
Rana dan Vitto mengetuk pintu ruang perawatan Jeany. Terlihat Jeany sedang dibantu minum oleh Mamanya. Rana yang melihat itu langsung meminta agar dia saja yang membantu Jeany. Rana memberi Jeany minum dan kembali membantu sahabatnya itu berbaring.
"Bagaimana keadaanmu Jean???" Tanya Rana.
"Aku merasa le..bih baik, aku ingin se...gera.. pu...lang... Na...!"
Rana terkekeh. "Pulanglah jika kau sudah benar-benar baik, aku akan menyambutmu beserta dengan calon keponakanmu...!" Bisik Rana ditelinga Jeany sambil membungkuk.
"Ca..lon kepo...nakan..ku???" Jeany mengernyit.
Rana mengangguk, kemudian mengambil sesuatu di dalam tasnya dan memberikannya pada Jeany. 4 lembar foto hasil USG, dan Jeany menatap Rana bingung. "Ka...u hamil????" Tanyanya pelan.
"Iya....!"
"Kau hamil da...lam keadaan seper..ti ini??"
Rana melempar senyumnya. "Ini pemberian Tuhan, bukankah aku harus menjaganya dengan baik meskipun kondisiku tidak terlalu baik... Aku tidak akan sendiri lagi Jean...!"
"A..pa kau ba..ik-baik sa..ja..??"
__ADS_1
"Im good.... My feeling so good...!" Gumam Rana tersenyum. "Kau cepatlah sembuh dan aku akan menceritakan semuanya kepadamu.... Tetapi tidak untuk sekarang, dan jangan khawatir aku baik-baik saja dan aku sangat bahagia dengan hal ini... Aku tidak akan sendiri lagi....!"
Jeany hanya bisa menatap Rana sambil tersenyum. Rana memang terlihat sumringah tetapi Jeany tahu pasti jauh di dalam hati Rana ada kesedihan dan kesepian. Tetapi Rana memang harus bertahan dengan keadaannya sekarang. Bayi yang ada di dalam kandungannya harus diberikan cinta dan kasih sayang meskipun tanpa Ayahnya. Jeany tidak tahu sampai kapan Rana akan bisa bertahan dengan semua ini, dia hanya bisa berharap Rana menjadi orang yang semakin kuat lagi.
Setelah kemarin berdiskusi dengan Rana perihal pesan Papanya mengenai menanggung seluruh biaya perawatan Jeany selama di rumah sakit. Akhirnya Vitto dibantu oleh Rana menjelaskan segalanya kepada orang tua Jeany. Tetapi sebelum itu Vitto sendiri mengucapkan permintaan maaf berkali-kali kepada orangtua Jeany, jika saja apa yang terjadi pada Jeany itu diakibatkan oleh campur tangan Vino, meskipun Jeany sendiri menolak itu karena kecelakaan itu adalah pure kesalahannya.
Vitto tetap memaksa untuk membiayai segalanya karena itu adalah pesan dari Papanya dan keluarga Jeany harus menerimanya. Vitto juga berharap ini bisa diselesaikan dengan kekeluargaan dan mungkin kedepannya mereka bisa berhubungan baik. Dan ketika nanti Jeany sudah kembali pulang, Papa Vitto akan datang menjenguk. Mengingat untuk saat ini dia tidak bisa datang karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
Rana pun ikut meyakinkan Jeany dan kedua orangtuanya agar menerima pemberian dari keluarga Vitto. Jangan menganggap itu sebagai ganti rugi. Karena Papa Vitto adalah orang yang baim dan sangat bijak. Dia mearasa sangat bersalah sekali mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Vino kemarin. Tetapi Vino adalah orang yang keras kepala dan sangat sulit untuk mengakui kesalahan. Itu sebabnya sebagai orang tua tunggal, Papa Vitto hanya bisa meminta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yabg sudah di perbuat oleh Vino.
"Saya harap om dan tante mau menerima, ini bukan uang permintaan maaf atau uang kompensasi, kami tidak bisa mengganti kesakitan yang dirasakan oleh Jeany, dan kami memberi ini sebagai ungkapan rasa bersalah kami... Tolong ijinkan saya atas nama Papa dan Adik saya untuk bisa memberi ini dan om juga tante bisa menerimanya...!" Vitto mengulurkan sebuah cek dengan nominal 1,5M kepada Papa Jeany.
"Tidak apa, ini juga bisa digunakan Jeany untuk membeli mobil baru, aku mendapat kabar bahwa mobil Jeany rusak parah....! Sisanya bisa digunakan untuk hal lain, saya tahu sekali biaya pengobatan disini sangat mahal, dan Jeany juga sudah sekitar satu bulan berada disini, jika nanti ada tambahan biaya lain, om dan tante biaa langsung menghubungiku, saya akan menambahinya lagi....!"
"Tidak Vitto.... Itu le...bih dan lebih da..rii cukup.. Harus...nya to..dak perlu... seper..ti ini kare..na ini ada..lah ke..ce..lakaan...!" Sahut Jeany.
"Tidak Jean... Ini masih belum seberapa dibanding kesakitan yang kau alami....! Papa hanya berharap kau bisa segera sembuh dan bisa memulai aktifitasmu lagi...!"
Akhirnya keluarga Jeany menerima pemberian dari keluarga Vitto, dan Vitto merasa senang sekali karena mereka mau menerimanya. Ini akan menjadi kabar yang menyenangkan juga untuk Papanya nanti.
__ADS_1
★★★★★
Ketika hari sudah sore, Vitto mengajak Rana untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Mereka besok akan jalan-jalan ke salah satu lokasi wisata yang sangat terkenal disini, lalu setelah itu mereka akan bersiap pulang dan sebelum pulang mereka akan kemli menjenguk serta berpamitan dengan Jeany. Vitto sebenarnya ingin juga menikmati bersantai di atap hotel yang memiliki kolam renang super besar itu, hanya saja dia harus membatalkan niatnya karena ada Angel juga di hotel itu. Vitto tidak tahu apakah Angel masih berada disana atau tidak, tetapi dia harus berhati-hati terutama Rana.
Vitti dan Rana sampai di hotel. Rana membuka pintu hendak keluar tetapi Vitto menahannya dengan memegang pergelangan tang Rana. Ternyata dari dalam mobil Vitto melihat ada Angel sedang keluar dari lobi hotel menarik kopernya bersama dengan pria tua itu lagi. Vitto lekas mengambil ponselnya dan kembali merekam Angel dari dalam mobil. Melihat Angel menarik koper, Vitto mengasumsikan bahwa Angel sepertinya sudah checkout dari hotel. Sebuah mobil berhenti di depan hotel, dan Angel terlihat memeluk serta mencium lelaki tua itu, kemudian masuk ke dalam mobil, tetapi tidak dengan pria itu. Karena Pria itu masih berdiri dan pria itu melambaikan tangannya. Mobil yang didalamnya ada Angel itupun pergi emninggalkan hotel. Tak lama setelah itu, ada mobil lagi dan supirnya turun membukakan pintu untuk pria itu.
"Sepertinya Angel sudah tidak akan menginap disini lagi, baguslah....!" Gumam Vitto.
"Iya, dia membawa kopernya mungkin dia akan pulang...!"
"Ayo kita masuk lalu beristirahat... Kau juga pasti butuh istirahat...!"
Vitto dan Rana keluar dari mobil. Mereka kemudian masuk ke hotel.
Melihat Angel lagi, semakin membuat Vitto yakin bahwa Angel memang menjadi simpanan dari pria tua itu. Vitto benar-benar merasa jijik melihat Angel seperti itu. Seolah kecantikan Angel tidak lagi ada artinya. Vitto tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Vino jika mengetahui pekerjaan sampingan dari kekasihnya.
"Secantik apapun perempuan jika dia mudah merendahkan dirinya, itu sama sekali tidak ada harganya dimata laki-laki yang menginginkan perempuan terbaik untuk bersanding dengannya, kau sangat jauh lebih baik daripada Angel.... Vino sudah mengabaikan sebuah permata demi kerikil yang tidak ada harganya seperti Angel....!" Gumam Vitto.
Rana menoleh lalu tersenyum. "Kau berucap seperti itu, tetapi kenyataannya Vino tidak menginginkanku...!"
__ADS_1
"Karena Vino masih belum tahu betapa berharganya dirimu dan juga belum tahu kebusukan dari Angel...!"