dan sekarang mereka sudah menikah. Hal yang tidak pernah Arindah bayangkan sebelumnya. Dulu sangat tidak mungkin bisa memiliki Vino, tetapi apa yang tidak bisa Tuhan lakukan jika sudah berkehendak, bahkan manusia pun tidak akan bisa menolak takdirnya.