
Vitto menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi kerjanya. Senyumnya tersungging di wajah tampannya. Dia kembali teringat dengan Rana. Semalam Rana sudah mengatakan akan membuka hatinya sepenuhnya pada Vitto dan tentu saja Vitto menyambutnya dengan tangan terbuka. Apa yang di harapkannya terkabul meskipun belum sepenuhnya Rana menyerahkan hatinya, tetapi ini tentu saja menjadi sesuatu yang baik dan akan menjadi lebih baik lagi nantinya.
Di kesempatan ini, Vitto tidak akan melewatkannya begitu saja. Bagaimana pun nantinya, dia harus membuat Rana yakin sepenuhnya dengan dirinya sehingga jika Rana sudah melahirkan, Vitto tidak ingin berlama-lama untuk menikahi Rana. Dan semalam Vitto sudah membayangkan semua itu dan bagaimana nanti jika dia berumah tangga dengan Rana. Vitto akan menyayangi Rana dan bayinya, serta akan menjaga mereka dengan baik.
Sementara itu, Vino sedang di rundung kegusaran sejak semalam. Dia selalu saja terpikirkan dengan mimpinya yang bertemu dengan Rana. Ada perasaan sedih juga yang dia rasakan serta tiba-tiba saja Vino teringat dengan kejadian hari itu dimana dia memaksa Rana dan menodai perempuan itu dengan kejam sekali. Sampai saat ini itu masih menjadi rahasia Vino sebenarnya dan tidak pernah di ceritakan kepada siapapun, takut jika Angel mendengarkan perempuan itu akan marah besar kepadanya. Vino juga memilih untuk bungkam dan tidak menceritakan hal itu juga pada Papanya karena Papanya juga pasti akan marah besar kepadanya. Selain itu sepertinya Rana juga tidak memberitahu hal itu kepada siapapun mengingat Papanya juga tidak bereaksi. Bahkan di perceraiannya dengan Rana juga tidak ada pembahasan hal itu, mungkin Rana memilih diam dan menyadari bahwa hal itu termasuk dalam hubungan suami istri dan menganggapnya wajar. Sehingga Rana tidak mempermasalahkannya.
Tetapi mengenai mimpinya tentang anak kecil itu membuat Vino menjadi takut. Dia ingat sekali saat melakukan itu pada Rana, dia tidak menggunakan pengaman dan tentu saja Rana juga tidak memakai atau mengkonsumsi obat penghalang kehamilan. Bisa saja mungkin itu pertanda mengenai sesuatu. Dan sekarang Vino juga tidak tahu dimana keberadaan Rana.
"Ah tidak mungkin lah... Aku hanya sekali melakukannya dan kalaupun memang hamil, Rana pasti akan memberi tahu Papa, sejauh ini tidak ada masalah apapun yang aku hadapi dan Papa juga tidak mengatakan apapun padaku tentang Rana, mungkin perempuan itu sudah bahagia dengan hiduonya sekarang karena Papa sudah menanggung segalanya...!" Gumam Vino dalam hati.
Ada niatan di hati Vino sebenarnya untuk meminta maaf pada Rana mengenai kejadian itu, tetapi rasa gengsinya membuat Vino mengurungkannya saat perceraiaannya dengan Rana dulu.
Memikirkan mimpinya membuat Vino tidak bisa tenang, dan dia butuh untuk mengungkapkannya pada seseorang. Tetapi tentunya bukan pada sang Papa yang ada di sebelahnya. Vino pun membereskan berkas yang ada di depannya kemudian berdiri dan berpamitan pada Papanya untuk ke ruangan Vitto.
Vino mendatangi ruangan Vitto dan duduk di depan kakaknya itu sambil menyerahkan berkas pekerjaan. Vitto membuka berkas itu dan tampak serius membacanya. Vito memandang kakaknya yang sedang serius sambil memainkan bolpoint yang di putar. Vino sebenarnya ingin mengatakan dan bercerita tentang sesuatu pada Vitto, yang sejak tadi mengganjal di hatinya.
Mimpinya semalam membuat Vino merasa gusar dan terus terpikirkan mengenai hal itu padahal dia ingin sekali menepiskan semuanya tetapi tetap saja itu tidak mau pergi dari pikirannya.
Vitto mengangkat kepalanya dan menemukan Adiknya sedang melamun. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Vitto pun memanggil nama Vino tetapi Vino tidak merespon dan malah asyik memutar-mutar bolpoint di atas meja. Kesal, Vitto mengambil bolpoint itu dan menatap Vino tajam. "Kenapa kau???" Tanya Vitto.
"Ah tidak...!"
"Apa kau baru saja menemukan rahasia kelam kekasihmu sehingga kau melamun dan memikirkan bagaimana cara meninggalkannya???" Tanya Vitto lagi.
"Sialaan kau....! Aku sedang tidak ingin berdebat jadi jangan bawa-bawa Angel dalam percakapan kita ..!"
__ADS_1
Vitto terkekeh lalu menutup berkas yang ada di depannya. "Lalu apa yang sedang mengganggumu??? Apa Mama datang lagi ke rumah???"
Vino menggeleng. "Tidak....! Sebenarnya aku tidak tahu harus menceritakan ini pada siapa, aku juga tidak berani menceritakan kepada Papa, takut dia malah memarahiku...!"
Vitto mengernyit. Terlihat Vino seperti orang yang sedang bingung dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. "Lalu?? Apa kau ingin menceritakannya padaku???"
"Jika kau mau mendengarkannya, tetapi ku harap kauidak marah atau mengatakan semua ini pada orang lain terutama pada Papa dan Angel...!"
"Ya ya ya ... katakan saja...!" Ujar Vitto.
Vino kemudian menceritakan mengenai mimpinya semalam pada Vitto. Ketika dia tiba-tiba saja bermimpi bertemu dengan Rana. Semua itu di awali ketika dia sedang duduk di sebuah taman dan seorang anak perempuan kecil mendekatinya dan berucap Papa. Anehnya anak itu wajahnya sangat mirip dengannya waktu kecil. Terus saja anak itu mengatakan Papa hingga akhirnya seseorang datang dan langsung membawa anak itu pergi tetapi anak itu berteriak seperti menangis dan terus mengatakan Papa.
"Aku merasa aneh saja, kenapa aku bermimpi bertemu Rana dan dia membawa seorang anak perempuan, tetapi anak perempuan itu menangis dan terus berteriak memanggil Papa..!" Ujar Vino.
Mendengar itu, tentu saja Vitto sangat terkejut. Vino bermimpi seperti itu dan kondisinya saat ini Rana sedang dalam keadaan hamil. Vitto tidak bisa memberitahu tentang keadaan Rana pada Vino. "Mungkin kau kangen dengan Rana... Itu salahmu sendiri kenapa kau dulu menyia-nyiakannya...!" Ujar Vitto mencela Vino.
Vitto tertawa. "Aku dulu sudah mengatakan padamu agar berhenti membalaskan dendam oada orang yang tidak bersalah, tapi kau memilih melakukan itu lihatlah kenyataan yang sebenarnya terjadi, Rana tidak bersalah keluarganya pun juga tidak bersalah.... Sekarang kau menyesalinya...!"
"Ya, aku menyesal...!" Gumam Vino.
"Jika hanya masalah ini yang ingin kau bicarakan kenapa kau melarangku mengatakan pada Papa ataupun orang lain, itu kan hanya sekedar mimpi dan tidak memiliki makna apapun, mungkin benar karena kau sedang memikirkan Rana dan merindukannya maybe...!"
Vino menggelengkan kepalanya dengan sedih. Sebenarnya bukan itu saja yang ingin di katakannya pada Vitto tetapi ada hal besar lainnya. "Vit... Sebenarnya bukan itu yang aku larang untuk kau ceritakan pada siapapun, ada hal lain....!"
Vitto mengernyit. "Hal lain??? Hal apa???" Tanya Vitto penasaran.
__ADS_1
"Tapi kau janji ya jangan katakan paada siapapun???"
Vitto mengangguk dan berjanji pada adiknya itu. Vitto juga menyuruh Vino agar segera menceritakannya.
Vino terlihag gugup dan menarik napasnya dala-dalam lalu menghelanya. "Sebenarnya ada hal lain yang pernah aku lakukan pada Rana, dan aku yakin Rana tidak akan pernah melupakan hal itu seumur hidupnya.. Hal itu juga yang membuatku terus memikirkan mengenai mimpiku itu...!"
Vitto mulai mengerti arah pembicaraan Vino tetapi dia mencoba bersikap biasa saja. "Aku rasa semua perbuatan yang kau lakukan padanya juga tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya...! Kau memang kejam dan tidak tanggung-tanggung menyiksa perempuan lemah seperti Rana...!"
"Tetapi ada satu hal lagi yang sebenarnya lebih kejam ku lakukan daripada semua yang sudah kau dan Papa ketahui, tetapi sepertinya Rana juga tidak pernah menjelaskan itu pada Papa... Ada satu hari dimana aku sudah memperk0saa nya...!"
Vitto mengumpat di dalam hatinya, akhirnya yang di tunggunya selama ini keluar juga dari mulut Vino. Adiknya itu akhirnya menjelaskan juga mengenai hal ini, selama ini sudah di oendamnya cukup lama dan benar-benar membuat Rana menderita dan semakin menderita lagi ketika menyadari bahwa dia hamil dan dalam posisi sudah bercerai dengan Vino. Vitto tahu bahwa sebenarnya di hati Rana ada kesdihan yang mendalam dan tidak bisa Rana bendung, hanya saja oerempuan itu selalu berusaha untuk tegar dan kuat menjalani kehidupannya yang sulit itu. Dan itulah kenapa Vitto selalu ingin ada di dekat Rana, menghiburnya juga menemaninya melewati masa sulit itu, agar Rana tidak merasa sendiri dan dintinggalkan, juga agar Rana dan bayi nya dalam keadaan sehat serta baik-baiknya.
Vitto berpura-oura terkejut, dan matanya terbelalak menatap Vino. "What?????? Kau memperk*sa nya???? Bagaimana bisa???"
Vino pun menceritakan pada Vitto kejadian itu, dimana dia saat itu memang sedang lepas kendali dan juga Rana membuatnya kesal sekali. Itulah kenapa dia akhirnya memaksa Rana untuk memuaaskan napssu nya. Rana menolak dan menyuruhnya sadar tetapi Vino sama sekkali tidak memperdulikannya. Rana berteriak dan menangis mencoba menjauhkan tubuh Vino, tetapi tentu Rana bukan tandingannya. Usaha Rana sia-sia. Dan Vino terus memaksakan kehendaknya, memaksakan dirinya menerobos penghalang yang Rana miliki. Rana menjerit kesakitan dan terus memohon agar Vino berhenti tetapi sekali lagi Vino tidak memperdulikannya.
"Aku terus melakukannya, dan aku masih ingat bagaimana rintihan kesakitannya memintaku berhenti tetapi aku tidak peduli, sampai akahirnya aku meledak juga...! Tanpa rasa bersalah aku langsung meninggalkan dia begitu saja... Tetapi satu hal yang terjadi keesokan harinya, dimana Rana kabur dari villa... Aku berpikir mungkin karena hal itu dia memilih kabur..!" Ujar Vino.
Mata nyala Vitto pun terkihat jelas. Wajah Vitto memerah dan dia menggebrak.meja kerjanya membuat segala yang ada di atasnya bergetar. "Bagaimana bisa kau melakukan hal boodoh itu....! Apa kau tidak berpikir bahwa dia masih vir9in, dan dia pasti sangat kesakitan....!!! Kau memang sudah tidak waras...!" Geram Vitto.
"Itulah Vit, aku takut mengatakan hal ini pada Papa selama ini, dan sepertinya Rana juga tidak pernah mengatakan hal itu pada siapapun, karena jika Rana mengatakannya mungkin Papa mendengarnya dan akan marah sekali padamu, tetapi sampai saat ini Papa tidak bereaksi ataupun menanyakan hal itu kepadaku, artinya Rana juga tidak memberitahukan hal itu pada orang lain...!"
Vitto benar-benar marah sekali. "Apa kau yakin dia tidak mengatakan hal itu kepada siapa pun???"
"Sepertinya begitu.. Hanya saja setelah bermimpi itu, tiba-tiba saja ada ketakutan yang menderaku, aku tidak memakai pengaman dan Rana pasti juga tidak menyiapkan dirinya, aku terpikirkan bahwa mungkin saja Rana hamil...!"
__ADS_1
Vino menundukkan kepalanya. "Bagaimama jika Rana hamil setelah kami bercerai Vit???" Gumam Vino.
Vitto pun nampak terdiam. Itu seperti sebuah firasat untuk Vino bahwa dia akan memiliki anak dari Rana. Dan anehnya di mimpi itu ada anak kecil yang di gendong Rana memanggil Vino dengan panggilan Papa. Tiba-tiba saja Vitto memiliki ketakutan tersendiri di hatinya mengenai mimpi Vino itu. Suatu saat Vino pasti akan mengetahui segalanya tentang Rana dan kehamilannya. Tidak mungkin hal seperti itu akan selamanya jadi rahasia. Dan saat ini dia sudah menyusubmn rencana untuk memisahkan Vino dan Angel, lalu nanti Vino tentu saja akan meninggalkan Angel. Dan bagaimana jika Vino akan mencari Rana lalu merebut Rana darinya, membesarkan bayi mereka bersama-sama. Bagiamana pun juga bayi itu tetaplah bayi Vino, dan Vino adalah ayahnya yang sah. Bisa jadi ada kemungkinan Rana akan kembali lagi bersama Vino. Vitto sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan mengenai hal itu.